
Leonard Zhang menghentakkan kakinya sambil menahan kedongkolannya di sepanjang jalan menuju ke gedung utama.
Ia tidak menyangka kehadirannya di sini justru menguak masa lalunya.
Leon saat ini menjabat sebagai CEO di Beaufort Mining, sekaligus sebagai pengawas dari 4 anak usaha Beaufort lainnya.
Ia bekerja langsung di bawah kepemimpinan Alex beaufort.
Tadinya ia adalah orang kepercayaan Baskara Beaufort, Ayah Alex Beaufort.
Baskara Beaufort merekrutnya dari kukungan gangster di usia 19 tahun. Selain dia, ada dua orang lagi orang kepercayaan Baskara.
Yaitu Dhika, sepupunya.
Dan Bianca... Gadis yang sangat cantik, diselamatkan dari tempat karaoke jalanan.
Baskara membiayai hidupnya sejak saat itu. Mulai dari tempat tinggal, sampai pendidikannya. Bahkan membiayai permak wajahnya untuk menghindari kejaran gangster.
Sejak saat itu, Leon dan Dhika bersumpah untuk selalu setia kepada keluarga Beaufort.
Lalu...
Karena kebersamaan yang terlalu sering, Leon jatuh cinta ke Bianca.
Mereka berpacaran beberapa waktu... Sampai datanglah...
Susan.
Dalam hidup Leon.
Mereka hanya melakukannya satu kali...
Lalu selang sebulan setelahnya wanita itu mengaku hamil, sambil menunjukan bukti USG.
Dan... Bersedia dites DNA saat janin berusia 3 bulan, walaupun hal itu sangat beresiko.
Tes DNA keluar, dan akurat sebagai keturunan Leon. Lalu Susan berencana melakukan penggugatan ke meja hijau kalau Leon masih tidak mengakui anaknya.
Jadi...
Pak Baskara membantu Leon, untuk melakukan mediasi antara Leon dan Susan, dengan syarat...
Leon harus memutuskan hubungannya dengan Bianca.
Dan setelah drama yang dibuat-buat, hubungannya dengan Bianca berakhir.
Susan pun menghilang.
Dan di saat terakhir, setelah Pak Baskara meninggal, Bianca terpikat pada Alex Beaufort, dan Leon bekerja sebagai CEO, Leon baru mengetahui kalau Susan adalah settingan Pak Baskara.
Rupanya Pak Baskara tidak merestui hubungannya dengan Bianca. Bianca sejak awal dipersiapkan untuk menjadi pasangan anaknya.
Kalaupun Bianca dan Alex tidak bisa bersatu, akan ada kandidat wanita lain untuk Alex, namun Bianca tetap bukanlah milik Leon.
Misi Baskara saat itu adalah membuat Alex jatuh cinta sehingga akan terlena dan melupakan kerajaan bisnisnya. Bisnis Beaufort dibangun dengan kotor... Sama keruhnya dengan bisnis Garnet. Karena itu, Baskara tidak ingin anaknya melanjutkan pekerjaan haramnya dan bermain-main dengan iblis.
Dan Bianca adalah wanita yang pas untuk itu. Untuk Alex.
Jadi...
Karena tidak bisa berbuat apa pun, Leon sedikit banyak merasa kalau Susan harus mendapat hukuman yang setimpal darinya.
Kalau nanti bertemu lagi... Ia akan menagih 'ganti rugi' kepada Susan... Tekad Leon dalam hati.
*****
Ipang menemukan Susan yang sedang berjalan tergesa-gesa di sepanjang koridor. Cowok itu memandangnya dengan kuatir dan baru saja akan mulai mencarinya ke seluruh gedung.
"Kamu tuh... Kupikir kamu tersesat loh..." desis Ipang.
Susan menghentikan langkahnya dan menandangi Ipang dengan mengangkat alisnya.
"Kamu cari aku?" tanya Susan.
"Iya lah manis, katanya ke toilet tapi lama banget, jangan-jangan kamu kecapekan, kupikir." kata Ipang.
Susan mengulum senyumnya. Pipinya berubah kemerahan.
"Masa sih kamu berpikiran aku tersesat..." gumam Susan sambil mendekat.
"Ya yang namanya kecapekan kan bisa saja terjadi loh. Walaupun kamu cewek misterius yang suka nonjokin cowok, dan bawa-bawa SIG P226 di paha kemana-mana..." Ipang berkacak pinggang menatap Susan dengan pandangan bagaikan wanita itu anak perempuannya yang habis keluyuran malam dan pulang telat.
Lalu cowok itu mengernyit setelah dapat lebih jelas memperhatikan Susan.
"Kok kamu keringetan? Habis lari-lari?" tanya Ipang sambil mempelai pipi wanita itu.
Susan langsung mencium Ipang dengan erat.
Cowok itu lumayan kaget dengan perlakuan Susan, karena posisi mereka saat ini sebenarnya di samping cafe dan lumayan banyak orang berlalu-lalang.
Saat Susan melepaskan ciumannya, terlihat pipi wanita itu semakin memerah.
Dan napasnya terengah-engah. "Jangan kuatir. Aku cuma sayang kamu...ngga ada laki-laki lain di hidupku." kata Susan.
"Bener nih ya... Kamu kayaknya agak perhatian sama Pak Dennis tuh..." cibir Ipang.
"Hah? Kamu cemburu?!" Susan menyeringai menggodanya.
"Ya iya lah ada yang ngegodain calon istriku, mana mungkin aku enggak?!" Ipang agak meradang.
Susan menciumnya lagi. Kali ini berkali-kali.
Membuat libido Ipang langsung meningkat di tempat.
Ya Ampun... Wanita ini menggairahkan sekali... Pikir Ipang sambil menciumi pipi Susan.
"Gimana?" rajuk Susan.
"Hem..." gumaman persetujuan Ipang, tidak perlu membuat Susan berpikir dua kali untuk langsung menyeret cowok itu ke arah lift untuk naik ke atap gedung.
*****
Milady merenggangkan tubuhnya dengan tangan terentang ke atas kepala.
Wah...
Spot yang paling ia suka.
Rooftop garden.
Ia berkali-kali menuliskan ini pada proposal pengajuan dan berkali-kali juga dicoret Trevor karena merasa tidak terlalu berguna dan akan memakan banyak biaya, namun berkat kegigihannya akhirnya Trevor menyerah dan mengizinkannya berbuat sesukanya.
Memang sedikit ada keegoisan pribadi Milady di konsepnya.
Karena ia suka pemandangan laut dari sini.
Laut di tepi kota dengan air keruh dan berbau limbah, akan berubah kesan apabila dilihat dari tempat yang ditata indah seperti taman eksklusif. Tempat yang tidak elok di pemukiman di bawah gedung seakan-akan tertutup dengan sudut mati bangunan mall, yang terlihat hanya birunya air dari kejauhan dipadukan dengan tanaman dan kolam sepanjang bangunan dengan air jernih yang memantulkan cahaya.
Milady berjalan menyusuri jalan setapak berbatu dengan kaki telanjang. Ia melepas highheelsnya dan menentengnya.
Lumayan rileks, pijatan batu di telapak kakinya membuat aliran darahnya agak lancar setelah banyak ketegangan yang ia lalui barusan.
Lalu...
Milady menajamkan penciumannya.
Wangi ini...
Dari Asap tembakau berkualitas tinggi...
Yang ia sangat familiar.
Cerutu Havana milik...
Milady menghela napas dan merasa langsung badmood.
Tentu saja milik Sebastian.
Keluhnya dalam hati.
Siapa lagi?!
"Hei..." sapa Milady.
Pria berambut putih itu tertegun menatapnya, seperti tidak menyangka Milady akan muncul di sini.
"Kamu sedang duduk di lounge favoritku." kata Milady mengklaim tempatnya.
"Kamu sedang berdiri di gedungku." sahut Sebastian tidak mau kalah.
"Seluruh gedung atau seluruh kota ini bisa jadi milik kamu, tapi aku ngga mau kalah soal sofa itu... Aku mati-matian berantem sama Trevor soal keberadaan benda itu di situ." desis Milady agak sewot.
Sebastian terkekeh.
"Kamu kenapa, sih?" sahutnya geli melihat Milady saat ini bertingkah seperti anak kecil ngambek.
"Entahlah...kalau di depan kamu aku bawaannya pingin marah terus..."
"Hm..." gumam Sebastian. "Aku ngga mau minggir yah. Capek." desis Sebastian.
"Kenapa sih tingkah kamu selalu bikin kesal..." desis Milady sambil menghampiri Sebastian dan duduk di sebelah pria itu.
Lalu menghela napas dan merebahkan dirinya.
"Padahal aku ke sini niatnya mau menghindari kamu... Dan keriuhan di bawah." Sahut Milady.
"Salah sendiri dari awal acara pura-pura ramah..." ejek Sebastian.
"Terus aku harus jutek dan bersikap sarkas kayak kamu, begitu?"
"Ya jangan juga, dong... Paling tidak, ngga harus mengumbar senyum lebar penuh kepalsuan seperti tadi..."
"Itu bagian dari pekerjaan. Aku harus meninggalkan kesan yang bagus untuk Garnet Property. Biar investor senang, cuan bertambah, dan kamu bisa menambah koleksi mainan di garasi kamu..."
"Iya aku rencananya mau bangun hangar lagi soalnya... Yang dua itu udah ngga cukup menampung Sukhoi..."
Milady mencibir dan terdiam.
"Gimana darah tinggi kamu?"
"Sssht!" desis Sebastian.
"Ck..." decak Milady.
Sesaat keduanya hanya terbaring bersama sambil memandang pemandangan di depan mereka dan angin sepoi yang menghembuskan aroma laut.
Mereka tidak ingin membahas apapun.
Terutama hal-hal yang menyangkut perjanjian ataupun masalah lain.
Hanya ingin menikmati dunia tanpa interupsi apapun...
Berdua...
Itu berarti, mereka tidak harus membuka mulut dan mengucapkan sepatah kata pun, karena berdasarkan pengalaman yang lalu, lidah mereka berdua adalah biang keributan yang akibatnya bisa meluas dan malah merugikan tubuh dan pikiran mereka sendiri.