
Milady menggeser cake terakhir ke arahnya. Sebastian menangkap pergelangan tangannya.
Sekali lagi Milady menjahilinya... Pikir Sebastian.
Untuk apa mendeklarasikan soal ia akan memikat orang lain pada Sebastian? Selain untuk membuat pria itu galau sendiri?!
Tapi Sebastian bertekad tidak akan terpancing.
Rencananya harus berhasil.
Demi anaknya...
"Itu memang tugas kamu, kan? Memikat..." Sebastian membelai syal yang dikalungkan di leher Milady.
Milady membeku.
Ia tidak menyangka... Sebastian sedingin ini padanya.
"Oh...benar juga yah..." desis Milady.
Wanita itu merasa bodoh sendiri.
Merasa kalau Sebastian adalah teman curhatnya.
Dengan polosnya ia menangis, mengadu kalau dicium orang lain.
Siapa pula Sebastian di hidupnya?!
Hanya masa lalu...
Wanita itu geram.
Tapi berusaha menahan dirinya untuk tidak menampar Sebastian.
Tapi...
Jari kukunya yang diasah tajam menancap ke tepian meja kayu, menorehkan goresan dalam di sana.
Berharap itu kulit Sebastian, si Iblis berambut putih dan bermata tajam.
Milady langsung merasa tidak lapar.
Ia menyeruput tehnya, berusaha menguasai dirinya.
Lalu ponselnya bergetar.
Trevor Michael B
"I..iya?" desisnya. Ia mendengar suaranya gemetar.
"Gimana perkembangan coastview?" Tanya Trevor. Terdengar ramai-ramai di belakangnya.
"Bagaimana surat rekomendasi bank?" Milady bertanya balik.
"Lancar... Pihak konsultan menyarankan dana di tabungan perusahaan dilebihkan 10% sebagai jaminan untuk biaya lain, you know lah... Kelihatannya titik terang, jadi minggu depan kita bisa ke Jepang." sahut Trevor.
"Perkembangan Coastview, kita lihat 24jam. Semua sudah di pasang, tinggal diuji. Karena hari ini kemiringannya bertambah. Aku kirim data ke email sebentar lagi." kata Milady. Lidahnya kelu mengingat ciuman Arran.
Ciuman posesif seperti itu...
Seharusnya bukan Arran yang melakukannya...
Lalu hening...
"Aku mau ajak kamu buat pilih cincin tunangan... Kapan ada waktu?" tanya Trevor.
Ini dia...
Milady merasa ada peluang untuk membuat Sebastian cemburu.
"Coba kejutkan aku. Ukuranku di jari manis 5, di jari tengah 6..." Milady agak memperjelas intonasinya agar Sebastian mendengarkannya.
Tapi ia berusaha tidak melirik ataupun terlihat curi pandang ke Sebastian.
Ia sepenuhnya mengacuhkan pria itu karena kesal.
"Kamu kurus banget yah... Banyak makan sayuran doong..."dengus Trevor. "Kalau selera kamu, setahu aku, feminin dan glamor... Oke, aku cari sekarang. Mudah-mudahan kamu suka." Sahut Trevor.
Ia harus benar-benar bekerjasama dengan Trevor untuk hal mesra-mesraan...
"Bye..." sahut Milady sambil memutuskan sambungan telepon.
Lalu wanita itu menoleh ke arah Sebastian.
"Bisnis kita sudah dimulai yah, aku harus panggil kamu apa? Boss? Pak? Atau panggilan rahasia seperti mister? Tuan?"
Sebastian memperhatikannya dengan wajah masam sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Terserah kamu aja mau panggil aku apa..." gumam Sebastian muram.
"Hm? Pak Lucifer? Tuan Ifrit? Boss Man? Atau... Sayang?" Milady masih menyindirnya.
Sebastian tidak menjawab.
Milady tersenyum licik.
"Oke... Sayang... Target aku, kalau foto dari kamu aku tunjukan, mereka akan berantem besar, mungkin ngga sampai bulan depan Trevor sudah lengket padaku."
"Bulan depan?" terdengar nada tidak yakin dan meremehkan dari suara Sebastian.
Milady menahan dagunya di atas meja. "Iya... Aku akan usahakan cepat. Biar kamu ngga buang-buang duit buat hampers dan aku butuh seseorang untuk mensterilkan bibirku. Lebih masuk akal kalau yang melakukannya adalah calon suamiku kan? Bukan ORANG LAIN..." sahut Milady sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Aku harap investigasi kamu mengenai kelakuan Ayumi di belakang Trevor valid. Aku ngga mau dipermalukan..." Milady berdiri, mencium pipi Sebastian dan beranjak keluar.
Tapi langkahnya tertahan.
Sebastian mencengkeram lengannya.
Mencegahnya menjauh.
Mereka kini saling bertatapan.
Milady dengan pandangan penuh dendamnya.
Dan,
Sebastian dengan pandangan obsesifnya.
"Apa?" ketus Milady.
"Kamu..." geram pria itu. "Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Kita sudah sepakat kalau sudah tidak ada lagi perasaan cinta diantara kita."
"Aku juga berharap bisa seperti itu, ini sedang aku usahakan supaya sesuai dengan keinginan Paduka Raja." Balas Milady.
Dia mengeluarkan sesuatu yang Sebastian paling benci dari dirinya...
Senyuman palsu.
Lalu ia menepis tangan Sebastian.
"Ini terakhir kali aku mau makan bersama kamu. Saat ini aku benar-benar ingin menampar kamu... Buang-buang waktu saja aku kesini..." desis Milady.
Percakapan mereka penuh pertengkaran, namun nada suara Milady lembut dan halus. Wajahnya juga tersenyum manis.
Benar-benar manipulatif, pikir Sebastian.
Yang tidak bisa disembunyikan oleh Milady, adalah pandangan mata wanita itu penuh kebencian. Menatap lurus ke Sebastian.
"Tampar saja..." tantang Sebastian.
Milady langsung memberi perhatian penuh padanya.
"Ha?" wanita itu meminta pengulangan kalimat.
"Tampar saja kalau mau, biar kamu lega sekalian. Hitung-hitung ongkos kamu kesini habis dicium laki-laki lain..." terdengar nada menyindir dalam suara Sebastian.
Bagi Sebastian, ditampar Milady jauh lebih baik daripada menerima ciuman wanita itu.
Paling tidak, bisa menyadarkannya kalau ia ada di dunia nyata.
Tidak harus terus menerus bermimpi tentang cinta.
Dan tidak harus selalu melibatkan perasaannya.
Karena sebulan ia bertemu Milady, hidupnya sudah kacau balau. Pikirannya tidak fokus ke pekerjaan, dan ia mulai sering berhalusinasi sampai kelelahan.
Ia butuh dibangunkan dari mimpi indahnya...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Sebastian tertegun.
Setelah itu Milady melambai-lambaikan tangannya karena sakit.
Ia bahkan sedikit membungkuk sambil meringis megangi tangannya.
Ya Ampun... Pikir Milady.
Wanita itu baru tahu kalau menampar orang ternyata lumayan membuat perih telapaknya.
Apalagi orang yang ditampar tampak tidak bergeming dari berdirinya
Bergeser pun tidak!
Sekuat itu Sebastian?!
Terbuat dari apa tubuh pria itu?
Milady bahkan extra meemakai kukunya tadi. Memang ada goresan memerah, tapi tidak sampai berdarah.
Sial...
Tangannya kini terasa nyut-nyutan.
"Kamu..." Desis Sebastian
"Sakit..." keluh Milady sambil berjongkok memegangi tangannya.
Sebastian menghela napas, mengatur stok kesabarannya.
Kapan terakhir ia ditampar?
Sudah lama sekali...bisa 40 tahunan yang lalu, bahkan bisa lebih lama lagi.
Jaman ia masih sekolah, ayahnya sering menamparnya. Ia lumayan bandel soalnya, selalu memberontak dan berbuat kerusuhan.
Lalu saat ia mulai mencoba narkoba di halaman belakang sekolah, seorang guru wanita yang memergokinya juga menamparnya. Pakai sapu.
Itu terakhir,
Sejak itu Sebastian semakin kuat sampai tidak ada yang bisa melawannya lagi.
Kuat dari segi fisik dan kekuasaan.
Kini...
Wanita ini berani-beraninya menamparnya.
Yah, memang ia yang mengizinkannya barusan.
Tapi ia tidak menyangka Milady benr-benar melakukannya...
Kenapa...
Kenapa rasanya malah lega yah?
Alih-alih kesakitan, ia malah merasa miris dengan Milady.
Telapak tangan wanita itu memerah.
Milady menggunakan sebagian besar tenaganya untuk wajah Sebastian.
"Milady..." Sebastian berlutut untuk meraih Milady.
Wanita itu terisak kesakitan.
"Sampai kapan sih kamu berhenti menyakiti aku..." keluh Milady.
Sebastian menghela napas.
"Ayo kita ke rumah sakit..." desis Sebastian.
"Sebentar..." desis Milady. Wanita itu mengamati Sebastian.
Tepatnya, pipi Sebastian.
"Harus dengan cara apa agar kamu bisa mengeluarkan darah?" tanya wanita itu. Ia terpana karena bahkan tamparan yang sudah ia kerahkan sekuat tenaganya tidak berbekas sama sekali di pipi pria itu.
"Kamu mulai jadi psikopat?" dengus Sebastian sambil meraih tangan Milady yang memerah dan mengelusnya perlahan.
Ia butuh kompres air dingin.
Masih ada piring bekas banana split di meja, masih ada embun dinginnya. Jadi Sebastian meraih itu dan meletakkannya di genggamaan Milady.
"Perlu kamu tahu, aku juga sakit..." dengus Sebastian.
"Kalau itu kan, salah kamu sendiri." balas Milady.
Senyuman sudah hilang sepenuhnya dari wajah wanita itu.
"Aku perlu lihat kamu berdarah..."
"Milady..."
"Aku benci kamu dan keegoisan kamu."
"Kalau aku egois, kamu sudah jadi istri aku sekarang..."
Milady berdecak.
"Kalau ini sih ngga bakalan ada ujungnya... Semua serba salah..." gumam wanita itu. "Kamu...diam..." Ujar wanita itu akhirnya, memberi perintah.
"Hah?" tanya Sebastian.
"Diam, aku bilang..." sahut Milady lagi.
Sekarang dia berani main perintah... Umpat Sebastian dalam hati.
Walau mengumpat, tetap saja anggota tubuh Sebastian menuruti Milady.
Sebastian diam sambil menatap Milady dengan waspada.
Milady menggeser posisinya untuk mendekati tubuh pria itu.
Lalu menancapkan kukunya ke lengan pria itu.
Sebastian tersentak.
"Kan aku bilang, diam..." desis Milady menahan Sebastian.
Sial...
Umpat Sebastian dalam hati.
Ia menatap Milady sambil menahan sakit.
Milady...
Menancapkan kukunya,
dan menariknya perlahan.
Meninggalkan goresan merah di lengan Sebastian.
Pria itu terpaku bagai terhipnotis. Matanya memandang lurus ke Milady namun tidak mampu berkata-kata.
Milady menipiskan bibirnya tanda kegeramannya.
Cakarannya meninggalkan tetesan darah.
Setelah beberapa senti goresan, ia menarik tamgannya.
Lalu tersenyum puas memandamg Sebastian yang mengernyit menahan perih.
"Begitu... Baru aku lega..." ujarnya penuh kemenangan.
"Aku rawat sendiri tanganku..." Milady menepis tangan Sebastian.
Lalu berdiri dan berusaha menguasai dirinya.
Ia masih merasa pusing.
"Jangan lupa video call hari sabtu." sahut wanita itu sambil beranjak keluar ruangan.