Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Sang Dalang



Sebastian duduk di ruang kerjanya sambil mencari nomor sahabatnya, Farid Al Farouq.


Sahabat...


Sebenarnya tidak juga.


Selama ini mereka semua berteman dengannya karena suatu keuntungan. Begitu setidaknya yang Sebastian pikirkan saat ini.


Memang mereka sering bersama sejak SMA.


Namun saat Ayah Sebastian, Hans Bataragunadi, usahanya hampir bangkrut karena memutuskan sudah tidak akan membantu pemerintah, dan Sebastian harus menunda program sarjananya, sekaligus membiayai hidup semuanya... kemana mereka semua?


Teringat di benak Sebastian bagaimana Meilinda yang masih SD menangis karena perutnya sakit kelaparan, dan ayahnya merebus...daun dan rumput... Akhirnya Sebastian harus mencuri makanan dari kulkas di salah satu rumah mewah di dekat sana.


Kemana teman-temannya saat itu?


Dan saat itu yang membantunya, adalah pria yang secara tidak sengaja bertemu dengannya. Saat ia ditangkap polisi karena mencuri.


Baskara Beaufort ada di sana...mereka dipertemukan oleh takdir.


Baskara sendiri dipenjara karena kasus penggelapan di perusahaannya. Saat itu hari terakhirnya di penjara setelah dua tahun mendekam di sana.


Dan ternyata Baskara mengenal Hans Bataragunadi.


"Ayah kamu, terlalu banyak terlibat." Desis Baskara saat Sebastian menceritakan kenapa dia sampai mencuri. "Dia tidak bisa memutuskan mata rantai begitu saja hanya karena alasan keluarga. Semua keturunannya harus ikut terlibat secara otomatis. Bapaknya berhenti, anaknya yang melanjutkan. Jelas?" sahut Baskara.


"Rezim saat ini mendorongnya untuk menghabisi seseorang... ayah saya menolak." Kata Sebastian.


Baskara tersenyum. "Tapi kamu kan bisa."


Sebastian terbelalak. "Saya?!"


Baskara mengangguk. "Kamu masih muda, kuat dan berpendidikan... semakin teguh ayah kamu terhadap prinsipnya, semakin terpuruk keluarga kalian. Kamu tidak ingin adik kamu jadi gelandangan kan? Apalagi dia cantik, dan sudah pasti jadi rebutan kalau dia terpaksa harus menjajakan diri di tempat pelac..."


"Diam..." potong Sebastian. Ia geram mendengar penuturan Baskara.


Ia tahu hasil akhirnya tetapi ia tidak ingin mendengarnya dari mulut orang lain.


Selama ini hanya itu ketakutan terbesarnya.


Untuk ayahnya, ia sudah tidak mau tahu lagi.


Ia benci ayahnya yang sudah membuat Meilinda kelaparan.


"Saya akan keluar besok, saya pastikan adik kamu cukup makan, cukup pendidikan. Saya juga memiliki keluarga, saya tahu bagaimana rasanya punya sesuatu yang harus dilindungi sekuat tenaga. Tapi ingat, ini hutang budi..."sahut Baskara.


Sebastian menghela napas.


saat ini di benaknya hanya ada wajah Meilinda, tersenyum ke arahnya saat ia makan sambil bilang "Makasih Kak, aku bisa makan enak." padahal itu hanya Mie instan yang sudah hampir kadaluarsa.


"Kalau hutang budi yang bapak maksud adalah hutang budi dibalas nyawa..."


Baskara terbahak mendengar penuturan Sebastian.


"Kamu terlalu jauh, saya bukan orang seperti itu. Saya tidak butuh nyawa orang lain, saya bukan malaikat maut..." desis Baskara. Lalu pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sebastian. "Saya dipenjara bukan untuk kasus penggelapan, itu hanya akal-akalan supaya mereka punya seseorang untuk disalahkan. Masalahnya saya sudah melewati batas, tahu terlalu banyak urusan negara. Keluar dari sini saya diharuskan menata hidup baru, di negeri lain. Yang jelas saya belum bisa kembali ke sini untuk waktu yang lama..."


Sebastian berdiri bersandar di dinding sel sambil mendengarkan.


"Saya akan meninggalkan cukup uang untuk biaya hidup Hans sehari-hari. Juga modal kerja dan mendaftarkan adik kamu bersekolah. Saya akan membayar biaya uang pangkalnya sekaligus sampai dia lulus. Setelah itu kami akan ke Paris... kemungkinan Istri saya akan melahirkan di sana. Selama itu, kamu mungkin akan menghabiskan waktu di sini beberapa tahun. Saran saya, pelajari benar-benar kehidupan dalam penjara. Bertemanlah dengan narapidana kejahatan politik untuk relasi bisnis kamu ke depan, dan jauhi narapidana dengan kejahatan seksual dan korupsi, mereka adalah penjahat yang sebenarnya. Dekati Narapidana dengan kasus pencurian kecil dan narkoba, jaringan gangster mereka biasanya luas, mereka bisa jadi menjadi anak buah kamu di masa depan, tetapi janggan sekalipun kamu mempercayai mereka. Rancang pion-pion seefisien mungkin untuk kepentingan bisnis kamu. Dengarkan nasehat dari para kyai dan ulama, dan bersahabatlah dengan mereka. Jaga hubungan kamu dengan Sang Pencipta, ia yang Maha membolak-balikan isi hati manusia. Jangan takut dengan manusia, dimana-mana mereka sama saja... kejahatan yang mereka lakukan, juga dilakukan di masa lampau di jaman para Nabi. Tapi takutlah kalau manusia itu bekerjasama dengan Iblis, karena saat itu yang bisa menolong kamu hanya Tuhan."


"Lalu... Pak Baskara ingin saya melakukan apa?" tanya Sebastian.


Baskara melemaskan tubuhnya sambil duduk di kasur tipisnya.


"Bangun usaha ayah kamu. Mulai dari konveksi, lalu ke usaha retail terutama makanan. Setelah itu, walau hanya ada sedikit profit, bangun usaha komputer dan teknologi. Usahakan profit diatas 500 juta, jangan terlalu tinggi menyimpan cash, investasikan ke emas. Krisis akan melanda sebentar lagi di negara ini, Pajak akan sangat mahal. Yang bisa bertahan hanya perusahaan dengan omset cukup, namun perusahaan kategori UKM. Saat sudah mulai stabil, kamu bisa jor-joran menanam investasi di negara ini, hubungi semua kenalan politik yang kamu kenal di penjara. Lalu... hubungi relasi saya di Saranjana"


"Saranjana? Negara mana itu?"


Pak Baskara tersenyum.


"Saat kamu bisa menghubungi relasi saya, kamu baru bisa membuka bisnis tambang... lalu, setelah itu kamu bisa menjual suku cadang dan alat berat ke rekan mereka di Padang 12."


"Hah?"


"Sekarang kamu mungkin tidak akan mengerti. Tapi mereka adalah jalan kamu menuju sukses lebih cepat. Mereka bisa menilai kamu amanah dalam menjalankan usaha atau tidak. Kalau kamu bisa menjaga hubungan baik dengan mereka, kamu bisa menjaga bisnis kamu dengan manusia lainnya..." Baskara menyeringai.


Saat itu Sebastian langsung bisa menilai seperti apa Baskara. Orang ini penuh dengan misteri. Segala hidupnya adalah rahasia.


"Sebagai bayaran atas informasi dan bantuan finansial, nanti saat anak saya dewasa, kalian bisa bekerjasama untuk kestabilan ekonomi. Usahakan sepeninggal saya, anak saya bisa berteman dengan orang kepercayaan kamu."


Sebastian menghela napas mengingat masa lalunya.


Saat ini Baskara Beaufort sudah meninggal, dengan banyak teka-teki yang ia tinggalkan, yang hanya Sebastian dan dirinya yang tahu.


Cukup sulit mencari keberadaan Alex Beaufort, karena anak itu selalu bersembunyi dari kejaran ayahnya.


Apakah...


Apakah Baskara Beaufort sudah lama tahu kalau ia akan meninggal sebelum melihat anaknya sukses?


Dari kalimatnya, terdengar ia sudah tahu kapan ia akan mati.


Dan yang Sebastian dengar dari Alex, ayahnya tidak ingin melihat kesuksesan Beaufort Co. yang Alex bangun, bahkan menghalang-halangi kesuksesan Alex.


Sebastian terkekeh.


Ia mentertawakan Baskara.


"Konyol sekali Baskara..." gumam Sebastian. "Tapi yah... aku juga takut kalau anakku melanjutkan bisnis macam begini. Aku juga tak percaya keselamatan Trevor akan terjamin. Jadi... yang harus melanjutkan kerajaan ku hanyalah orang yang pandai berkelit, licik, licin, memiliki daya diplomasi tinggi, dan tidak takut apa pun."


Lalu ia melempar ponselnya ke meja. Terlihat di sana foto Dimas Tanurahardja.


"Tadinya Alex dan Dimas akan ku pertemukan setelah mereka sama-sama sukses, namun takdir ternyata berkata lain, mereka bertemu lebih cepat. Memudahkanku untuk membalas budi lebih cepat ke Baskara Beaufort. Yah...semoga kamu tenang di alam sana Baskara, Tapi aku tidak berharap bertemu dia di akhirat, sih..." gumam Sebastian.


Lalu ia memghubungi Farid Al Farouq.


"Yan!! Hahahaha! Apa kabar kamu? Sehat?!" seru Farid dari seberang telepon.


"Hm...Lumayan lah. Gimana Asam urat kamu? Jangan kebanyakan makan soto jeroan..." desis Sebastian.


"Lagi kali kita bareng-bareng makan Sop Konro, oke?" Sahut Farid. "Jadi, ada apa nih?"


"Si Trevor masih sendiri tuh, udah mulai tua. Kenalin aja sama Lena gimana? Masih single juga kan dia?" kata Sebastian.


*****


Maunya apa sih?!


Milady dengan marah memasuki area perumahan mewah di Darmawangsa.


Apa lagi yang direncanakan titisan Iblis berambut putih itu?!


Lalu, bagaimana dengan Milady?!


Astaga Sebastian benar-benar plin-plan ternyata!!


Walaupun ada bagian dari hatinya yang merasa lega karena tidak harus ikut-ikutan dalam drama keluarga Bataragunadi, namun ia merasa dipermainkan.


Minggu lalu memintanya untuk menjauhkan Trevor dari Ayumi.


Lalu malamnya Milady berhasil membuat foto Trevor sedang mencium pipinya.


Yah, walaupun dengan sedikit paksaan... Lagipula Sebastian kan tidak tahu kalau ada Bram juga di sana, sedang cengar-cengir melihat tingkahnya dan Trevor.


Tapi kan itu berarti dia sudah menunaikan kewajibannya dengan baik! Lalu sekarang...


Ada yang sedang mengacaukan moment, membuat segalanya berantakan dan badmood.


Jadi setelah beberapa hari bekerja dengan pikiran terganggu, dan karena Trevor akhirnya ribet sendiri, Bram juga tidak bersemangat bekerja, belum Selena yang nangis-nangis kalau ditelpon karena dia berantem sama ayahnya, bahkan Selena hampir saja mau kabur ke Alaska untuk menghindari perjodohan, jadi Milady atas inisiatif sendiri meminta konfirmasi ke rumah Sebastian.


Entah bagaimana pria itu tidak dapat dihubungi beberapa hari ini. Pesan singkatnya juga hanya dibaca namun tidak di balas.


Telepon Milady tidak diangkat dan mereka seharusnya video call hari Sabtu kemarin.


Keadaan juga sedikit muram karena Dimas berantem sama Meilinda. Kelihatannya mereka putus...


Selena bilang kalau dalang semua ini adalah Meilinda. Dia cemburu dengan Selena dan tanpa tahu kalau Bram dan Selena akan menikah, Meilinda minta tolong Sebastian untuk menjauhkan Selena dari Dimas.


Meilinda memang terkadang bertindak memakai emosinya.


Tapi, semua tidak akan terjadi kalau Sebastian tidak ikut-ikutan!


Milady membelokkan mobilnya ke rumah terbesar di daerah itu.


Seorang security datang menghampirinya.


"Cari siapa Bu?" Tanyanya.


"Pak Sebastian di rumah?"


"Ibu sudah ada janji?"


"Sebentar pak, jangan kemana-mana."


Milady mengangkat ponselnya dan mengetik beberapa ke pesan singkat Sebastian.


"Aku di depan rumah kamu."


Begitu ketiknya.


"Pak, kalau Pak Sebastian ngga dirumah, tolong kabari Bu Meilinda atau Pak Hans. Nama saya Milady Adara." Milady menyerahkan KTPnya.


Baru saja Milady menyerahkan KTPnya, walkie talkie security itu bersuara.


"Bukakan gerbang. Tamu Pak Sebastian."


"Oke." Desis Security. "Mari bu..." Security menyerahkan kembali KTP Milady.


Milady turun dari mobil dan menghampiri Security. "Kalau Bu Meilinda ada di rumah juga? Saya perlu bertemu dengan keduanya sebenarnya."


"Bu Meilinda baru saja pergi, kelihatannya ada Arisan. Tadi juga tanya Pak Hans yah bu, dia sedang di Turki." Sahut Pak Security.


Sementara Trevor ada di kantor, memutuskan untuk menyibukkan diri karena tidak ingin ketemu ayahnya.


Milady menghela napas.


"Kerjaannya drama terus..." Keluh Milady.


Security yang tidak sengaja mendengar Milady bergumam ikut menyeringai.


"Sst..." Desis Milady memperingatkannya. Lalu ia berdiri sambil bertolak pinggang melihat pintu masuk di depannya.


"Parkirnya harus di sini pak? Ada kali 50 meter sampai pintu masuk..."


"Yaaah... Banyak yang mengeluh begitu sih bu. Nanti di kunjungan berikutnya mudah-mudahan ibu sudah bisa parkir di depan pintu. Kalau sekarang saya belum berani mengizinkan..."


"Hm... Kalo Dimas jalan ke pintu pakai apa?"


"Oh kenal Mas Dimas juga? Dia sih biasanya pinjam sepeda saya, atau naik skate. Itu skatenya..." Pak Security menunjuk skateboard yang dipajang di atas rak.


Milady tidak mungkin menggunakannya.


Lalu ia menelepon Sebastian.


Dering pertama...


Dering kedua...


Kalau tidak diangkat juga Milady akan...


"Iya." Sapa Sebastian.


Milady meloudspeaker ponselnya.


"Akhirnya setelah seminggu kamu ngambek, diangkat juga teleponku." Sindir Milady.


"Sudzon aja kamu. Udah dimana?"


"Ini... Serius aku parkir di pos security? Jalan kaki ke pintu masuk jauh..." Desis Milady.


Para Security langsung berkumpul mendengarkan.


"Kamu bisa parkir di depan rumah."


"Hm... Penuh sama mobil kamu. Ada empat yang diparkir di depan..."


"Iya, Sapto baru selesai cuci mobilku. Minta tolong dia parkirkan saja... Aku di ruang kerja." Desisnya.


Dan Milady menutup teleponnya. Para security terlihat tertegun menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Milady.


Mereka menyeringai.


"Enggak bu... Baru kali ini kami mendengar ada yang bisa mengobrol dengan Pak Sebastian sesantai itu. Mas Dimas saja masih agak segan dengan Pak Sebastian."


"Oh, mungkin karena saya sudah kenal lama dengan Pak Sebastian."


Pak Security mengangguk-angguk.


"Silahkan bu, Kelihatannya Pak Sapto sudah meminggirkan salah satu mobil. Nanti ibu kasih saja kuncinya ke dia biar bisa valet."