Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Semua Tentang Kamu



Milady menatap Sebastian, sambil sesekali mengedipkan matanya yang lentik.


Lalu memiringkan kepalanya.


"Bapak... Bertanya ke saya?" Tanya wanita itu.


Sebastian menghela napas. Lalu menengadahkan kepalanya ke atas.


Alex bahkan menahan tawanya mati-matian


"Saya rasa Lady berhasil naik sesi karena memang dia sudah ahli Pak..." Desis Alex.


"Seharusnya tidak bisa." Sahut Sebastian masih dengan argumennya.


"Atau Pak Yan yang kepleset bicara terlalu banyak ke Lady... coba diingat-ingat loh Paaaakkk..." sindir Alex sambil mencoba memancing Sebastian.


"Ini lagi ngomongin Mafia Traders?" Tanya Milady.


"Iya, Lady..." Desis Alex lembut. "Pak Yan tanya, bagaimana kamu bisa sampai ke level 48?"


"Hm..." Milady mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir. "Aku merasa punya hubungan batin sama Goru Neto ini. Tokoh utama di game..."


Sebastian menatapnya tanpa ekspresi.


"Lanjutkan..." pria itu mempersilahkan Milady untuk menjelaskan dengan lebih mendetail.


Milady mengangkat bahunya.


"Entah bagaimana... Aku mengerti dirinya. Dia... Punya anak, namanya Tooru, yang mengidap penyakit mental. Tooru dulu sering dipukuli ibunya, sehingga ia tumbuh dengan rasa trauma mendalam terhadap wanita. Goru berusaha menyembuhkan anaknya, tapi malah terlibat ke dalam transaksi perdagangan narkotika. Sahabatnya... Berkhianat. Nama sahabatnya Sakurazaka, memberikan obat anti depresan untuk Tooru. Yang ternyata adalah narkotika jenis baru dipasok oleh geng Yakuza yang bernama Yamaguci. Tooru dijadikan kelinci percobaan sebelum obat itu beredar di pasaran. Anaknya jadi ketergantungan terhadap obat itu. Goru berhasil membunuh Sakurazaka, namun ketergantungan anaknya terhadap obat itu tidak bisa hilang... Hingga akhirnya ia harus mendirikan laboratorium untuk membuat replika narkotika yang diberikan Sakurazaka. Replikanya berhasil dan selanjutnya mereka membuat formula lain yang lebih baik dari biangnya. Disini lalu muncul Asse. anak Sakurazaka... yang berusaha mendapatkan ramuan dari formula baru. Ia memanipulasi Tooru yang sudah dewasa untuk jatuh cinta padanya, namun segala yang Asse lakukan..." Milady tiba-tiba terdiam...


Lalu mengernyit.


"Segala yang Asse lakukan... sebenarnya semata-mata hanya untuk..."


Ia berhenti di tengah-tengah cerita.


Ia seperti mengenal alur cerita ini.


Lalu ia melirik Sebastian.


"... hanya... untuk mendekati Goru dan... " bibirnya bergetar hebat


lidahnya terasa kelu.


"... dan... membunuh... "


Milady tidak mampu menjelaskan lagi dengan lebih jauh.


Getaran tubuhnya semakin tak terkendali.


Sebastian diam sambil memandangnya dengan muram. Ada guratan kesedihan yang terbayang di pandangannya.


Matanya yang tadinya setajam elang, memandang Milady dengan sayu.


Berharap Milady menemukan lubang tersembunyi yang ditorehkan orang lain di relung hatinya, lalu menambal lubang itu dengan cinta Milady.


"Tooru... Dan... Goru Neto..." Gumam Milady.


Dan airmata menetes menuruni pipi wanita itu.


Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar. Dentingan cangkir dan cincin safir yang dikenakannya mewarnai udara.


"Seb...Sebastian...?" Milady menatap Sebastian dengan terbelalak. Ia tergagap karena menyadari, baru menyadari, bahwa... Kehidupan dalam game adalah nyata... Hidup Sebastian.


Sebastian menghela napas.


"Alex, bisa tinggalkan kami berdua saja?"


"...dan tolong matikan CCTVnya..." Sahut Sebastian.


"Hehe... Siap Pak..." Kekeh Alex sebelum menghilang dari balik pintu.


Sebastian duduk di samping Milady.


"Goru Neto adalah pelafalan Bahasa Jepang untuk Garnet. Garnet adalah simbol untuk Kesucian, Kejujuran, Kesetiaan, dan Persahabatan. Aku menamai perusahaanku dengan nama itu, untuk mengingatkan diriku kalau aku pernah berharap semua itu terjalin harmonis di kehidupanku. Nyatanya sampai sekarang aku belum menemukan 4 unsur itu. Bisa dibilang... simbol Garnet adalah mimpiku, yang belum aku temukan... Aku tidak suci, perusahaanku juga tidak sepenuhnya didirikan dengan jujur. Belum ada orang yang setia padaku sepenuhnya, dan... berkali-kali aku dikhianati orang yang kuanggap teman..."


Lalu dia menatap Milady. "Dan, Ya. Tooru adalah pelafalan bahasa Jepang untuk Trevor. Dan Asse adalah A.S... Ayumi Sakurazaka. Obat antidepresan yang sering Trevor minum untuk meredakan rasa panik saat berhadapan dengan wanita, adalah replikasi dari narkotika buatan Yamaguci. Klan Yakuza dari Kanagawa. Trevor mendapatkannya dari Ayumi, dulu... wanita itu bilang, itu obat anti depresan yang sering dikonsumsi ayahnya, Tadashi. Kondisi Trevor memang lebih baik saat ada obat itu. Tapi saat obat itu habis, dan kami tidak bisa mencarinya di toko obat biasa... dia mulai kejang-kejang seperti orang sakau. lalu pingsan dan koma. Aku... aku mencoba bertanya dengan Ayumi darimana dia mendapatkan obat itu. Dia mengarahkanku ke Ayahnya, Tadashi. Si Sialan itu... orang yang tadinya kuanggap kepercayaanku, memanfaatkan rasa panikku...aku bisa mendapatkannya dari Tadashi dengan syarat, aku harus... menyerahkan semua asetku padanya dan Yamaguci."


Sebastian menipiskan bibirnya dengan geram saat mengingat masa lalunya.


"Untungnya, aku memiliki relasi. Baskara saat itu masih hidup, dan mengenalkanku ke keluarga Bagaswirya. Mereka berada di balik industri kesehatan di banyak negara dengan formula dan racikan tradisional dan modern yang ditanam sendiri. Kami join untuk mendirikan laboratorium farmasi. Pengaruh obat dalam darah Trevor sangat kental. Kami membuat replikanya dari kandungan dalam darahnya. Bahannya kami tanam sendiri... dan atas ijin Tuhan, replikanya berhasil dibuat."


"Aku memiliki dendam ke Tadashi... dan karena aku berhasil membuat replika obat, aku tidak membutuhkannya lagi. Lalu, aku menguak aibnya dan kroni-kroninya ke publik. Dia beruntung aku masih menutupi bisnis narkotikanya, dan hanya kutuntut dengan tuduhan penggelapan uang. Beberapa pejabat yang terlibat dengannya tapi masih bisa kumanfaatkan, aku sembunyikan aibnya. Mereka saat ini dalam genggamanku. Dan Ayumi... Ayumi minta maaf padaku sebenarnya. Ia mengaku kalau tidak tahu obat itu adalah narkotika. Dan ia memohon supaya hubungannya dengan Trevor tetap terjalin... tapi aku tidak bisa percaya semudah itu. Sekarang, selain memproduksi obat untuk Trevor dan melegalkannya sebagai obat keras, yah, dengan mengurangi sedikit beberapa bagian yang dianggap 'tidak halal', kami sedang menciptakan formula baru yang lebih legal dan lebih baik dari narkotika. Lalu... Yamaguci mulai mendekatiku lagi..."


Sebastian mengelus janggut panjangnya. "Rencananya, aku akan memerasnya dan menjadikannya ketergantungan dengan formula yang kukembangkan... " Senyum licik terpatri di sudut bibirnya.


"Sekarang kamu mengerti kan kenapa aku menentang Trevor berhubungan dengan Ayumi ?" Desisnya.


Milady tidak menjawab karena shock, namun dari tatapan wanita itu, Sebastian merasa kalau Milady mengerti.


"Ah ya, waktu itu kamu memintaku untuk mengirimkan dokter untuk Ayumi?" Sebastian duduk bersandar berusaha santai. "Ayumi mengusir dokter kami... Padahal belum sampai ke pintu apartemennya. Tapi berkat kamu aku jadi tahu lokasi barunya." Sebastian membelai rambut Milady.


"Tadinya Yuki dan Eiichi hanya kutugaskan untuk mengerjai Ayumi. Agenku yang sesungguhnya adalah Susan. Namun... Gara-gara kamu..." Sebastian mengelus pipi Milady.


"Rencanaku hampir berantakan..."


"Aa...aku..." Milady masih tergagap.


"Kamu tenang saja... Semua masih terkendali." Sebastian menggenggam jemari Milady. Memberinya kehangatan untuk menenangkan Milady yang gemetaran.


Lalu mengangkat jemari wanita itu, dan mengecup punggung tangan lembut Milady perlahan.


"Eiichi temanmu, dalam perjalanan kembali ke Indonesia. Karena dia sudah mengetahui terlalu jauh. Tidak aman kalau dia tetap di Jepang. Istrinya dan Susan juga ikut... Mudah-mudahan mereka sampai dengan selamat. Dan Yuki... biarlah dengan ketidaktahuannya dan jatuh cinta dengan Ayumi..."


Sebastian menghentikan kecupannya. Lalu menempelkan jemari Milady di pipinya.


Matanya terpejam, merasakan kelembutan jemari wanita kesayangannya.


"Aku sering sekali cemburu ke pria-pria yang dekat denganmu, yah... Rasanya semakin tua malah semakin labil tingkahku..." Keluh Sebastian.


Terdengar tawa perlahan dari sebelahnya. Sebuah tawa yang diucapkan dengan sedih.


"Aku ingin dengar... Mengenai kamu dan hidup kamu yang sebenarnya..." Desis Milady.


"Aku tidak ingin melibatkan kamu... Saat kamu tahu lebih banyak, kamu akan terikat selamanya denganku... Bahkan mungkin terlibat dalam sesuatu yang..."


"Aku ingin tahu kamu... Semua mengenai kamu..." Potong Milady sambil mendekat, menekan belaiannya di pipi Sebastian, dan menatap Pria itu dengan dalam.


"Kamu sudah tahu aku..." Gumam Sebastian. "Secara tidak sadar, kamu tertarik mendekat. Kamu sudah menyelesaikan 48 sesi..." Sebastian mengernyit.


"Aku memang menyelesaikannya baru-baru ini, sebelum ke Jepang... Dan kupikir memang banyak missing piece yang belum diketahui. Namun rasanya saat ini aku jadi bisa menyelesaikan semua misinya..."


Sebastian mencium bibir Milady.


Kali ini ciumannya tidak seperti biasanya. Lebih lembut dan ragu.


Dan pria itu sedikit gemetar menahan emosi.


"Entah berapa lama lagi aku bisa memiliki kamu..." Bisik pria itu di sela-sela ciumannya.


"Aku selalu jadi milik kamu... Kita akan melindungi Trevor, berdua."