
"Iya, surat kematian dan akta kelahiran... Cari sampai dapat, kalau ada barang kenangan yang masih bisa diselamatkan ambil saja... Iya, paketin ke Indonesia. Jangan lupa bayar sewa apartemen buat 3 bulan ke pemiliknya..."
Arman tampak berbicara dari ponselnya dengan duduk di depan laptop. Sebotol Guiness yang isinya tinggal setengah dan roti bakar telor ceplok ada di atas meja. Rambut pria itu masih basah karena baru saja mandi.
"Bikinin kopi dong..." Arman memutuskan sambungan telepon dan menyahut ke Ayumi. Wanita itu sedang mengaduk adonan sambil berdiri bersandar di konter dapur, menatap pria itu dengan cemberut di bibirnya.
"Bikin sendiri... Nanti ngga enak lagi." sungut Ayumi.
"Kamu bikinnya ngasal sih... Ada yang harus diseduh pakai air mendidih, ada yang lebih enak ngga pakai gula..." Arman mengernyit sambil mengetik proposal pengajuan anggaran dari laptop milik Pak Kardi.
Ayumi tidak langsung menjawab, dia sedang memasukan loyang kue ke oven.
Selama beberapa saat hanya ada suara ketikan keyboard laptop dari jemari Arman.
"Kita serius akan menikah?" tanya Ayumi sambil merebus air. Walaupun ada dispenser, namun khusus untuk kopi, Arman biasanya menggunakan ceret.
"Kalau ngga mau juga ngga papa. Kamu udah minum pil?" tanya Arman.
"Aku pasang alat kontrasepsi."
Arman menoleh padanya, menaruh perhatian.
"Sejak kapan kamu pakai alat kontrasepsi?!"
"Sejak ibuku meninggal menyusul ayahku."
"Hm... Menarik." Arman memutar kursinya menghadap Ayumi. "Dan untuk tujuan apa?"
"Apa kamu perlu tahu semuanya?"
"Kamu inginnya gimana?"
"Aku... bingung." Ayumi memalingkan muka ke arah kompor, menunggu air mendidih.
"Aku menunggu penjelasan kamu, agar bisa lebih siap dengan kejutan yang lain." Sahut Arman.
Ayumi menarik napas panjang.
"Semenjak keduanya meninggal... Aku semakin benci padanya. Apalagi melihat wajah Mikaeru yang mirip... Sudah begitu, ia juga waspada terhadapku. Satu-satunya kesempatan untuk mendekatinya hanya lewat Mikaeru..." Ayumi menghela napas. "Jadi aku mati-matian berakting mencintai Mikaeru sepenuh hati... Sampai pada titik aku kuatir akan hamil. Saat itu aku berpikiran untuk memasangnya."
Air di ceret berbunyi, tanda telah mendidih.
Ayumi mematikan kompor.
"Mau kopi yang mana?" tanya wanita itu.
Dari suaranya yang lemah, sepertinya ia sudah mulai capek dengan keadaannya.
"Pantas kamu ngga hamil waktu kami tugaskan Yazaki dan Yuki..." gumam Arman sambil menghampiri Ayumi untuk membantu wanita itu meraih toples kopi di atas kabinet dapur.
"Anak buah kamu amatir..." ejek Ayumi.
"Kamu yang terlalu licik..." balas Arman.
"Sekaliber mereka pasti habis kalau berhadapan dengan Yamaguci."
"Kalau begitu, seharusnya kamu sekarang sudah mati..."
"Ck..."
"Dasar Medusa..."
"Dasar se*x addict..."
Mereka saling menatap dengan sinis.
Arman meracik kopi lalu membawanya kembali ke meja komputer.
Dan sampai siang mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tanpa bicara...
*****
Enoshima,Kanagawa
(Percakapan berikut menggunakan bahasa Jepang yang sudah ditranslate ke bahasa Indonesia.)
Ito Yamaguci, ketua klan Yamaguci ke 9, berdiri menghadang anak buahnya dengan dagu terangkat.
Mukanya tidak senang... Dia sedang tidak berkenan.
"Kalian yakin sudah mencari sampai ke sudutnya? Tidak ada bagian yang terlewat?!" serunya marah.
"Kami bahkan sudah sampai merobek semua wallpaper dan plafon, Yamaguci-Dono." sahut wakil klannya.
"Juga sampai ke lantai parquetnya dan bagian dalam ranjangnya..." tambah salah satu anak buahnya.
Yamaguci menarik napas menahan geram, sampai-sampai wajahnya memerah.
Ia menoleh ke arah salah satu koleganya, yang kini sedang duduk sambil menggerak-gerakan kaki dengan gugup. Terlihat dari wajahnya, sudah berhari-hari tidak tidur karena ketakutan.
"Orang yang menyerang kita itu... Adalah..." Yamaguci meminta konfirmasi.
"Anak angkat Ferdy dan Surti..." Hari Fadil, pria berperawakan sedang dengan ras Malaya, sedang menatap Yamaguci dengan kuatir.
"Orang yang membunuh Diptar Handal?"
"Kamu sendiri yang menugaskan dia untuk memimpin penggerebekan Diptar Handal."
"Diptar mengancam kita. Dia akan membeberkan daftar penyelundup di depan hakim. Posisiku saat itu terjepit." Hari membela diri.
"Jadi kamu kirimkan Serigala untuk membasmi ular... Dan nyatanya Serigalanya tidak mempan terhadap Bisa si Ular...Begitu?! Ceroboh... Terlalu gegabah..."
"Baskara Beaufort melindunginya..."
"Baskara Beaufort sudah mati diracun."
"Kamu tidak tahu..." Hari Fadil semakin pucat. "Baskara seakan tetap hidup. Jasadnya memang sudah terkubur di dalam tanah. Tapi pengaruhnya ke anak-anak asuhnya, membuat seakan dia belum mati... Terutama dalam diri Sebastian dan Alex Beaufort."
"Mereka tidak curiga kan kalau serangan jantung Baskara adalah efek dari ramuan obat kita?!"
"Sepertinya tidak. Tapi..." Hari Fadil menatap Yamaguci. "... Dia curiga. Walaupun dia diam saja, tapi dari matanya dan tindakannya, dia curiga ke kita."
"Anak itu?"
"Iya... Ares Manfred."
Yamaguci menghela napas tidak sabar.
"Jalankan rencana selanjutnya. Lakukan dengan cepat. Targetnya adalah wanita ini... Pancing dia keluar."
Di depan layar raksasa di hadapan mereka, terdapat foto Milady.
"Siapa yang kita utus?" tanya Yamaguci.
"Latief Ali." jawab Hari Fadil.
"Siapa dia?"
"Mantan suami wanita ini... Ayahnya adalah ulama terkemuka di negara kami."
"Wah...wah... dunia ini sempit ya..."
"Aku mendekati Latief Ali, setelah memergoki wanita ini bertemu secara rahasia di Jepang dengan Sebastian. Hubungan mereka sepertinya cukup mesra. Waktu itu wanita ini tampaknya belum menjadi istri Sebastian." Hari Fadil berdiri dan berjalan ke depan layar. matanya memperhatikan sosok Milady dengan kilatan dendam.
"Aku belum mengenal Latief saat itu. Karena merasa penasaran dengan wanita ini, aku mencari celah untuk memisahkannya dengan Sebastian, dan mencari tahu siapa saja orang-orang terdekatnya. Beruntung, saat itu Latief Ali sedang terserang HIV... dan sebagai pengurang rasa sakit, dia langganan Ganja." Hari Fadil menyeringai licik.
"Lalu...?"
"Aku susupkan orang kita agar Latief ketergantungan obat dari kalian. Dan saat ini Latief sedang memancingnya keluar... aku mengancamnya untuk membeberkan kelakuannya pada dunia. Bayangkan kekacauan yang akan ditimbulkan untuk keluarga Ali..."
"Hehehe... tidak sia-sia aku mengajakmu bekerja sama..." kekeh Yamaguci.
*****
"Kamu..." Desis Arman saat Ayumi sedang menonton Drama Korea dari layanan berbayar. "...sampai kapan mau pakai BandAid?"
Ia tidak tahan menyembunyikan kenyataan kalau sudah berhasil mengcopy data.
Ayumi menghela napas.
Wajahnya tampak tenang.
Lalu tersenyum sinis... Mendengus masam.
"Syaratku cuma satu."
"Kamu tahu menyimpannya di sana sangat mencolok sebenarnya." desis Arman.
"Sudah kuduga kamu berhasil menemukan chip pertama."
Arman langsung membeku.
"Chip... Pertama...?" dia beranjak dari duduknya dengan wajah tegang.
"Ada dua chip yang aku curi... Chip pertama hanya pemain kecil... Chip kedua...daftar namanya bisa lebih menggemparkan."
Arman menatap Ayumi tajam.
"Kamu tahu ini bukan permainan kan?!"
"Iya. Tahu..." Ayumi menoleh ke arah Arman. "Ini masalah hidup dan matiku."
"Kamu simpan dimana?" Geram Arman.
"Bunuh saja aku dulu. Syaratku hanya satu. Pertemukan aku dengan Sebastian..."
"Kenapa kamu begitu keras kepala?!"
"Ares... Aku beri satu clue karena sebentar lagi orang yang kuanggap menarik bisa jadi sedang terancam hidupnya..."
"Siapa?!"
"Istri Boss kamu..."
"Ha?"
Ayumi tersenyum licik.
*****