Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Setelah Menikah



"Beb..." sapa Ipang.


Ia menelepon Susan yang saat ini sedang berada di Rusia. Entah berapa nanti kuota teleponnya akan tersedot, yang jelas ia butuh mendengar suara pacar manisnya itu.


"Hei Sayang... Gimana pengalaman jadi pegawai kantoran? Hihi."


Kenapa Susan cekikikan, sih...Gerutu Ipang dalam hati.


"Aku kangen banget, sumpah. Sampe ke ubun-ubun..." sahut Ipang.


"Hahaha aduh maaf ya, nanti pulang dari Rusia aku traktir deh." sahut Susan dari seberang sana.


"Aku mau cerita... kamu bisa diganggu ngga?"


"Bisa kok, aku lagi nungguin target di cafe terdekat. Untung kamu telpon, gayaku jadi terlihat natural, ngga 'terlalu agen'..." kata Susan.


Ipang jadi deg-degan karena tambah kuatir. Ia sebenarnya tidak setuju Susan tetap main agen-agenan, mending dia jadi agen MLM sekalian daripada memata-matai kehidupan orang lain.


Tapi kalau Susan berhenti, jatuhnya malah ribet. Seperti yang sudah dijabarkan oleh Sebastian waktu itu.


"Di sini ada orang aneh." sungut Ipang. Ia berjongkok di lantai sambil bisik-bisik.


"Ohya? Sekelas Garnet Grup ada juga orang anehnya?"


"Iya, mana dia jadi atasan aku pula." kata Ipang.


"Oh ya? Kamu diapain memang?"


"Dia... Biseks. Kayaknya naksir aku."


"Apaaaaa... Yah, aku sih ngga heran kamu kan ganteng. Tapi... Ya Ampuuun... Es eso posible? Setahu aku yang masuk Garnet itu hanya orang terpilih."


"Kalau dilihat dari kemampuannya bekerja sih dia emang jago banget, dia itu sekretaris langsungnya Eyang Uban di sini."


"Ha? Sekretaris langsung Pak Sebastian?... Tunggu..."


Susan terdiam memikirkan kemungkinan terburuk. "Namanya..."


"Namanya Arman." Sambung Ipang. "Aku ngga yakin itu nama aslinya. Tampangnya Korea bule, masa namanya Arman? Dan lagi di nametag nya ngga dicantumkan nama panjang. Orangnya sih ramah banget, senyumannya seindah sales kartu kredit. Dia sih populer di sini. Tapi aku ngga tenang deket-deket dia." Ipang mulai curhat.


Hening..


"Beb? Halooo? Kamu ngga tiba-tiba membeku kan?!" sahut Ipang.


"Kamu salah orang kali, sayang." Ujar Susan.


"Lain kali kalo dia melancarkan aksinya ngegodain aku, aku rekam. Biar kamu percaya." sungut Ipang.


"Kayaknya ngga mungkin Pak Arman naksir kamu. Dia itu laki-laki paling Playboy yang aku kenal. Don juan, Cassanova, dan caranya merayu wanita setaraf Shakespeare... romántico hasta el séptimo cielo ! Kamu masih kalah, Sori, dia itu tekniknya tinggi. Tapi setelah itu kalau bosan, dia bisa jadi pria paling kejam yang pernah kita temui. Intinya, kamu jangan dekat-dekat dia! Manténte alejado de el! Stay away from him!"


Ipang tertegun mendengar Susan.


"Kamu kayaknya kenal banget sama dia." dengus Ipang. "Kamu kenal? Jangan-jangan mantan kamu, lagi." Ipang mengeluarkan segenap kecurigaannya.


"Ya jelas lah aku kenal... Dia komandanku di Security Agency."


Ipang yang malah membeku.


"Hah?" Dengus cowok itu.


"Dan aku ngga pernah berhubungan sama dia. Ingat itu!" Lanjut Susan. "Walaupun jadi agen, ngga sembarang orang pernah denganku." dari nadanya, wanita itu terdengar sewot. "Apalagi, saat pertama aku mengenalnya, dia sedang dalam posisi menembak seseorang..."


Seketika Ipang langsung merasa mual.


Ya Tuhanku... ia baru saja menggerecoki seorang pembunuh!


*****


Hari Selasa,


Milady bangun dengan segar.


Menggeliatkan tubuhnya, memandang ke arah jendela raksasa di depannya. Masih agak malam.


Lalu menatap Jam dinding.


Pukul 4 pagi.


Dan menatap ke samping.


Suaminya tidak ada...


Wanita itu mengusap wajahnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan muka dan melakukan hal-hal kecil.


Kita simak curahan hatinya,


Milady sebagai Narator.


Setelah menikah banyak hal yang tidak kuduga dari suamiku. Yang mungkin banyak orang juga tidak menduganya. Entahlah kalau keluarganya, tapi aku cukup kaget saat mengetahuinya.


Seperti...


Dia terbiasa bangun pagi.


Dan sangat pagi, bahkan.


Pukul setengah 3 pagi ia sudah terjaga, ke kamar mandi, lalu melakukan ibadah malam.


Ternyata dia orang yang religius.


Lalu ia membaca Buku Agama, atau mengutak atik laptopnya, atau menonton tv, yang jelas tidak menyentuhku.


Saat subuh berkumandang, ia melanjutkan ibadahnya.


Baru setelah itu ia menyentuhku lagi.


Lalu... staminanya luar biasa. Di usia yang sudah tidak muda lagi.


Ia menekuni Martial Arts jenis Krav Maga yang ia pelajari sejak di penjara. Sudah sangat lama...


Saat kutanya kenapa mengambil beladiri jenis itu, ia bilang kalau itu bukan beladiri, tapi teknik membunuh dengan tangan kosong.


Terdengar psikopat? Mungkin. Tapi dia bilang musuhnya banyak terutama di bisnis, jadi ia memilih teknik melindungi yang kira-kira langsung bikin orang pingsan.


Mungkin justru karena kemampuannya itu ia memiliki tubuh sehatnya.


Urusan ranjang, kupikir karena selama 10 tahun ia tidak berinteraksi dengan wanita, aku akan diperlakukan agak kasar dan menggebu-gebu.


Namun tidak.


Ia tetap sabar dan menungguku siap.


Namun setelah mengenalnya selama dua hari, ia jenis yang... Yah, bisa dibilang tahan lama.


Dan ia menyukai semua jenis gaya.


Jadi setelah menjadi istrinya, aku berniat meluangkan waktu untuk ke spa atau pijat tradisional untuk memulihkan pegal-pegal dan mengencangkan... anggota tubuh yang itu.


Semua tahu kalau ia sayang sekali dengan adiknya, Meilinda. Dan dia benci dengan calon suami adiknya, Dimas.


Alasannya simple.


Karena ia mengakui kalau Dimas lebih unggul darinya.


Kutanya dalam hal apa, dia enggan memberitahuku. Lalu dia balik bertanya, menurut aku Dimas seperti apa.


Aku bilang sejujurnya kalau Dimas jenis laki-laki yang tidak bisa ditolak wanita, karena kemampuan memikatnya.


Lalu dia malah cemburu padaku dan memaksa ke rumah Dimas untuk memukuli cowok itu.


Yap, hal yang mengejutkan lainnya, dia terkadang kekanak-kanakan.


Ia memperlakukan Meilinda sama seperti ia memperlakukan Trevor. Posesif.


Aku pernah iseng bertanya, kalau suatu saat aku bermasalah dengan Meilinda atau Trevor, siapa yang akan dia pilih.


Dia malah memilih bunuh diri.


Belakangan sepertinya ia berubah haluan, ia bersikap lebih kalem terhadap Meilinda dan Trevor, namun apapun yang kulakukan selalu salah.


Yah, posesifnya jadi pindah haluan kepadaku.


Ia memiliki mobil seharga 150miliar di garasi. Mainannya yang lain harganya tidak jauh dari itu.


Aku mengancamnya kalau ia jangan macam-macam mau bikin mobil built up bertaburan berlian untukku.


Dan seketika ia langsung membatalkan pesanannya dan akhirnya mendonasikan mobilnya untuk beberapa pesantren.


Astaga...


Faktanya yang lain,


Ia segan sama ayahnya.


Bisa dibilang segan tingkat tinggi, karena itu ia jarang mau sepakat dengan ayahnya walaupun ia tahu ayahnya benar.


Cinta pertamanya adalah ibunya Dimas, namanya Sulastri Ningsih. Kabarnya Bu Sulastri dulunya guru ekonomi yang menikah dengan expatriat dari Italia. Saat Sebastian bersitegang dengan Pak Hans, ia kabur dari rumah dan menginap di rumah Bu Sulastri bersama genknya.


Kuprediksi, sikapnya terhadap Dimas karena Dimas sangat mirip dengan almarhum suami Bu Sulastri.


Kalau Bram lebih mirip ke Bu Sulastri.


Ia suka wanita yang pintar. Seperti Bu Sulastri, dan kemungkinan aku juga dianggapnya wanita yang pintar. Kutanya kenapa waktu itu ia bercerai dengan Bu Ratna, ia menjawab kalau itu pernikahan bisnis. Dan sangat lega kala memergoki Bu Ratna berselingkuh. Walaupun kehilangan setengah hartanya, yang penting ia lepas dari wanita itu, katanya.


Untungnya, kejadian itu sudah 33 tahun yang lalu saat ia belum jadi triliuner jadi bisa dibilang Ratna sangat merugi.


Ia tidak suka wanita yang memakai baju terlalu terbuka. Mungkin karena pada dasarnya ia sedikit religius, tapi ia juga tidak memaksaku mengenakan kerudung.


Kalau melihat wanita dengan pakaian terbuka ia akan memandangi seolah sedang melihat kuman raksasa. Sampai objek yang diperhatikannya salah tingkah dan pergi.


Ia kolot.


Itu sudah jelas.


Dan aku tidak menyukai konsep wanita dibawah pria.


Jadi kami sering berdebat dalam hal itu.


Ia memiliki beberapa penyakit khas lanjut usia seperti darah tinggi dan asam urat, namun jarang kambuh karena ia rajin berolahraga.


Ia makan semua yang kumasak. Di penthouse ada pantry kecil dengan kompor listrik. Aku kurang cocok dengan masakan hotel, kecuali jenis cake. Tapi kan tidak mungkin seharian makan cake.


Jadi aku beberapa kali memasak di pantry penthouse.


Walaupun aku pernah salah memasukkan garam dengan gula, ia akan makan sampai habis.


Penilaiannya terhadap kategori makanan adalah enak sekali, enak, dan bisa dimakan.


Ia punya warteg langganan.


Warteg biasa di pinggir jalan di daerah Cikini depan salah satu hotel di jalan utama.


Juga warung soto favoritnya, warung pecel, gado-gado, dan tentunya nasi uduk Bu Sulastri.


Seringkali seharian kami saling diam. Bukan karena kami bermusuhan, tapi karena kami sangat mirip. Kami sudah saling mengetahui maksud kami tanpa harus berbicara.


Ia benci difoto.


Entah kenapa.


Bahkan foto saat wawancara di bloomberg dan annual report memakai foto candid pada saat ia menghadiri event.


Ia juga tidak suka kalau diminta berfoto bersama.


Ia masih mau berfoto saat kami menikah. Hanya satu foto sambil memegang buku nikah. Mungkin karena baginya itu moment penting.


Pagi ini aku terbangun lebih pagi karena akan bersiap-siap ke kantor. Kami belum bilang ke Trevor kalau kami sudah menikah. Entah apa tujuannya, tapi aku percayakan saja pada Sebastian.


Aku melongok ruang tengah, Suamiku sedang duduk di tengah ruangan kamar sambil membaca kitab dengan serius.


Aku suka menatapnya saat keningnya sedang berkerut seperti itu, dan lantunan ayat yang didendangkannya saat mengaji. Sering aku pura-pura masih tertidur sambil mendengarkannya.


Namun, aku sekarang harus bersiap-siap.


Aku menggeliat melepaskan oksigen dari otak ke seluruh tubuh, lalu berjalan ke kamar mandi.


"Hei..." Sebastian memelukku dari belakang saat aku di shower. Ia mengecup bahuku dan meremas dadaku.


"Sayang... Aku lagi mandi besar nih! Sebentar lagi waktunya habis!"


"Sedikit saja."


Ia membuat posisiku sedikit membungkuk dengan tangan ke dinding kamar mandi menahan beban. Kami sama-sama mendesah waktu memulainya.


Gerakannya hari ini sedikit kasar, cepat dan menghentak-hentak.


Aku menuju puncak lebih cepat sementara ia berhenti sebentar memberiku waktu bernapas.


"Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk lemah. Lalu ia bergerak lagi. Kali ini hentakkannya lebih kuat. Aku sampai tidak mampu menahan teriakanku karena sangat nikmat rasanya. Ia mencabut tubuhnya lalu membalik tubuhku dan mengangkatku, menggendongku untuk menghadapnya. Dan memasukiku lagi.


Tubuhku bergetar.


Aku lemah di posisi ini. Aku keluar berkali-kali dan selalu meneriakan namanya saat mencapai klimaks.


Setelah itu rasanya sangat lemas.


Aku mandi sambil menahan lelah, dan selesai berdoa aku langsung ambruk ke ranjang.


Dan bangun jam 9 pagi.


Tebak?


Dia berusaha membuatku capek agar aku tidak ke kantor dan mengambil cuti lebih lama.


Karena... ternyata Dimas akan berkunjung ke Garnet Property, untuk membicarakan masalah tambang berlian di Rusia. Dia tidak ingin aku bertemu Dimas.


Segitu posesifnya...


"Yang benar saja, Sebastian! Aku pasti akan sering ketemu Dimas kalau dia dan Mbak Mel menikah. Lagipula apa sih yang kamu kuatirkan?! Segitu ngga percayanya kamu ke aku?!" kataku Sebal.


"Aku percaya sama kamu, tapi kebanyakan wanita terhipnotis sama dia..." sungutnya. Dia masih menorehkan betadine ke lengannya karena aku mencakarnya tadi pagi saat mencapai klimaks.


"Kalau dia benar-benar bisa hipnotis seperti yang kamu bilang, sudah sejak lama kami pacaran. Soalnya aku sering jalan berdua sama dia, waktu dia belum dekat dengan Meilinda."


Wajahnya langsung tegang.


"Oh iya, ada hal itu... aku juga ingin tahu apa saja yang kalian lakukan saat kalian 'dekat'..." dia terdengar menggeram.


"Makan, nonton, curhat, ngopi, curhat lagi, ngopi lagi, jam 21 pulang." desisku. "Hal-hal membosankan tapi meaningfull seperti itu." gerutuku.


Dia hanya menatapku sambil membebat lukanya dengan perban. Tapi aku tahu apa yang ada di pikirannya.


"Kalau kamu macam-macam sama temen curhatku, kamu habis! Libur sebulan!"


"Ck..." dia berdecak.


"Aku tuh jadi ngga enak, udah ambil cuti mendadak malah mau perpanjang pula..." sungutku sambil buru-buru berdandan.


"Kamu kan kerja untuk perusahanku..." gumamnya. Tapi aku masih bisa mendengarnya.


"Libur seminggu!" seruku kesal sambil beranjak keluar kamar.


"Sayang..." ia memanggilku sambil memelas, tapi aku tak mengacuhkannya.


Aku masih bekerja di Garnet Property sampai sekarang. Alasannya karena Trevor belum menemukan penggantiku. Dan kami sedang dalam kondisi persiapan Grand Opening Coast View.


Itu berarti kami butuh setiap personel untuk datang ke kantor serajin mungkin.


Sebastian sebenarnya tidak setuju aku tetap bekerja. Ini yang kusebut kalau ia sedikit kolot.


Bukan sedikit sih...


Tapi mungkin karena ia takut aku marah, akhirnya dia diam saja saat aku berangkat bekerja.


Dengan kening berkerut, seperti biasa.


Lalu menghela napas.


"Aku antar." Katanya sambil merebut kunci mobilku.


*****