
" ja jangan mendekat" ujar Dina
" Ku mohon a ampuni aku" mohon Dina
" Beri aku satu alasan kenapa aku harus mengampuni mu?" Tanya Nana.
Kini Dina hanya diam tak mampu menjawab, kemudian Nana mengeluarkan pisau lipat kesayangan dari saku nya.
" Apa mama ku saat memohon untuk hidup kau kabulkan?"
" Apa ada sedikit rasa kasihanmu saat melihat mama ku yang terluka?"
" Engga kan!!!!"
" jadi Kita mulai dari mana ?" Tanya Nana pada Dina. Dina yang melihat Nana mengeluarkan pisaunya pun langsung takut sekali.
" A a apa yang kau ingin lakukan". Ujar Dina ketakutan.
" Tenang saja aku hanya ingin kita bermain sebentar" ujar Nana
" Lepaskan aku " mohon Dina
"Tentu...... Tentu tak bisa " ujar Nana.
" Wah pipinya lumayan mulus tuh" ujar Alex
" Kaka yakin?" Tanya Nana
Srettttt... Nana menyayat pipi Dina dengan pisaunya.
" Akhhhhh ampun!!!" Rintih Dina .
" Baru juga di gores sudah minta ampun" ejek Nana
" Sekarang gimana bang masih mulus gak?" Tanya Nana.
" Lumayan sih" jawab Alex
Sementara Dion hanya diam melihat Dina di siksa Nana
Jlepp....
" Akhhhhh" rintih Dina kesakitan akibat tangan di tusuk Nana dengan pisau.
" Kau pasti sangat senang kan Dina sampai berteriak kegirangan" ujar Sasa .
" Akhhhhh,ampun sakit sekali " rintih kesakitan Dina
" Baru juga mulai udah aduh-aduh , santai Dina dan nikmati saja" kata Nana dengan senyuman nya.
" Apa ayah mau mencoba nya?" Tanya Nana pada Dion yang fokus menatap nya.
" Tidak , kau saja habisi dia " jawab Dion.
" Mass aku minta maaf tolong aku " kata Dina memohonkan
PLAKKKKK
Nana menampar Dina tepat di pipi yang di sayat nya tadi.
"Akhhhhh , perih" keluh Dina yang darah sudah mengalir di pipinya.
" Aduh abang Nana jijay sama darahnya" keluh Nana
" Iya nanti kita bersihkan setelah selesai" sahut Daz.
" Lanjut" ucap Alex.
" Abang Nana pinjam pedang dong" ujar Nana. Jo pun mengantar pedang yang di bawa tadi pada Nana.
" Nana pinjam dulu ya bang" kata Nana di balas Jo dengan anggukan.
Slash....
Pedang panjang milik Jo memang lah sangat tajam hanya dengan sekali tebasan lengan Dina langsung terputus dari tubuhnya.
" Akhhhhh" teriak Dian merintih kesakitan darah segar sudah mengucur deras dari lengannya.
" Satu lagi bair adil entar iri lagi ujar Nana
Slash... Kembali memotong tangan Dina yang sebelah nya.
" Kan cukup bagus " ujar Nana memandang tubuh Dina yang tanpa lengan.
" Anakku kejam sekali" batin Dion.
" Abang suka yaya , tambahi lagi" ujar Alex
Dengan setengah sadar Dina berusaha membuka matanya.
BUGH..
" JANGAN MATI DULU BODOH!!!" Ujar sambil menendang Dina sampai dia dan kursinya terlempar menabrak dinding kamar.
Srettttt...
Nana memotong tali pengikat Dina, kemudian Dina pun langsung tersungkur ke lantai.
Nana mendekat ke arah Dina dan langsung mencekik Dina sampai tak bernapas lalu membantingnya ke lantai yang sudah penuh darah Dina.
Jlepp
Jlepp
Jlepp
Beberapa tusukan di berikan Nana di perut Dina yang membuat nya langsung meregang nyawa .
Slashss..... Dengan penutupan terakhir, kepala Dina yang sudah terpisah dari tubuhnya .
Prokk..
Prokk..
" Pertunjukan yang sangat bagus Yaya" ujar Alex.
" Ade Abang emang keren banget" Puji Jo
" mission completed ( misi selesai) " kata Daz .
" Maafin ayah ya , selama ini udah gak adil sama kamu bh sempat kasar ,maafin ayah " ujar Dion sambil memeluk Nana
" Iya yah udah Nana maafin " jawab Nana.
" Mending sekarang kita keluar dari kamar ini " ajak Nana.
" Bang suruh yang lain buat bersihin kamar ini ya" ujar Nana.
" Siap " sahut Alex
" Apa ayah ingin mengubur tubuh Dina?" Tanya Nana.
" Gak , bahkan ayah gak Sudi menyentuh mayatnya" jawab Dion .
Lekas Alex menyuruh para Mafioso yang sedang berjaga di depan.
" Ayah bersihkan lah ayah setelah itu istirahat lah " kata Nana. Sementara Nana pun juga masuk ke dalam kamarnya mengganti semua pakaian dan membersihkan diri. Setelah selesai Nana pun keluar dari kamar nya di lihatnya di ruang tahu para abang nya sudah pada duduk di sofa menunggu.
" Hah Nana lelah bang" ujar Nana menjatuhkan dirinya di tengah Jo dan Dazian sementara Alex duduk di depan Mereka.
" Apa kau senang hari ini?" Tanya Daz
" Tentu, hari ini sangat menyenangkan bisa membasmi hama beracun yang selama ini bersarang di sini " jawab Nana.
" Abang mau nginep ?" Tanya Nana
" Gak de Kita semua mau pulang setelah ini" ujar Jo
" Gak nginep aja bang " bujuk Nana.
" Nanti ya " ujar Daz .
" Kita pulang dulu ya Ade kesayangan Abang " ujar Daz memeluk Nana.
" Hati-hati bang, thanks bang buat hari ini" ucap Nana membalas pelukan Daz
Kemudian berpindah memeluk Alex dan Jo bergantian.
"Setelah ini kamu istirahat ya " suruh Daz
" Siap bang" jawab Nana.
Setelah mengantar para Abang nya di depan rumah Nana pun kembali ke kamarnya, merebahkan dirinya yang sangat lelah hari ini. Dia pun merasa mata mulai berat dan Nana pun tertidur.
" Selamat pagi dunia tipu-tipu" ucapnya saat baru membuka mata Nana melihat ke arah jam nya serang jam menunjukkan pukul 10:06 untung saja hari ini hari Sabtu Karna sekolah Nana memang sampai Jum'at saja sehingga Sabtu Minggu di liburkan.
" Tidurku sangat nyenyak " ujar Nana. Nana pun bangkit dari tempat tidurnya berlari menuju kamar mandi membasuh muka serta menggosok gigi. Tanpa mandi dia turun kebawah lebih tepatnya ke dapur ingin sarapan. Ya walaupun kesiangan .
" Pagi ayah " sapa Nana yang melihat Dion sedang duduk makan di meja makan.
" Ayah baru sarapan?" Tanya Nana.
" Iya soalnya ayah ke siangan baru bangun" jawab Dion.
"Sama dong kita" sahut Nana
" Ternyata kamu memang anak ku" kekeh Dion
" Ya ialah kalo bukan terus nana anak siapa dong" jawab Nana, Dion pun tertawa melihat muka Nana yang sedikit cemberut
Ayah dan anak itu kini sudah mulai kembali menghangat.
" Bi bisa bikinkan Nana susu" ucap Nana
" Bisa non tunggu sebentar" jawab bi Surti
Nana memang sangat suka minum susu di pagi hari , namun semenjak ada Dina dan Sasa di rumah ini di mulai melupakan kebiasaan nya Karna terbiasa tidak ikut sarapan dulunya.
" Ayah gak ada kerjaan hari ini?" Tanya Nana
" Ada dong kan ayah super sibuk" jawab Dion
" CK kebiasaan tak berubah " ujar Nana.
Bi Surti pun datang dengan segelas susu hangat ditangan nya.
" Ini non" kata bi Surti meletakkan gelas susunya di meja.
" Makasih bi " ucap Nana.
" Nana Siapa ketiga lelaki tadi malam ?" Tanya Dion
" Kan udah Nana bilang Abang Nana ayah" jawab Nana.
" Mereka semua sepertinya menakutkan walaupun wajah mereka tampan" kata Dion.
" Hehe Abang Nana memang tampan semua ayah" kekeh Nana.
" Dari mana kamu kenal mereka?" Tanya Dion lagi.
" Ayah gak perlu tau dan ayah juga gak perlu khawatir mereka semua sangat baik pada Nana mereka seperti sudah menganggap Nana Ade kandung mereka sendiri, bahkan saat Nana di usir ayah mereka lah yang menampung dan menghibur Nana" ujar nana
" Maafin ayah membuat luka mu terbuka lagi" kata Dion
" Udah lah yah anggap itu masa lalu" ujar Nana.
Cukup lama mereka berbincang di meja tak terasa makanan mereka pun sudah ludes tertelan.