
Dari arah kejauhan, terdengar band menyanyikan lagu cinta.
Love Me Like You Do dari Ellie Goulding.
Milady menghela napas.
Ia benci lagu ini.
Ia tidak suka karena dulu, saat mendengar lagu ini, ia teringat Sebastian.
Lalu saat itu, ia hanya bisa menangis di tangga darurat karena merindukan laki-laki yang sudah ia tinggalkan begitu saja.
Sekarang...
Laki-laki yang ia rindukan berada di sebelahnya. Namun tetap saja tidak bisa ia raih.
Dan Milady jadi amat sangat membenci lagu ini
Terdengar kekehan Sebastian.
Milady mengernyit.
"Apa?" tanya Milady.
"Aku ingat hal yang sudah lampau..." desis Sebastian.
"Masa lalu? Saat apa?"
"Sekitar... 4-5 tahun lalu. Aku mendengar lagu ini di radio mobil. Lalu aku teringat kamu..." kata Sebastian.
Napas Milady bagai tercekat.
Karena...
Ia juga mengalami hal yang sama.
"Entah kenapa... Terasa pas saja dengan... Suasana...."
"Sebastian." potong Milady. "Aku tidak ingin mendengar hal yang bisa menghilangkan niatku menikahi anak kamu. Jadi... Tolong diam." desis Milady.
Sebastian menghela napas berat.
"Iya... Kamu benar... Maaf..." desis Sebastian sambil kembali merebahkan dirinya dan memejamkan mata.
Mereka hanya terbaring berdua sambil mendengarkan alunan musik, beratapkan langit malam kota Jakarta yang penuh polusi.
Dengan aroma laut yang bergerak tenang tertiup angin...
Dan...
Milady terisak.
Ia tidak ingin menangis di saat begini!
Sial!
Umpat Milady.
Kenapa akhir-akhir ini aku sensitif sekali, sih! Keluhnya dalam hati.
Namun isakan semakin kencang dan tidak dapat di tahan.
"Sori, aku harus..." Milady akhirnya beranjak karena tidak dapat mendengar lagu itu lebih jauh lagi. Rasanya begitu menyakitkan!
Namun sebuah tarikan di lengannya, menghentikan gerakkannya.
"Sebastian." geram Milady, mencoba menepis tangan pria itu.
"Sampai kamu menikah, kamu milikku. Masih ingat perjanjian itu, kan?"
"Kalau boleh, aku ingin membatalkan perjanjian itu."
"Tidak bisa." sahut Sebastian tegas. Matanya memandang Milady dengan tajam. "Aku tidak ingin membatalkannya."
"Kamu tahu akibatnya bagi kita berdua kalau kita terus maju-mundur seperti ini kan? Bisa-bisa aku gila, Sebastian!" sahut Milady.
Sebastian terdiam, matanya menerawang.
"Aku... Janji tidak akan berbuat hal yang di luar batas lagi. Tapi tolong... Jangan pergi lagi..." desis Sebastian. "Aku... Sudah cukup tidak melihat kamu sebulan lamanya."
"Kalau aku menikah dengan Trevor, kamu tidak akan melihatku berbulan-bulan lamanya, karena aku akan minta pisah rumah dari kamu."
"Iya, aku tahu. Karena itu... Aku ingin minta waktu kamu... Tiga minggu yang tersisa ini. Tolong selalu di dekatku..."
Milady menatapnya dengan air mata mengalir di pipinya.
Sebastian berdiri dan menarik Milady ke pelukannya.
Disertai tarikan napas tertahan wanita itu.
Wanita yang menurutnya lebih berharga dari semua harta dan rahasia yang ia punya.
Kekasih hatinya...
Malaikat yang selalu ia dambakan...
Rasanya ingin bunuh diri saja kalau harus memilih antara Milady dengan Trevor.
"Jangan menciumku dan jangan menyentuh hal-hal yang nyeleneh." desis Milady.
"Hm..." gumam Sebastian sambil menempelkan bibirnya di dahi Milady.
"Sebastian...kan barusan aku bilang..."
"Iya..."
Dan Sebastian mencium bibir Milady.
"Hmh..." gumam Milady menyambut renggutan bibir Sebastian. Pria itu menangkup rahang Milady dengan posesif, dengan kerinduannya yang mendalam.
Gubrakk!!
Terdengar sesuatu terjatuh dengan keras dari taman di sebelah mereka.
Sebastian melepaskan ciumannya, dan ia bertatapan dengan...
Ipang dan Susan.
Yang saat ini keduanya sedang dalam kondisi tanpa pakaian.
*****
Milady memicingkan mata.
"Ipang?" desisnya.
Ipang menatap keduanya bergantian.
"Kak Lady?"
Susan langsung melepaskan Ipang. Disertai dengan pekikan kesakitan cowok itu.
"Pak..." desis Susan sambil menutupi tubuhnya dengan kain yang berserakan didekatnya.
"Hm..." desis Sebastian sambil mencibir.
"Eeeehhh...." Ipang tampak salah tingkah. "Kak Lady sendiri kenapa barusan... Ciuman..."
"Ipang!! Astaga kamu..." pekik Milady sambil menghampiri adiknya.
"Bentar, bentar kak! Aku pake baju dulu..!" Ipang tampak panik sambil berusaha kabur.
"Kamu nih nakal banget sih ternyata!! Sudah nyebar benih dimana saja kamu hah?!" seru Milady sambil menjewer telinga adiknya itu.
"Adudududuh kak sakit kak!! Udah terlanjur kali ngga udah dipermasalahin, justru kakak tuh kenapa tadi ciuman sama kakek-kakek?!"
"Bukan urusan kamu!" seru Milady dengan muka merah.
"Bukan urusan kakak juga..." Ipang menepis Milady.
"Selama kuliah kamu masih kakak yang bayar, masih jadi urusan kakak!"
"Idih!" Ipang protes. "Setengahnya kan aku bayar sendiri yeeeee..." dia menjulurkan lidah. "Kakak selingkuh ya, kubilangin Kak Trevor nih..." ancamnya.
"Trevor udah tahu, mau ancam apalagi kamu?!" Milady berkacak pinggang.
"Hah? Serius...?"
"Udah sana pake baju!! Sunat dua kali nih ya!!"
"Eh jangan dong... Duh, ratu tega..." Ipang beringsut mencari pakaiannya.
Jadi, kini mereka duduk berhadapan berempat di lounge.
Dengan Sebastian duduk santai sambil menghisap cerutunya, Milady di sebelah Sebastian yang menopang dagunya di meja kayu menatap Ipang dengan sinis, Susan yang menunduk dan duduk dengan tegang, dan Ipang yang cengar-cengir ngga jelas.
"Kak, kalo selingkuh tuh sama yang seumuran dooong... Keuangan kita ngga segitu miskinnya kok sampe harus jadi sugar..."
Brakk!!
Milady menggebrak meja di depan Ipang.
"Dasar playboy tengik cap kuda hitam gaez..." umpat Milady. "Kelakuan kamu itu ngga bisa kakak tolerir..."
"Aku kan udah gede kak..."
"Film por**no aja ada label 21+, kamu itu baru aja 20 tahun bulan kemaren!" seru Milady.
Ipang menutup kedua telinganya sambil meringis. "Iya jangan teriak-teriak kak... Aduh pengang deh kuping aku tuh..."
"Umur berapa kamu ngga perjaka lagi, hah?!" seru Milady.
"Kak serius bahas itu sambil teriak-teriak? Itu band di bawah bisa denger itu..." desis Ipang. "Lagian udah berlalu juga ngga bisa balik lagi keperjakaanku kaaan..."
"Ih kamu nih..."
Hampir saja Milady menggebrak meja lagi kalau tangannya ngga ditangkap sama Sebastian.
"Sayang..." geram Milady.
"Ssh... Ngga usah gebrak-gebrak meja dulu..." desis Sebastian.
"Hih, sayang-sayangan... Epic banget deh..." desis Ipang takjud.
Milady melotot padanya.
Ipang langsung menunduk sambil pasang tampang serius.
Sebastian menghela napas.
Si Ipang ini...
Kenapa tingkahnya sangat mirip dengan... Si Boyo.
Pikirnya.
Sebastian berpaling ke Susan yang kini hanya bisa menunduk dengan tegang.
"Susan... Kamu off duty dulu yah..." kata Sebastian.
Susan mengangkat wajahnya dan menatap Sebastian dengan kaget.
"Pak... Mohon maaf, kejadian ini tidak akan terulang lagi..."
"Kamu off duty, sampai batas waktu yang tidak ditentukan." kata Sebastian tegas.
Susan langsung terkulai lemas di kursinya.
"Kemarikan..." desis Sebastian.
Susan dengan perlahan meraih SIG Sauer P226 yang terselip di pahanya dan meletakkannya di meja di depan Sebastian.
"Kenapa? Dia siapa? Susan...?" Ipang kebingungan menatap bergantian antara Sebastian dan Susan.
Milady juga menatap Sebastian meminta penjelasan.
Sebastian memeriksa kokang senjata dan menyelipkannya di pinggang belakangnya.
"Saya atasan Susan. Dia adalah agen yang bekerja untuk saya. Pekerjaannya adalah memastikan kakak kamu dan anak saya, Trevor, dalam kondisi baik dan jauh dari ancaman teror musuh-musuh perusahaan saya. Untuk itu, Susan saya sewakan apartemen di depan Milady."
"Hah? Jadi Om Uban ini bapaknya Mas Trevor?! Wooowww... selingkuh sama Camer dong judulnya Kak! Seruuu!! Lah terus maksudnya Teror? Ini kok jadi kayak film mafia..." Ipang heboh sendiri.
"Yang meneror saya memang mafia, mafia dari kalangan elit politik. Dan ada hubungannya dengan pengedaran narkotika. Dalam waktu dekat di prediksi akan melakukan aksinya. Dan Yakuza dari Jepang sudah mengirimkan foto waktu saya dan Milady berada di Jepang."Kata Sebastian.
Milady langsung tegang.
"Ini ada hubungannya dengan formula yang kamu kembangkan untuk obat antidepresan Trevor?" tanya Milady.
Sebastian mengangguk.
"Susan... Kamu menandatangani kontrak dengan saya dan Baskara. Bahwa, saat kamu bertugas tidak ada kondisi yang berkaitan dengan ikatan perasaan terhadap target ataupun keluarga target. Dan kamu... Sudah melanggar hal itu. Jadi kamu saya bebastugaskan."
"Apa yang terjadi kalau dia dibebastugaskan?" tanya Ipang.
"Dia harus kembali ke negaranya, karena visanya disini untuk bekerja."
Ipang langsung tegang.
"Dia... Bisa cari pekerjaan lain di sini... Kan...?"
"Dia tidak bisa mencari pekerjaan lain tanpa izin dari saya, karena seluruh identitasnya palsu. Selama ini saya membackupnya. Dengan kata lain, Susan adalah imigran gelap. Dan apabila dia tetap di negara ini, dia akan dideportasi."
"Pak... Saya sudah 20 tahun tidak pulang ke negara saya, lagipula saya akan menghadapi tuntutan pidana kalau saya kembali..." Susan memohon ke Sebastian dengan memelas.
"Mak... maksudnya...?!" Ipang tergagap.
"Susan adalah agen yang bekerja untuk negara lain, jadi di negaranya sendiri, dia dianggap pengkhianat..." kata Sebastian.
Ipang membelalakkan matanya.
Sebastian tersenyum sinis.
"Wah... Sepertinya kamu tidak tahu dengan siapa kamu berhubungan selama ini ya..." sindir Sebastian.
Ipang menatap Susan, namun ia tidak berbicara apapun.
Untuk pertama kalinya Pangeran Berkuda kehilangan kata-kata.