Mafia This Is My Girl

Mafia This Is My Girl
Sedikit trauma



Derap langkah cepat dilorong mendekat menuju ruangan Sinta yang sudah di pindah di ruang rawat.


Seorang wanita memasuki ruangan Sinta dengan muka panik bahkan sudah dengan air mata di pipinya.


" Sintaaa... " Panggil wanita tersebut. Ya Maria mama nya Sinta yang datang dengan penuh kekhawatiran melihat Sinta yang berbaring belum sadarkan diri. Mungkin efek dari obat penenang yang disuntik kan dokter tadi.


" Gimana ke adaan Sinta? " Tanya Maria pada Jo yang masih ada di ruangan Sinta.


" Dokter mengatakan dia mengalami syok " Jawab Jo.


" Sinta,.... Hikss ini mama sayang " Ujar Maria. Mengelus kepala Sinta. Dia sangat takut Sinta pergi menyusul sang suami.


" Terimakasih banyak sudah menolong Sinta" Ucap Maria tulus pada Jo.


" Tak masalah tante lagi pula Sinta teman adik saya " Jawab Jo.


" Siapa? " Tanya Maria.


" Unaya tante" Jawab Jo.


" Sekali lagi tante banyak terimakasih, tante gak bisa bayangin gimana tante kalau Sinta sampai terluka " Ujar Maria.


" Iya tante. " Ujar Jo.


" Ueeghhhh " Leguh Sinta yang sadar.


" Sayang ini mama" Panggil Maria.


" Hikssssss mama hiksss, mereka mau bawa Sinta hikss" Tangis Sinta merasa takut.


" Gak papa Sinta udah aman" Kata Maria.


" Hiksss mama" Isak Sinta.


Jo yang tak tega melihat Sinta menangis pun mendekat.


" Ka Jo hikss" Lirih Sinta melihat Jo.


Jo pun memeluk Sinta menenangkan nya.


" Kau takut" Lirih Sinta memeluk Jo dengan erat.


" Gak papa ingat mereka udah gak ada" Ujar Jo. Sinta sudah mulai tenang kembali setelah di bujuk jo.sampai Sinta pun terlelap kembali akibat kelelahan menangis.


Jo kembali merebahkan Sinta perlahan agar tak terbangun. Membungkus tubuhnya dengan selimut sebatas dada.


" Maaf tante saya memeluk Sinta tadi tanpa izin" Ujar jo.


" Tak apa saya malah berterimakasih berkat kamu Sinta jadi tenang kembali" Jelas Maria.


" Sama-sama tante " Jawab Jo.


" Kalau boleh saya tau nama nak siapa.? " Tanya Maria.


" Saya Jonathan tante" Jawab Jo dengan sopan


" Saya Marianne adven, mamanya Sinta panggil aja tante maria " Ujar Maria.


" Iya tante Maria " Ujar jo


" Iya nak Jo. Apa tak ingin pulang soalnya ini sudah malam Sinta biar saya saja menunggu " Ujar maria.


"Gak papa tante , saya juga ingin menemani Sinta" Jawab Jo.


" Apa nak Jo menyukai Sinta? " Tanya Maria langsung blak-blakan.


" Sejujurnya iya" Jawab Jo lantang walau sedikit gugup.


" Apa Tante keberatan jika saya mengejar Sinta? " Tanya Jo.


" Jika Sinta mau saya tak masalah, selama itu membuat nya bahagia" Jawab Maria. Siapa pun nanti pendamping Sinta selagi bisa membuat nya anak tunggal nya itu bahagia dia tak masalah bahkan orang tak. Mampu sekalipun ' pikirnya.


Tak mampu bisa di bilang miskin adlah Jo yang dulu sebelum bertemu ayahnya Dazian dan dia angkat anak oleh beliau.


Sekarang Jo bahkan juga punya perusahaan sendiri walaupun masih di bawah naungan perusahaan Dazian. Tapi itu di bawah kendali Jo sendiri.


" Saya janji akan buat Sinta bahagia tante " Jawab Jo.


" Terimakasih saya percaya " Ujar Maria .


Bagai di terpa angin sejuk, Jo senang karena sudah di beri lampu hijau sama sang calon mama mertua.


" Terimakasih tante " Ujar Jo.


"Tante kalau mau pulang , Sinta biar saya yang jaga. Saya tau. Tante pasti sangat sibuk" Ujar Jo.


" Iya saya memang sibuk, tapi saya berusaha sebaik mungkin memberi Sinta perhatian " Jelas Maria.


" Kalau begitu saya tinggal Sinta sama nak Jo ya, tolong jagain" Ujar Maria tersenyum.


" Pasti tante " Ujar Jo.


" Tante pamit, kalau ada apa-apa kabari tante" Ujar Maria memberikan kartu nama nya pada jo.


" Iya tan, Hati-hati " Ujar Jo ingin mengantar maria.


" Tak perlu mengantarkan tante, temani Sinta saja " Suruh Maria.


Jo pun mengangguk mengiyakan. Jo mengeluarkan ponselnya menelpon salah satu bawahan.


" Roy bawakan saya baju ganti ke rumah sakit tadi" Perintah Jo.


" Baik tuan" Jawab Roy.


Jo duduk di samping Sinta menggenggam tangan Sinta dengan kedua tangannya.


Hingga suara ketukan pintu menyadarkan nya.


Tok


Tokk


Tokkk


" Permisi tuan ini saya" Panggil Roy dari balik pintu.


" Masuk saja" Ujar Jo.


Roy pun masuk, membawa penerbang berisi pakai ganti Jo.


" Ini tuan" Ujar Roy menyerahkan paper bag di tangannya.


" Iya terimakasih , kamu bisa berjaga di luar " Perintah Jo.


" Baik" Jawab Roy.


Setelah mendapatkan baju ganti Jo langsung bergegas ke kamar mandi , membersihkan dir dan mengganti pakaian nya.


" Sinta" Ujar jo baru keluar dari kamar mandi melihat Sinta yang duduk di ranjang nya.


" Ka Jo, mama mana.? " Tanya Sinta.


"Tante maria tadi pamit pulang, kamu bisa aku yang menemani"jelas Jo.


" Oh, Sinta mau ke toilet ka, tapi kaki Sinta lemas" Ujar Sinta.


" Aku bantu" Kata Jo menghampiri Sinta, lalu mengendong nya ke kamar mandi. Setelah itu Jo pun keluar.


Dengan perlahan Sinta berjalan membuka pintu toilet ingin keluar .


Ceklek.


" Kenapa gak panggil aku" Ujar Jo khawatir.


" Maaf ka " Ujar Sinta yang sudah di gendong Jo ala bridal style. Dan membawanya ke ranjang.


" Terimakasih ka Jo" Ucap Sinta.


" Sama-sama, apa kamu lapar mau makan malam ? " Tanya Jo.


" Enggak ka" Ujar Sinta menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah tidur lagi ini sudah malam " Kata Jo.


"Jangan bilang sama naya ya ka , apa yang terjadi tadi " Pinta Sinta, dia tak mau bumil tuh banyak pikiran. Para sahabat nya juga pasti khawatir kalau tau keadaan sekarang.


" Iya enggak " Jawab Jo.


"Y sudah kamu tidur" Suruh Jo.


" Terus ka Jo gimana ? "Tanya Sinta.


" Aku akan tidur disofa , kalau kamu ingin sesuatu bisa panggil aku" Kata Jo.


" Iya ka Jo" Ujar Sinta.


Pun mencoba memejamkan mata berharap tertidur.


"Senang banget, di tolong, di temani pangeran " Batin Sinta senang.


Sambil mata nya menatap ke arah Jo. Yang rupanya sudah tertidur.


Padahal Jo sangat kelelahan sehabis menyelesaikan Urusannya siang tadi.. Namun dia paksakan untuk menemani gadisnya.


" Ka jo pasti kelelahan nunggu aku dari tadi sore" Gumam Sinta.


Hingga matanya mulai mengantuk dan dia pun terlelap.


Pukul 3 pagi Sinta terbangun karena merasakan Tenggorokannya kering.


" Haus" Gumam Sinta. Bangun dari tidurnya nya mencoba mengambil air yang di letakan di meja samping itu tempat tidurnya.


Pranggggg.


Karena pegangan tangan Sinta gelas itu pun terlepas.


Jo yang tidur nyenyak pun langsung terbangun mendengar pecahan kaca.


"Kenapa? "Tanya Jo langsung. Mendekati Sinta.


" Maaf ka Sinta jadi buat kaka bangun " Kata Sinta.


" Gak papa, kamu kenapa? Haus kenapa gak panggil aku saja" Ujar Jo.


" Sinta liat ka Jo nyenyak banget tidur jadi gak tega bangunin nya" Jelas Sinta.


" Gak papa bangunin aja, aku ambilin air dulu ya " Ujar Jo kembali mengambil kan segelas air untuk Sinta. Dan membersihkan pecahan gelas di lantai agar tak terinjak.


" Sudah? " Tanya Jo


Sinta pun mengangguk menyerah kan gelas nya kembali pada Jo.


" Tidur lagi " Kata Jo. Duduk di samping ranjang Sinta, Jo sangat perhatian pada Sinta.


Mengelus-ngelus kepala Sinta sampai Sinta tertidur lagi.


Dan Jo pun tertidur terduduk dengan tangan memegang tangan Sinta.