Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Deja Vu



"Dasar gila!!" Milady melempar bantal ke Sebastian. "Sejak kapan kamu merencanakan hal ini, hah?!"


Pria itu terkekeh sambil menghindari lemparan Milady.


"Kemarin setelah kamu pergi, aku ajak Ayahku dan Farid untuk diskusi. Aku juga panggil Malik dan akhirnya kita sama-sama ke KUA di area KTP kamu. Membujuk orang sana agar bisa mempersiapkan semuanya untuk hari ini."


"Kamu beneran bikin aku shock!" seru Milady, tapi ia senang.


"Balasan atas perbuatan kamu kemarin." sahut Sebastian sambil melepaskan jasnya.


Milady memekik tak percaya dengan kelakuan Sebastian.


"Perbuatan aku kemarin adalah pembalasanku ke kamu dari pengakuan video call, sekarang kamu balas lagi?! Astaga... Kamu benar-benar tidak mau mengalah ya! Dan lagi... Ijab kabul ditempat kita pertama kali ber... Oh Ya Tuhaaannn....!" Keluh Milady.


"Tempat ini berkesan bagiku." kata Sebastian dengan seringai penuh arti.


Milady duduk dan mengatur napasnya. Ia kegerahan padahal sebenarnya ruangan itu sangat dingin.


Sebastian menghampirinya dan duduk disebelahnya.


"Sini, aku mau ngomong." Ia meraih kedua tangan Milady.


Lalu pria itu terdiam sejenak sambil mengusap pipinya lembut.


"Maafkan aku." katanya. "Aku minta maaf bukan untuk mengadakan akad tanpa bilang-bilang ke kamu, tapi.... Aku minta maaf karena..." Pria itu menarik napas. "Seharusnya sudah dari dulu aku melakukannya. Dan juga minta maaf karena... Aku melakukannya secara terbalik."


"Sebastian..." desis Milady.


"Sshh..." Sebastian menatap mata Milady dengan penuh sayang. "Aku masih ingat detail per detail adegan yang kita lakukan, aku yakin kamu juga begitu. Dan aku sangat menyesalinya. Aku tahu kamu menghilang karena tidak ingin berharap padaku, menganggap kalau semua itu hanya transaksi untuk mendapatkan uang untuk keluarga kamu, dan kamu mulai tidak percaya diri karena merasa tidak berbeda dengan pela**cur..." ujar pria itu.


Milady meneteskan air matanya dan mengangguk.


"Aku merasa kotor bertahun-tahun..." Tambah Milady.


"...karena itu kamu menghilang."


"...karena itu aku menghilang..."


Sebastian menghela napas. "Dan sebagai balasan dari Tuhan, aku mencintai kamu bertahun-tahun tanpa bisa bertemu kamu." Pria itu merasa tenggorokannya tercekat. "Saat ini, aku akan memutihkan tempat ini. Sebagai tempat sakral kita. Sudah 10 tahun aku tidak kesini, sebenarnya..."


"Ohya?!"


Sebastian mengangguk.


"Kamu wanita terakhir. Aku tidak pernah lagi melakukannya dengan wanita lain, ataupun membayar jasa wanita lain untuk melayani kebutuhanku, atau memiliki kekasih, atau menikah lagi... Dan tempat ini terlalu menakutkan bagiku. Karena bayangan kamu terasa nyata saat menginjakkan kaki disini." Kata Pria itu.


"Dan... Semakin sering aku membayangkan kamu saat malam hari, aku merasa sangat depresi. Akhirnya malah menerjunkan diri dengan bisnis, sesuatu yang sebenarnya tidak kusukai."


Milady mempererat genggamannya. Ia merasakan hal yang sama dengan Sebastian. Tempat ini, bahkan seluruh gedung ini terasa sakral baginya.


"Aku juga..." Sahut Milady. "Kamu laki-laki pertama dan terakhir. "


"Kamu menikah."


"Dengan seorang Gay." sambung Milady.


"Ah..." Sebastian terkejut "Bagaimana bisa?"


Milady mengangkat bahu. "Takdir. Tuhan masih menyayangiku. Aku bahkan tidak tahu awalnya. Tapi...sudahlah."


Lalu ia tersenyum.


"Aku mencintai kamu... Sejak awal bertemu." Kata Milady.


Pria di depannya ini tersenyum sambil mengangguk pelan.


Sebastian membelai pipi Milady.


"My Lady... Always be my Lady..." Gumamnya.


Pria itu mendekatkan wajahnya.


"Sayang?" cegah Milady, menghentikan gerakan Sebastian.


"Apa?"


"Pastikan kali ini tidak ada gangguan yah. Arman ngga disini kan?!"


"Ya pasti di sini dong..."


Milady mengernyit.


"Dia itu siapa sih?! Bukan sekretaris biasa kan?!"


"Mau ngebahas Arman atau kita lanjut nih..."


"Pokoknya jangan ada gangguan ngga penting, seperti tiba-tiba Komjen Pol datang, atau Presiden, atau Tony Stark jangan-jangan..."


"Hm? Siapa Tony Stark?"


"Kamu ngga kenal?"


"Enggak."


"Lupakan..."


"Siapa dia?"


"Dia pemilik Stark Enterprise..."


"Dari negara mana?"


Tawa Milady langsung meledak.


"Astaga Sebastian..." Milady menghapus air matanya


"Aku serius, dari negara mana, produknya apa?"


Milady terbahak lebih kencang.


Milady tidak menjawabnya, dia menghentikan Sebastian bertanya lebih lanjut dengan mencium bibir pria itu.


Ciuman mereka kali ini, terasa lebih tenang. Tidak menggebu-gebu seperti biasanya.


Mereka tahu, kini waktu mereka untuk bersama masih banyak, mereka tidak perlu merasa kuatir akan keberadaan orang lain. Mereka tidak tertekan dan tidak harus terburu-buru.


Sebastian dan Milady menyusuri setiap sudut tubuh pasangan mereka dengan perlahan. Meresapi sentuhan demi sentuhan dengan seksama.


Ciuman sepenggal-sepenggal yang manis.


Kini mereka bisa merasakannya kapanpun mereka ingin.


Dimanapun mereka ingin.


Sebastian mengumpulkan helaian rambut Milady, lalu menyibakkannya ke belakang, bibirnya melepas ciuman, lalu menyusuri leher Milady.


Ia bisa merasakan Jemari lentik wanita itu mengencangkan cengkeramannya di lengan Sebastian.


"Hmh...sayang?" desah Milady. Ia selalu gemetar kalau Sebastian menggodanya di area telinga.


"Hm?"


"Kalau... Kalau aku minta sekarang, terlalu cepat, tidak?"


Milady tidak malu untuk meminta, ia tahu Sebastian juga menginginkannya. Saat terakhir mereka hampir saja melakukannya, namun memang kebaikan masih ada di sekeliling mereka. Semesta menginginkan mereka melakukannya secara semestinya, sebagai suami-istri, setelah lama berkecimpung dalam kubangan hitam.


Sebastian beranjak, lalu menggendong Milady.


Ia tidak menjawab Milady.


Tidak ada yang perlu dijawab.


Mereka ke arah kamar tidur.


Astaga,


Tampilannya masih sama seperti 10 tahun lalu!


Tidak ada yang berubah.


"Semuanya baru, tapi aku mengusahakannya agar motifnya tidak berbeda dengan waktu itu." bisik Sebastian, seakan tahu apa yang akan ditanyakan Milady.


Ia mendudukan Milady di tengah ranjang, lalu melepas sepatu wanita itu.


Mereka berciuman sekilas, lalu Sebastian melepas kemejanya. Milady meloloskan gaunnya ke atas.


"Kemarin kamu ngga pakai ini..." Sebastian mencondongkan tubuhnya untuk mencium Milady lagi, tangannya menyusuri panty tipis wanita itu.


"Paginya masih pakai... Aku lepas di mobil." ia menyeringai


"Memang sengaja ingin menggodaku yah..." gerutu Sebastian.


"Aku suka aja melihat tampang bengong kamu kalau ngeliatin... auh!" Milady langsung terpekik saat merasakan jemari Sebastian sudah menyusup ke dalamnya.


Kewanitaannya terasa penuh dengan jemari laki-laki itu.


"Sebastian..." desahnya menahan libido. Sebastian bahkan sudah menyingkirkan branya dan mengulum puncaknya dengan posesif.


"Sebastian... Kumohon..." ia tidak bisa mengendalikan ucapannya.


Milady merasa akan gila.


Gila terhadap kenikmatan duniawi yang saat ini dipersembahkan oleh Sang Dewa.


Dewanya sendiri...


Miliknya...


Ia bisa mendengar suara ikat pinggang dijatuhkan, resleting diturunkan, gerakan Sebastian yang merengkuh tubuhnya.


Ia tidak berdaya.


Rasanya seluruh otot tubuhnya lumpuh.


Yang bisa ia lakukan hanya berusaha mengimbangi gerakan Sebastian.


"Istriku..." bisik Sebastian.


Astaga... serasa aliran listrik menyusuri setiap jengkal tubuhnya.


Milady tidak mampu menggerakkan bibirnya karena terlalu indah.


Semuanya terlalu tidak nyata.


Kata-kata itu telah ada di angannya terlalu lama.


"Milady... Istriku. Akhirnya..."


Dan Sebastian memasuki dirinya.


Perih...


Panas...


Nikmat...


Semua campur aduk jadi satu.


"Kamu mau melahirkan anakku?" desah Sebastian saat mereka mulai bisa menyesuaikan gerakan.


Ya Ampun pertanyaan itu... Milady mulai tidak bisa menguasai dirinya. Ia melengkungkan tubuhnya.


"Kamu tidak perlu bertanya..." sahut Milady susah payah.


Tawa pelan Sebastian.


Terdengar tanpa beban.


Pria itu bergerak semakin cepat.


Milady sudah tidak ingat lagi apa saja yang diocehkannya. Yang ia ingat hanya nama suaminya...


*****


Milady menoleh ke samping.


Sebastian di ranjang, duduk dengan laptopnya dan kacamata bacanya.


Ia tidak berpakaian, hanya menutupi bagian bawahnya dengan selimut.


Milady, berbaring di sebelah Sebastian. Dengan remote tv di tangan, Net*flix series di layar tv di depannya.


Serasa de javu... Pikir Milady.


Milady mencondongkan tubuhnya ke samping, memperhatikan isi layar laptop pria itu.


Terdengar deheman pria itu.


Milady menoleh dan dihujani dengan picingan mata Sebastian karena kepalanya menghalangi pandangan Sebastian.


Lalu wanita itu menyeringai.


Dan menegakkan tubuhnya perlahan.


Sepertinya ia ingat adegan ini.


Lalu ia melirik jam dinding.


Pukul 9 malam.


Kewanitaannya terasa kebas. Namun sudah tidak sakit lagi.


Kotak p3k di sebelah nakas Sebastian, dan bekas cakarannya di sepanjang bahu, lengan, dan punggung pria itu.


Kebiasaan buruk Milady...


Besok ia akan memotong pendek kukunya.


Lalu ia beringsut ke belakang dan memeluk lengan Sebastian.


Duh...


Rasanya nyaman sekali.


Ia menghela napas sambil tersenyum.


Ini bukan mimpi, kan?


Sepertinya bukan, karena perihnya terasa nyata.


Tapi ada satu hal lagi yang bisa membuktikan kalau ini bukan mimpi.


Mungkin sebentar lagi...


Sebastian menghela napas lalu menyambar ponselnya.


Ia menghubungi seseorang.


"Kamu selidiki Johan's company. Gunawan mengajukan dana talangan di Garnet Bank. Cari keberadaan Mitha. Lalu..." Sebastian melirik Milady. Wanita itu sedang memperhatikannya sambil memeluk lengannya. "Saya cuti seminggu."


Milady langsung menyeringai.


Ini jelas bukan mimpi.


Adegan yang ini tidak ada di waktu 10 tahun lalu.


"Baik Pak." terdengar suara Arman yang renyah dari seberang telepon. "Dan... Saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian." sahut Arman.


Lalu sambungan telepon terputus.


Milady terkekeh dan memeluk Sebastian.


Hari ini ada final kompetisi game online yang kalau keadaan normal pasti tidak akan ia lewatkan.


Kini ia malah tidak ingin beranjak sama sekali dari sisi Sebastian.


Mungkin sampai besok dan besoknya lagi, ia akan lebih sering berada di ranjang ini.