
Akhirnya...
Akhirnya bisa bertemu...
Saat pintu besar itu terbuka, dengan sosok yang sudah lama diimpikannya, duduk di kursi paling ujung, menatapnya dengan tajam.
Sebastian,
Menyambut Ayumi dengan pandangan waspadanya yang khas.
Sekian lama, hanya sosok manusia ini yang Ayumi hindari, namun akhirnya juga sosok yang ia cari.
Wajahnya... Berubah menjadi semakin suram. Telah banyak yang mereka lalui untuk sampai ke tahap saling membenci.
Dan saat pintu di belakang Ayumi tertutup, dengan para pengawal siaga dengan senjatanya masing-masing, memperhatikan semua gerakan Ayumi dengan waspada. Bahkan rasanya Ayumi tidak ingin terpisah dari Arman saat borgol tangan mereka dilepas.
Takut dan sedih bercampur jadi satu.
Ada tiga orang yang menghubungkan mereka berdua...
Tadashi Sakurazaka,
Tomoko Sakurazaka,
Dan...
Trevor Michael Bataragunadi.
Semua berlabuh di kolam yang sama.
Kolam milik sang Yakuza.
Ito Yamaguci
Dengan Sebastian dan Ayumi memancing dari sisi yang saling berseberangan.
"Sebastian-Sama... Apa Kabar?" Sapa Ayumi.
Ayumi selalu memanggilnya dengan julukan "Sama", julukan tertinggi bagi orang yang paling dihormati di Jepang selain "Dono"... Biasanya disematkan untuk julukan Dewa (Kami-Sama), atau Tuan (Boss-Sama, Eiichi sering memanggil Sebastian dengan panggilan ini).
"Lebih baik daripada kamu, yang jelas..." Balas Sebastian. Nada suaranya terdengar mengejek.
"Langsung saja, Sebastian-Sama. Saya ingin langsung bertemu dengan anda, karena saya ingin meminta untuk pencabutan tuntutan bersalah atas status kedua orang tua saya."
Hening.
"Orang tua kamu..." gumam Sebastian. Wajahnya langsung muram.
Ayumi menatap lurus Sebastian dengan ketegaran yang tersisa.
"Orang tua saya, Tadashi dan Tomoko, dalam satu waktu mereka memang terkesan mengkhianati Anda. Tapi apakah Anda tidak menghitung jumlah hari-hari saat mereka setia kepada Anda. Itu bisa tahunan... Dan mereka benar-benar mencurahkan segala waktu untuk pekerjaan mereka."
"Kalau seember susu tertetes racun walaupun hanya satu tetesan, apakah kamu mau meminum susu itu?" Sebastian balik bertanya.
"Saya mengerti... Tapi, bagaimana dengan susu di gelas lain yang lebih kecil di sebelah ember yang belum terkontaminasi racun? Apakah Anda juga akan membuangnya hanya karena dia berada tepat di sebelah ember?" Tanya Ayumi lagi.
"Tidak ada jaminan tetesannya tidak terkena ke sebelah."
"Namun bagaimana kalau memang tidak ada tetesan racun... Dan... Bagaimana kalau sebenarnya racun yang tertetes ke ember sifatnya malah menetralkan?"
Sebastian mengernyit.
"Maksud kamu...?"
"Semua terjadi karena sebab akibat. Bisa jadi. efek narkotika itu memang awalnya parah, tapi berangsur-angsur tubuh akan menyesuaikan diri."
"Belum ada penelitian untuk membuktikan hal itu benar adanya. Kamu jangan mengada-ada."
Ayumi menunduk menatap lantai.
Ia tidak ingin mengulur waktu lagi.
"Orang tua saya meninggal... Sedangkan Mikaeru masih hidup. Kejang yang waktu itu dideritanya bisa sembuh seiring dengan waktu. Traumanya bukan disebabkan oleh kami, tapi oleh ibu kandungnya. Tidakkah Anda berpikir itu tidak adil bagi saya? Anda masih bisa berkumpul dengan Mika... Bahkan dia masih bisa mencari wanita lain... Tapi bagaimana dengan saya, Sebastian-Sama? Orang tua saya tidak bisa kembali berkumpul dengan saya, sedalam apapun saya menunduk meminta ampunan Tuhan, mereka tidak bisa kembali ke dunia."
Suasana hening lagi...
"Paling tidak, kalau saya tidak bisa membunuh Anda, tolong bersihkan nama mereka... paling tidak keturunan mereka, cucu mereka, tidak menemukan nama kakek neneknya sebagai daftar tahanan."
Permohonan yang sebenarnya sangat sederhana dan manusiawi dari seorang wanita yang telah merasa tersakiti.
"Apa yang kamu tawarkan?" akhirnya Sebastian berbicara.
"Diri saya dan informasi peredaran narkotika milik Ito Yamaguci."
"Saya tidak butuh keduanya. Hanya akan membuat masalah baru..."
"Walaupun ada nama yang berkaitan dengan keluarga Anda, Sebastian-Sama?"
Mata Sebastian membesar.
"Kalau Anda meneken perjanjian dengan saya untuk melepaskan tuntutan atas kedua orang tua saya, saya akan beritahukan nama-nama yang perlu anda ketahui saja. Sisanya akan saya kembalikan ke Yamaguci. Saya takut harus secepatnya. Sebelum semuanya terlambat..."
"Terlambat? Kamu mengancam saya?!"
"Bukan begitu, Sebastian-Sama. Saya bermaksud memperingatkan. Jangan sampai Anda menyesal."
Hening
Sebastian mengetuk-ngetuk mejanya, berpikir.
"Untuk apa kamu lakukan itu?"
"Saya... Walaupun terlambat... Ingin menunjukan dedikasi kepada kedua orang tua saya. Hanya mereka yang saya miliki di dunia ini."
Sebastian menghela napas. Ayumi memang, sesuai yang ia ketahui, sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Apakah kalau Trevor berada di posisi Ayumi, akan melakukan hal yang sama untuk Sebastian?
Sedikit banyak, Sebastian mengakui Ayumi benar.
"Baiklah, Apa isi perjanjiannya..." tanya Sebastian.
"Yang pertama, penarikan tuntutan bersalah atas Tadashi dan Tomoko Sakurazaka." sahut Ayumi. "Mereka berdua sudah meninggal, tidak ada ruginya bagi Anda."
"Yang kedua?" tanya Sebastian lagi.
"Yang kedua, jaminan keselamatan diri saya atas Ito Yamaguci."
"Oke. Saya terima..." Sebastian menoleh ke Arman. "Sudah rekam?"
"Sudah Pak." sahut Arman.
Ayumi menghela napas panjang.
"Yang pertama, saya tidak akan mengganggu Mikaeru dan anggota keluarga Bataragunadi lainnya."
Sebastian mengangguk puas.
"Yang kedua... Nama-nama yang saya sebutkan bisa di cek ulang di chip yang akan saya berikan..." Ayumi mengangkat Roknya.
Beberapa orang terdengar berdehem.
Seseorang bersiul.
"Saya sudah copy datanya." sahut Arman.
"Iya kamu mengcopy yang ini." Ayumi melepas Band Aid dan menarik chip dari tengahnya.
"Tapi...kamu tidak ambil yang didalam sini..." Ayumi menunjukan bekas jahitan yang masih basah di bawah band aid.
"Astaga..." desis beberapa orang.
"Maksudnya kamu menanam Chipnya ke dalam kulit kamu?!" seru Arman.
"Sakitnya sampai mati rasa..." keluh Ayumi. "Memang sudah tergores saat di markas Enoshima, saat itu saya berinisiatif untuk memasukkannya ke dalam goresan dan menjahitnya, lalu menutupnya dengan band aid..."
"Kamu gila..."
"Ini untuk bertahan hidup."
Semua yang disana terpana akan keteguhan Ayumi Sakurazaka.
"Siapa nama di dalamnya?"
"Gunawan Ambrose."
Semua diam.
"Sarah Fadil."
Beberapa orang mengambil napas panjang.
"Irwan Hartawi."
Semua berseru kaget.
"Latief Ali."
Arman langsung pucat.
*****
Kantor Garnet Security Agency lantai B2.
"Rady-San tidak bisa dihubungi." desis Eiichi.
"Ponselnya dihancurkan, potongannya tersebar di berbagai titik untuk mengelabui pelacakan." sahut Moses.
"Gelangnya bagaimana? Gelang safirnya..."
"Ada di penthouse, dia tidak memakainya."
"Kamera ATM dan Mall merekam mobil yang membawanya. Kami sedang mengikuti kamera lain, termasuk kamera di lampu lalu lintas dan ruko-ruko sejalan."
"Terus amati..."
Brak!!
Arman terbanting ke samping karena tendangan Sebastian. Tubuhnya menghantam tembok dan menyisakan retakan memanjang sampai ke plafon.
Saat ia sadar akan yang terjadi, Sebastian mengacungkan SIG ke dahinya.
"Sampai ada satu goresan ke tubuh Milady... Kamu mati." geram Sebastian.
Arman tidak bisa membantah. Ia merasa semua ini memang salahnya.
Kenapa ia begitu fokus ke satu hal saja, bermalas-malasan, sampai-sampai hal remeh seperti pengawasan terhadap istri Bossnya sendiri luput.
Dokter Arjuna keluar dari ruang tertutup yang difungsikan mendadak sebagai ruang bedah.
"Pak, yang namanya human error..."
"Diam Kamu!!" Teriak Sebastian.
Dokter Arjuna sampai terkaget. Lalu menghela napas dan merentangkan kedua tangannya tanda menyerah.
"ini Chipnya." Dokter Arjuna menyerahkan Chip ke Arman. "Kondisi Mbak Ayu stabil, termasuk hebat sih sebenarnya bisa menahan sakit sampai segitunya. Tapi barusan saya kasih penghilang rasa sakit karena dia mau bisa berjalan dengan segera, ada kepentingan lain."
"Kepentingan apa lagi?!" Seru Arman dan Sebastian berbarengan.
"Lah kok tanya saya..." sungut Dokter Arjuna.
"Anooo..." Ayumi keluar sambil tertatih-tatih. "Saya sepertinya tahu dimana markas mereka. Belum berubah sejak 30 tahun lalu sepertinya." desis wanita itu.
"Maksudnya?" tanya Sebastian.
"Dimana...?"
"Di sebuah kaki gunung. Kalau tidak salah mereka sering menjadikan itu sebagai tempat eksekusi juga. Ada mayat yang sampai sekarang belum bisa ditemukan juga. Seharusnya kalian tahu, karena korbannya dari pihak Garnet Agency juga... Namanya gunung... apa yah... Sinodonoro?" Ayumi mengernyit sambil mengingat namanya.
"Tunggu..." desis Arman.
"Maksud kamu... di kaki Gunung Sindoro bukan?"
"Ah iya itu sepertinya..."
"Ya Ampun..." desis Arman.
Sebastian menarik Arman ke ruangan tertutup untuk berbicara empat mata.
"Kamu ikuti dia, tapi jangan percaya. Bisa dia tiba-tiba dikejar Yakuza, bahkan sampai tahu markas di sini, itu berarti keterlibatannya dengan Yamaguci bisa jadi sangat dalam."
"Saya mengerti, Pak... dia bahkan bisa menahan rasa sakit, bukan tidak mungkin semuanya settingan. Jangan-jangan malah ini semua jebakan..."
"Ini salah kamu, ngerti?!" Geram Sebastian.
"Ya Pak..." desis Arman pasrah.
"Kepala kamu jadi taruhan. Hubungi Danu. Minta Villanya dijadikan basecamp." Geram Sebastian sambil melepaskan pistolnya dan berjalan keluar dari ruangan sambil menghentak-hentak.
Arman menghela napas berat sambil berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Dosa apa sih dia sampai harus mengalami semua ini... Pikirnya.