Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Acara Berdua



Cerita ini adalah mengenai Milady?


Betul.


Tapi bisa juga bukan hanya dirinya.


Sesuai judulnya, Lady's Gentleman.


Cerita ini adalah mengenai para Gentleman... Para Pria Sejati.


Gentlemannya para Lady...


Bisa saja bercerita mengenai Sebastian yang mencintai wanita cantik, anggun, pintar dan berumur dua kali lipat lebih muda, yang kebetulan namanya mirip dengan judul Novel, Milady.


Juga bisa saja bercerita mengenai Trevor yang kini berbahagia dengan Lady-nya, Mitha Saraswati, dan pangeran-pangeran kecilnya yang berlari-larian dengan riang gembira di sekitarnya sambil memanggilnya 'ayah'.


Juga bahkan cerita mengenai Pangeran Adara alias Ipang, dengan Ladynya yang berprofesi sebagai mata-mata seksi, Susan.


Bahkan... Bercerita mengenai Ares Manfred, lebih dikenal dengan nama Arman. Pria tangguh yang kini sekuat tenaga mencari Lady-nya, cinta pertamanya, juga calon istrinya, Ayumi.


*****


Milady menatap dirinya di kaca di depan lemari pakaiannya.


Tidak terasa rambutnya sudah semakin panjang menyentuh pinggangnya.


Lalu kulitnya jadi lebih cerah dan tubuhnya lebih berlekuk. Kini ditambah dengan perutnya yang semakin membesar membentuk baby bump.


Usia janinnya sudah menginjak 16 minggu. Memasuki trisemester kedua Milady merasa bugar.


Ia rajin berenang, yoga, makan yang menurutnya enak dan sudah pasti yang manis-manis tidak terlewat.


Milady memeriksa dandanannya.


Ia tidak terlalu banyak mengenakan make up, bajunya juga bukan baju ibu hamil, masih dress yang biasa ia pakai saat ia masih bekerja di Garnet.


Saat ini ia sepenuhnya resign dari Garnet Property. Arran menggantikan pekerjaannya sebelum orang baru masuk.


Sudah pasti setiap hari Trevor kewalahan.


Bahkan Milady masih sering membantu di kantor, juga menghubungi klien dan membantu pelaksanaan pameran.


Ia melakukan semuanya dengan senang hati.


Dan sekarang, di hari libur ini... Mereka akan mengadakan perayaan kecil.


Ting tong...


Seseorang memencet bel pintu penthousenya.


Milady tersenyum bersemangat.


Itu pasti dia! Pikirnya senang sambil menghampiri pintu dengan antusias.


Milady memang sedang menunggu kedatangan orang ini.


Mereka berjanji akan merayakan hari special berbarengan.


Saat Milady membukanya,


Arman sudah ada di depan pintunya dengan senyum lembut khas lelaki itu.


"Hai, Mbak..." Desis Arman.


"Hihi..." Seringai Milady menghiasi bibir tebalnya.


Ia memeluk Arman dengan penuh rasa rindu.


"Mmh... Kangen bangeeet..." Desis Milady.


"Iya, saya juga." Gumam Arman sambil membenamkam wajahnya di pundak Milady.


"Coba sini lihat..." Milady melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Arman.


Mereka saling bertatapan dengan sendu.


"Tampang kamu ngga berubah..." Desis Milady.


"Hm... Setahu saya orang hamil ngga boleh pakai skincare." Arman mengernyit memperhatikan Milady.


"Kenapa? Terlihat kusam ya mukaku?"


"Saking glowingnya sampai saya pikir kamu perawatan."


Milady terbahak.


"Rayuan maut kamu selalu penuh ya stoknyaaa."


"Iya, stok masih banyak karena sejak pindah jarang dipakai. Buat apa ngeluarin rayuan gombal ke pesakitan?!"


"Mas Arman ini... Kalau kita bertemu sebelum saya mengenal Sebastian dan kamu kenal Ayumi, pasti kamu..."


"Hm?" Arman mendesak Milady ke dinding dengan perlahan.


Milady membelai pipi Arman perlahan dan melayangkan senyum menggoda, ia bisa merasakan Arman mengelus punggungnya.


"...mungkin saya akan dijorokin dari atas gedung ya." Desis Arman.


Milady meringis


"Ngga seekstrim itu sih, paling banter saya tabrak. Laki-laki berbahaya macam kamu ini bikin dunia wanita gonjang-ganjing, perlu diberantas."


Arman terkikik.


Lalu melepas pelukannya.


"Gonjang-ganjing itu bahasanya Pak Sebastian aduuuh mbaaak... Ngga pantes keluar dari mulut kamu." Keluh pria itu sambil mengikuti Milady masuk ke dalam penthouse.


Sebastian duduk di ruang tamu sambil menyilangkan kakinya, menatap tingkah mereka sambil menurunkan kacamata bacanya dan ponsel di tangannya.


"Udah roman picisannya? Tetangga dengar bisa jadi viral..." Gerutu Sebastian.


"Tetangga kamu Gerald Bagaswirya, sayang..." Desis Milady mengingatkan.


"Tetangga satunya..."


"Lagi di Yunani."


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Loh, aku kan arisan di komplek apartemen sebelah jugaaa..."


"Macam ibu-ibu drakor ya. Apa tuh judulnya?" Sambung Arman.


"Ngomong-ngomong... Hadiah aku mana Mas?" Tanya Milady


"Kok malak..." Sungut Arman.


"Kan situ baru aja dianugerahi penghargaan."


"Hadiah saya dulu, mana?"


"Ish ish ish... Ngga mau rugi amat..." Milady beranjak dari pangkuan Sebastian untuk menuju kamarnya, mengambil hadiah untuk Arman.


"Minggu ini kamu kesana." Kata Sebastian sambil menghisap cerutunya.


Ia menawari Arman.


"Hm... Mau titip apa Pak? Saya ada jeda waktu lumayan panjang soalnya sebelum dia muncul."


"Kenapa ngga dipepetin aja waktunya?"


"Bapak ini bertanya atau mengetes saya?" sahut Arman.


Sebastian menyeringai.


Arman menengadahkan kepalanya dan menghembuskan asap cerutu dari mulutnya.


Sebastian menyeringai menatap Arman.


Mereka berdua sama-sama tahu, kalau inilah waktunya Arman turun dari tahta.


Atmana sebentar lagi akan mencalonkan diri di partai politik, ia adalah calon kuat untuk kandidat pemimpin negara. Prestasinya begitu gemilang belakangan, berkat bantuan dari Arman dan data dari Ayumi. Masyarakat semakin bersimpati padanya.


Namun Sebastian sudah 'mengancam' pihak-pihak terkait untuk tidak mengabulkan banding mereka.


Juga...


Ayumi, keberadaannya masih misterius.


Bocoran dari intel Kedutaan Jepang bahwa seharusnya ini saatnya Ayumi keluar dari pengasingannya. Namun wanita itu diminta tidak menghubungi siapapun sampai keadaan kondusif.


Jadi, Arman harus standby di Jepang sampai Ayumi memberi sinyal... dan itu bisa kapan saja dengan waktu yang tidak dapat diprediksi.


"Ternyata... saat mimpi itu sudah tercapai, akhirnya kita mengerti kalau ungkapan 'manusia tidak pernah puas' itu bukan hanya sekedar kata-kata..." kata Arman.


Sebastian mengangguk setuju.


"Mimpi saya sudah tercapai, dan yang paling penting kebutuhan saya juga tercapai." Sebastian menatap Milady yang sedang sibuk di kamar.


"Hati-hati loh Pak..."


"Maksud kamu?"


"Iya, hati-hati... saat manusia sudah mendapat segalanya, ujian sudah lulus, yang berikut tinggal kematian."


"Ngedoain saya cepet mati, lagi..."


"Siapa yang enggak?"


"Milady lah..."


"Oh, saya bersedia loh mengurusnya kalau dirimu udah ngga ada, tenang ajaaa..." Arman menyeringai.


"Siap-siap saya kasih kerjaan yang bikin kamu pusing sebentar lagi." gerutu Sebastian.


"Misuh-misuh mulu sih kerjaannya." balas Arman.


Milady keluar dari kamar menghampiri mereka.


"Ini Mas Arman. Selamat Ulang Tahun yang keeeee... 41 ya?!" Milady menyeringai.


Arman cemberut.


"Jangan diingetin dong." sahutnya.


Pria itu membuka kotak hadiahnya. Jam tangan bertaburan berlian.


"Ada 41 berlian, sesuai umur dirimu." desis Milady.


"Hm... kalau dijual bisa dapet rumah di Darmawangsa ngga?"


"Ngga sopan banget deh..." sungut Milady.


"Becanda Mbak Sayang..." kekeh Arman sambil mengganti jam tangan lamanya dengan jam tangan baru. "Wah, sesuai banget ya sama tampang saya yang elit. Akhirnya ada barang yang bisa mengimbangi..."


Milady berpikir kalau begitulah Arman, saat bercanda pun terdengar sinis. Memang lidahnya sepedas cabe... untung saja wajahnya seperti Malaikat...


Maut.


Milady menengadahkan tangannya.


"Cium dulu." desis Arman sambil menyodorkan pipinya.


Milady mencium pipinya.


Dan di tangannya sudah ada sebuah kotak.


Isinya bunga mawar terbuat dari kristal, namun di bagian kelopaknya yang merah... terbuat dari Mirah Delima.


"Oh wow..." mata Milady berbinar. "Astaga cantiknya..."


"Sesuai dengan dirimu kan." Arman menyeringai, merasa senang karena Milady meyukai hadiahnya.


"Hadiah dari kamu itu selalu membuat wanita merasa special loh Mas." kata Milady.


Terdengar decakan Sebastian.


Ucapan Milady sekaligus sindiran karena selama ini hampers yang berasal dari Sebastian nyatanya dipilihkan oleh Arman. Dan setelah Arman pergi, bahkan untuk sekotak coklat saja Sebastian harus diingatkan. Terakhir saat pulang dari Swiss, ia memberikan... sebatang coklat dari bandara.


Itupun karena Milady menelponnya dengan bilang 'jangan lupa coklat untukku'...


Dan datanglah di meja riasnya.


Hanya sebatang tanpa kotak bingkisan.


Dari Bandara pula...


Tapi Milady merasa bersyukur karena paling tidak Suaminya menjadi dirinya sendiri.


"Susah loh cari hadiah buat kamu, Mbak... kamu itu sudah punya segalanya, soalnya."


"hihihi... Maaf ya, kamu kasih cilok juga aku seneng loh sebenarnya, yang penting kan perhatiannya."


"Tahu begitu saya bawa cilok aja tadi, ngga usah nyuruh-nyuruh Sandra Ellen begadang bikin begituan..." Arman menyeringai.


"Sukanya merepotkan orang lain..." desis Milady sambil menerawang Mawarnya.


"Mas Arman, di dalam Mirah Delimanya ada siluet wajah saya!" Milady terpekik senang.


"Iya..."


"Astaga... Buatan Lüster Schon Jewel memang selalu fenomenal. Ini pasti mahal sekali kan?"


"Menghabiskan seluruh gaji dan bonus saya di BNN, tapi memang saya tidak berniat menerima gaji dari mereka sih... karena rasanya ada yang salah aja, saat sudah berikrar untuk mengabdi tapi minta digaji."


"Kalau sama saya, kamu malah minta tambahan bonus..." sahut Sebastian.


"Nah, kalau sama Pak Sebastian, kerja beneran... Nyusahin terus soalnya."


Decakan lagi.


"Saya suka sekaliii... makasih yaaa..." Milady memeluk Arman.


"Hm..." Balas Arman.


"Mainan baru ya..." Desis Sebastian. "Gunanya apa pajangan begituan."


"Kamu beneran ngga ngerti cara menyenangkan wanita." sungut Milady


"Pikirin segi ekonomisnya dong." Sebastian ngga mau kalah.


"Acara kita dimana nih?" Tanya Arman.


"Di bawah... Di aula." Kata Milady. Lalu dia mengernyit. "Kamu merokok toh Mas Arman."


Arman melirik cerutu di tangannya.


"Enggak... Cerutu beda sama rokok."


"Bagi kami, sama saja." kata Milady.


Arman menyeringai.


"Dulu saya merokok... Tapi... Waktu pengintaian kami ketahuan karena asap rokok saya. Sejak itu saya berhenti..." kata Arman.


"Dia ketembak juga soalnya. Untung ngga lewat. Biaya rumah sakitnya baru aja lunas tuh." Sahut Sebastian.


"Bapak ini benar-benar bikin kesal, masa asuransi ngga bisa nutup semuanya padahal kita kerja buat agency. Saya harus ngutang dipotong gaji buat biaya rumah sakit."


"Lah itu yang bikin saya kaya."


"Pelit sama hemat tipis bedanya pak..." Sungut Arman.


"Sudah...sudah... Sekarang asuransi cover semuanya kok. Geng baper kamu sudah terjamin lah pokoknya. Pakai uang pensiun segala malah... Pak Kardi kesenengan sampai potong tumpeng kemarin waktu aturan barunya keluar." Kata Milady.


"Hm... semua diadakan setelah saya keluar ya. Curang banget deh..." Arman beranjak berdiri.


"Pokoknya, hari ini, Mbak Milady jadi milik saya... Saya sebal sama bapak, soalnya..." Sahut Arman sambil merangkul pinggang Milady.


"Ambil... Nanti proyek di Jepang kamu dibayar setengah..." Sahut Sebastian.


"Biasanya juga begitu." Arman menjulurkan lidah.