Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Survivor



Gedung Garnet Property memang 3x lebih kecil daripada Gedung Garnet Grup. Namun, lebih ramai dan suasananya lebih santai.


Dilantai basement ada area bowling, di lobby dan lantai 1 ada diskotik kelas atas dan pub eksklusif. Lantai 3b dan 5 dibuat loss khusus area kuliner, kantor pengelola dan bagian umum juga ditempatkan disini agar tenant lebih mudah bertransaksi, dan di lantai 6 ada bioskop.


Lantai 7 keatas adalah area kantor.


Lokasi Eiichi ada di lantai 20.


Arman turun dari motor besarnya di area parkir khusus dan melepas helmnya.


Lalu menghela napas, berusaha meredam kemarahannya.


Human error sering terjadi, terutama saat intensitas perintah dari atasan mulai jarang terdengar. Tapi seingatnya, ia tidak pernah menginstruksikan untuk menghentikan pengamatan ke anak buahnya di Jepang.


Gedung Garnet Property ramai hari ini. Penuh dengan anak-anak muda bergerombol. Beberapa komunitas motor mengagumi Triumph Tiger Explorer 1200cc yang barusan ia gunakan.


Penjaga parkiran dan beberapa sekurity menyambutnya dengan hormat.


"Pak Arman, apa kabar?" Sapa komandan regu.


Arman menjabat tangannya.


"Cewek Jepang yang barusan datang, sendirian atau ada anteknya?" Tanya Arman langsung.


"Sendirian pak, kami sudah menanyai supir taksi yang mengantarnya kesini, tapi ternyata hanya supir taksi biasa. Kami sudah konfirmasi ke perusahaan taksinya. Selain itu tidak ada orang yang mengikutinya, baik dari luar maupun di dalam area gedung. CCTV sudah kami cek."


Arman tersenyum seperti biasa. "Oke Pak, terima kasih. Salam buat istri, sebentar lagi melahirkan, kan?"


Komandan Regu Sekuriti mengangguk senang karena Arman mengingat keluarganya.


Arman selalu mengingat orang-orang yang bekerja bersamanya.


Itulah sebabnya, masa lalunya yang kelam di kepolisian tidak bisa begitu saja ia hapus dari ingatannya. Ia ingat per detailnya.


Dan ia menyesal...


Menyesal karena langsung menembak targetnya di dahi.


Tahu begitu ia siksa dulu saja... agar sepadan dengan kematian orang tua angkatnya.


Sosok Arman pasti membuat orang melirik sedikitnya dua kali. Tinggi 185cm, berat 70kg, dengan raut ramah yang selalu tersenyum andalannya. Kontur wajahnya memang diciptakan untuk memperlihatkan kelembutan, saat cemberut pun kesannya ia sedang tersenyum. Sudut bibirnya tertarik ke atas dan mata coklatnya sedikit sayu.


Ia sedang dalam kondisi kesal, sebenarnya.


Sekaligus takut ditegur Sebastian.


Ia tidak suka wajah datar Sebastian saat merasa tidak berkenan. Arman sering diomeli Sebastian saat jam-jam kerja, seperti mengganggu bossnya dengan panggilan telepon, telat semenit dua menit menjemputnya, atau menggunakan jam makan siang terlalu lama karena kegiatan pribadinya. Namun kalau hal ini...


Ini akan mencoreng mukanya, kehormatannya, prestasi kerjanya selama ini.


Semuanya akan habis kalau Sebastian sampai membuat masalah ini jadi panjang.


"Dimana dia?" tanya Arman saat masuk ke ruangan operasional.


Lantai 20 sepi, karena sudah menunjukan pukul 21. Di ruangan operasional hanya ada Eiichi.


"Anooo... Saya taruh di ruangan Boss Mika."


"Boss Mika?"


"Eh, Pak Tooru..." wajah Eiichi tampak segan. Kemungkinan dia baru saja terlibat pembicaraan dengan Ayumi. Mungkin ada beberapa hal yang sifatnya mengagetkan yang baru saja Eiichi ketahui. Karena tampak kalau wajah pria Jepang mantan host itu kelelahan.


"Seizin Pak Trevor?" tanya Arman.


Eiichi menggeleng.


"Boss Mika tidak tahu mengenai Ayumi. Saya pegang kunci ruangannya jadi saya bisa buka. Karena saya tidak tahu lagi mau saya tempatkan dimana."


Arman berjalan ke arah ruangan Trevor.


"Yazaki-San..." Arman menoleh ke arah Eiichi sebelum membuka pintunya. "Pastikan tidak ada yang datang saat saya di dalam. Kamu berjaga di luar." katanya.


Eiichi mengangguk lemah.


*****


Arman sudah sering melihat foto Ayumi, atau rekaman video mengenai wanita itu hasil laporan anak buahnya.


Namun baru kali ini mereka bertemu secara langsung.


Wanita itu menatap Arman dengan waspada sambil langsung berdiri dari duduknya. Arman sedikit tertegun saat melihatnya.


Terutama di bagian leher Ayumi.


Ayumi tampak ketakutan dan waspada. Arman mengenal kondisi itu. Seperti para wanita yang ia temukan saat melakukan penggerebekan perdagangan manusia. Atau seperti tahanan dari manusia psikopat yang sudah dikurung cukup lama.


"Nama Saya Arman. Saya Kepala Tim Satuan Pengamanan Garnet Security Agency. Duduk saja... saya mau tanya-tanya sedikit, sebelum Pak Sebastian memerintahkan saya untuk bunuh kamu." sambar Arman sambil duduk di kursi Trevor.


"Sebastian?" tanya Ayumi.


"Kamu tidak berharap dia ada. Kalau dia tahu kamu di sini, dia akan langsung tembak kamu dengan tangannya sendiri." Arman melepas jaket kulitnya dan melemparkan ke sofa terdekat.


"Tapi kamu akan beritahu dia, kalau saya ada di sini."


"Harus saya beritahu."


Bahasa Indonesia wanita ini lumayan bagus, tutur katanya yang terdengar sopan menandakan kalau ia berpendidikan. Walaupun logat Jepangnya masih sangat kentara dari caranya mengucapkan huruf L menjadi R, namun Arman masih mengerti maksudnya.


"Sakurazaka..."


"Tolong panggil Ayumi saja." desis Ayumi.


Arman terseyum sinis. Ia tidak berpikiran untuk beramah-tamah dengan wanita ini, semanis apapun sosoknya.


"Sakurazaka-San..." ulang Arman, kali ini dengan penuh ketegasan. "Apa yang kamu lakukan di Indonesia?"


"Saya... Mau meminta perlindungan."


"Dari apa?"


"Jaminan keselamatan hidup saya, dari kejaran Yamaguci."


"Kamu bohong, kamu langsung mati. Tidak akan ada yang mencari kamu... Kamu yatim piatu dan dalam kondisi terbuang. Ingat?"


Ayumi semakin menegakkan duduknya. Ia tegang.


"Saya mau dibunuh Yamaguci. Sebastian harus bantu saya. Sebagai ganti rugi karena dia sudah membunuh kedua orang tua saya."


"Orang tua kamu meningggal karena sakaw akibat narkotika buatan mereka sendiri." sahut Arman.


"Kalau mereka tidak dipenjara, mereka tidak mati."


"Semuanya kan gara-gara kamu kasih obat macam-macam ke Pak Trevor."


"Saya benar-benar tidak tahu kalau efeknya akan seserius itu."


"Wanita pintar seperti kamu tidak tahu kalau itu psikotropika?"


"Saya bukan pemakai, jadi saya tidak tahu."


Jeda sebentar karena Arman menarik napasnya, mengatur napasnya karena dari tadi menahan kesabarannya.


Wanita ini...


Playing victim.


Arman harus hati-hati menanyainya.


"Kenapa Yamaguci mau bunuh kamu?"


"Karena... Dia mencurigai saya. Waktu itu ada alat GPS di tas saya. Tas itu hadiah dari Rady-San. Sejak itu Yamaguci mencurigai saya. Terlebih saat Mikaeru tiba-tiba memutuskan hubungan dengan saya, dan tiba-tiba tidak bisa lagi saya hubungi. Lalu semua perjanjian mereka diputus karena operasional Garnet Med dibekukan. Semua rencana kami langsung gagal. Yamaguci berpikiran ada orang dalam yang membuat segalanya berjalan tidak lancar... Dan saya adalah potensi terbesar untuk itu." cerita Ayumi.


"Dan... Apa yang bisa kamu tunjukan kalau kamu tidak berbohong?"tanya Arman.


Ayumi menghela napas.


Lalu berdiri.


Dan melepas semua pakaiannya.


Dalam kondisi normal, Arman pasti akan terangsang melihat wanita telanjang di depannya.


Namun yang di depannya ini...


Selain guratan bekas tali di lehernya, sekujur tubuh Ayumi biru-biru. Punggung sampai bokongnya bekas dicambuk dengan beberapa goresan masih basah oleh darah.


Dia menahan sakit sepanjang perjalanan.


"Saya berhasil kabur saat mereka bersiap untuk memperkosa saya beramai-ramai." desisnya. "Bawaan saya hanya tas tangan itu. Isinya hanya paspor, dompet dan ponsel... Saya tidak punya tempat tujuan selain kesini. Saya hanya hafal nama perusahaan tempat Mika bekerja. Supir taksi barusan saya bayar menggunakan yen. Saya tidak sempat menukar rupiah."


Arman menyandarkan tubuhnya sambil menarik napas panjang.


Terbayang di benaknya raut wajah angker Sebastian, besok pagi.