Mafia This Is My Girl

Mafia This Is My Girl
gagal



Paginya Setelah sarapan Nana berpamitan pada orang tua Natan ingin pulang ke mansion Daz .


" Mom Dad Naya pulang dulu ya , nanti Naya nginep lagi" ucap Nana tersenyum


" Iya sayang , El antar anak mommy gih" suruh Yuri


" El juga anak mommy " kata Natan kesal


" Kamu mah anak pungut El " ucap Daddy Devan yang mengundang gelak tawa Yuri dan Nana


" Ih Daddy, Ayo ay aku antar kamu " ucap Natan menarik tangan Nana menaiki mobilnya.


" Hati-hati sayang" teriak Yuri


" Kalo gitu Daddy juga berangkat ke kantor ya mom " kata devan. Dan di angguki Yuri


Di kediaman Fernandez dua orang ibu dan anak sedang merencanakan sesuatu di dalam kamar mereka.


" Mah kenapa papa gak bisa di hubungin ?" Tanya Sasa


" Mungkin papah lagi sibuk sayang" ujar Dina yang belum mengetahui kematian Fred.


" Gimana rencana kedepannya ma?" Tanya Sasa


" Mama juga lagi mikir ini sa" kata Dina


" Gimana kalo kita bunuh aja ayah sekarang mah, biar cepat selesai" kata Sasa


" Bagus juga saran kamu" kata Dina.


Dina pun mengeluarkan telpon nya menelpon seseorang.


" Aku ada tugas buat kamu.................


" Jangan sampai gagal " kata Dina setelah itu langsung mematikan sambungan teleponnya.


" Sudah kita turun dulu ayah palsu mu sudah menunggu di bawah untuk sarapan" kata Dina


" Oke mah" jawab Sasa


Mereka pun keluar kamar menuju meja makan yang sudah ada Dion disana.



Mobil yang di kendarai Natan sampai di mansion Daz Nana pun keluar dari mobil.


" Kamu mau mampir dulu ay?" Tanya Nana


" Gak ay aku kayanya langsung aja deh soalnya mau ke kantor Daddy" ucap Natan seperti biasa setiap hari libur atau pun tanggal merah Natan selalu membantu daddy-nya di kantor sekalian belajar mengurus perusahaan.


" Ya udah kamu hati - hati ya, aku masuk dulu bye " jawab nana melambaikan tangan nya.


" Bye ay" ujar Natan


Mobil yang Natan pun keluar dari mansion Daz


" Abang!!!! Nana pulang nih" teriak Nana


" Apa Sih ya Abang gak budek " jawab Daz yang sedang duduk di sofa sambil memainkan telpon genggamnya.


" Hehe engga bang " ucap Nana yang juga ikut duduk di samping Daz .


Kringg..


Kring...


Kring... Nana pun mengangkat teleponnya.


" Halo" ujar Nana


"........"


" Baik pantau terus mereka, kalo mereka bergerak langsung habisi" kata Nana


Tut.. Nana langsung mematikan sambungan teleponnya.


" Ada apa ?" Tanya Daz


" Biasa bang ke ular itu sudah memulai aksinya" ucap Nana


" Terus apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Daz lagi


" Ya liat aja dulu bang gimana rencana mereka" ucap Nana .


" Mas jadi ke kantor hari ini?" Tanya Dina sambil mengambilkan makanan untuk Dion


" Iya sayang mas ada meeting dengan klien penting hari ini" ucap Dion.


" Ayah hati-hati " kata Sasa


" Iya sayang" ucap Dion mengelus kepala Sasa


Sarapan pun selesai Dion langsung berangkat menuju kantornya.


Namun di tengah perjalanan tiba-tiba mobilnya mendadak di berhentikan beberapa orang berpakaian hitam tertutup.


Tok... Tokk...tokkk.


Salah seorang dari mereka mengetok kaca mobil Dion. Dion pun keluar


" Siapa kalian?" Tanya Dion


" Kami malaikat pencabut nyawa anda " ucap penjahat tersebut yang langsung menendang dion tanpa sempat Dion melawan.


BUGH..


BUGH..


" Akhhhhh... Siapa kalian ?" Tanya Dion sambil memegangi dadanya yang sakit akibat tendangan lawan.


" Anda tak perlu tau tuan" ucap seorang penjahat yang tiba-tiba mengeluarkan kan pisaunya.


Mata Dion pun terbelalak melihat lawannya mengeluarkan pisau . Yang hendak di tusukkan padanya . Tapi sebelum pisau itu sampai di Perut Dion.


Salah satu pengawal bayangan yang di tugaskan Nana melindungi Dion pun keluar dan menendang tangan penjahat tersebut, pisaunya pun terlempar.


" Siapa kalian berani sekali ikut campur " ucap penjahat.


Tanpa menjawab pertanyaan tersebut pengawal pun langsung menyerang nya , dan beberapa para pengawal yang masih bersembunyi ikut keluar menghajar para penjahat.


BUGH...


BUGH...


Dorr...dor.... Terdengar suara tembakan yang membuat Dion terkejut takut. dan langsung masuk kembali ke dalam mobilnya.


Tak butuh waktu lama para pengawal bayangan yang di tugaskan Nana pun berhasil menghabisi para penjahat tak bersisa.


" Anda tidak papa tuan ?" Tanya salah satu pengawal pada Dion


" Aku tidak papa" jawab Dion.


" Baiklah anda bisa melanjutkan perjalanan anda tuan " kata pengawal lagi.


" Baik terima kasih, siapa yang sudah mengirim kalian?" Tanya Dion


" Maaf tuan itu privasi " jawab nya


" Baiklah sekali lagi terimakasih " kata Dion


Dion pun melanjutkan perjalanan ke kantor, sementara para pengawal bayangan itu pun kembali ke posisi mereka masing-masing sambil menjaga Dion dari kejauhan.


Kring..


Kring..


Kring...


Nana yang tengah berbaring di sofa dengan ber bantal kan paha di kejutkan dengan suara telponnya sendiri.


" Ada apa ?" Tanya Nana


" Tuan sudah sampai di kantor Queen " jawabnya


" Baiklah kembali ke tugasmu" kata Nana sambil mematikan Telponnya.


Sementara di kediaman Fernandez seorang wanita tengah menerima telepon dengan marah-marah.


"APA!!!! KALIAN GAGAL". Bentaknya


"Maaf nyonya jika saja ada memberi tahu lebih dulu kalau dia punya pengawal kami pasti membawa lebih banyak pasukan" ujarnya


" SIALAN SIA-SIA AKU MEMBAYAR KALIAN" marah Dina


" Dan anda harus ganti rugi nyonya untuk beberapa pengawal saja saya yang sudah mati" ucapnya tegas


" Baik akan ku kirim " ucap Dina


Sasa yang keluar kamar pun heran mendengar mamanya yang tengah marah-marah.


" Mama kenapa sih?" Tanya Sasa


" Rencana kita gagal sayang" ucap Dina


" Ko bisa?" Tanya Sasa


" Ternyata si tua Bangka itu punya pengawal , kata orang suruhan mama" kata Dina


" Emang ada ? Perasaan gak punya deh mah" ucap Sasa


" Tau mama juga bingung" kata Dina


" Ah mama tau kita pakai cara yang sama seperti kita membunuh istrinya " kaya dina lagi


" Mama memang hebat, setelah itu semua hartanya jadi kita dan kita bakalan semakin kaya dong " kata Sasa senang.


"Huh" Nana menghela napas


" Kenapa ?" Tanya Daz


" Yaya bosan bang" kata nana


" Terus mau ngapain?" Tanya Daz lagi


" Gimana kalo kita jalan-jalan bang " ajak Nana


" Boleh, Abang akan temani kamu berkeliling " kata Daz


" Gimana kalo kita ke mall aja bang? Nana udah lama gak belanja " Tanya Nana


" Boleh nanti Abang yang bayari semua belanjaan Yaya" kata Daz .


" Yes , jangan salahkan aku ya bang kalo nanti aku merampok dompet Abang" ucap Nana senang.


Daz pun ikut senang melihat Nana yang riang ' setidaknya dia melupakan masalahnya sebentar'pikir Daz


Mereka berdua pun sampai di square mall, baru 1 jam mereka disana tapi tangan Daz sudah penuh membawa beberapa peperbag , Nana seperti wanita pada umumnya suka belanja apapun yang di liatnya bagus beli.


" Bang Nana lapar , bagaimana jika kita makan di sana " ajak Nana dengan wajah senang.


Keduanya pun duduk di sebuah restoran yang biasa saja namun membuat mereka nyaman. Pelayan pun datang membawa menu.


" Saya mau spaghetti bolognese sama jus apel, kalo Abang?" Tanya Nana


" Samain punya kamu aja " ucap Daz


" Baik mohon di tunggu mba " ucap pelayan.


" Dazian!!"


Daz yang mendengar ada yang memanggil nya pun menoleh.


" Friska?" Kata Daz


" Iya aku Friska, kamu ngapain ?" kata perempuan itu


" Ya seperti kamu lihat sendiri kita mau makan" kata Daz


"Boleh gabung ?" Tanya Friska


" Silahkan" ucap Daz


" Abang ke toilet sebeny ya Yaya " kata Daz Nana pun menjawabnya dengan anggukan


" Siapa bocil ini?" Tanya Friska nada tak suka


" Ada apa Tante ?" Tanya Nana dengan muka polos .


" Heh aku bukan Tante Lo " tunjuk Friska marah tak terima di katain Tante


Pelayan pun datang membawa pesanan makan Nana dan Daz .


" Lo pasti mau duit Dazian aja kan, asal kamu Lo tau ya Dazian itu calon suami gua" ucap Friska lagi


Nana pun tak menanggapi omongan Friska malah asik dengan makanan nya yang membuat Friska geram. Dan menarik rambut Nana


" Bangsat sakit Tante " Nana pun tak tinggal diam membalas menarik rambut Friska dan mendorongnya sampai jatuh.


" Ada apa ini!!!" Ucap Daz