Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Pengintai



Sebulan berlalu...


Tanpa sekalipun bertemu Sebastian.


Milady tahu Sebastian mencoba menemuinya, mencoba berbicara dengannya, mencoba untuk mengambil hatinya...


Pria itu tetap mengirimkan hadiah-hadiah, rutin di hari Jumat sesuai kesepakatan mereka di awal.


Namun Milady menjaga jarak.


Sangat menjaga jarak.


Milady bisa melakukannya selama 10 tahun dulu. Jadi saat ini, ia pasti juga bisa.


Dan Milady...akan tetap maju untuk menikahi Trevor.


Sampai saat ini, Ia tidak memberitahu Trevor mengenai hal yang terjadi di belakang layar.


Entah kenapa...


Wanita itu hanya tidak ingin Trevor bingung. Jadi ia akan menjalankan perannya.


Sudah sejak lama muncul perasaan sayang pada Trevor.


Bukan sebagai kekasih, namun sebagai seorang sahabat.


Seorang keluarga...


Jadi, sebagai seorang yang peduli, Milady akan berakting bersikap netral. Seakan ia mendukung hubungan Trevor dan Ayumi, padahal ia sedang melakukan peranan sebagai penjaga.


Ia dan Sebastian memiliki misi yang sama, yaitu melindungi Trevor.


Dan Milady sangat yakin, saat ini Sebastian sedang merencanakan sesuatu untuk Ayumi.


Lalu apa untungnya bagi Milady... apakah semua ini hanya karena Trevor?


Tidak..tidak...


Bukannya Milady tidak memiliki keuntungan dari rencana ini...


Milady berangsur-angsur memiliki kebebasannya, alasan 'akan menikah' menjadi jalan untuk lepas dari orang tuanya, terutama ibunya.


Seperti saat ini...


Dengan rasa puas, Milady melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Apartemen barunya!


Ukurannya 49m2 dan memiliki beranda.


Terletak di lantai 3 sebuah gedung milik pengembang baru bernama Jarvas.co


Ia tidak ingin membeli bangunan produk milik Garnet maupun Beaufort. Karena kedua-duanya berhubungan dengan Sebastian.


Walaupun Ia bisa saja mendapat diskon berlebihan dari Garnet atau Beaufort untuk menghemat pengeluarannya, namun sudah cukup...! Kapan ia bisa lepas dari Sebastian kalau begitu caranya?!


Barang miliknya, akan ia dapatkan dengan perjuangannya...


Ia sudah memiliki mobil yang ia kumpulkan murni dari gajinya sendiri, bukan uang transaksi haram dari escort, dan sekarang ia memiliki apartemen ini.


Orang tuanya tidak mencegahnya untuk pindah, karena beranggapan Milady akan tinggal bersama Trevor dan menempati apartemen itu setelah mereka menikah.


Paling hanya adiknya yang protes karena jadi sendirian di rumah dengan hal-hal absurb ibunya dan ayah yang menanggapi keluhannya dengan plin-plan.


"Kak... Aku ikut kakak aja deh... Atau sekalian lah aku tinggal di rumah Mas Trevor yaa? Ya? Ya?" Rayu adiknya sambil mengangkut beberapa perabotan baru Milady ke sudut-sudut apartemen.


Dari pagi ia membantu Milady menata apartemen barunya.


Milady menggaruk kepalanya.


"Yah... masa ayah-ibu sendirian di rumah... Sudah tua loh mereka..." sahut Milady.


Ini hanya alasan sih supaya kebebasannya tidak terganggu.


"Memang aku di rumah gunanya apa, coba? Angkat galon kan sudah dibeliin yang bottom line, laundry kan ada si embak yang ngerjain. Masak dan lain-lain kan ibu bersikeras mengerjakan sendiri. Angkut-angkut barang ada Mang Kojak... Aku di sana cuma buat pelampiasan omelan ibu aja karena Kak Yori ngga ada dan Kak Lady sekarang malah jarang pulang..." Omel Ipang.


Milady terkekeh sambil mengelus rambut adik kesayangannya.


Tinggi Ipang sudah 187cm... Dan tubuhnya mulai terbentuk sebagai lelaki dewasa berkat olahraga yang ia tekuni. Ipang menggeluti basket dan taekwondo dan aktif berorganisasi di kampus sebagai Ketua BEM.


Namun ia selalu siap kalau keluarganya butuh bantuan.


Lumayan keren anak ini ternyata. Batin Milady.


Sebagai seorang kakak yang setiap hari melihat perkembangan adiknya, perilaku Ipang cukup membuat Milady bangga.


Sambil duduk di lantai memperhatikan Ipang merangkai kabinet barunya, Milady berdiskusi soal orang tua mereka.


"Pang... Kalau orang tua itu, ada saja kebutuhannya. Harus didampingi. Hal-hal mendesak akan selalu ada. Mereka butuh anak-anaknya agar tidak merasa ditinggalkan. Kalau Kakak kan akan menikah... Kak Yori... Yah... Kamu tahu hubungannya dengan ibu bagaimana. Yang sabar yah..."


"Apa aku menikah juga aja yah..." gumam Ipang.


"Ha?" dengus Milady kaget.


Ipang menyeringai menanggapinya.


"Kamu... Hayo kamu habis ngapain! Pacaran sama siapa kamu sampai mau nikah begini?!" Milady mencubit pipi Ipang.


"Enggak kak aku jomblo ini looohhh...! Sakit sakit! Hiiih..." Ipang mengelus pipinya yang perih.


"Kamu bilang kamu jomblo, Kak Lady malah lebih ngga percaya!"


"Aku jomblo tapi temen kencan mah banyak hahahaha!" Ipang terbahak.


"Awas yah kamu macam-macam!" ancam Milady.


"Ngga banyak-banyak kok kak... Cuma beberapa macam... adegan."


"Adegan apa?!" sembur Milady.


Ipang terbahak lagi.


Ia suka sekali menggoda kakak yang berbeda 7 tahun darinya ini. Kadang ia dan Yori menggoda Milady berbarengan karena menurut mereka Milady sangat imut kalau merengut.


"Tenang Kak... Masih terkendali..." seringai Ipang menghiasi wajah tampannya, dengan hidung mancung dan kulit kuning langsatnya yang membuat kaum hawa kerap merasa kepanasan.


Ipang bukan selebritis, namun followernya di ig mencapai dua jutaan. Entah bagaimana ketampanannya menjaring banyak orang... Ia bahkan kerap mendapar endorse dari brand-brand besar.


Usia yang relatif muda, namun sudah bisa membiayai kebutuhannya sendiri.


Milady merasa sekilas tampang Ipang mirip dengan Arran. Itu penyebab Milady dengan mudah menganggap Arran sebagai sosok seorang kakak. Karena wajah pria itu terasa familiar.


Ah, bagaimana hubungan Arran dengan Kak Yori yah...


Terdengar salam dari ruang depan.


Ipang melongok dan dengan sigap berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


"Eh, Mas Trevor..." sahut Ipang.


"Hei... Pangeran." sapa Trevor, lalu pria itu mengernyit. "Kamu biasa dipanggil apa sih, nama kamu kepanjangan..."


"Kanjeng Gusti..." sahut Ipang sambil tersenyum jahil.


"Kanjeng Gusti gundulmu..." dengus Milady.


Ipang terkekeh lagi.


"Panggil aja Ipang mas..." ia menunjukan seringainya. "Mas biasanya kuli angkut tuh disediain teh sama gorengan, aku tuh belum dikasih sajen dari pagi soalnya Kak Lady cuma suka makan yang manis..." ia mulai merajuk ke Trevor.


"Eh, bawel kamu..." sahut Milady sambil menoyor pinggangnya dengan gulungan sterofoam. Ipang terkikik karena geli dan mencoba menghindar.


"Dari pagi dia ngakak terus... Ini anak lagi seneng kenapa sih, hah? Pasti dapet korban baru yah..."


"Korban apa sih kaaakkk, nuduh mulu deh..."


"Korban perasaan!"


"Enggakkkkk koook... Engga salah sih..."


Ia bersiap untuk kabur.


"Ipang..." geram Milady.


"Beli gado-gado dulu yaaaa, Mas Trev lanjutkan perjuanganku pasang lemari, okeeee muah muah!" dan Ipang menghilang dari balik pintu.


Tidak butuh waktu lama sebenarnya untuk membeli gado-gado di seberang jalan raya, karena menjadi orang ganteng bisa membuat hidup dipermudah, hanya modal senyum saja ia bisa mendapat antrian pertama di tukang gado-gado. Padahal ia datang paling belakangan. Dapat extra bakwan pula...


Namun, perjalanan Ipang kembali ke apartemen jadi agak lama karena...


Jadi saat perjalanan kembali ke unit Milady, sambil menyeruput es kopinya, Ipang melihat seseorang di dalam sebuah mobil sport listrik yang diparkir di samping bangunan Apartemen.


Komplek apartemen itu memang mewah, jadi mobil sejenis Tesla sudah banyak berseliweran di sekitar mereka.


Namun yang jadi perhatian Ipang...


Mobil itu sering sekali di sana. Hampir setiap hari...


Dengan seseorang di dalamnya, seakan sedang mengintai salah satu penghuni apartemen.


Saat Ipang sedang sibuk memfokuskan pandangannya untuk lebih memperhatikan orang yang berada di mobil itu, seorang wanita menghampirinya.


"Hai!" sapa wanita itu.


Ipang sampai terperajat karena wanita itu muncul tepat di depannya dengan tiba-tiba.


Ipang tidak menjawab sapaannya, dan malah memperhatikan wanita itu.


Cantik, cetakan impor dengan pinggul ala gitar Spanyol, pakaiannya agak mirip dengan kakaknya, Milady, namun dengan kulit agak gelap hasil tanning dan mata hijau terang yang tajam. Ipang memperkirakan usia wanita itu sekitaran kakaknya.


Cewek ini mencolok sekali... Sudah pasti bakalan jadi korban catcalling kalau lewat di jalanan. Batin Ipang.


"Kamu juga penghuni sini?" tanya wanita itu.


Pikiran jahil mulai tersirat di benak Ipang.


"Kamu unit berapa?" tanya cowok itu sambil menyeringai.


"Baru kenal sudah tanya unit... Sopan dikit dong..." sahut wanita itu.


"Kan Mbaknya yang menyapa duluan, baru nyapa aja udah nanya saya tinggal dimana... Namanya dulu dooong..." balas Ipang sambil menyeruput es kopinya.


Wanita itu mengulurkan tangannya.


"Susan...." desisnya.


Ipang menyambut uluran tangannya.


"Susan siapa? Susanti atau susanto?" balas Ipang. Karena biasanya wanita yang cantiknya kebangetan macam Susan malah bukan perempuan, seperti ladyboy di Thailand, yang bisa lebih cantik dari wanita asli.


"Panggil aja Susan..." desisnya. Tatapannya tajam menusuk, Ipang langsung berpikiran kalau Susan ini bukan wanita sembarangan. Entahlah Susan nama aslinya atau bukan.


"Kamu?"


"Pangeran."


"Nama asli?"


"Nama asli."


"Nama kamu unik..."


"Kelakuan kamu juga unik..."


"Kamu tinggal di sini?"


"Kamu tinggal dimana?"


Susan menghela napas. Sepertinya ia mencoba bersabar menghadapi Ipang.


"Aku baru lihat-lihat apartemen. Rencananya mau beli yang di lantai 3..."


Akhirnya Susan menyerah juga.


"Oh..." sahut Ipang. "Aku tinggal di lantai 3 juga, sama kakakku."


"Ohya? Sebelah mana?" tanya Susan.


"Kamu yang sebelah mana?"


"Aku mau beli yang 303. Pemandangan ke jalan raya."


"Jangan... Polusi. Mending yang ke arah kolam."


"Kok kamu yang atur..."


"Kan cuma saran. Ngga diterima ya sudah..."


"Apartemen kakak kamu menghadap ke arah mana?"


"Ke arah masa depan kita berdua."


"Gombal ih.."


"Anggap saja itu pujian, soalnya kamu cantik."


"Kakak kamu lebih cantik."


"Kakakku bawel."


"Kamu sukanya bercanda yah..."


"Kamu sukanya mengintai yah... Aku ngga pernah bilang itu apartemen kakakku loh, kok kamu tahu... Aku cuma bilang aku tinggal sama kakakku, mungkin saja itu apartemenku kan? Dan lagi aku ngga pernah bilang jenis kelamin kakakku..."


Susan tampak tertegun.


Wanita itu langsung waspada.


Ipang melirik tesla abu yang diparkir tak jauh dari mereka.


"Didalam siapa?" tanyanya Ipang.


"Bukan urusan kamu."


"Kamu nyamperin aku duluan, jadi itu urusanku."


"Kalau begitu, coba tebak..." tantang Susan.


Ipang bisa melihat kelibatan rambut keperakan dari dalam mobil. Laki-laki dengan rambut yang sudah memutih...


"Hm... Kamu sugar baby."


Mata Susan terbelalak marah.


"Aku bukan sugar baby!"


"Oh... Kalau begitu, dia kakek atau bapak kamu?"


"Bukan."


"Suami kamu jangan-jangan..."


"Bukan jugaaa..." Susan terlihat tak sabar.


"Hm... Bukan kakek, ayah atau suami. Jadi kamu single. Mau jadi pacarku?"


Susan terperangah.


Ipang... Menyeringai menang.


"Maksud kamu apa sih..." geram Susan.


Ipang meraih bunga di pinggir trotoar lalu menggulung batangnya menjadi sebuah cincin.


Ia menyambar tangan Susan dan memakaikan cincin bunga di jari tengahnya.


"Aku tinggal di 310, tepat di depan unit 303. Yang kayaknya kamu juga sudah tahu." sahut Ipang sambil tersenyum licik.


"Bilang ke... Siapapun itu di dalam mobil, jaga kesehatan. Udah tua masih mengintai orang tiap hari...aku sering lihat dia dari jendela. Kalau mau mengintai tuh pakai mobil yang lebih sederhana gitu loooh macam Avanza ato Panther sekalian biar jadul kayak tampangnya..." Sahut Ipang.


Susan tampak menahan tawanya.


Wah manis banget kalau tertawa. Pikir Ipang dalam hati.


"Okeee. Kita resmi pacaran yah. Aku belum bisa beliin kamu cincin mahal kayak yang di tangan kiri kamu. Jadi untuk sementara pakai yang ada dulu."


"Eh... resmi apa?!"


"Resmi pacaran. Nanti malam aku main ke unit kamu... Siapin pizza yah. Okeee dadaaaahhh..."


Dan Ipang segera berlalu dari situ.


Meninggalkan Susan yang terperangah sendiri dengan cincin bunga pink tersampir dijarinya hasil metik di pinggir jalan.


Pipi wanita itu memerah karena malu sekaligus kagum.