Mafia This Is My Girl

Mafia This Is My Girl
eksekusi



Nana pun kembali ke kamarnya lalu mengganti pakaiannya dengan warna serba hitam khas mafia . Setelah selesai berganti nana langsung ke bagasi menaiki mobilnya, menuju markas .


Mobil yang di kendarai Nana pun sampai di markas. Dia di sambut beberapa Mafioso yang sedang berjaga .


" Malam Queen" sapa mereka, dan Nana hanya menyahut dengan mengangguk. Berjalan menuju ruangannya yang ternyata sudah ada Daz Alex serta Jo.


Nana melihat para abangnya sudah terkumpul di ruangannya. Mereka sedang menatap layar komputer yang sudah terhubung dengan kamera yang di bawa bawahannya mengawasi Sasa. Nana pun duduk di samping para abang-abang nya menatap layar komputer tersebut.


" Padahal sudah di larang ayah keluar ternyata masih saja " sinis Nana


" Mau di apain dia princess?" Tanya Alex di sampingnya.


" Biar saja dia senang-senang dengan nafsunya dulu ,habis itu baru bawa ke markas.


"Mantap juga goyangan Sasa " ujar Alex yang melihat nya dari layar komputer.


Buk


Buk


Dua bantal Melayang ke kepala Alex . Dengan pelakunya Daz dan Jo. Sedangkan mantap Alex dengan tajam.


" Sialan Lo" ujar Alex ingin membalas Daz dan Jo


" Apa Abang juga mau merasakan tubuhnya ?" Tanya Nana


" Eh.. engga Yaya " kilah Alex


Di dalam sebuah kamar ada 3 orang laki-laki dengan wajah senang dan seorang perempuan dengan wajah lelahnya sedang terlelap tanpa sehelai benang.


" Aku aku akan hubungi Queen" ujar laki-laki itu ternyata bawahannya Nana.


" Pakaikan baju nya dan bawa ke markas tanpa ada yang tahu" ujar Nana di telpon


" Baik Queen"


Saat sasa masih terlelap gadis itu sudah di bawa mereka masuk ke dalam mobil.


Tak ada yang mengetahui aksi mereka yang memang sudah di rencanakan dengan matang bahkan cctv pun dapat mereka kendalikan. Bawahan nana pun meninggalkan club .melajukan mobil mereka ke markas.


" Bajunya seksoy de " cetuk Alex yang melihat baju yang di pakai Sasa memperlihatkan lekuk tubuh gadis itu.


" Abang suka nanti Yaya pakai kaya gitu" ujar Nana.


" Gak boleh !!!!" Ucap Daz dan Jo kompak.


Nana pun hanya terkekeh mendengar nya.


Para bawahan Nana pun datang membawa Sasa. Di sana Nana tersenyum senang melihat Sasa yang sudah duduk dengan tangan terikat. Masih belum sadarkan diri mungkin efek minuman sama kelelahan melayani 3 laki-laki.


"Buat dia sadar bang " ujar nana menyuruh Alex .


Kemudian seorang bawahan Nana datang dengan se ember air dingin Alex pun langsung mengambil ember tersebut lalu menyiramkan nya ke tubuh Sasa.


Sasa langsung bangun dengan terkejut. Menatap sekitarnya dengan takut dan panik. Bagaimana tidak yang awalnya dia di dalam kamar sekarang entah di mana dengan tangan yang juga terikat.


" Kalian siapa?" Tanya Sasa pada Nana dan abang-abang. Karna mereka semua memakai topeng jadi Sasa tak mengenali Nana.


" Lo gak perlu tau siapa gua " ujar Nana


" Siapa Lo, lepasin gue?" Tanya Sasa dengan perasaan takut.


" Mau di lepaskan?" Tanya Nana


" LEPASIN GUE!!!!" teriak Sasa.


" Apa mau Lo, Lo mau uang gua punya banyak uang tapi lepasin gue " ujar Sasa


" CK!! uang, apa uang bisa bikin mama gua hidup lagi bangsat" ujar Nana


" L lo Naya?" Tanya Sasa


" Ko Lo tau sih , jadi Bener kalian bunuh mama gua ?" Ujar Nana sambil melepas topengnya.


" Apa kau terkejut? ******!" Ucap nana tersenyum remeh


Sasa pun melotot marah melihat benar Nana .


" Uh jangan memelototi gua jadi takut " ujar Nana tersenyum


Sedangkan para Abang-abang Nana di duduk di kursi yang sudah ada melihat apa yang bakalan di lakuin Nana pada ****** itu.


" Yaya kuku nya sangat cantik" ujar Jo


" Benarkah bang apa Abang mau?" Tanya Nana


" Tentu jika kau ambil kan " ujar Jo.


Kemudian nana mengambil sebuah tang lalu menarik tangan Sasa yang masih terikat.


" Akhhhhh.... Kuku ku!!!" Teriak kesakitan Sasa yan. Kukunya di cabuti Nana satu persatu.


" Apa ini sudah cukup bang?" Tanya Nana pada Jo sambil menenteng 5 kuku jari Sasa.


" 5 lagi Yaya " ujar Jo.


" Apa kau menikmati nya ******?" Tanya Nana yang kembali mencabut kuku-kuku Sasa.


" Akhhhhh... A ampun Naya a a a ampuni aku " ujar Sasa memohon


" Menjerit Lah aku menyukainya" ujar Nana tersenyum smirk. Nana kembali mengeluarkan pisau lipatnya


Srettttt


Nana menggores lengan Sasa dengan pisaunya dan menyiramnya dengan air garam


"Aawwwwwww.... Sa sakit pe rih sekali" kata Sasa


" Yaya goresannya kurang cantik " ujar Alex menilai.


Sretttttt.......Nana kembali menggores lengan Sasa.


" Akhhhh ampun Naya " teriak Sasa kesakitan bahkan sudah menangis sedari tadi.


" Kalo begini bang?" Tanya Nana


" Seperti pipinya kurang cantik Yaya" sambung Alex , Nana pun mengukir pipi Sasa membuat tanda x dengan pisau kecilnya.


" Akhhhh.. sakit ja jangan !!!" Ucap Sasa menangis .


" Kurang kejam sayang" ucap Daz , yang mendekati Nana.Daz pun melepaskan ikatan tangan Sasa.


KRAKK


Mematahkan tangan Sasa dengan ganas.


" Coba Abang lihat" ucap Nana pada Daz


PLAKKKKK


Nana menampar Sasa dengan keras tepat di pipinya yang di goresnya.


"Akhhhh....."rintih Sasa menahan sakit bahkan darah sudah mengalir di pipinya akibat tamparan keras nana.


BRUKKK


Nana menendang Sasa sampai terjatuh dengan kursinya.


" Yaya sudah main nya, nanti dia bisa mati duluan kita sambung lagi besok biarkan di tersiksa dengan sakitnya lebih dulu " ujar Daz


" Baiklah " ujar Nana


Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


" Hiksss.. sakit sekali mama tolong Sasa hiksss " ucap Sasa terisak ia benar-benar kesakitan dengan Sarah yang terus mengalir di pipi nya.


" Hiksss sakit banget , akan ku balas rasa sakit ini Naya " gumam Sasa


Nana sudah pulang ke mansion nya, sebelum pulang di membersihkan diri terlebih dahulu.


Ke esoknya paginya mansion Fernandez di hebohkan dengan hilangnya Sasa .


" Mas .... Mas.." panggil Dina


" Ada apa ?" Tanya Dion


" Sasa gak ada di kamarnya " adu Dina yang ingin membangunkan Sasa tapi ternyata dia tak ada di dalam.


" Apa bagaimana bisa bukankah dia sedang ayah hukum tak boleh kemanapun ?" Tanya Dion tak habis pikir.


" Telpon dia !!" Suruh Dion


" Gak bisa mas! Teleponnya gak aktif" ujar Dina


" Paling-paling dia pergi jalan yah tadi malam !" Sahur Nana. Yang baru saja turun .


" Benar kata Naya anak itu memang membangkang sekarang!" Marah Dion


Kini Nana sudah duduk di sudut kantin. Karna malas kembali kelas setelah pelajaran olahraga. Sampai ada seseorang yang datang bergabung dengannya.


" Hai Naya, boleh gabung gak?" Ucapnya membuyarkan lamunan Nana, nana pun menengok siapa yang menyapanya.


" Tumben sendiri yang lain pada kemana ?" Tanya mahen.


" Kelas!" Jawab Nana singkat tanpa menoleh.


"Buset gak cari-cari es batu" batin Mahen


"Lo pesan apa?" Tanya Mahen.


" Gak ada ?" Ujar Nana sambil sibuk memainkan hpnya.


" Gue pesanin mau?" Tanya Mahen


" Gak perlu " tolak Nana. Dia merasa risih Karna mahen selalu merecokinya. Nana pun bangkit dari kursi nya melangkah keluar kantin meninggalkan Mahen.



Sepulangnya dari sekolah nana tak langsung pulang melainkan melajukan mobilnya ke markas.


Jam sudah menunjukkan jam 16:30, tapi nana masih bergelut di jalan Karna terjebak macet . Karna biasa nya jam segini banyak karyawan yang pulang bahkan pergi kerja.


Singkatnya Nana sudah sampai di markas.


Bergegas masuk ke sebuah ruangan penyiksaan yang ada Sasa di dalamnya.


Ceklek.. Nana membuka pintu.


"Eh Ade Abang sudah datang" ucap Alex yang ada di dalam ruangan penyiksaan.


" Masih hidup bang?" Tanya Nana


" Masih tuh coba aja di bangun kan" ujar Alex


" BANGUN BANGSAT!!!!" Teriak Nana membangunkan Sasa .


Sasa pun langsung membuka mata dengan terkejut Karna di depannya sudah ada Nana yang tengah tersenyum keji seperti tak sabar ingin menghabisinya.


"Silahkan nikmat menit-menit terakhir mu dahulu" ucap Nana pada Sasa.


Kemudian Nana mengeluarkan pisau lipat kesayangan nya. Hal itu membuat Sasa semakin ketakutan.