Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
We Are Family (5)



Dear Readers YOC (Yang Otor Cintai)


Numpang promo ach gengs...


Nopel baru Otor, Der Diebe (Mein Herz) alias Si Pencuri Hati, sudah terbit sampai 3 episod.


Rencananya akan tayang dalam 2 sesi menceritakan mengenai keluarga Bagaswirya.


Sesi 1 Sandra-Sena.


Sesi 2 Rama-Mia


Temanya tetap kisah cinta yang nyeleneh... Ihik-ihik...


Monggo dikonsumsi hehehehe


Otor tetep ngemis komen dan like lah pokok'e. Hihihihi


Makasih semuaaa


Cup cup ***** Basah.


*****


Back To Story...


Kenapa dia diam saja?


Pikir Arman.


Apa aku ada salah bicara?


Tapi kenapa wajahnya berseri-seri begitu? Padahal sedang hujan deras...


Arman melirik Ayumi berkali-kali sambil menyetir mobilnya menembus hujan lebat yang mewarnai jalan tol dalam kota.


Mereka tadi sempat berjalan-jalan sebentar dan berfoto bersama beberapa satwa saat hujan rintik mulai turun.


Yang mengganggu pikiran Arman adalah Ayumi hanya berbicara seperlunya dari tadi, setelah Arman menyatakan perasaannya.


Dan juga...


Ada hal lain yang mengganjal pikiran Arman.


"Tunggu dulu..." Desis Arman.


"Hm..." Gumam Ayumi.


"Terus, gimana perasaan kamu terhadapku? Jangan bilang aku bertepuk sebelah tangan, ngga ada bunyinya jadi..." Sahut Arman.


"Baka..." Dengus Ayumi.


"Hah? Seriusan aku beneran pincang sebelah?!" Arman mengira Ayumi sedang membodoh-bodohinya selama ini, memancingnya bertingkah konyol.


Ayumi langsung menatapnya dengan wajah mengernyit.


"Hontoni Baka desu..." (Beneran be*go..) "Makanya biasakan sarapan Ares Manfred, biar otak kamu ada nutrisinya! Jangan apa-apa ngopi, apa-apa nge-bir... Apa-apa tembak-tembakan termasuk nembak yang lain..."


"Eh! Eh! Apa itu maksudnya nembak yang lain?! Kosakata kenapa jadi nambah makin drastis gitu?! Beneran udah ketularan Moses sama Heksa nih kamu!" Arman membelai kepala Ayumi sekilas.


Ayumi menahan napasnya.


Kenapa sekarang...


Sentuhan Arman jadi terasa bermakna?!


Lalu wanita itu menatap pria di sebelahnya yang sedang menyetir dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya bertengger di tongkat kopling.


Susah payah Ayumi menelan ludahnya ke tenggorokannya yang langsung kering.


Tangan itu... Sangat dekat dengan pahanya.


Besar dengan jemari panjang.


Kulitnya putih susu, dengan semburat urat kehijauan mewarnai sisinya.


Secara naluri, Ayumi mengingat bentuknya.


Setiap sudutnya...


Setiap lekukan tulangnya.


Dan berikutnya saat ia sadar jemarinya sudah berada diatas tangan Arman.


Arman terpaku.


Berpikir...


Benaknya dipenuhi bermacam-macam suara. Suara hatinya...


Dia langsung menganalisa.


Ini bukan jenis wanita kebanyakan.


Pikirnya.


Yang ini lebih rumit


Lebih spontan


Dan terkadang tindakan dan perkataannya tidak sinkron


Jadi...


Maksudnya memegang tanganku itu apa?


Apa arti responnya?


Dia mau apa!?


Coba buka kamus 'pujangga' mu Ares Manfred... Cepat cari artinya sebelum kamu salah lagi dan mulai bertingkah konyol!


Arman mulai bingung.


Dan karena kondisi bahaya, dalam keadaan kecepatan tinggi di jalur paling kanan, pria itu mulai meminggirkan kendaraannya ke Rest area terdekat.


"Kamu lapar lagi? Atau bensin habis? Atau mau ke toilet?" Tanya Ayumi.


"Aku mau bikin perhitungan." Geram Arman.


"Ha?"


Arman mencari parkir kosong di depan supermarket. Hujan turun semakin deras dengan kabut tebal.


"Perhitungan?" Tanya Ayumi saat Arman telah memarkirkan mobilnya.


"Memangnya tadi kembalian ada yang kurang?" sambung Ayumi.


"Ada yang kurang." Arman melepas sabuk pengamannya.


Lalu tubuhnya condong ke samping, ke arah Ayumi.


Dan menarik tengkuk wanita itu, dan...


"Apa sih...umph!"


Mencium bibirnya dengan agresif.


Rasa ini... Rasa wanita yang mengganggu pikirannya.


Mengacak-acak prinsipnya.


Mengacaukan hari-harinya...


"Ngga bisa ya, kamu nyuruh aku bilang cinta, kamunya sendiri diam. Itu curang namanya, Medusa..." Geram Arman sambil menarik wanita itu ke arahnya.


Ayumi memekik tertahan.


Arman begitu mudah mengangkat tubuhnya dalam posisi duduk.


Dan menempatkannya di pangkuan pria itu.


"Ares! Astaga... Kamu gila! Ini di dalam mobil!" Ayumi sudah tahu arah posisi ini akan kemana.


"Buka sedikit..." Gumam Arman sambil mengangkat rok Ayumi ke atas dan menggeser bagian tengah panty Ayumi.


"Enggak! Jangan di sini..."


"Ayolah sayang... aku ngga tahan..." Gumam Arman sambil menggigit pelan puncak dada Ayumi dari balik bajunya.


"Oh, astaga... Bakayarou..." Desah Ayumi menahan nikmat.


"Masuk ya... Ini bakalan cepet kok." Rayu Arman.


"Kemarin kamu juga ngomong begiitu nyatanya bisa dua jam!" Pekik Ayumi berusaha melepaskan dirinya.


Tapi terlambat...


Tubuh Arman sudah merangsek masuk ke dalam dirinya.


"Oh perih..." Desis Ayumi, ia meringis menahan sakit.


"Kamu masih aja kayak pera wan ya... Jangan sempit-sempit, aku nanti cepet keluar..."


"Dasar cowok aneh! Auuh!!... Ares... pelan-pelan..."


Mereka bergerak perlahan di tengah derasnya hujan.


Bunyi guntur menggelegar mengiringi desahan kedua insan manusia.


"Cium aku..." Bisik Arman.


Ayumi tidak menjawab. Dia sibuk mendesah, meresapi nikmatnya tubuh laki-laki itu di dalam dirinya.


"Cium aku... Aku sebentar lagi keluar." Desis Arman.


"Aku..." Ayumi merasa ragu.


Dia membuka matanya perlahan.


Wajah Ares yang sendu, menahan nikmat yang sebentar lagi keluar.


Menatap matanya dengan mendamba.


Walaupun mulutnya pedas, sikapnya kasar, tapi makna di baliknya terasa paling lembut.


Benarkah pria ini mencintainya?


Begitu banyak misteri yang masih mengelilingi mereka...


Pantaskah Ayumi menerima cintanya, apalagi membalasnya...?


Pantaskah Ayumi merasakan bahagia setelah apa yang ia lakukan selama ini?


"Aku juga..." Desah Ayumi.


"Apa?"


"Ah..." Ayumi mengernyit. Dia sampai puncak lebih dulu. Jemarinya mencengkeram lengan Arman dan bibir tipisnya meneriakan nama lelaki itu.


"Ai shi teruyaro...Ah!"(Aku cinta kamu) Kata itu yang keluar dari Ayumi.


Lalu gerakan mereka berhenti sebentar. Dengan Ayumi terengah-engah kelelahan, memeluk leher Arman dengan erat.


"Ai... shi teruyaro..." Gumamnya di dekat telinga Arman. "Tetaplah bersamaku. Bakayarou..."


Arman bisa merasakan bibir Ayumi mengecup lehernya, menelusuri belakang telinganya, rahangnya, pipinya.


Astaga...


Lembut dan rasanya sangat menyejukkan. Bagaikan angin dingin yang menerpa di kala musim panas...


Pikir Arman.


Pria itu bahkan sampai memejamkkan matanya, menikmati sensasi kecupan dari kelinci putihnya.


Kelinci putih yang noda hitam di bulunya mulai menghilang...


Dan wanita itu menegakkan tubuhnya. Sisa-sisa hasrat masih terpatri di wajahnya, dengan matanya yang sayu akibat pelepasan. Juga sedikit kernyitan karena tubuh Arman masih ada di dalam, memenuhi dirinya.


"Awas kalau kamu memeluk wanita lain. Aku jambak rambut kamu sampai botak." Ancam Ayumi sambil merengut.


Arman terkikik geli.


Bisa-bisanya Ayumi menglontarkan jokes dalam keadaan begini.


"Iya... Lagian aku kalau botak makin ganteng, loh..." Sahut Arman.


"Kalau gitu si Janet yang aku bikin botak..."


"Dia lagi? Kamu segitu cemburunya..."


"Aku cemburu." Sungut Ayumi. Kedua tangannya menangkup rahang Arman. "Kamu sering memeluknya... Aku sangat cemburu..."


Dan ia mencium Arman.


Dengan segenap perasaannya, dia mengecup bibir pria itu...


"Kamu menciumku..." Gumam Armman setengah bengong.


Ia memang mengharapkan Ayumi menciumnya.


Tapi ia tidak menyangka efeknya akan sedahsyat ini.


"Kamu... hehe... Menciumku..." Arman terkekeh.


"Ngga usah ketawa Ares..." Dengus Ayumi.


"Ini ketawa bahagia, Medusa, bisa dong ngebedain." Arman mengecup bibir Ayumi sekilas.


"Hei, aku punya permintaan lain." Sahut Arman.


"Siapa sekarang yang ribet? Banyak request..." Omel Ayumi.


"Besok... Bisa lepas alat KB kamu?" Bisik Arman.


"Hm? Kenapa?"


"Aku ingin kamu hamil anakku."


*****