Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Love Games



Ayumi tadinya bertekad untuk tidak tergoda...


Dia tidak mencintai laki-laki di depannya ini.


Kenal pun tidak.


Namun...


Sentuhannya...


Kenapa membuat kulitnya terasa teraliri listrik?


Dan tatapan matanya.


Tajam dan dalam, bagaikan melihat Ayumi sebagai hidangan fine dining yang belum pernah ia rasakan.


Inikah cara Arman merayu?


"Hei... Mbak Ayu." suara Arman yang serak membuat Ayumi tersadar dari lamunannya. "Kenapa kamu bisa sampai setegar ini?"


Tangan Arman mengelus pipinya. Pria itu mendekati dirinya, mendesaknya ke dinding. Tidak kasar, namun Ayumi reflek mundur karena ia masih bertekad menjaga jarak.


"Hm... Aku memiliki keyakinan sendiri."


"Keyakinan?"


Ayumi mengangguk pelan.


"Kalau kita berusaha, Tuhan pasti dengar."


Arman mendengus sambil terkekeh.


"Sejak lama aku menganggap itu mitos."


"Ares..." Ayumi mengangkat wajahnya. "Pernahkah kamu berpikir kenapa hidupmu lebih sulit dibandingkan orang lain?"


"Sering."


"Dan bagaimana kamu yakin kalau hidupmu lebih sulit dibandingkan orang lain?"


"Dengan melihat."


"Apakah kamu pernah berpikir kalau... Seorang pemimpin diuji lebih keras dari orang lain."


Arman menatap Ayumi dengan pandangan mengejek.


"Huh..." dengusnya. "Coba yakinkan aku."


"Tidak perlu."


"Oh... Kenapa?"


"Kamu sendiri sebenarnya meyakini Tuhan, tapi kamu sedang merajuk."


Hening lagi, hanya ada suara jangkrik dari luar...


"Kalau ini salah satu cara kamu untuk tidak termakan oleh rayuanku... mengalihkan konsentrasiku dengan berbicara mengenai Tuhan... Kamu tidak berhasil." sahut Arman.


"Itu rahasianya aku bisa setegar ini. Kalau kamu mau tahu..." gumam Ayumi.


Wanita yang menarik.


Berbeda dengan yang lain...


Arman menyentuhkan dahinya ke dahi Ayumi. Hidung mereka hampir bersentuhan.


Senyuman lembut terpatri di bibir Arman.


Tangannya berada di pinggang Ayumi, mengelusnya dengan posesif, menggodanya.


"Siapa yang bilang kamu boleh menyentuhku?" gerutu Ayumi.


"Kalau kamu tidak mau, kamu boleh menjauh."


Sepertinya, dari nada suara Arman, kalimat barusan adalah tantangan.


Namun Ayumi tidak menjauh.


Hanya berdiri dengan sikap kikuknya.


Astaga... Pinggangnya kecil sekali.


Batin Arman.


Saat itu...Bagaimana aku bisa tega memperkosa makhluk ini?!


Betapa tidak manusiawinya!


Umpat Arman ke dirinya sendiri.


"Kamu hari ini makan ngga?" Tanya Arman.


"Hm... aku tidak ingat." desis Ayumi.


Arman menghela napas.


"Setelah ini, makan ya. Aku akan lakukan dengan...cepat."


"Maksudnya cepat itu ap... ehmh..."


Arman melu mat bibir Ayumi dengan hasrat yang tertahan.


Ingin ia keluarkan sekaligus, tapi ia berusaha mengingat kalau wanita ini sebenarnya di dalam sangat rapuh walaupun dari luar terlihat kuat.


Arman melepas bibirnya.


"Cium aku?" desah Arman sambil menarik rok Ayumi ke atas.


Ayumi terengah-engah.


"Aku sudah bilang tidak mencium orang yang... Emph..."


Arman tidak butuh kalimat panjang lebar.


Terserah saja apa alasan Ayumi mengenai ciuman, yang jelas Arman menginginkan bibir Ayumi.


Sebelah tangannya menangkup tengkuk Ayumi agar lebih erat mendekat.


"Ares..." desah Ayumi. Napasnya tersengal, jantungnya berdebar kencang.


Dari semua ciuman para pria di seumur hidupnya, kenapa Ayumi sangat merindukan yang ini.


tidak lembut, tidak manis, juga tidak mengindikasikan rasa sayang.


Malah cenderung memaksa, cenderung kasar dan menggunakan nafsu.


Namun kenapa begitu menggiurkan?


wanita itu terpekik tertahan, Arman merobek pantynya!


"Ares... perlahan...sakit..." Ayumi mengingatkan Arman soal luka di bagian pahanya.


"Hemh..." Arman hanya bergumam sambil meloloskan baju Ayumi ke atas kepala wanita itu. Lalu dengan rakus menciumi leher Ayumi.


tidak bisa tidak mendesah.


Semua terjadi secara otomatis!


Ayumi mendesis karena merasa perih di lehernya.


"Astaga, kenapa kamu bikin tanda..." keluh Ayumi.


"Biar semua tahu kamu milikku, siapa tahu kamu ketemu Sang Perdana Menteri di bawah..." geram Arman.


mungkin yang Arman maksud adalah Trevor.


"Auh!!" Desah Ayumi saat Arman mengangkat tubuh Ayumi dan menggendongnya ke tengah ranjang.


Lidah pria itu memainkan puncak dada Ayumi, membuat Ayumi melengkungkan tubuhnya.


"Mengaku kalah ngga?" desis Arman sinis.


"Komandan Bodoh!" umpat Ayumi. "Astagaaa....sore o shimasen...Aah!!" (Jangan lakukan itu) Arman mengerjai kewani taannya dengan lidahnya.


Pelepasan pertama.


Ayumi roboh dengan terengah-engah.


"Jangan pingsan dulu. Aku ingin melihat mata kamu waktu ke puncak..." Arman menarik Tubuh Ayumi supaya lebih mendekat. Ia melepas handuknya. Pria itu sepenuhnya siap.


"Kuso ttare..." maki Ayumi (Kurang ajar).


"Kalau dengan Trevor, kamu juga sering memaki seperti itu?!"


"Aku jarang melakukan dengan Mikaeru..."


Arman berhenti sesaat.


"Oh..." desisnya sambil membelai miliknya, memastikan ia sendiri sepenuhnya siap. "Tidak kusangka."


"Sudah kubilang aku tidak melakukannya dengan orang yang tidak kusuka. Pertamanya memang intim, tapi setelah kasus itu, aku seringkali menghindar... kami hanya sekali melakukannya di saat terakhir karena aku merencanakan untuk berpura-pura hamil." sahut Ayumi.


"Pantas sesak... Dasar Medusa..." sindir Arman.


"Kamu sendiri sedang terhipnotis dengan medusa ini." sungut Ayumi.


"Huh..." dengus Arman. "Mungkin kamu benar... karena..."


"Arrghhh!!" jerit Ayumi saat Arman memasuki tubuhnya.


"Kamu merasakannya? Aku sudah jadi sekeras batu..."


"Kubilang pelan-pelan, Komandan Bodoh!" seru Ayumi sambil menampar Arman.


Arman hanya bisa menarik napas menghitung kesabarannya. Bisa-bisanya masih bisa menampar dengan tangannya yang penuh luka itu...


Jadi ia menahan kedua tangan Ayumi diatas kepala wanita itu.


"Aku sudah pelan, kamu saja yang... oh wow... gila..." Arman berhenti sejenak karena merasa suatu sensasi yang berbeda, ia bagaikan dipijat dengan lembut. Matanya terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyum senang. "Luar biasa... Kamu memang berbeda." kekehnya sambil menghujam Ayumi kembali.


*****


"Ares... Ares berhenti..." Ayumi memukul-mukul pundak Arman. "Ares...plis..." engahnya.


Sudah satu jam lamanya Arman mengerjainya.


Ayumi mulai kebas dan merasakan kantuk yang datang dengan kuat.


"Belum... Jangan dulu..." desis Arman sambil mencium Ayumi.


"Jangan dulu... Sebentar lagi."


"Kamu ngomong itu sejam yang lalu." bisik Ayumi, kesadarannya mulai hilang


"Kamu ngga sabaran banget sih..."


"Aku sudah ngga bisa merasakan... Ooh... Astagaaa..." Arman memposisikan tubuh Ayumi supaya membelakanginya dan menariknya supaya duduk.


Langsung mengenai spotnya.


"Ares..." Ayumi mulai takut, ia langsung sadar karena merasa terancam. "Ares berhenti..." ia meronta, mencoba membebaskan diri, namun tampaknya mustahil dengan posisinya sekarang.


"Sudah sadar?" kekeh Arman. "Aku ngga akan biarkan kamu pingsan sebelum merasakan... se ks yang sebenarnya."


Dan Arman bergerak lagi. Kali ini lebih cepat.


"Ares stop!! Stop, aku mau... oh Tidak!!" Ayumi menjerit.


Ia mencapai puncak untuk yang kesekian kali. Kali ini diiringi dengan air yang keluar deras dari tubuhnya.


Malu dan nikmat bercampur aduk.


Ia benar-benar merasa tidak berdaya.


"Waduh... Kamu sek si... Tapi sayang banget, aku belum selesai."


"Bakayarou..." gumam Ayumi lemah sambil tersengal.


Dia langsung ambruk ke ranjang. "Kamu brengsek... Lain kali kubuat kamu mabuk lalu kudorong ke sungai..." omel Ayumi. Suaranya semakin pelan.


Dan ia pun tertidur.


*****


"Eumh..." gumam Ayumi.


Cahaya matahari menyerang kelopak matanya.


"Makan, Mbak Ayu... Habis itu kita pulang, aku harus ke kantor 3 jam lagi."


Suara si Komandan Busuk... Omel Ayumi dalam hati.


Benar juga, mereka masih di vila Khamandana.


"Pak Sebastian memanggilku." Ayumi bisa mendengar suara Arman sedikit kuatir. "Perasaanku ngga enak." tambah pria itu.


"Kamu jalan saja duluan... Aku nanti numpang mobil entah-siapa yang masih standby di vila..." gumam Ayumi.


"Yang masih ada di Vila cuma polisi..." dengus Ayumi.


"Iya itu juga boleh lah..." gumam Ayumi. Dan dia kembali tertidur.