Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Info Kantin



Senin pagi,


Dimas dan problematikanya...


Duduk di kantin dengan kedua tangan tersilang di depan dadanya.


Wajahnya kesal,


Di hadapannya ada gorengan, kopi, rokok plus asbaknya satu paket, dan...


"Laen kali kalo nyari gue, kagak usah pake seragam kali tong!! Heboh satu gedung dikira gue pengedar yang ketangkep!!" Omelnya memarahi Dirga yang mengenakan seragam BNN.


"Yang ini lagi, pake seragam pakpol! Gue kan deg-degan!!" seru Dimas memarahi Rama yang mesem-mesem.


"Deg-degan itu bukti kalo lo pernah berbuat kriminal tapi diem-diem aja." sahut Rama. "Hayooo lo habis ngapain?" sambung pria itu.


"Perbuatan kriminal yang gue inget cuman nge-hack cctv hotel! Nah ini lagi, lo bukannya di Polresta Surakarta, ke sini ngapain?!" sahut Dimas ke Dirga.


Dirga menyumbat telinganya dengan jari sambil mengernyit.


"Gue dipindah ke BNN Kantor Pusat, Lo ga usah teriak-teriak, pala gue masih pusing ga bisa tidur semaleman." keluh Dirga.


"Lo dipindah ngincer naek jabatan doang kan lo? ngaku!" sahut Dimas ke Dirga.


"Udahlah Ga, lagi ada penyetopan kenaikan jadi AKBP, udah kebanyakan pangkat sejuta umat." kata Rama.


Disertai kekehan sinis Dimas.


Dirga berdecak.


Dari kemarin perasaannya kesal terus.


"Emang kasus kali ini susah banget?" tanya Dimas.


"Ini Jakarta, Mas... Kasusnya banyak yang aneh-aneh. Ini soalnya melibatkan Pak Yan..." keluh Dirga.


"Ha? Pak Sebastian baru diamati sekarang? Harusnya udah dari dulu kali... Setiap pergerakannya ada indikasi penjahat, sih..." Dimas terbahak.


"Iya gue juga ngomong ke Dirga kayak gitu hahahaha!" timpal Rama.


"Heh!" seru Dirga sambil menghembuskan asap rokoknya muka Rama. "Lo nih ya, gue itu minta bantuan lo buat nyari info tentang itu obat ke nenek lo, lo malah ikutan bikin heboh! Ngga berguna juga lo ada di sini!" sahut Dirga.


"Lagian polos amat jadi orang... Ini ada hubungannya ama keluarga gue, konflik kepentingan lah, malah nyamperin gue..." desis Rama.


"Gue pikir gue bisa dapet akses ke nenek lo, eh lonya malah takut..."


"Nenek gue serem."


"Seseram apa?"


"Seseram... "Rama mengernyit. "Sekali ketemu ngga bakalan mau lagi ketemu seumur hidup."


"Pasti ada alasannya nenek lo dijuluki artefak hidup." sahut Dimas.


"Gosipnya umur neneknya Rama udah 250 tahun." kata Dirga.


"Hoax itu..." desis rama sambil mengibaskan tangannya. "Yang bener baru 122 tahun."


Dimas dan Dirga hanya diam sambil menyesap rokok dan semakin deg-degan.


"Emang apa yang lo mau tau dari Eyang Putri?" tanya Dimas ke Dirga.


"Keluarga Bagaswirya itu terkenal di kalangan dunia pertabiban sejak jaman Tarumanegara. Dan ada obat yang belum teridentifikasi di BNN. Laporan dari Hari Fadil, itu narkotika jenis baru." kata Dirga. "BNN curiga Pak Sebastian bekerjasama dengan Bagaswirya untuk obat itu, karena hubungan keduanya cukup erat dari dulu."


"Obat apa?"


"Sejenis anti-depresan, tapi efeknya kuat banget."


"Kalo yang begituan, mending lo tanya ke duo gangster. Koh Awu dan Bang Dhika." Sahut Dimas.


"Siapa tuh ?" tanya Rama dan Dirga berbarengan.


"Ck..." decak Dimas. "Leonard Zhang dan Baratadhika."


"Hm." Dirga dan Rama langsung menunduk, berpikir.


"Kemaren udah ketemu yang bikin merinding, ini malah nambahin daftar dedengkot." keluh Dirga.


"Siapa yang bikin merinding?" tanya Dimas.


"Itu... Arman dari grup."


"Oh. Dia." Dimas menyeringai.


"Lo tuh kenal banyak orang yah." desis Rama.


"Hm. Gue kenal yang di kalangan sekitaran Meli aja. Yang ini kebetulan sering ketemu kalo berkunjung ke kantor calon kakak ipar. Terus sempet ngobrol. Kebetulan Leon dan Bang Dhika juga kenal ternyata." kata Dimas.


Semua langsung perhatian ke Dimas.


"Leon dan Bara juga kenal?"


"Iya... Sepertinya lumayan akrab mereka."


Rama dan Dirga menyeringai penuh arti.


"Kenapa dia dipecat dari kesatuan?" tanya Rama.


"Lo ngga tau kalo Arman tuh ada hubungannya sama Partai Komunis paling terlarang di negara ini? Dan kabarnya dia juga membunuh pejabat tinggi."


Dirga dan Rama membelalakan matanya.


*****


"Eh Mbak Milady, Selamat pagi. Bapak sekitar 10 menit lagi datang, dia terjebak macet kelihatannya." Arman tersenyum ke Milady yang sudah ada di depannya.


Milady dengan langkah anggunnya menghampiri Arman.


"Iya Mas. Saya tunggu di sini saja." sahut Milady sambil menunjuk ruang tunggu bagi tamu prioritas.


Arman mengangkat alisnya.


"Wah, bisa-bisa saya diomeli, Mbak. Tunggu di ruangan bapak saja, seperti biasanya." sahut Arman.


Milady menghela napas.


Nada suara pria berparas artis korea di depannya ini seakan menyindirnya, atau memang Milady yang terlalu sensitif?!


"Mas..." Milady berusaha mengingat nama pria ini.


"Arman." lanjut Arman sambil menyeringai.


"Mas Arman. Saya boleh bertanya?" Milady dengan ragu mencondongkam tubuhnya ke konter operator di balik meja Arman.


"Ya?"


"Selain saya, ada berapa orang yang pernah masuk ruangan bapak?"


"Setahu saya, selain saya, ada Bu Arum. Kepala Kebersihan gedung. Selain kami tidak ada lagi. Bahkan Pak Trevor dan Bu Meilinda tidak pernah diizinkan masuk, mereka biasanya menunggu di ruang tunggu tamu prioritas."


Lalu mereka berdua saling bertatapan.


Menilai kepribadian masing-masing.


"Mas Arman sudah berapa lama kerja dengan Bapak?" tanya Milady berbasa-basi.


"Ini tahun ke delapan, Mbak." sahut Arman.


"Ooh. Sudah lama juga ya."


"Lumayan."


"Sebelum kerja sama bapak, kerja dimana?"


"Di kepolisian."


"Ohya? Mantan polisi? Kok bisa jadi mantan?" tanya Milady.


"Kenapa yah?" Arman balik bertanya dengan nada sarkasme.


"Eh, maaf saya kelewat batas urusan pribadi... Tidak usah dijawab ngga papa loh mas."


"Ngga saya jawab juga nanti tahu dari Pak Sebastian ya, Mbak." sahut Arman.


Milady langsung membatin, kalau ia tidak terlalu suka pria ini.


*****


Sebastian tersenyum mendapati Milady duduk di kursinya sambil menyilangkan kakinya.


"Sudah pantas jadi Bu Boss, kamu." kata Sebastian sambil menghampirinya. Ia meletakkan tas kerjanya sembarangan, lalu mencium Milady dengan gemas.


Milady terkekeh pelan saat lidah mereka saling berpanggut.


"Aku kangen." bisik Sebastian, sambil menciumnya berkali-kali.


Di dagu, di pipi, di rahang Milady, lalu bergeser ke leher wanita itu.


Tangannya menangkup dan meremas dada Milady dengan sedikit kasar, membuat Milady melenguh menahan hasrat.


"Aku kan udah bilang, jangan." Milady tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Sebastian sudah me ***** bibirnya lagi, sembari mengarahkan jemari wanita itu ke balik resleting celananya.


Ya Ampun, ini hari Senin pagi! Keluh Milady dalam hati.


Interkomnya berbunyi.


"Maaf Pak, PT. Kencana Unggul meminta konfirmasi mengenai..."


"Batalkan semua jadwal saya hari ini, kecuali untuk BNN dan kepolisian." potong Sebastian lewat interkom.


"Tapi Pak..."


"Batalkan." sahut Sebastian tegas.


"Ehem!" terdengar suara Arman berdehem. "Baik pak." desis Pria itu lewat interkom.


*****