
Pulang dari mansion Cakra tadi Sinta tak langsung pulang melainkan mampir ke toko kue kesukaan sang mama , karena maria mamanya Sinta menelpon Sinta saat Sinta di jalan pulang.
"Cheesecake" Gumamnya.
" Semoga masih ada " Kata Sinta berharap.
Cheesecake di toko langganan nya memang sangat enak dan banyak pelanggan nya.
" Ya ampun panjang nya " Pekik Sinta sesampainya di toko melihat nya antrian panjang.
Demi sang mama Sinta pun dengan sabar mengantri. Di kasir, untungnya kue yang di inginkan masih tersisa 2 jika saja dia telat sedikit saja mungkin cheesecake itu sudah habis.
" Mama pasti senang " Ujar Sinta melihat kue di tangannya. Dan masuk kedalam mobilnya. Sinta melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16:49 hampir 2 jam dia mengantri.
" Pasti macet nih" Gumamnya. Melihat dari kejauhan karena jam segini memang padatnya penggunaan jalan ada yang pulang dan ada yang baru masuk kerja. Tak Mau ambil pusing Sinta pun memutar stirnnya berbelok mengambil jalan pintas.
Di sana sangat lenggang bahkan terbilang sepi sehingga Sinta bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Duarrrrr..
Crittttt
Decitan rem berbunyi nyaring. Karena mobil Sinta melaju tadi tiba-tiba saja meledak ban belakang. Untung nya Sinta bisa mengendalikan mobil nya dan langsung memberhentikan lajunya.
" Ini meledak " Herannya keluar mobil melihat kondisi ban mobilnya.
" Wah si*lan, tau gini mending gue lewat jalan kota aja gak papa macet, mana gak ada orang lewat lagi" Ucapnya bicara sendiri.
" Sepi banget " Ujar nya.
" Ban serepnya gak ada " Ujarnya membuka bagasi belakang. Setidaknya kalau ada ban cadangan dia bisa mencoba menganti nya.
Sinta pun langsung mengeluarkan ponsel nya hendak menelpon orang rumah setidaknya ada yang menjemput nya.
Namun sialnya ponsel nya kehabisan baterai.
Dengan cepat Sinta masuk kedalam mobil mencolok charger untuk mengisi saya ponsel nya.
Tok
Tok
Tok
Ketukan di kaca mobil membuat Sinta takut.
" Ya Tuhan " Gumamnya.
Sinta pun menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Menengok keluar di. Sana ada 5 orang laki-laki kekar bisa di bilang preman.
Sinta langsung gemetar manaikan kaca mobilnya.
Namun suara preman tersebut menghentikan nya.
" Keluar atau ku pecahkan kaca nya! " Ujar salah satu preman tersebut.
Sinta keluar dengan badan gemeter jujur dia sangatlah takut saat ini.
" Ka-kalian bisa bawa mobil saya tapi lepaskan saya" Ujar Sinta mengira mereka semua adalah begal. Dia tak masalah kehilangan mobilnya toh orang tuanya nanti masih bisa membelikannya lagi.
" Kau sangat peka gadis cantik " Kata preman tersebut ingin mencolek dagu Sinta namun Sinta menghindar.
" Dia sangat cantik bos, bagaimana kalau kita bermain dahulu" Ujar salah satu anteknya.
" Saran mu memang tak salah" Ujar ketua preman.
" Ayo cantik ikut dengan kami" Ajak ketua preman.
" Ja-jangan" Berontak Sinta.
Mereka berusaha membawa Sinta masuk kedalam mobil Sinta itu sendiri. Namun Sinta terus memberontak.
" Lepassssss!!!!!! " Ujar Sinta.
" Tolong!!!!!!! " Teriak Sinta dengan keras.
Plakkkkk.
Ketua itu menampar Sinta dengan keras sampai telinga Sinta berdengung kepala pun langsung pusing.
Dia pun sudah pasrah dengan keadaan berharap ada yang menolongnya.
Bughhhhh.
Salah satu dari preman tersebut terlempar Akibat tendang dari orang yang baru datang untuk menyelamatkan Sinta.
" Ka Jonathan " Lirih Sinta dengan lemas.
Flashback on
Saat itu entah kenapa habis pulang menyelesaikan beberapa masalah , jo dan 4 bawahan nya pulang lewat jalan yang di lewati Sinta barusan.
Namun baru saja melewati mobil merah tersebut jo langsung melotot dan marah saat tahu siapa yang di ganggu para preman yang ternyata adalah Sinta sahabat nya Nana, waktu pernikahan Nana beberapa bulan yang lalu jo sempat bertemu Sinta. Dan Sinta langsung membuat nya jatuh cinta pada pandangan pertama.
" Breng**k berani nya mengganggu gadisku" Geram Jo
Jo langsung hentikan mobilnya berlari ke arah Sinta dan menendang preman yang mencekal Sinta.
Bughhh
" Ka Jonathan "
Flashback end
Jo langsung merengkuh Sinta yang lemas dalam pelukan nya .
" Bereskan mereka " Perintah Jo pada empat bawahannya.
Melihat kondisi Sinta lemas dan syok Jo langsung mengendong Sinta masuk ke dalam mobilnya.
Membukakan sebotol air putih dan memberikan pada Sinta.
" Hikssssss sinta takut ka" Tangis Sinta setelah minum.
"Udah udah gak papa" Jo memberikan pelukan pada Sinta menepuk punggung Sinta menenangkan Sinta.
Amarah Jo memuncak melihat pipi Sinta yang lebam akibat di tampar preman tadi.
Jo pun kembali memerintah ada pas bawahannya.
"Habisi mereka semua" Perintah Jo.
Dorr.
Dorr...
Lima tembakan di keluar kan bawahan Jo untuk menghabisi preman tadi.
" Kaka membunuh mereka? " Tanya Sinta.
" Iya " Jawab Jo.
" Kenapa? " Tanya Sinta.
" Karena mereka melukaimu, apa kau keberatan?" Jawab jo
" Tidak, mereka pantas mendapatkan nya" Ujar Sinta.
"Good girl" Ucap Jo mengelus rambut Sinta.
Sinta pun tersenyum menatap Jo dia tak menyangka sang pangeran nya lah yang menolongnya.
Namun senyum Sinta tak bertahan lama karena Sinta tiba-tiba mendadak tak sadarkan diri di pelukan Jo.
" Sinta...." Panggil Jo namun Sinta yang tengah pingsan tak mungkin menjawab.
Dengan sigap Jo meletakkan Sinta di kursi samping pengemudi dan memasang sabuk pengaman.
" Bertahan sinta" Panik Jo. Melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit Sinta langsung di bawa keruangan.
15 menit kemudian dokter pun keluar dari ruangan dan Jo langsung menghampiri nya.
" Gimana keadaannya ? " Tanya Jo.
" Pasien kelelahan dan mengalami syok mungkin akan sedikit meninggalkan trauma" Jawab dokter.
" Tuan " Panggil bawahan Jo yang baru datang.
" Kenapa? " Tanya Jo.
" Ini ponsel nona tadi, sedari tadi terus berdering tapi kami tak berani mengangkat nya" Jawabnya.
Jo pun mengambil ponsel. Sinta pada dari bawahan nya.
Kembali ponsel Sinta berdering.
Mamse.
Jo pun langsung mengangkat nya.
" Sinta kesayangan mama kamu di mana sayang, kenapa lama sekali? " Tanya maria.
" Halo" Ucap Jo.
" Kamu siapa dimana Sinta anak saya? " Tanya maria.
" Anak ibu sedang di rumah sakit pelita indah, tadi saya menolongnya saat di ganggu preman" Jawab Jo.
" Aduh anak mama, saya kesana sekarang tolong jaga Sinta dulu" Ujar Maria dan langsung menutup telpon nya.
Sinta hanya punya seorang ibu, karena ayahnya sudah meninggal sekitar 10 tahun yang lalu karena serangan jantung. Dan perusahaan ayahnya sekarang di pimpin oleh sang mama tercinta, walaupun mamanya adalah seorang CEO tapi Sinta tak. Pernah kekurangan kasih sayang dari mama nya karena sebisa mungkin Maria selalu meluangkan waktu untuk putri tunggalnya.