
"Kamu... Kenal Eiichi?" Desis Milady.
Sebastian hanya diam sambil menatap Aventador Orange milik Eiichi yang menjauh.
Di benaknya sekarang terbayang banyak sekali hal-hal buruk untuk Eiichi.
Sialan pria itu, berani menyentuh Milady-ku...
Umpatnya dalam hati.
"Aku kenal banyak orang." Sahut Sebastian akhirnya.
Milady menatapnya waspada.
Ia bisa melihat kilatan kemarahan dalam mata Sebastian.
Wanita itu bahkan sampai melangkah mundur.
"Jangan ganggu Eiichi." Sahutnya reflek.
"Dia siapa bagimu?" Tanya Sebastian sambil maju dengan langkah perlahan mendekati Milady.
"Teman lama, sebelum kenal kamu." Desis Milady.
"Oh. Sebelum kenal aku." Desis Sebastian penuh makna. "Sepertinya akrab sekali, yah..."
"Dia HANYA teman." Milady menekan kalimat 'hanya'.
"Iya, aku mengerti." Sahut Sebastian sambil mencibir.
"Jangan dibahas lebih panjang." Sambung Milady.
"Iya..." Balas Sebastian.
Namun di dalam hatinya terucap kata-kata : Lihat saja nanti.
"Sebastian..." Desis Milady.
"Apa?"
"Jangan ganggu Eiichi."
"Kamu sudah bilang, tadi."
"Iya karena aku ngga yakin sama kamu."
Sebastian tersenyum sinis.
"Hm... Sudah biasa, kan? Oke. Aku ga ganggu Eiichi. Sebagai gantinya, kamu jangan ikut campur masalah Ayumi." Desis Sebastian.
Milady mengernyit.
"Apa sih masalah kamu sama Ayumi?!" Desis Milady.
"Bukan urusan kamu."
Milady menarik napas karena kesal.
"Oh, oke... Fine. Bukan urusan aku. Iya kamu benar. Urusanku hanya Trevor kan yah. Jadi kamu juga bukan urusanku." Milady tersenyum masam. "Oke, Pak Sebastian. Selamat Malam, saya mau pamit kembali ke hotel..."
Milady melangkahkan kakinya dengan kesal melewati Sebastian.
"Milady..." Desis Sebastian.
"Jangan ikuti aku." Ancam Milady. Dalam hatinya wanita itu mengancam akan mencakar Sebastian lagi, kalau pria itu berani menyentuhnya.
"Lagipula ngapain juga kamu di sini malam-malam..." Desis Milady sambil berjalan menyusuri jalan setapak kembali ke hotel. Di tangannya ada kantong plastik berisi sekotak pizza untuk Trevor.
Sebastian mengikutinya, memastikan kalau wanita itu aman seoanjang oerjalanannya kembali ke hotel.
"Hanya memeriksa keadaan..." Desis Sebastian.
"Ohiya... Bukan urusan aku juga yah. Terserah kamu lah mau ngapain..." Milady mengomel.
Sebastian hanya diam.
Bahkan saat Milady memasuki lobi hotel, wanita itu tidak lagi menoleh ke arah Sebastian.
Namun pria itu hanya berdiri di sana, sambil menatap punggung kurus Milady yang menjauh dan perlahan menghilang di balik pintu lobi hotel.
Dan Sebastian mengirim pesan singkat.
Yazaki Eiichi
Ketemu saya besok, jam 10.
Kamu telat, kamu mati.
Sebastian menggunakan bahasa Indonesia. Yazaki Eiichi katanya kenal Milady sebelum ia bertemu Sebastian, kemungkinan besar mereka berkenalan di Indonesia.
Ia harus menginterogasi pemuda ini lebih lanjut.
*****
"Hm...Trev, aku boleh izin setengah hari?" Desis Milady besoknya, saat segala urusan administrasi sudah beres dan tim sudah dibentuk sempurna.
Trevor sedang membolak-balik Rencana Anggaran Biaya yang sudah Milady analisa.
"Setengah hari itu maksudnya dari jam berapa sampai jam berapa?" sahut pria itu.
"Dari jam 12 sampai besok." jawab Milady.
Trevor mengernyit.
"Ini bukan saat yang tepat, Lady..." Desis Trevor.
Milady menghela napas.
Trevor benar, sih... Ia kesini dalam misi penting untuk pekerjaannya, dan belum sempurna 100 persen, dengan sedikit sekali waktu. Besok mereka sudah harus kembali ke Indonesia.
Tapi Milady kuatir dengan Ayumi.
Juga dengan Eiichi.
Duh...
"Boleh kutahu kamu mau kemana?" Tanya Trevor akhirnya, karena Milady terus berdiri di depan Trevor dengan raut wajah kuatir.
Milady menggaruk kepalanya.
"Aku... Mau memeriksa keadaan Ayumi."
Trevor meliriknya.
Tapi pria itu hanya diam, masih dengan tangannya membolak-balik laporan, dan pulpennya yang aktif mencoret-coret kertas.
"Aku tahu bukan urusanku. Aku hanya... bersimpati padanya sebagai sesama wanita." Tambah Milady.
"...kalau terjadi sesuatu padanya, padahal aku tahu, aku akan menyesal. Paling tidak, hanya memastikan dia baik-baik saja lalu aku akan kembali ke kantor."
"Lady..." panggil Trevor.
"Ya?"
"Apa ayahku ada di Jepang?"
Oh, Gawat...
Seharusnya Trevor tidak boleh tahu hal itu...
Karena kebingungan, Milady hanya diam.
"Hm..." Trevor menganggap bungkamnya Milady adalah kebenaran.
"Jadi... Kerja keras yang kita kira kemarin kita lakukan, sebenarnya semua karena sudah diatur sama genderuwo licik itu yah..." Trevor melempar Laporan ke tengah meja dengan agak kasar. Ia sudah selesai memeriksa hasil kerja karyawannya.
"Maksudnya?" Milady tidak mengerti.
"Yah... Keberadaan ayahku di sini. Pasti dengan tujuan tertentu. Mana mungkin birokrasi seketat Kabinet bisa mengeluarkan izin secepat itu..."
"Eh?" Milady terkaget.
Begitukah keadaannya?
Trevor mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tipis kecoklatan.
"Kenapa ia tidak pernah membiarkanku bekerja sendiri..." Gumam Trevor.
Ada nada kekesalan dalam suaranya.
"Aku menyadarinya saat joging pagi ini... Kebetulan aku melihat taman di depan Mall kita dalam pembangunan. Aku sebenarnya iseng bertanya, karena aku tidak mendapat laporan mengenai perluasan taman. Mereka bilang taman akan diperluas karena perintah Bigboss langsung dari Asia Tenggara."
Milady tegang mendengar cerita Trevor.
"Ia tidak pernah mengakui hasil kerjaku." Trevor meletakkan pulpennya di meja dan menengadah menatap plafond sambil memutar kursinya. "Selalu kuatir padaku, seakan aku masih anak kecil. Masih bayinya yang dulu..." Desis Trevor.
"... Bahkan... Kerajaannya tidak diserahkan padaku. Tapi pada orang lain, yang benar-benar orang lain."
"Eh? Maksud kamu... Siapa yang..."
"Karena itu, aku sudah sejak lama memutuskan untuk menyerah." potong Trevor. "Pada akhirnya aku tidak bisa menyamainya. Aku dianggap anak manja, dan aku akan bersikap seperti yang ia tuduhkan, aku akan jadi manja. Bodo amat sama kerajaan bisnisnya... toh, ia juga mendapatkan semua ini bukan dengan cara yang seratus persen halal..."
"Trev... Jangan merendahkan diri sendiri..."
"Oke, setengah hari aku kasih kamu izin. Dengan satu syarat..."
Milady terbelalak.
Kenapa tiba-tiba Trevor berubah pikiran?!
Namun ia juga waspada.
"Apapun yang terjadi dengan Ayumi, jangan memberitahuku."
"Trev...!" protes Milady.
"Aku sudah cukup dengan segala permainan ini."
"Aku malah merasa aneh dengan keadaan ini." sahut wanita itu.
"Pokoknya... Aku sudah tidak mau tahu." Trevor melambaikan tangan mengusir Milady keluar.
Milady menghela napas, mengeluarkan semua kekesalannya, lalu keluar dari ruangan Trevor.
*****
Milady bersiap untuk keluar dari kantor, ia berdandan sedikit dan mengikat rambutnya ke atas menjadi pony tail. Lalu cincinnya agak melorot ke tengah jarinya.
Ya Ampun, masa aku semakin kurus? Perasaan aku makan banyak... Keluh Milady sambil memperbaiki letak cincinnya kembali ke pangkal jemarinya.
Lalu ia menyadari satu hal.
Hm...
Tadi malam...
Bagaimana Sebastian tahu kalau ia di pertigaan?
Jam 11 malam, untuk apa dia ke tempatku?
Dan...
Cincin ini dibuat sepasang dengan cincin milik Sebastian.
Juga gelangnya...
Dan segala yang ada dalam hidup Sebastian, sudah dia rencanakan.
Milady memicingkan mata menatap perhiasannya.
Lalu melepas semuanya, dan memasukkannya ke laci mejanya.
Dan ia melenggang pergi ke luar kantor.
*****
"Rady?" Ayumi membuka pintu apartemennya dengan kaget.
"Hai..." Milady tersenyum menyapanya.
Kondisi Ayumi memprihatinkan. Pucat, mata sembab, dan rambutnya berantakan.
"Mau apa?"
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Milady.
Ayumi menghela napas.
"Masuk aja duru..." Desis wanita itu sambil membukakan pintu lebih lebar mempersilahkan Milady masuk.
Apartemen Ayumi rapi dengan ornamen sederhana. Tampak kalau ia tinggal sendirian selama ini. Tapi Milady sempat melihat ada sendal berukuran besar di kotak sepatunya, seukuran kaki Trevor.
"Mau minum apa?" Tanya Ayumi sambil berjalan lemas ke arah dapur.
Milady mencegah wanita itu berjalan lebih jauh.
"Aku siapkan sendiri. Kamu perlu apa? Sudah makan?" Tanya Milady.
"Eh...? Tidak usah... Kamu kan tamu."
"Aku kesini kan mau bantu kamu. Please jangan menolakku..." Desis Milady.
Ayumi mengelus perutnya yang sudah mulai baby bump.
"Aku belum makan sih dari kemarin sore." Ia mengakuinya.
"Aduh jangan begitu... Kasihan malaikat di dalam perut kamu. Dia ngga salah apa-apa loh..." Kata Milady.
"Iya..."
Air mata Ayumi menetes ke pipinya. "Aku yang sarah... Seraru aku..." Desis Ayumi.
Milady mengelus lengan wanita itu.
"Oke, kamu yang salah, Trevor juga salah, jadi... Sebelum kesalahan kalian meluas, hentikan semua dari sekarang. Dimulai dengan menjaga kesehatan si malaikat... Jadi kamu harus makan banyak. Oke? Jangan menambah keburukan dengan keburukan yang lain. Nanti malah tidak bisa tertutup."
Ayumi menatap Milady dengan terpana.
"Kenapa kamu begitu..."
"Ssh..." Potong Milady. "Duduk, nonton acara komedi, tunggu aku masak. Yah?"