Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Saat Itu... ( part 1 )



"Janc** gue ngga ngeliat ada orang disitu!! Wah nge-crack nih!!" Seru Dimas.


"Bro, lu terlalu fokus sama Wraith, gue udah liat pathfinder daritadi kok. Apa-apa dibilang crack..."


"Ajr**it knock!! Revive sis!"


"Gue lagi jauh Bro..."


"Gue butuh shringe sis!"


"Bertahan yah kakaaaaa aku dataaang..."


"Ga usah dateng biar aja dia sekarat, lo dan gue udah cukup Lady..."


"Leon, lo ngacir sana kaga usah kompor!"


"Eh, gue lebih deket ke tempet lo dibanding Lady... Ya udah gue ngacir..."


"Jangaaaannnn revive gueeee!!!"


"Berisik banget lo Mas, sumpah."


"Hahahahaha..."


Adegan tembak-tembak, bom, sembunyi.


"One shoot one shoot!!" Seru Leon.


"Die you bit**ch dieee!!!" Seru Dimas.


"Dikit lagi pak bro, bertahan."


"Yeeeessss Champioooonnnnn!!!"


"Wuhuuuuuu !!"


"Akhirnya gue bisa tidur juga. Dah ah..." Milady mengelus tengkuknya yang pegal. Ia melirik jam dindingnya.


Pukul 1 dini hari.


"Besok berangkat ke Jepang jam berapa?" Tanya Leon.


"Hm... Jam 9 pagi."


"Bawain komik one piece yah, yang ada tandatangannya Eiichiro Oda."


"Gue harus ngantri ato gimana?"


"Tinggal ambil aja, gue nanti share lock agen gue di sana. Ada 3 buku edisi terakhir yang gue minta."


"Gue pinjem ye." Desis Dimas.


"Emang lo ngerti katakana?"


"Kagak, numpang ngelus doang."


"Bawain dia bantal yang sarungnya gambar Aoi Sora aja."


"Hah...tapi gue penggemar Ayase Haruka."


"Nanti gue bawain yang gambarnya kakek sugiono." Sahut Milady.


"Bagooossss!!!" Seru Leon.


"Tega banget lo...kakek sugiono mah dikirim aja ke Nyi Blorong asisten gue. Buat dia jadiin samsak kalo kesel ama gue."


"Mas, kalo Nyi Blorong adalah asisten lo, terus lo jadinya siapa? Nyi Roro Kidul?"


"Gue? Naga Indosiar..."


"Hahaha dah ah... Diriku undur diri duluan yah bapak-bapak, jangan berantem."


Dan Milady memutuskan koneksi.


Ia baru saja bermain game online bersama Dimas dan salah satu teman mereka juga yang bernama Leonard. Milady belum pernah bertemu Leon, mereka hanya sering bertemu sewaktu online. Kelihatannya Dimas dan Leon berteman baik.


Tiga hari berturut-turut Dimas membuatnya tidur dini hari. Laki-laki... Kalau sedang galau mereka tak menangis atau mencurahkan perasaan, mereka lebih memilih mengalihkan perhatian dari rasa sakit hati dengan melakukan hobi.


Hm...


Apa yang sedang dilakukan Sebastian saat ini?


Sudah dini hari, apa dia sudah tidur?


Atau malah sedang bekerja di ruang kerjanya, dengan kacamata tebalnya dan mmata elangnya yang memicing, menilai hasil kerja para karyawannya?


Milady belum menghubunginya lagi sejak pertemuan terakhir mereka.


Bukannya ia tidak kangen.


Tapi...


Masa Milady duluan yang menghubungi?


Toh, Sebastian juga tidak menghubungi Milady...


Apa dia marah karena ia meminta tetapi Milady menolak?


Atau karena Milady bilang mengenai rencananya untuk lebih serius memikat Trevor?


Milady menatap ponselnya.


Nomor kontak Sebastian yang sudah ia hapalkan di luar kepala.


Haruskah ia menekan tombolnya...


Ah, Tidak! Tidak!


Gengsinya lebih penting...


Jadi Milady berbaring di ranjangnya dengan gundah masih menyelimuti hatinya.


Ia memejamkan matanya, mengingat masa lampau 10 tahun lalu...


You have noticed on Snow White Escorts.


Dengan jantung berdebar, Milady yang saat itu berusia 17 tahun membuka ponselnya.


Di pesan nya hanya ada alamat.


Sebuah hotel.


Setahu Milady adalah hotel termewah di negara ini yang baru dibangun sekitar setahun yang lalu. Menyatu dengan hotel adalah mall besar, komplek perumahan diatas mall, aquarium air tawar terbesar dan di bagian basementnya adalah taman bermain indoor terluas.


Alamat itu mengacu pada salah satu penthouse hotel di lantai 50.


Unit 500


Jemari Milady gemetaran saat membaca alamat itu pada iphone 4S nya.


Haruskah ia kesana?


Masih ada waktu untuk mundur.


Tapi...


15miliar bukanlah transaksi yang main-main.


Setidaknya ia bisa mendapat 7.5miliar kalau ia menekan tombol confirm.


Tapi bagaimana dengan keselamatannya?


Ia tidak mengenal orang yang menghuni unit 500 ini.


Bagaimana kalau orang jahat?


Bagaimana kalau ia disakiti?


Bagaimana kalau ia diperkosa?


Pantaskah harga 7.5miliar?


Lalu terdapat SMS masuk ke ponselnya.


Dari ayahnya.


"Ibu masuk rumah sakit. Belum bisa ditengok."


Milady langsung menelpon ayahnya.


"Kenapa ibu, ayah?"


Terdengar isakan dari seberang.


"Ayah juga tidak mengerti... Tiba-tiba dia berteriak kencang sekali. Lalu dia membentur-benturkan kepalanya di dinding. Setelah itu pingsan..."


Milady merasa kepalanya sakit. Pandangannya berkunang-kunang dan napasnya sesak.


"Lady... Sepertinya ibu membaca surat dari Bank." Desis Ayah.


"Ayah! Lady sudah bilang tolong surat itu disembunyikam dengan baik!" Seru Lady.


"Ini surat baru, Lady... Baru saja sampai. Ayah sedang mandi, sepertinya ibu kamu keluar dan menerimanya sendiri dari kurir!"


"Tapinkan pengajuan pailit ayah masih proses, Bank tidak bisa menyita begitu saja! Harus ditentukan pengadilan."


"Lady, yang manapun, judulnya pasti akan di sita... Ayah bahkan tidak tahu bagaimana cara dapat uang untuk perawatan ibu di rumah sakit. kemarin baru dapat dua juta dari teman ayah, itu untuk makan kita sehari-hari dan kontrak rumah satu pintu di gang."


"Rumah satu pintu tidak cukup untuk kita, ayah..."


"Lady... Kamu bisa jual komputer, laptop, dan iphone kamu?"


Milady mendesah.


Lalu menelan ludah.


"Iya ayah, akan lady tawarkan ke teman-teman lady... Kemarin piagam penghargaan Lady sudah laku 5juta. Itu untuk makan kita 3 bulan..."


5 juta untuk 20 piagam berlapis emas. Penghargaan yang sudah dikumpulkannya bertahun-tahun. Hasil mengikuti berbagai olimpiade sains. Untung saja dulu ia bersekolah di sekolah swasta khusus bagi anak-anak dengan kemampuan intelegensi tinggi. Sehingga beasiswa yang ia dapatkan juga termasuk uang jajan apabila ia mampu mencapai ipk tertentu. Ia masuk universitas pun memakai rekomendasi dari sekolahnya, karena usia Milady yang terlampau muda saat ia memasuki jenjang kampus.


Predikat Milady di dunia pendidikan tidak bisa diacuhkan.


Namun...


Sebentar lagi sudah tidak ada bekasnya karena piagamnya dan berbagai penghargaan sudah dijual. Kini komputer, laptop dan ponselnya untuk menutupi biaya rumah sakit.


Kakaknya masih kuliah semester awal dan adiknya masih SMP. Jadi sudah pasti tidak bisa diharapkan untuk mencari penghasilan.


Milady menatap ijazah sarjana summa cum laude di tangannya.


Hey ijazah...


Kamu bisa laku berapa kalau kujual?


Milady menarik napas.


Ia wisuda hari ini, tapi tidak satupun keluarganya datang.


Semua orang bangga padanya, menatapnya dengan terkesima.


Lulusan termuda dari universitasnya.


Namun tidak ada artinya kalau keluarganya tidak ada di sini...


Pekerjaan yang dijanjikan kementrian pendidikan...


Kapan bisa terealisasi?


Milady menutup teleponnya dengan hati campur aduk.


Lalu melepas toganya dan duduk di bagian belakang kursi pengunjung.


Tersembunyi dari perhatian orang-orang.


Ia menangis sepuasnya di sana...