
"Prototype yang ini agak beda. Tentang perang zombie lawan manusia. Bedanya... Kita yang jadi zombie." Kata Alex.
Milady mendengarkan dengan antusias.
"Avatar Zombie masing2 memiliki kekurangan signifikan. Ada yang gerakannya cepat, ada yang tanpa kaki, ada juga yang tangannya cuma satu. Jadi tingkat kesulitan pergerakan mousenya tergantung avatar yang kita pilih...Zombie butuh makan manusia. Semakin banyak makan manusia, semakin kekuatannya bisa bermutasi. Satu tim zombie, 2-5 orang. Satu tim manusia 10 orang..."
Dan berikutnya Milady dan Alex sudah serius dengan manuver masing-masing.
"Lady, ke kanan ada yang ngincer di arah jam 3."
"Ngga bisa, kakiku ketembak tadi."
"Kaki ketembak masih bs jalan ke goa, kan...?"
"Kamu sadis juga yah ngga istirahat, Zombie kan juga punya perasaan..." Sindir Milady ke Alex.
"Hah?" Alex kurang ngeh.
"Maksudnya bercanda Pak, kaku amat Pak Alex..." Desis Leon.
"Becandanya high level, gue kurang ngerti." Gumam Alex. "Manusia di arah jam 3!"
Dan berikutnya hanya ada suara tembakan dan raungan dari speaker.
"Gila seru banget!!!" pekik Milady sambil tetap memfungsikan jemarinya.
"Ini beda banget dari game mafia besutan Beaufort yang terakhir!" Sahut Milady lagi.
"Tapi kalo yang ini murni halusinasi gue. Yang mafia kan kehidupan benerannya Leon sama Bara."
"Yang mafia juga keren, aku hampir tamat maininnya. Geng narkobanya hampir aku grebek..."
Jederr!! Jederr!!
"Kamu mainin yang mafia berapa lama?"
"Agak lama, sekitar seminggu."
"Hah?" Alex terpaku.
Begitupun Leon dan Bara.
Milady langsung merasa kikuk karena diperhatikan lekat-lekat.
"Eh... Kenapa?"
"50 sesi kamu selesaikan dalam seminggu?!" Seru Alex.
"Iya... Biasanya cuma 3 hari. Game Mafia kamu agak rumit, jadi butuh seminggu buat aku selesaikan." Milady mengangkat bahunya.
"Gila ni cewek, keren abis dia..." Bisik Leon ke Bara.
"Akhirnya Pak Alex menemukan lawan yang seimbang..." Bisik Bara ke Leon.
"Tapi game serumit Mafia Traders memang laku di pasaran? Paling hanya kalangan tertentu saja yang suka, kan?" Tanya Milady.
"Karena terlalu sulit?"
"Iya. Sulit banget loh, banyak teka teki dan konspirasi di sana."
"Memang hanya ditujukan ke kalangan tertentu..." Alex melepas headsetnya sambil tersenyum simpatik.
"Kenapa?"
"Karena ada pesan tersembunyi di sana..."
"Hm... Maksud kamu..." Milady mengingat-ingat kembali game mafia yang ia mainkan.
"Apa tokoh-tokoh di dalamnya ada di kehidupan nyata?" Tanya Milady.
Alex menyeringai.
"Musuhnya bernama Yamaguci disitu... Klan Yakuza dari Kanagawa. Pemeran utamanya Goru Neto. Lalu... Kaki tangan Yamaguci bernama Asse..." Gumam Milady.
Alex menyeringai sambil melirik Leon dan Bara.
"Kalau teka-tekinya sudah terpecahkan, kasih tahu ke Pak Yan yah. Dia mungkin akan sangat tertarik. Hehe." Desis Alex.
*****
Seseorang menghubungi Sebastian dari nomor tak dikenal.
Tadinya ia urung mengangkatnya.
Namun si penelpon menghubunginya dua kali.
"Siapa?" Tanya Sebastian langsung.
"Pak Yan, saya Susan. Saya menghubungi dari nomor tak terlacak."
"Bagaimana?"
"Sesuai dengan prediksi bapak, Yama-san memang menggunakan pasokan dari Garnet untuk formula crystal baru mereka. Reaksinya lebih kuat, namun tidak membuat orang terlihat seperti pecandu. Efeknya bisa membuat kulit lebih bercahaya, jadi sasarannya mungkin ibu rumah tangga dan wanita pekerja. Bukti saya kirim melalui paket makanan, kemasan makanannya adalah foto yang saya kumpulkan. Tidak bisa melalui email karena ada kemungkinan mereka juga bekerjasama dengan pihak cyber."
Sebastian mencerna perkataan Susan yang diucapkan dengan cepat dan latar belakang yang berisik. Kemungkinan agar tidak terlacak ia menggunakan efek noisy. Tapi Sebastian dapat mengerti keseluruhan maksud Susan.
"Susan, penyelidikan kamu cukup sampai di situ, ada kemungkinan nyawa kamu dalam bahaya. Kamu dan Eiichi mundur, kembali ke Indonesia. Bereskan seluruh jejak kalian dalam sehari. Yuki tetap di Jepang untuk menikah dengan Ayumi. Akan ada orang baru yang menggantikan kalian."
"Terima kasih Pak... dan..."
"Apa?"
"Kalau kami berdua tidak sampai ke Indonesia... Tolong... Jangan cari mayat kami. Kami hanya butuh didoakan setiap hari."
Dan sambungan tertutup.
Sebastian bersandar ke kursi kerjanya dengan tegang dan tak sabar
Sedikit lagi akan terungkap... pikir Sebastian.
Sialan kamu Yamaguci...
Enak saja, mau mencoba mengakaliku...
*****
"Loh? Pak Yan?" Sapa Leon siang itu.
Sebastian sudah ada di lantai 20 Beaufort Techno.
"Hm..." Sebastian hanya bergumam sambil menghampiri Leon. "Bagaimana kerja staff ahli saya."
Leon tidak tersenyum.
Staff ahli sampai dijemput segala sama Bossnya-Boss... Desis Leon dalam hati. Ia bahkan sampai memicingkan mata.
Tapi kemudian memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur.
"Cantik." Desis Leon akhirnya.
"Ha? Cantik?" Sebastian hampir meradang.
"Iya. Dia mainnya cantik. Benar-benar jenius... Dia membuat Pak Alex kewalahan. Baru kali ini saya melihat si bawel terperangah..." Sahut Leon.
"Hm..." Sebastian tersenyum sinis dan berjalan mendahului Leon menuju ruang virtual.
Dalam hal ini, Leon suka bertanya-tanya bagaimana cara Sebastian tahu letak ruang Virtual karena ia belum menunjukannya. Tapi menurut kabar, Sebastian memang tidak suka berjalan di belakang orang lain.
Di dalam ruangan virtual, Milady sedang duduk menyesap kopinya sambil serius mendengarkan cerita Alex dan Bara tentang kehidupan gangster.
Milady hampir tersedak saat melihat Sebastian memasuki ruangan.
Alex dan Bara langsung berdiri untuk menyambut Sebastian.
"Pak Yan." Alex sedikit menundukkan kepalanya sebelum menjabat tangan Sebastian. Terlihat kalau pria itu sangat menghormati Sebastian.
"Sedang membahas apa?" Sebastian duduk di sebelah Milady.
Wanita itu menatapnya dengan tidak bersemangat.
"Bahas game sedikit." Sahut Alex sambil kembali duduk. "Lady sepertinya sangat penasaran dengan Mafia Traders. Game mafia hasil kolaborasi kita."
"Hm... Kenapa?" Sebastian menatap Milady.
"Yah... Karena aku, eh, Saya pikir gamenya terlalu sulit untuk orang awam. Jadi saya sedang berusaha mengulik pesan tersembunyinya..." Desis Milady. "Apalagi saya kaget karena ternyata game itu hasil kolaborasi Beaufort dan Garnet. Setahu saya Pak Sebastian tidak terlalu tertarik dengan game." Tambah Milady
"Saya main catur online, dan tetris paling, permainan orang jadul..." Sebastian menyeringai.
"Hm... iya... Tapi ini tentang mafia." kata Milady.
"Lady menyelesaikan 48 sesi dari 50 sesi." sahut Alex
Sebastian tertegun menatap Alex. Lalu padangannya langsung waspada ke arah Milady. "Ohya?" Suaranya berubah menjadi lebih dalam.
"Padahal game itu diciptakan memang dimaksudkan untuk tidak dipecahkan. Kami berharap menginjak level 15 orang-orang sudah menyerah memainkannya. Lebih bagus kalau ada review game tersulit sehingga akan makin banyak orang yang tertantang menyelesaikannya... Karena..." Sebastian mencondongkan tubuhnya ke arah Milady. "Hanya orang-orang yang dunia nyatanya berhubungan dengan teka-teki di game tersebut yang bisa melewatinya. Game itu bertujuan untuk memancing tikus supaya keluar dari lubang... Secara tidak sadar mereka mengikuti permainan. Siapapun yang berhasil melewati level lebih dari 15, berarti dia berhubungan dengan sindikat yang kami cari..."
Setelah itu hanya ada keheningan, dan bunyi sesapan kopi Milady.
Alex terdiam karena ia bertanya-tanya kenapa Sebastian mengungkap rahasia Mafia Traders kepada Milady.
Sebastian terdiam karena ia heran dengan kenyataan bahwa Milady bisa melewati 48 sesi, dan Milady...
Diam karena menunggu kalimat selanjutnya dari Sebastian.
"Jadi... Milady. Kenapa kamu yang termasuk golongan awam, bisa melewati sesi sebanyak itu?" Tanya Sebastian