
Tiga serangkai di salah satu cafe.
Milady, Trevor dan Bram.
Dulu, mereka empat serangkai.
Milady, Trevor, Bram dan Selena.
Namun Selena sudah pindah ke Garnet Bank.
Dan kini, Bram berencana menikahinya.
"Aku nggak nyangka, selama ini dia menyimpan sifat lain yang begitu... manis." Bram menyeringai. Terlihat kalau ia tersipu, kupingnya memerah.
Saat ini mereka sedang membicarakan Selena.
Akhirnya setelah saling suka begitu lama, lima tahun hubungan mereka sebagai atasan dan asisten, Bram berkencan dengan Selena hari Jumat kemarin.
Dan setelah kencan, Bram bahkan berani bilang kalau ia akan menikahi Selena.
"Dia manis kok, cuma pura-pura kuat kalo di depan kamu. Kalau sama aku, dia langsung mencurahkan semua isi hatinya, ngomongin kamu. Kadang sampai nangis-nangis," sahut Milady.
"Kamu ngga pernah ngomong,"
"Dulu bukan saat yang tepat buat ngomongin itu ke kamu. Kita nggak tahu ternyata kalian saling suka. Kupikir Selena bertepuk sebelah tangan," kata Milady.
"Aku sih tahu kalau Bram suka sama Selena sejak pertama kali mereka ket- Aow!! Sakit Bro!!" jerit Trevor sambil mengangkat kakinya. Rupanya Bram menginjak kaki Trevor di bawah meja, tanda kalau pria itu tidak berkenan kalau Trevor terlalu banyak omong.
"...ini kan Milady, kenapa coba kalau dia tahu?!" gerutu Trevor sambil mengelus-elus betisnya.
"Ya udah kali, nggak usah diomongin juga!" gerutu Bram.
Milady terkekeh.
Bukannya mau menyembunyikan apapun dari Milady, tapi wanita itu bisa mengerti kalau Bram tidak biasa membicarakan hal tersebut dengan gamblang. Apalagi kalau di depan lawan jenis sekaligus sahabat Selena sendiri yaitu Milady.
"Anyway, selamat yah Bram. Akhirnya kalian bisa bersama, sedikit lagi," sahut Milady.
Bram menyeringai.
"Sekarang, tinggal bahas topik serius. Mumpung sudah pada selesai makan," desis Milady sambil mencondongkan tubuhnya.
"Trevor, Aku harap kamu bisa berpikiran terbuka dan usahakan tenang,"
Trevor menghela napas dan menyenderkan tubuhnya di kursi makan.
"Oke, i'm ready," desis Trevor. Ia tampak tidak bersemangat.
"Jadi, tempo hari aku tanya ke ayahmu kenapa ia benci Ayumi. Dan ia mengirimkan foto-foto ini padaku,"
Milady menyerahkan ponselnya ke Trevor.
Raut wajah Trevor langsung berubah.
Ia menyipitkan matanya.
Matanya berkilat marah.
Dan wajahnya merah.
Milady dan Bram saling bertatapan.
Trevor jarang menunjukkan ekspresi tidak senang di hadapan mereka. Walaupun ia dikenal judes ke karyawan lain, tapi dihadapan Milady dan Bram, pria itu selalu santai.
"Jangan terpancing dulu, Trev," sahut Milady cepat. "Konfirmasi baik-baik dengan Ayumi. Siapa tahu mereka sepupu atau bahkan tukang gas. Dan lagi, orang suruhan kamu kan tidak bilang apa-apa,"
Trevor mengutak-atik ponsel Milady. Ia mengirimkan foto-foto itu ke ponselnya sendiri.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Trevor menelisik. Suaranya dalam dan rendah.
Ini sudah semakin serius.
"Baru-baru ini,"
"Kenapa nggak langsung ngomong?"
Milady menghela napas. Ia merasa Trevor menekannya.
"Kenapa tidak tanya ke ayah kamu saja? Dia tampaknya sudah lebih lama tahu," desis Milady.
Trevor menghela napas berusaha menguasai dirinya.
"Dalam hal ini, detektif ayah kamu sepertinya juga bisa jadi cctv kamu. Tapi kamu tetap harus konfirmasi ke Ayumi. Kita tidak boleh menilai dari satu sisi saja," kata Milady. "Kamu kan tahu ayah kamu suka sekali sama konspirasi,"
Lalu mereka terdiam.
Agak lama, sampai Bram kembali memesan kopi, dan Milady bosan membuka-buka feed instagramnya.
Namun tidak ada yang mau pulang.
Mereka butuh teman malam ini...
Setidaknya, mereka tidak sendirian.
*****
Sebastian mengerang saat ia bangun. Kepalanya pusing.
Apa tekanan darahnya naik?
Atau dia masih jetlag?
Ia menatap jam meja di samping ranjang.
Pukul 19.05
Lalu menghela napas.
Semoga Tuhan mengampuninya kali ini karena ia melewatkan waktu beribadah.
Lalu perlahan ia duduk di tepi ranjang. Ia masih dengan pakaian kerjanya. Bahkan masih menggunakan kaos kakinya.
Tapi setidaknya ia sudah tidur.
Dan melemaskan otot lehernya. Berusaha memulihkan tenaganya.
Rasanya pegal-pegal...
Ototnya harus dilemaskan.
Mungkin bisa lebih rileks dengan mandi air hangat.
Selesai mandi, pria itu keluar kamar. Ia akan berjalan-jalan di taman sebentar mencari udara segar. Ayahnya sedang ke Turki dan adiknya mungkin dalam perjalanan pulang dari kantor.
Lalu Trevor...
Di mana anak itu?
Sebastian membuka pintu kamar Trevor.
Masih rapi.
Mungkin belum pulang.
Beberapa pelayan dan pengurus rumah menyapanya sambil menunduk menghormat. Sebastian melewati mereka sambil memeriksa ponselnya. Beberapa pesan singkat, beberapa email top secret, beberapa panggilan tak terjawab yang menurut Sebastian tidak terlalu penting digubris. Ada juga undangan konferensi pers dan penawaran dari beberapa stasiun TV.
Lalu Sebastian memeriksa nomor pribadinya.
Ada telegram dari Milady.
Ia langsung membukanya.
Yah, satu-satunya pesan yang langsung ia respon.
Isinya hanya satu kalimat.
"Titipanku jangan sampai robek,"
Sebastian mengernyit.
Titipan apa?
Lalu ia mengingat-ngingat lagi aktivitasnya hari ini.
Astaga!!
Sebastian langsung kembali lagi ke kamarnya.
Barang terlarang dari Milady masih tersimpan di saku dalam jasnya, jangan sampai diketemukan oleh para pengurus rumah tangganya!
Petugas laundrynya langsung terpaku di tempat. Ia baru saja mengambil pakaian Sebastian untuk ia cuci.
"E-eh- Baik Pak," Ia langsung meletakkan cucian ke tempatnya semula. Lalu tanpa banyak tanya segera berlalu dari sana.
Sebastian mengaduk-aduk kantong laundry dan menemukan Jasnya. Lalu memeriksa isinya.
Dan menarik napas lega.
Untung saja keburu.
Ck! Baru kali ini ia bersikap ceroboh.
Lalu ia kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya.
Ia mengirimkan pesan singkat ke Milady.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau aku bersikap sama? Mengirimkan sesuatu yang tabu?"
Sambil menunggu jawabannya, ia menyulut cerutunya dan memeriksa pergerakan saham.
Tidak berapa lama datang balasan dari Milady.
"Mungkin akan kupakai,"
Sebastian mengerang.
Sudah pasti itu jawaban Milady! Apalagi?!
Sebastian kembali mengetikan beberapa kata.
"Trevor di sana?"
Agak lama jawaban Milady datang.
Dan saat Sebastian membuka pesannya, membuat pria itu ingin langsung membanting ponselnya ke lantai.
Milady selfi, dengan latar belakang restoran, dan Trevor yang sedang mengecup pipinya.
Sial!
Kenapa dia cemburu?!
Bukankah seharusnya dia senang karena Milady sudah mulai 'bekerja' secara profesional.
Dan Trevor menjalankan peranan yang cukup baik sebagai anak yang penurut?
Tapi ...
Kenapa ia tidak senang?!
Terdengar suara pintu dibanting.
Sebastian menoleh dan keluar dari kamar.
Siapa tadi yang banting pintu?
Asalnya berada di area yang berseberangan dengan Sebastian.
Kamar yang berada di sana adalah kamar Meilinda, adiknya.
Jadi, karena instingnya mencium ada yang tidak beres, Sebastian menghampiri Meilinda.
"Kenapa kamu?" tanya Sebastian sambil bersandar ke dinding. Ia menatap adiknya yang sedang galau, bolak balik ruangan dengan wajak kesal dan bibir wanita itu tidak berhenti mengomel.
"Kak," desis Meilinda.
"Hm?"
"Bisa tidak... Jauhkan Selena dari Dimas?"
Apa lagi ini? Umpat Sebastian.
Yang sana belum selesai, sudah ada masalah baru lagi.
Tapi...
Boleh juga kalau untuk mengerjai bocah-bocah sombong itu.
"Jauhkan? Memangnya Dimas selingkuh sama Selena?!" Sebastian bertanya dengan menyindir.
"Ck!" desis Meilinda.
Hm, Adiknya ini memang sensitif.
Selena yang seringkali disebut-sebut di awal cerita adalah anak sahabatnya, Farid al Farouq. Tadinya gadis itu bekerja di Garnet Property di bawah kepemimpinan Bram sebagai Manajer Proyek bagian wilayah Timur. Namun entah bagaimana ceritanya, suatu hari Selena menemui Sebastian secara pribadi. Minta dipindahkan dari Garnet Property.
Sebastian tidak bertanya alasan sebenarnya, namun terlihat sekali kalau itu persoalan pribadinya. Kalau Sebastian baca, mungkin ada hubungannya dengan Bram. Namun pria itu tidak ingin terlalu ikut campur. Baginya persoalan anak muda terlalu membuang waktu.
Hal-hal seperti cinta lokasi dan sebagainya, tidak bisa jadi profit.
Dan akhirnya Selena dimutasi ke Garnet Bank.
Sebastian berpesan ke Direktur Personalia di Garnet Bank untuk menempatkan Selena di bawah kepemimpinan Dimas.
Adik kandung Bram, sekaligus pacar Meilinda.
Tujuannya?
Sekali-kali hidup harus ada konflik kan?
Apa lagi tujuannya Selain memang untuk membuat Dimas jadi terpikat dengan kecantikan Selena, dan memisahkan Dimas dari Meilinda.
Sebastian tidak suka dengan Dimas, Si Boyo itu.
Pria itu tiba-tiba datang memikat adik kesayangannya. Entah bagaimana cara dia memikat Meilinda tapi Sebastian tidak suka ada pengganggu.
Dan sialnya, Dimas cukup memiliki kapasitas untuk...
Menggantikan Sebastian.
lebih daripada Trevor dan Bram.
Entah punya ilmu hipnotis apa anak itu?!
"Kamu terlalu kuatir, Meli,"
"Aku nggak nyaman dengan keberadaannya," desis Meilinda.
"Memang ada bukti kalau mereka bersama?"
"Kak! Ponselku nggak diangkat dan mereka di hotel satu kamar!!" seru Meilinda.
"Yah, mereka kan masih muda." Sebastian terkekeh. Ia tidak kaget kalau suatu saat Dimas malah terpikat dengan Selena. Mereka berdua sangat serasi... sama-sama penggoda.
"Kak!!" jerit Meilinda. Adiknya mulai histeris.
Sebastian terkekeh lagi.
"Salah kamu sendiri, pacaran sama bocah." ejek Sebastian.
"Perselingkuhan tidak ada hubungannya dengan usia," desis Meilinda.
Sebastian menghela napas.
Iya, Meli benar.
Tapi Sebastian pernah muda, dan yang namanya pergerakan hormon di dalam tubuh pria dengan stamina prima, jarang bisa ditolak.
"Jadi kamu menuduh pacar kamu selingkuh?" tanya Sebastian berniat menggoda.
Meilinda mendengus.
"Oke, apa mau kamu sekarang?"
"Jauhkan Selena dari Dimas. Kakak bisa mutasi dia, atau rancang perjodohan untuk Selena. Atau jodohkan saja dengan Trevor sekalian,"
"Kamu tahu kan kalau Trevor punya phobia wan-"
"Biar dia tahu kalau jangan main-main sama aku," potong Meilinda.
Sebastian terkekeh.
"Oke, aku hubungi Farid,"
Sepertinya akan seru. Pikir Sebastian.
Sedikit mengerjai mereka tak ada salahnya kan? Lagipula Trevor sudah bikin Sebastian kesal.