Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Baper Sergap (1)



Baiklah Pembaca...


Karena dari kemarin topiknya tegang terus, di episode ini mari kita lebih santai... sebelum besok tembak-tembakan.


Terima kasih banyak yang sudah Vote, like dan beri hadiah. Semoga Tuhan selalu memberikan rezeki halal yang berlimpah dan kebahagiaan untuk kita semua. Aamiin


Love,


Septira W


*****


Helikopter Garnet Oto turun di halaman depan Villa Khamandanu. Sampai saat itu semua membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Pak Arman?" seseorang menghampiri mereka. Pria setengah baya, berwajah ramah dengan janggut dan kumis melintang berwarna putih dan rambutnya panjang diikat.


"Saya Tiren, saya penjaga vila ini. Mas Danu sudah mengabarkan..." ia menjabat tangan Arman.


Tapi Tiren agak mengernyit karena wajah Arman seperti tidak fokus dan menerawang.


Bahkan tidak membalas sapaannya, hanya jabat tangan resmi.


"Pak Arman... Butuh ruangan khusus untuk menenangkan diri terlebih dahulu?" tanya Tiren.


Baru Arman menatap matanya. Memperhatikan Tiren dari atas ke bawah, lalu mengangguk.


"Mari, saya tunjukan ruangan bapak sekaligus basecampnya mas-mas ini."


Tiren berjalan mendahului mereka.


Arman mengikutinya sambil langsung menggandeng tangan Ayumi yang terasa dingin.


Wanita itu juga sedang shock, seperti dirinya.


"Bro... Ada gandalf... hehe." desis Heksa berbisik ke Moses sambil memperhatikan Tiren.


"Dan lagi aneh banget namanya... Tiren. Mati Kemarin, maksudnya?!" tanya Moses.


"Hush! Itu nama kuno loh..." sahut Pak Kardi sambil mensejajari mereka.


"Vilanya gede buanget yak... Umur bangunannya berapa nih.. Punya kode pos sendiri jangan-jangan..." desis Moses.


"Yang jelas sudah dibangun dari saya belum direncanakan untuk lahir." ujar Pak Kardi.


"Ya iya lah Pak Kardi... Bapack-bapack yang tingkahnya random macam Pak Kardi kayaknya lahirnya ngga direncanain orang, bapak merencanakan sendiri. Macam... tau-tau ngomong : ah gue bosen di rahim mulu, brojol ah!" kata Moses.


"Eh...kok kamu tahu sih? Saya tuh prematur soalnya..."


"Hm..."


Arman menoleh ke kerumunan di belakangnya.


"Kalian hati-hati. Saya curiga dia bukan manusia..." kata Arman. Lalu dia menggandeng Ayumi untuk berjalan lebih jauh.


"Ha?" desis ketiganya.


"Bukan manusia... Maksudnya hologram gitu?" tanya Heksa.


"Atau robot?" balas Moses.


"Alien?" sahut Heksa lagi.


"Ngeles mulu... takut yaaaa..." ejek Pak Kardi kepada keduanya. "Bodyguard masa takut setan."


"Ck ah... Manusiawi itu kali pak..." sungut Heksa.


"Anggap aja Pak Arman tiba-tiba kepingin becanda." desis Moses.


"Becanda di saat doi lagi down?"


"Udahlah! Anggap aja begitu ah..." sungut Heksa.


*****


Arman duduk di pinggir ranjang sambil menunduk.


Lalu ia menghela napas.


Entahlah harus apa dirinya.


Ingin memukul orang


Ingin menembak orang...


Yah, mungkin sebentar lagi dia akan melampiaskan diri.


Namun saat ini...


Entah bagaimana hanya rasa sedih yang ia rasakan.


Apalagi... Ternyata semua itu berhubungan dengan... Pemilik villa ini.


Ia tidak menyangka kalau Pak Danu kehilangan Papanya, hampir berbarengan dengan ia kehilangan orang tua angkatnya.


Yakuza...


Mafia Italy...


Triad...


Tidak ada yang bagus dari semua itu. Semuanya kejam, menganggap manusia hanya kerikil.


Mereka manusia yang menganggap kasta mereka lebih tinggi.


Arman teringat film-film hollywood yang menayangkan betapa hebatnya sepak terjang mafia. Main tembak sana-sini... Main culik main bunuh... Serasa jagoan.


Bahkan mafia yang bertobat karena terpikat wanita. Serasa romantis.


Sepertinya semua itu mustahil.


Mana ada manusia yang sejahat itu kecuali... Mereka iblis.


Dan bagaimana mereka bisa semudah itu bertobat padahal sudah merenggut orang-tua dari anak, bahkan Anak dari orang-tuanya... Merenggut suami dari istrinya, merenggut Istri dari suami dan Ayah mereka...


Mafia jaman sekarang tidak bergaya dengan topi tinggi dan jas mentereng.


Tapi dengan sosok seperti... Irwan Hartawi. Berbalut seragam...


Sejak lama ia memang tidak mudah percaya dengan orang-orang dari kalangan elit. Karena yang merenggut kedua orang tua angkatnya juga adalah orang berposisi tinggi.


Berbalut identitas militer...


Entahlah dari rejimen yang mana.


"Ares..." gumam Ayumi yang sedang berdiri di samping meja rias antik.


"Hm?"


"Hm..."


Kenapa suara Ayumi yang biasanya terdengar sinis, kini terdengar lembut?


Begitukah suara wanita ini yang sebenarnya?


Arman membaringkan setengah tubuhnya di ranjang.


"Hei, Mbak Ayu..." panggil Arman.


"Ya?"


"Kamu benar-benar akan membantu kami kali ini kan?" Suara Arman terdengar letih.


"Iya."


"Bukan karena ada rencana tersembunyi lainnya."


"Aku mengerti saat ini kamu tidak percaya siapapun. Aku pernah membohongi kalian... Tapi aku tidak pernah berbohong dengan perasaan sedihku."


Cahaya mentari masuk dari tirai jendela.


Cuaca cerah dengan angin dingin sepoi-sepoi.


Arman menghela napas dan bangkit dari tidurnya. Ia butuh pengalih perhatian dari rasa shock-nya.


"Kurasa tindakanku sudah memperlihatkan kalau aku benar-benar akan membantu kalian." Ayumi memperlihatkan luka di pahanya yang masih berbalut perban.


"Sangat sulit menahan sakit apalagi berjalan di pegunungan. Orang dengan tekat kuat seperti aku tidak akan sanggup untuk... hmp!"


Arman membungkamnya dengan ciuman.


Sangat erat dan bernafsu.


Berbeda dengan ciumannya yang biasanya yang terkesan memaksa.


Yang ini menandakan kalau ia memang membutuhkan.


Mereka berdua membutuhkan.


Rasa keintiman ini...


Untuk melupakan segala hal menyakitkan.


"Oh Ares..." desah Ayumi saat Arman melepaskan ciumannya, dan menciumi lehernya.


"Apa perlu sekali melakukan se*ks di saat seperti ini..."


"Ha?" Arman melepas ciumannya. "Kamu mau berbuat asusila di saat kemungkinan ini terakhir kali kita hidup? Yang benar saja..."


Ayumi membuka matanya.


Terlihat seringai jahil Arman.


"Anata wa hontōni bakayarou otoko!" (kamu ini benar-benar cowok idiot bodoh!) sungut Ayumi sambil mendorong Arman.


"Widih... Udah keluar bahasa yakuzanya..." Arman terkekeh. "Tapi kalau kamu mau, aku sih ngga bakalan nolak..."


Duakk!!


Ayumi menghantam ******** Arman dengan lututnya.


"Arrgh...." Arman berlutut mengaduh kesakitan.


"Dasar mesum! Konoyarou..." (Breng sek) gerutu Ayumi sambil keluar kamar meninggalkan Arman yang masih mengaduh kesakitan.


"Woi, kamu boleh nendang di mana pun tapi yang di bagian ini ngga berperikelakian tau!!" teriak Arman.


Ayumi mendengus sambil cuek berjalan menyusuri koridor. Cara jalannya masih agak pincang, tapi ia merasa perlu untuk membantu Sebastian.


Karena,


Ini bukan salah mereka.


Ini semua karena Yamaguci Ito dan anteknya.


"Jadi lo sergap dari atas, Pak Kardi kayaknya bisa nyusup dari samping. Kemungkinan sih Bu Lady ada di bagian dalam. Mungkin dia sama Latief Ali, lalu ada lagi anteknya di luar. Ada gas air mata kan?" tanya Moses.


Ayumi masuk ke ruangan dengan wajah kesal, lalu kedua tangannya menggebrak meja.


"Mereka kemungkinan besar dipersenjatai dengan AK-47, senjata itu banyak tersedia di markas Yamaguci, Jadi sulit untuk menembak jarak dekat. Kita manfaatkan hal itu. Dua penembak jitu di atas pohon, dua lagi menyusup dari bawah. Kamu, siapa nama kamu?!" Ayumi menatap Heksa.


"Eh...eng...Heksa." desis Heksa.


"Heku, jangan merokok. Asapnya menarik perhatian, dan bau tembakaunya... Mereka bisa mengendus kamu dari jarak 2-3 meter. O nama e hanan desu ka?" Ayumi menatap Moses.


Moses menunjuk dirinya dengan ragu.


"Em... Moses..."


"Moosu, jangan pakai jam tangan besar dan atribut. Itu kalung dan gelang kamu dicopot saja nanti malah memperlambat gerak. Kamu siapa?"


"Kardi..." Pak Kardi setengah bengong.


"Usahakan jangan makan... Nanti di sana sakit perut malah repot sendiri."


Pak Kardi menghentikan kunyahannya dan mencibir.


"Siapa kamu...?" gumam Heksa heran. Karena bayangannya akan sosok lemah lembut Ayumi menjadi langsung lenyap.


"Aku sering keluar masuk markas mereka, aku tahu bagaimana cara mereka menyerang." sahut Ayumi.


"Kamu sendiri mau sergap dari mana?"


"Aku ngga bisa pakai senjata."


"Loh..." gumam semua.


"Berat soalnya." Ayumi mengangkat bahunya.


"Lah..." gumam semua.


"Paling tidak, kamu bawa satu pisau lipat..." Arman datang sambil membungkuk-bungkuk.


"Kenapa Pak?"


"Ditendang kelinci..."


"Kelincinya pasti ganas ya..." sindir Moses sambil melirik Ayumi.


"Serigala mulai pake hati buat Kelinci. Pasangan absurb ngga sih?!"


"Siapa yang pasangan, Hah?!" seru Arman dan Ayumi berbarengan.


Yang lain mendecak.