
Pukul 9 pagi.
Setelah mengadakan briefing kepada para agen, dan memproses berbagai pelaporan, Arman melanjutkan perjalanan ke lantai 50, lantai dimana jajaran Direksi, Komisaris, dan Pemegang Saham dari Induk Usaha berkantor. Disana juga ada Divisi paling penting dan berpengaruh untuk kemajuan bisnis, Divisi Treasury.
Arman sendiri sebagai Kadiv Corsec (Corporate Secretary) memiliki ratusan anak buah, namun tersebar di berbagai pos.
Di gedung ini saja, setiap satu Direksi memiliki 2 sampai 3 sekretaris untuk mengurusi pekerjaannya, belum para Komisaris.
Ditambah, juga terdapat Sekretaris untuk mengurusi hal internal perusahaan, seperti Pembuatan dan Pendistribusian Annual Report, Publikasi dan Pers, Humas, Mailing (Surat Menyurat), Dokumentasi, dan banyak hal lainnya lagi.
Arman juga harus mengetahui permasalahan dari setiap Divisi yang berkenaan dengan kepentingan Sebastian.
Seperti pagi ini,
Saat dia -bahkan- belum sampai mejanya, James Rutherfort sudah menggeretnya untuk duduk dan berbicara dengan cepat mengenai permasalahan pasar bursa.
"IHSG naik 0,17 persen ke posisi 6.022,39! Kita tertinggi 6,067!! Gila! Naik terbatas! Pengajuan tentang pembelian slot belum disetujui Komisaris, terus gue beli pake apa?! Gue kan juga harus beli untuk yang lain sebelum investor ngeborong semuanya walaupun kita untung besar hari ini!" Seru James.
Arman,
Hanya diam sambil menyeruput Macchiato.
Manis...
Tapi menurutnya lebih manis bibir Sandra Ellen tadi.
Mudah-mudahan Sandra tidak menaikan harga perhiasannya karena kesal dengan Arman.
Arman hanya diam karena dia sepenuhnya tidak mengerti perkataan James.
Arman tidak menyukai ketidakpastian.
Seperti pasar bursa dan prediksi ekonomi.
Menurutnya semua itu hanya akal-akalan kapitalis.
Lagipula apa sih yang diperdagangkan di sini? Wujudnya saja tidak terlihat. Mau saja dibodoh-bodohi negara barat.
Pikir Arman.
Yah, tapi sudahlah. Itu kepentingan masing-masing.
Dan James sudah terbiasa, bahkan setiap hari, panik.
Menurut Arman, James sebenarnya hanya mau bertanya satu kalimat :
Dimana Sebastian?
Tapi karena saking paniknya, dia jadi terdengar sedang curhat.
"Bapak datang sekitaaaar... 3... 2...1..." Arman mengacungkan telunjuk ke arah lift.
Dan Voila!
Terbuka dengan Sebastian keluar dari sana.
"Silahkan Pak James dimulai diskusinya." Arman menyeringai.
"Hm. Boleh juga lu." James menepuk bahu Arman dan menghampiri Sebastian dengan antusias, mulai berteriak-teriak seperti anak kecil kegirangan mau naik Istana Boneka di Dufan.
Sebastian bahkan sambil mundur selangkah menghindari James karena antusiasmenya sudah dalam tahap :
"Berisik banget sih kamu. Cerutu saya habis lagi..." Gerutu Sebastian.
Arman mengulurkan kotak besi, simpanan cerutu Havana kesukaan Sebastian.
Sebastian menerimanya sambil bilang,
"James, kamu diam di ruangan kamu. Jangan keluar. Nanti saya ke sana. Beli saja dulu pakai uang Arman. Nanti laporannya menyusul." sahut Sebastian sambil memencet kode ruangannya.
"Arman, Panggil Yudhistira Bagaswirya, suruh ikut meeting treasury pagi ini."
"Baik, Pak. Jangan makan cemilan macam-macam dulu ya pak, nanti sore Bapak harus ke Jerman bersama Pak Gerald."
"Astaga. Saya lupa." Erang Sebastian sambil menghilang ke balik pintu ruangannya.
"Itu tandanya dia setuju saya beli atau enggak? Saya mau belanja 50milyaran loh ini." Tanya James ke Arman.
Arman hanya menyeringai sambil bilang.
"Dana untuk beli saham akan tiba di GL Pak James dalam 2 menit." Desis Arman sambil mengutak-atik ponselnya.
Ia menunjukan resi pengiriman dari layar ponselnya.
"Sipp!! Tengkyu bro!" Dan James berlalu dari sana.
Arman menghela napas lega.
Lalu duduk sambil menyandarkan kepalanya dan berusaha santai menatap plafon.
Bagaimana bisa James panik dan berisik setiap hari? Benar-benar stamina yang luar biasa!
Batin Arman kagum.
Sekaligus sebal.
Berikutnya yang ada hanya meeting, meeting dan meeting sampai waktunya makan siang.
Sampai-sampai Arman menguap karena bosan.
Pura-pura menjatuhkan pulpen ke bawah meja meeting dan menguap di bawah meja.
Atau izin ke toilet padahal bikin kopi.
Atau pura-pura menulis notulen padahal ia merekam kondisi meetingnya.
Membuat notulennya nanti saja setelah makan siang, biar kelihatan sibuk.
Kini, Sebastian dan Arman berada dalam satu lift.
Arman sibuk dengan tabletnya dan Sebastian di depannya sedang sibuk dengan ponselnya.
Arman bisa melihat Sebastian mengirimkan pesan singkat ke Menteri Pertahanan, mengenai kemungkinan kerjasama swasta dalam pengadaan Alutsista.
"Saya tadi berlebihan tidak?" Tanya Sebastian sambil menoleh sedikit ke belakang, ke arah Arman.
"Eh?" Arman mengangkat wajahnya. Konsentrasinya terpecah. "Saya rasa tidak juga. Hanya sedikit bikin kesal. Tapi kan mereka dibayar mahal memang untuk mendengarkan omelan Bapak." Sahut Arman.
Sebastian mengangguk. Ia puas akan jawaban Arman yang pedas.
Setidaknya dari puluhan ribu karyawan, ada satu yang benar-benar jujur kepadanya.
"Makan siang dimana kamu?" Tanya Sebastian.
Arman meliriknya, merasa was-was.
"Bapak bertanya bukannya mau ikut saya makan siang kan?!" Arman mengernyit.
"Sudah pasti tidak. Ngapain saya ikut kegiatan mesum kamu." Sungut Sebastian. "Saya cuma mau memastikan lokasi kamu biar nyarinya gampang."
Arman tersenyum lebar, penuh kemakluman. "Saya ngga yakin mau makan siang bareng yang mana, sih. Yang jelas saya akan mengirimkan karangan bunga besok lusa. Sepuhan emas. Mudah-mudahan bisa meluluhkan Sang Pujaan Hati." Arman menunjukan foto contoh karangan bunga dari emas yang baru saja dikirimkan Sandra.
"2,5 milyar?! Kenapa mahal sekali?!" Seru Sebastian.
"Ya sudah, saya batalkan." Sahut Arman.
"Eh, tunggu." Sahut Sebastian sambil merebut tablet Arman.
Belum ada tanggapan sampai lift berhenti di lantai 50.
Sebastian hanya mengerutkan dahinya sambil menatap foto karangan bunga.
Dia zoom in,
Dia zoom out,
Berkali-kali.
Sampai Arman merasa matanya mulai berputar karena memperhatikan kegiatan men-zoom Sebastian.
Apalagi, lighting tabletnya disetting 100% oleh Sebastian.
"Ya, sudahlah..." Akhirnya Sebastian menyerah.
Arman menarik napas lega sambil menerima kembali tabletnya. Ia langsung men-setting ulang lightingnya menjadi 20%.
"Gila, karangan bunga aja mahal banget! Kapan saya untung kalau begini?!" Gerutu Sebastian sambil keluar dari lift.
Membuat Arman mengerutkan kening sambil berpikir.
Bulan ini, Laporan Konsolidasi membukukan keuntungan bersih1,7 triliun.
Itu namanya apa kalau bukan cuan?!
"Terserahlah." Gumam Arman sambil menghubungi Janet.
"Hai Pak Arman..." Sapa Janet dengan suara mendesah genitnya.
"Hai Sayang. Kamu di hotel mana siang ini?"
Sebastian menoleh ke arah Arman, memperhatikan pria berdarah Kroasia-Korea itu.
"Ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Arman.
"Ada. Besok kamu general check up deh. Siapa tahu ada penyakit menular. Teman tidur kok ganti-ganti..." Gerutu Sebastian sambil masuk ruangannya.
Arman mengacuhkannya.
"Sekalian kamu beliin sekotak ya, punyaku habis." kata Arman ke Janet dengan suara rendah. Maksudnya sekotak pengaman.
*****
Sekitar pukul 17 Arman menuju Garnet Security Agency seperti biasa, untuk melakukan berbagai analisa dan pengamatan.
Umar, agen untuk bagian investigasi dan administrasi, sudah menyiapkan satu bantex yang isinya penuh dengan data diri dari...
"Ayumi Sakurazaka." Gumam Arman sambil mengamati foto wanita itu.
Ada sesuatu di sosok wanita di depannya ini.
Sesuatu yang belum terungkap di balik senyuman lembutnya. Arman sangat yakin kalau Ayumi bukan hanya sekedar 'pacar Trevor'.
Pria itu mengelus dagunya sambil membaca data diri Ayumi.
Secara keseluruhan, bukan tipe wanita kesukaannya.
Tapi misteri yang menyelimuti Ayumi membuat jiwa agennya tergugah.
Sekitar pukul 18.30, Sebastian memasuki area latihan Garnet Agency.
"Berangkat jam berapa Pak?" tanya Arman sambil mengalungkan perban di kedua tangannya.
"Saya lagi nunggu Gerald. Dia belum selesai meeting." Sebastian melemaskan ototnya. "Ada waktu sekitar sejamlah untuk peregangan."
Lalu mereka berdua masuk ke ring tinju.
Dan mengenakan penutup kepala.
"Jangan terlalu capek ya pak, Besok pagi Bapak banyak kegiatan di Jerman."
Pukulan pertama dari Arman
Sebastian merasa limbung namun bisa mengendalikan tubuhnya.
Arman cukup tega padanya kalau masalah beladiri. Mungkin pelampiasan kekesalannya seharian, atau mungkin juga ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan 'memukuli' Bossnya.
Siapa lagi yang bisa memukul Sebastian seperti Arman?!
"Saya bukan anak kecil yang harus diingatkan." sahut Sebastian.
Pukulan balasan! Ke kepala Arman.
Pria itu menggelengkan kepalanya menguasai rasa pusingnya.
"Di Jerman jangan cari-cari nastar. Kasihan Gerald nanti kelimpungan." Kata Arman.
Tendangan berputar ke arah Sebastian.
Dan terus begitu, sampai sekitar dua jam lagi.
*****
Ponsel Arman berdering.
Astaga! Umpatnya.
Siapa sih! Gerutunya.
Nama Sebastian Bataragunadi terpampang di layar ponselnya.
Kenapa lagi? Bukahkah Bapak dalam perjalanan ke Jerman?! Ada yang ketinggalan?
Batin Arman
Arman menghentikan gerakannya, sambil menutup mulut Janet, juga menempelkan telunjuknya ke bibir ke arah Yani.
Menyuruh mereka diam.
Lalu mengatur napasnya dan mengangkat teleponnya.
"Ya Pak." Sapanya.
"Sibuk?"
"Begitulah."
"Bisa diganggu kan?"
"Boleh bilang 'tidak' ngga?"
"Ngga boleh. Kirimkan data lengkap Asse ke Alex. Dia mau bikin gamenya."
"Huh?" Tanya Arman tidak mengerti.
"Konek dong! Gitu aja bengong. Belum klimaks pasti ini." Gerutu Sebastian.
Arman mencabut tubuhnya dari Janet, membuat wanita itu mengeluh kecewa.
"Alex Beaufort? Game?" Tanya Arman.
"Ya. Kita perlu tahu siapa saja yang masuk ke link itu. Gamers di Jepang sedang tergila-gila dengan game buatan Beaufort Tech, saya merasa ada beberapa antek yakuza yang akan terhubung dengan kita. Saya perlu tahu klan mana yang terhubung dengan Tadashi."
"Apa itu bukannya malah sia-sia?!"
"Tapi tak ada salahnya dicoba kan?"
"Hm."
Janet dan Yani mulai mengerjainya lagi. Meminta perhatian Arman dengan menjilatinya.
"Ya Pak. Sebelum pulang saya mampir ke Kantor Alex." Sahut Arman akhirnya.
Ia tidak suka Alex Beaufort.
Jadi ia dalam posisi terpaksa melakukan ini.
Jadi malam itu setelah selesai melakukan aktivitasnya, Arman ke arah Gedung Beaufort Bank untuk menemui Alex untuk melakukan pekerjaan terakhirnya hari itu.
*****
Pukul 23.30.
Cklek!
Arman membuka pintu unit apartemennya.
Sambil menghela napas lega.
Ia membuka sepatunya, meletakkannya di rak.
Membuka tasnya, meletakkannya di gantungan depan tv.
Melonggarkan dasinya, menyalakan mesin kopi.
Lalu menjatuhkan dirinya di sofa sambil memejamkan mata.
Ia sudah mandi tadi di hotel.
Namun ia merasa perlu mandi lagi.
Rasanya lelah.
Ia menguap karena mengantuk. Lalu merenggangkan tubuhnya.
Dan menatap sekelilingnya.
Apartemennya rapi. Menurutnya.
Saking rapinya jadi tampak seperti display pameran furniture. Tanpa tanda kehidupan.
Arman memang tidak pernah memasukan orang lain ke sini, dan belum ada wanita yang menginjakkan kaki di sini.
Kecuali ARTnya, tapi ibu-ibu setengah baya dan gemuk itu tidak masuk hitungan.
Ini zona nyamannya.
Area kekuasaannya.
Bilik menyendirinya.
Semakin sepi semakin membuatnya tenang.
Arman menyalakan lagu favoritnya dari ponsel.
Lalu masuk ke kamar mandi.
Mengakhiri hari itu dengan tenang.
*****