Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Wanita Dari Masa Lalu



"Kamu beberapa hari ini pulang ke rumah ortu?"


Pagi ini, itu pertanyaan pertama dari sekian banyak pertanyaan lain dari Trevor.


Milady bahkan belum sempat menyesap kopinya.


"Ehem!... Kesepian yaaaaaaa..." goda Milady.


Trevor masih belum mau pulang ke rumah Darmawangsa karena malas bertemu Sebastian, tanpa mengetahui kalau Sebastian dan Milady sudah menikah dan sekarang tinggal di penthouse.


"Iya lah... Aku biasanya selalu punya teman loh."


"Nginep aja di rumah Dimas. Atau Leon... Lagipula kamu keukeuh amat tinggal di apartemenku."


"Tadinya sih mau me time. Tapi kok makin lama aku jadi ditinggalin sendiri..."


Trevor duduk di sebelah Milady, di kursi Eiichi sambil mengutak-atik komputer lalu mempelajari draft pengajuan anggaran yang sudah dikerjakan Eiichi di sana.


Eiichi hari ini izin tidak masuk karena tiba-tiba sakit. Mungkin karena kemarin cowok itu kerja lembur. Untung saja sebagian besar pekerjaan sudah Eiichi selesaikan sehingga hari ini Milady bisa agak santai bekerja.


Lalu Trevor berdecak saat membaca barisan paling bawah.


"Aku masih merasa rooftop di Coastview itu ngga berguna. Tapi tiba-tiba Yang Mulia memuji hasil kerja kita untuk rooftop." desis Trevor. Tampak ia menatap Milady dengan tatapan curiga.


Milady meliriknya waspada sambil senyum-senyum dan menyesap kopinya.


"Lalu bagaimana tambang di Rusia?" Milady mengalihkan perhatian Trevor.


Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi, berusaha santai.


"Siang ini, aku, Dimas dan Bram ke Gedung Garnet Grup. Gunawan minta bertemu..."


"Yang itu aku sudah tahu. Pertanyaanku, bagaimana kamu akan menghadapinya? Kamu Komisaris Utama tambang itu."


"Pertanyaannya..." Trevor memutar kursinya menghadap Milady. "...bagaimana kamu bisa tahu hal itu?"


Haduh...


Salah bicara... Pikir Milady tegang.


"Kamu sudah janji, tidak ada lagi rahasia diantara kita. Lalu apa itu yang melingkar di jari manis kamu? Cincin dariku kemana? Dan kenapa pernikahan kita tiba-tiba batal?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Trevor.


"Hei, Bro..." sapa Dimas, tiba-tiba pria itu sudah di depan mereka. Menyeringai ke arah Trevor dengan binar mata jahilnya yang khas.


"Lo beneran dateng di saat yang ngga tepat!" seru Trevor mengeluh, sambil melempar dokumen ke laci Eiichi.


"Lah! Salah gue apa lagiii!!" seru Dimas sambil menengadahkan tangannya.


"Hoi mau kemana lo?!" tanyanya saat Trevor tanpa basa-basi berjalan masuk ke ruangannya.


"Mau dandan, mau ketemu Yang Mulia Dewa Zeus!" seru Trevor dari dalam ruangannya.


Dimas melirik Milady sambil menyeringai.


"Sebenernya aku dateng di saat yang tepat kan?" Dimas menyeringai.


Milady menghela napas lega.


"Makasih, ya... Dia mulai tanya macam-macam." desis Milady sambil mencium pipi Dimas. Sebastian memang sudah mewanti-wantinya soal ritual cium pipi ini, tapi Milady tidak tahan untuk tidak melakukannya. Mumpung Sebastian tidak ada.


"Ya Pasti lah... Lagian kamu berdua keterlaluan. Seharusnya Trevor yang tahu paling pertama. Serasa dia ngga dianggap di keluarga."


"Aku serahin semua ke Sebastian. Entahlah dia ada rencana apa."


Dimas menoleh ke ruangan Trevor. Pria itu masih di dalam, kini sedang berkutat dengan ponselnya. Kakaknya, Bram, masih ada di dalam ruangannya di sudut satunya, berdiskusi dengan beberapa orang.


"Aku kayaknya tahu maksud Pak Sebastian membuat pernikahan tertutup." Dimas merendahkan suaranya sambil mencondongkan tubuhnya.


"Kenapa?"


"Sampai kalian membuat akte harta gono-gini, pernikahan kalian akan dirahasiakan." kata Pria itu.


Milady tertegun.


Ah! Dia lupa yang itu...


Ini bukan hanya soal menikahi Sebastian.


Ini berhubungan dengan aset triliunan...


Konflik ekonomi internal...


Rahasia perusahaan...


Dan nasib puluhan ribu pegawai.


Secara sah ia menjadi pewaris seluruh aset Sebastian.


Itu berarti sahamnya akan terbagi tiga antara dirinya, Sebastian dan Trevor.


Padahal ini perusahaan terbuka.


30-40% sahamnya dimiliki oleh masyarakat. Itu berarti pernikahannya dengan Sebastian akan menimbulkan perdebatan dalam Komite.


Kalau begini, saat mengeluarkan suatu keputusan, seharusnya Milady sebagai orang yang otomatis ikut menjadi pemilik saham, juga harus menandatangani setiap keputusan yang diambil Sebastian. Padahal status Milady masih menjadi karyawan sah di Anak Usaha. Trevor sudah diberi kewenangan dan batasan secara notariil. Namun, Milady belum.


Akta pisah harta (perjanjian harta gono-gini) adalah solusi hal itu. Sebagai pemisah antara harta pribadi Milady, dengan aset Sebastian.


"...dan juga... Jangan lupa proyek-proyek rahasia di belakang layar. Secara sah, kamu ikut terlibat. Dan hidup kamu bisa terancam bahaya." sambung Dimas.


Milady menghela napas.


"Kenapa sih Sebastian bukan orang biasa saja..." wanita itu mengeluh sambil kembali mengutak-atik komputernya.


"Lagian sih... Waktu itu kutembak malah kamu melengos...aku kan jadi pindah ke lain hati..." goda Dimas.


"Heh, jangan ngomong yang enggak-enggak deh! Kena tulah kamu... Ngga ada yah yang bilang Mbak Meli itu orang biasa." sahut Milady sambil mengibaskan tangannya mengusir Dimas.


Pria itu terkekeh sambil masuk ke ruangan Trevor.


Bahkan Dimas... mungkin sebentar lagi ia bukan lagi orang biasa. Milady sudah dengar soal rencana Sebastian akan menjadikan Dimas sebagai penerusnya.


*****


Arman menghela napas berat saat kembali ke meja kerjanya.


Bantex menggunung di sisinya.


Sebagian sudah diambil Ipang untuk diantarkan ke bagian yang bersangkutan, namun cowok itu sampai sekarang belum juga kembali.


Mungkin Ipang menghindari Arman.


Salah sendiri, mesra-mesraan di depannya... sungut Arman.


Ia lemas... Capek rasanya.


Baru kali ini ia merasa secapek ini.


Ah, tidak... Ada dua kali ia pernah merasa begini.


Yang pertama saat ia baru saja dipecat dari kepolisian.


Yang kedua saat... Pencarian mayat senior agencynya di Gunung Sindoro.


Kalau diingat-ingat lagi...


Nama mereka... Nelson dan Ershad.


Mereka bodyguard dari salah satu petinggi Garnet Bank.


Sekaligus generasi pertama dari Garnet Security Agency. Sudah sekitar 30 tahun lalu didirikan.


Tiba-tiba mereka berdua menghilang... di tahun pertama Garnet Security beroperasi. Begitu yang Arman dengar.


Mayat mereka tidak pernah ditemukan.


10 tahun lalu Arman memimpin pencarian ulang karena permintaan keluarga Rusli. Hanya ditemukan residu pakaian yang telah hangus dari sweater yang dikenakan oleh Khamandana Rusli, Boss mereka.


Waktu itu ia masih bekerja di Kepolisian.


Dan itulah saat pertama ia bertemu Sebastian.


Namun waktu itu Baskara Beaufort masih segar bugar, dan Arman adalah salah satu anak asuhnya. Karena Baskara juga, pangkatnya langsung melejit.


Jadi, Arman belum tertarik untuk bergabung dengan Sebastian.


Baru saat ada konflik itu... dan Arman sendiri yang memimpin penyergapan.


Tadinya ia hanya tahu kalau Diptar Handal adalah tersangka korupsi. Sampai pria itu mengaku sendiri soal 'prestasi' busuknya. Dan tanpa bisa dikendalikan, tangannya menarik pelatuk.


"Pak Armaaaaan..." sebuah panggilan interkom mengagetkannya. Suara Yani.


"Iya, Sayang..." desis Arman, masih menelungkupkan kepalanya ke meja.


"Tamunya sudah aku suruh ke atas yah... Sudah sampai belum?"


Arman menegakkan kepalanya dan mengernyit.


"Pak Dimas?" tanya Arman. Hari ini Dimas memang dijadwalkan untuk meeting bersama Trevor, Bram dan Sebastian. Kelihatannya masalah Gunawan Ambrose.


"Bukan tuh! ibu-ibu bawa bayi."


Arman berusaha mengingat, sampai-sampai ia memiringkan kepalanya saking bingungnya.


Ibu-ibu?


Bawa bayi pula?!


"Aku ngga nunggu tamu macam begitu, Say." desis Arman.


"Ha? Ohya? Dia bilang dia sudah janji sama Pak Sebastian."


"Namanya siapa?"


"Duh, aku ngga tanya..."


Arman menghela napas lagi.


Sudah cukup.


Hanya karena dia memiliki hubungan khusus, bukan berarti bawahannya bisa bersikap kurang ajar padanya.


"Wah bagus banget yah kerja kamu. Sekalian aja kalau ******* mau ngebom gedung, mereka tinggal bilang sudah ada janji sama Pak Sebastian, kamu langsung loloskan mereka masuk, yah..." sindir Arman.


Yani terdiam.


"Eh.. Aku.. Eh saya..." wanita itu tergagap.


"SP 1 ya buat kamu. Lain kali kerja pakai otak jangan pakai bokong..." dan Arman memutus sambungan interkom.


Lalu ia berdiri sambil berkacak pinggang menatap interkom.


Kenapa tadi aku bilang 'bokong'? Tuh kan ketuker sama Janet... Keluhnya dalam hati.


"Permisi..."


Suara lembut seorang wanita membuatnya meluruskan pandangannya.


Cantik


Putih


Dan berkesan religius dengan tunik panjangnya dan hijab motif ottoman.


"Iya Mbak..." Arman menunduk sambil menurunkan tangannya. "Mohon maaf, mau cari siapa?"


"Nama saya Mitha, Mas..." wanita itu menggendong bayi gemuk, putih dan menatap Arman dengan mata besarnya.


"Oh..." Arman menatap Mitha dari atas ke bawah. Ini toh yang namanya Mitha. Pikirnya


Yang seperti ini pernah kerja di Agency? Arman penasaran bagaimana rupa wanita itu dulunya.


"Saya sebenarnya ada janji dengan Pak Dimas di sini. Kebetulan setelah itu Pak Sebastian juga panggil saya. Hehe..."


"Pak Dimas dari Garnet Bank? Beliau memang dijadwalkan kesini, tapi belum datang. Maaf kalau saya kurang sopan soalnya Boss ngga bilang kalau Mbak Mitha juga mau datang."


"Pak Sebastian?"


"Kalau Boss Besar ada di ruangannya Mbak."


"Pasti dia lagi pusing yah."


"Hm... Bisa dibilang begitu."


"Dan kamu baru saja kena omel."


"Yap... Bisa dibilang begitu."


"Kelihatan dari muka kamu. Langsung stress."


"Hm... Bisa jadi begitu."


"Boleh saya sarankan sesuatu?"


"Apa?"


"Buatkan minuman jahe. Lalu cari cemilan nastar. Mood beliau akan membaik." kata Mitha sambil mengerling.


Arman terdiam.


"Anu..."


"Ada nastar sachetan di indo**maret." sambung Mitha lagi.


"Ada nastar sachetan?!" desis Arman agak terkejut.


Mitha mengangguk.


Arman langsung menyambar telepon di mejanya.


"Pak, tolong belikan nastar dan jahe sachetan di indo**maret atau alfa**mart, sedus sekalian kalau perlu! Penting!" sahutnya ke Office Boy.


Lalu Arman menutup teleponnya sambil mengernyit.


"Buat...persediaan. Ehem!" Arman berdehem sambil menyeringai.


"Dulu bapak suka ngemil itu kalau lagi kesal." Kata Mitha.


Arman menghela napas lega.


Tidak berapa lama terdengar suara Reny dari interkom.


"Pak Arman, Pak Dimas sudah sampai."


"Oke, sudah ditunggu." balas Arman.


Kenapa sekarang jadi Reny? Jangan-jangan Yani ngambek karena ia beri SP 1... Ah bodo amat lah!


"Mbak Mitha mau menunggu di ruang meeting? Pak Gunawan akan tiba sekitar siang hari. Dan kami juga memiliki fasilitas Baby Day Care kalau mbaknya mau menitipkan Raka."


"Wah, kamu sampai tahu nama anak saya, terimakasih... Kamu pasti dari agency yah." tebak Mitha.


Pembawaan wanita ini ceria dan tenang.


Benar-benar membuat hati jadi nyaman.


"Jabatan saya saat ini Kepala Tim Pengamanan..."


"Untuk Jabatan Komandan Pusat belum juga terisi yah..." kata Mitha.


"Belum mbak. Sejak terakhir Pak Nelson dan Pak Ershad menghilang. Jadi sudah... 30 tahun posisi itu kosong. Sampai sekarang masih dihandle Big Boss langsung."


"Posisi terakhir saya dulu, tepat di bawah kamu. Saya bagian pengamatan."


Arman terdiam.


Lalu menghela napas.


"Mumpung kita saat ini diberi kesempatan berdua saja... Saya mau mengucapkan banyak terimakasih sama Mbak Mitha."


Mata lentik Mitha membesar.


"Loh? Untuk apa Mas?"


"... Terimakasih karena sudah mengorbankan keselamatan Mbak Mitha untuk bersaksi di kasus Diptar Handal waktu itu. Saya tahu sudah 11 tahun berlalu... Dan saya mungkin mengingatkan akan kenangan yang menyakitkan. Tapi tanpa kesaksian Mbak Mitha, saya akan menemui jalan buntu untuk menemukan pembunuh orang tua angkat saya."


Mitha tampak tertegun.


"Ah... saya ingat kamu..." desisnya sambil menutup mulutnya. "Kamu... perwira yang memimpin penyergapan! Astaga... kenapa tampang kamu tidak berubah dari 10 tahun lalu?!"


"Wah... Mbak Mitha sampai ingat wajah saya. Saya saja hanya tahu nama Mbak Mitha, kalau Pak Sebastian ngga bilang Mbak Mitha ini saksi kunci, saya mungkin ngga akan tahu sampai sekarang."


"Saya ingat soalnya kamu paling ganteng hahahaha! Dan pangkat kamu luar biasa di usia semuda itu... biasanya pangkat brigadir jendral itu orangnya sudah tua-tua hahahaha!"


Tawa renyah Mitha membuat hati Arman langsung menghangat.


Saat ini senyum yang keluar dari raut wajah Arman, bukan senyum palsunya.