
Arman memarkir mobilnya di Basement 2 Gedung Garnet. Di sana terdapat markas Garnet Security Agency.
"Pak Arman..." Umar menyapanya. "Yang lain sudah standby di ruang meeting besar di lantai 50."
"Iya..." desis Arman sambil membuka pintu mobil sebelah Ayumi dan menarik wanita itu keluar dari mobil dengan kasar.
Umar sampai menaikkan alisnya.
Baru kali ini ia melihat atasannya itu bersikap kasar kepada wanita, apalagi jenis yang seperti Ayumi, tampak sangat manis dan lembut.
"Pak..."
Belum sampai Umar melengkapi kata-katanya, Arman sudah memojokkan Ayumi ke badan mobil dan mencengkram tengkuk wanita itu.
"Kalau kamu sampai berbuat sesuatu yang kami anggap mengancam keselamatan Pak Sebastian..." Arman merendahkan suaranya sambil berbisik. "...kamu habis. Ngerti? Kamu habis..."
Umar melihat kilatan kebencian di mata Arman. Raut wajah yang seperti itu, terakhir kali terlihat di wajah Arman, adalah saat ia berhasil membunuh Dipta Handal. Setelah itu yang terlihat di wajah Arman sehari-harinya hanya tatapan santai, malas, sayu dan senyum simpul tanda keramahannya.
Umar, sebagai pegawai senior di Garnet sejak jaman Mitha dan Susan, mengingat-ingat saat pertama ia melihat Arman masuk ke kantor ini, dengan kilatan mata seorang pembunuh.
Tersenyum, tapi mengerikan.
Namun itu tidak berlangsung lama, setelah itu Arman lebih banyak tersenyum ramah.
Hari ini, Umar melihatnya lagi.
Tingkat keloyalan Arman kepada Sebastian sudah tidak perlu diragukan lagi. Pria itu menganggap Sebastian seperti orang tuanya sendiri, Umar tidak mengerti ada hubungan seperti apa di balik ceritanya, namun satu yang dia mengerti, mengancam keselamatan Sebastian sama saja menyerahkan nyawa ke hadapan Arman.
"Pak Arman perlu apa? Nanti saya siapkan..."
"Radiografi Sinar X, kamu ingat mesin rontgent portable yang ada di ruangan Dokter Arjuna? Yang alat keluaran terbaru Garnet Med?"
"Mau ambil itu Pak? Diantarkan ke atas? Itu berat sekali loh..."
Arman menoleh lagi ke Ayumi, senyum licik dan tatapan tajam... "Ya, tolong antarkan ke atas." desisnya tanpa melepaskan pandangan ke arah Ayumi. "Ah, sama alat bedah..."
"Alat... Alat bedah Pak?"
"Iya... mungkin harus ada yang dimutilasi sedikit." desisnya ke arah Ayumi.
Ayumi menarik napas.
Umar sampai-sampai menyebut kalimat istighfar saat itu.
"Saya akan bawa ke atas, Saya harap Pak Arman sudah pikirkan matang-matang mengenai tindakan ini."
"Kamu bisa percayakan saja sama saya..." Arman berbicara ke Umar, namun matanya lurus menatap mata Ayumi.
Umar menyerahkan borgol ke Arman, lalu berlalu dari sana dengan sedikit terburu-buru.
"Nah, Mbak Ayu..." Arman memborgol pergelangan tangannya sendiri. "Biar tidak ada kesalahpahaman, untuk menjaga kemungkinan terburuk seandainya kamu berpikiran untuk lari, yang sebenarnya kalau dihitung pakai logika kamu tidak akan lari karena kamu bisa mati kalau sampai tertangkap gangster, jadi..." Arman memborgol tangan Ayumi di lubang borgol sebelahnya. Lalu tersenyum senang.
"Biar kita terlihat lebih romantis, yah." desisnya.
"Romantis versi kamu itu seperti ini ya..." sindir Ayumi sambil mengangkat tangannya yang terborgol dengan tangan Arman.
"Atau mau dilanjut nanti malam, terborgol di tempat tidur..." Nada kalimat Arman seperti ejekan untuk Ayumi. Membuat wanita itu mengernyit tersinggung, karena terkesan ia adalah seorang pelac*ur.
Namun ia belum bisa protes karena Arman sudah menariknya ke arah lift.
*****
"Milady..."
Sayup-sayup suara seseorang memanggil namanya.
Sebastian?
Bukan...
Suaranya berbeda.
"Milady...bangun..."
Pusing...
Juga rasa kantuk yang amat sangat.
Rasanya Milady tidak ingin terbangun.
Rasanya seluruh tubuhnya lemas, tidak bisa digerakan.
Rasanya ingin tidur lagi...
"Milady?"
Suara Latief?
"Astaga..." desis Milady.
Apa ia ketiduran?
Masa sih ketiduran di restoran?!
Ya ampun, Milady... Memalukan! Batin Milady memarahi dirinya sendiri.
"Aslinya jauh lebih cantik..."
"Bening banget itu kulit, pake apa?!"
"Ada susuknya kayaknya."
"Tinggi banget..."
"Dia katanya lagi hamil?"
"Ini istrinya orang itu...kalau sampai kita ketahuan..."
"Bisa habis kita, bisa sampai ke keluarga kita..."
"Tenang semua, sebaiknya kita perlakukan tawanan dengan baik, setidaknya jangan disakiti."
"Benar. Paling tidak, nanti kalau tertangkap ada laporan kita bersikap baik..."
"Heh! Kalian itu dari awal sudah tahu konsekwensinya! Tidak usah takut dengan manusia!"
"Semua takut dengan Sebastian... Kalau tidak takut, tidak mungkin dia mengerahkan orang sebanyak ini hanya untuk menculik satu wanita."
Milady mengerjabkan matanya.
Apa yang mereka bicarakan?
Siapa mereka?
Dan...
Buram...
Sekelilingnya buram...
"Di mana ini?" gumam Milady.
Milady berusaha mendudukkan dirinya. Namun rasanya sulit sekali.
Tubuhnya terasa berat.
"Mohon maaf bu sebelumnya... anu..."
"Dia sudah bangun?!" suara lain, lebih keras dan bernada mengancam.
Tubuhnya besar.
"Wah wah wah... Akhirnya bertemu juga dengan sri ratu!" Si gempal duduk di depan Milady. "Sejak lama saya ingiiiinnn sekali mematahkan leher Pak Tua Rambut Putih itu... Ya sebelum itu lebih asik kayaknya garap istrinya dulu, iya ngga?!"
Mata Milady langsung terang dan pandangannya jernih. Otaknya langsung merespon adanya ancaman sehingga tubuhnya menyesuaikan diri untuk pulih dengan cepat.
"Perkenalkan Ratu, Saya dipanggil Jeko. Saya yang berkuasa di sini..."
Bau busuk apa ini...
Milady mengernyit.
Panca indera penciumannya menajam saat hamil.
Tampaknya berasal dari orang di depannya ini. Giginya hitam-hitam dan tubuh gempalnya berkeringat dan berkoreng.
Sudah berapa lama ia tidak mandi?
Milady hampir saja muntah..
"Bang, Milady bagian saya. Tugas abang cuma pengamanan sandera." Latief berdiri di depan Milady.
"Heee... Jangan sok jago lu ye, kecoak! Lo itu cuma..."
"Saya dan abang sama-sama punya kepentingan, masing-masing sudah dibagi-bagi tugasnya. Ngga usah ikut campur bagian orang lain!" Latief berseru tak gentar menghadang Jeko.
Jeko tampak menipiskan bibirnya karena menahan geram.
"Lu itu bentar lagi bakalan mati gegara aids, ngga usah jadi jagoan."
"Coba aja berani gorok leher saya kalo abang ngga takut ketularan..." ancam Latief.
Jeko mendengus, lalu meludah ke samping. Dan ia membawa tubuh gempalnya itu pergi dari sana.
Latief menghela napas.
"Kunci pintunya... Jangan dibuka kalau dari Jeko atau anggotanya." sahut Latief.
"Ya Mas." jawab salah satunya.
"Latief?" Milady bertanya dengan ketakutan. Sudah pasti pertanyaan berikutnya yang ingin ia tanyakan adalah : apa yang terjadi, ini di mana, dan kenapa.
Namun saking ketakutannya Milady tidak bisa berbicara.
Latief menghembuskan napas berat.
Lalu menyeringai ke Milady.
"Tertular hiv aids tidak semudah kena paparan darah. Aku bohong tadi... Hehe." tawanya masam. "Yang penting dia pergi dulu, kan..." bisiknya.
Namun mereka berdua tahu, bukan itu yang obrolan yang diharapkan.
"Mau minum?" Latief menyerahkan air mineral bersegel ke Milady.
Milady langsung membuka dan menegak isinya sampai setengah botol.
"Maaf, Lady... Mereka mengancamku. Bukan hanya kehormatan bapakku, tapi mereka juga mengancam akan membunuh anak dan kekasihku di Amerika. Tapi... Aku akan melindungi kamu sebisaku. Hanya sampai Ayumi menyerahkan chip yang ia curi dari Yamaguci."
"Juga bahan baku pembuatan narkotika." Desis Milady. "Yamaguci butuh itu."
"Hm... Apakah bahan itu benar-benar ada? Benar-benar dikembangkan?!"
"Iya. Benar-benar ada..."
"Wah... Suami kamu yang sekarang... Benar-benar berbahaya."
Latief menunduk sambil berpikir.
Milady menganalisa sekelilingnya.
"Bukan untuk narkotika, Latief... Itu untuk obat antidepresan..."Milady memijat dahinya yang masih pusing.
"Ilmuwan Yamaguci bisa merubahnya menjadi narkotika paling viral." desis Latief. "Mungkin juga aku akan butuh itu. Untuk melupakan segala..." Latief mengangkat bahunya, tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
Mata besar Milady yang menatapnya dengan kuatir. Telah lama menggugah hati Latief sebenarnya.
Latief tidak pernah merasakan rasa percikan dalam libidonya saat berhadapan dengan wanita. Hal itu ditengarai saat masa kecilnya mendapatkan perilaku asusila dari beberapa gurunya di pesantren.
Pesantren abal-abal yang nyatanya terdapat skandal besar di baliknya. Sudah ditutup dan beberapa pelaku dihakimi oleh masyarakat setempat sebelum dipenjara.
Namun yang masih tersisa dalam hidup Latief tidak bisa hilang begitu saja...
Ia tidak berani bilang ke bapaknya kalau ia sebenarnya juga salah satu korban. Ia hanya diam karena bapak memiliki penyakit jantung.
Jadi lebih baik berbohong agar bapak tidak kuatir.
Hal itu terkuak saat ada acara donor darah yang diadakan di acara Dzikir Nasional beberapa tahun silam. Salah satu penguji kelayakan darah menemuinya secara pribadi, dan menjelaskan mengenai kondisi virus di darahnya.
"Sejak kapan Latief? Itu sebabnya kamu tidak mau menyentuhku saat kita menikah? Selain kondisi seksual juga karena..."
Latief mengangguk.
"Ya." jawabnya.
Milady menghela napas.
Lalu wanita itu menatap Latief dengan nanar.
"Terima kasih..."
Latief tertegun.
Ia menatap Milady dengan terpana.
Apa kata wanita itu tadi?
Terima kasih?
Untuk apa?
Bukankah seharusnya kata-kata makian yang keluar dari mulutnya?!
"Terima kasih karena... Sudah memikirkanku saat kita menikah. Sejak lama aku disalahkan karena orang-orang berpikir perceraian itu terjadi karena aku tidak bisa mengurusmu dengan baik. Dan sedikit mengeluh karena aku dilain pihak sedang berusaha menyembunyikan seksualitas kamu, dan merasa semua ini tidak adil... Tapi sekarang... Aku merasa berterima kasih kamu sudah menjagaku saat itu..." Milady tersenyum lembut ke arahnya.
Latief menghela napas.
Milady yang ini... Yang membuatnya bersedia menikah waktu itu.
Karena wanita ini isimewa...