
Trevor menghela napas saat tiba di smoking room gedung Garnet property. Ruangan itu sebenarnya tidak bisa disebut ruangan karena sangat luas bertema outdoor. Letaknya di lantai 5 dan merupakan beranda luas yang menjorok keluar.
Masih pagi, baru sekitar jam 10. Dan ia sudah butuh merokok.
Merilekskan otaknya yang dari tadi mendidih.
Ya ampun... Kenapa tanpa Milady seakan semua pekerjaan menjadi serba sulit?! Ia punya 3 sekretaris dan 1 asisten -yang menurutnya mencurigakan- tidak adakah yang bisa menyamai kinerja wanita itu?!
Apa karena ia wanita jadi bisa lebih multitasking?!
Yang manapun, yang jelas Trevor mulai kewalahan.
Jangan sampai Milady memperpanjang cutinya... Bisa-bisa aku pingsan di kantor! Keluh Trevor.
Yazaki Eiichi keluar dari ruangan lantai 5, dari bagian umum, sambil menenteng 3 bantex.
"Boss Mika... Ini daftar..."
"Nanti sajaaa... Saya lagi ngerokok ini, jangan ganggu dulu doong..." keluh Trevor.
"Boss..." Eiichi agak bersungut. "Sejak kapan merokok jadi lebih penting dari daftar tamu Grand Opening?"
Cowok Jepang ini sudah bisa menggerutu ke bossnya sendiri sejak mengenal Sebastian.
"Sejak Milady cuti! Sudah sana lanjut jalan, kamu bikin saya tambah pusing!" gerutu Trevor.
"Kalau bisa jangan lebih dari 10 menit ya Boss Mika, saya ngga bisa tangani sendiri." seru Eiichi dari dalam lift sebelum pintunya menutup.
Ya Ampun, bawel banget yah. Pikir Trevor.
Tapi bagus juga Eiichi bawel begitu. Paling tidak, Trevor memiliki alarm untuk tidak terlalu bermalas-malasan.
*****
Eiichi menelepon Bossnya yang lain.
"Arman." sapa seseorang di seberang. Suaranya terdengar malas.
"Anooo... Boss-kun. Sepertinya saya tidak bisa berjaga secara berkala saat grand opening, karena saya dijadikan penerima tamu."
"Hm? Ya sudah. Susan lagi Rusia, kamu penerima tamu... Saya harus panggil pemain cadangan. Oke..." dan sambungan terputus.
Dia marah...
Pikir Eiichi sambil begidik.
Marahnya Arman tidak terlihat, tapi hati Eiichi langsung tidak tenang.
Lebih baik ia dibentak sama Boss-Sama daripada berhadapan dengan Boss-Kun. Pikir Eiichi.
Kenapa ia punya tiga Boss dan ketiga-tiganya memiliki perangai yang sulit ditangani?
Salah apa aku?! pikir Eiichi.
Nah...sekarang... Tinggal pekerjaannya.
Tumpukan bantex di meja, 3400 tamu undangan.
Dan Eiichi menghembuskan napas berat sambil menggaruk kepalanya. Lalu ia berkacak pinggang.
Dia harus mulai dari mana?
Kenapa semuanya tiba-tiba mendesak...?
Apa dia menyerah saja, turun ke lantai 5, ngopi, merokok, menyerah dan minta maaf karena overload.
Apakah bisa semudah itu?
Bisa saja...
Tapi itu bukan diri Eiichi.
*****
Kursi jati ukir...
lukisan Amedeo Modigliani
air mineral dalam botol kaca
bekas lipstik di tepiannya
Semua berhubungan dengan dirinya...
Aku membelai tepian botol, diatas lipstik kemerahan. Setengahnya terhapus oleh jariku, warnanya berpindah terpatri diatas telunjukku.
Kenapa rasanya sesak?
Berapa banyak wanita dalam hidupku?
Kenapa hanya dia yang menari di benakku?
Siapa namanya... coba kuingat...
Lady?
Apa itu nama aslinya?
Seorang Lady yang sangat mungil, bahkan dari usianya, belum pantas menyandang gelar Lady...
Apa aku keterlaluan?
Atau apakah ia merasa tersakiti olehku?
Kami sama-sama tersenyum dan saling menatap.
Ia bahkan menunjukan seringainya dan...
Bibirnya...
Lembut merekah manis kemerahan...
ia menempelkan bibirnya, kami saling merasakan.
Apa yang salah...?
Aku tidak mengerti.
*****
Sambil menyetir, ia mengingat masa lalunya.
Saat hari pertama Milady meninggalkannya dulu.
Sebastian masih mengingat sesaknya. Perasaan itu menemaninya selama 10 tahun.
Dan kini...
Ia jadi takut.
Ia takut mengulang kembali rasa itu.
Rasa kesepian yang sangat tidak menyenangkan.
Rasa dimana hanya ada sakit di relungnya.
Rasa dimana kepalanya berputar perih dan ia bahkan sampai tidak bisa marah lagi.
Hanya ada rasa sedih...
Mobilnya berhenti untuk menunggu lampu lalu lintas yang berwarna merah berubah hijau.
Lalu Sebastian menoleh ke kiri.
Kini wanita dambaannya, wanita idamannya, yang selalu ada di mimpinya, wanita dari masa lalunya, duduk di sebelahnya.
Apabila Sebastian menyentuh pipi halusnya, bibir wanita itu tertarik ke sudut. Membentuk senyuman paling lembut yang pernah ia lihat.
Cantiknya kamu, Sayang...
Kamu manusia paling indah, menurutku.
"Sudah tidak marah?" tanya Sebastian.
"Mana bisa aku berlama-lama marah sama kamu?" ujar Milady sambil mengambil tangan Sebastian dari pipinya, mencium jemari pria itu dan menggenggamnya dengan sepenuh hati.
Lalu kembali menoleh ke arah Sebastian dan menatap mata pria itu dengan lembut.
"Aku... Bukannya ingin mengekang kamu." Kata Sebastian berusaha meluruskan kesalahpahaman mereka pagi ini.
"Iya. Kamu mengkuatirkan aku."
"Aku takut kamu menghilang lagi dari pandanganku."
Milady menatapnya sambil menaikkan alisnya.
"Seorang Sebastian, bisa juga merasa takut?" tanya Milady.
"Aku manusia biasa. Laki-laki biasa. Dan itu perasaan yang biasa ditunjukan seorang suami apabila istrinya semanis kamu." kata Sebastian.
Terdengar kekehan pelan Milady.
"Iya." hanya itu respon wanita ini.
Lalu pemilik buku mata lentik itu kembali berpaling menatap ke luar jendela.
Terlihat telinganya memerah.
Ia sedang merasa malu...
Sebastian mengganti kopling dan menginjak gas. Menembus polusi metropolitan ke arah tujuan mereka.
*****
Sebastian tidak mengharapkan ini.
Satu lift dengan makhluk gila ini...
Hari masih pagi, tapi ia sudah melihat adegan yang membuat hatinya panas! Ini sudah pernah dibahas waktu itu... Dan akibatnya malah merugikan Sebastian.
Tapi...
Sekarang ia suami Milady.
Seharusnya perlakuannya bisa berbeda.
Gerak-gerik Dimas yang lihai saat berhadapan dengan wanita... Mengingatkannya akan Emilio Sandro. Pria Italy itu kerap merayu Bu Lastri, seperti layaknya pria Italy, gentleman metroseksual dengan tatapan mendamba.
Emilio Sandro, ayah kandung Dimas. Sangat mirip sampai ke ujung kaki... Bagaikan bereinkarnasi.
Emilio sudah meninggal karena penyakit jantung.
Bukan, bukannya Sebastian senang dengan keadaan itu.
Perasaannya dengan Bu Lastri sudah tidak ada. Digantikan seluruhnya dengan sosok Milady.
Jadi,
Ia tidak akan biarkan si buaya kali ciliwung ini menganggu miliknya, sekali lagi.
Sekali lagi?
Sebut saja begitu, karena mereka berdua, Emilio dan Dimas, satu DNA.
Sebastian harus memprotes sekali lagi perlakuan Milady terhadap Dimas. Mulai sekarang harus sudah tidak ada lagi cium pipi kiri-kanan!
Milady dan Dimas sedang berbincang mengenai maksud Dimas ke Garnet Property pagi ini.
Dan sampailah pada pertanyaan Milady padanya.
"Gunawan Ambrose itu bukannya sudah di hold sama Garnet Mining kan Sayang?" tanya Milady pada Sebastian.
Sebastian tidak menjawab, ia sedang sibuk memikirkan kata-kata yang pas untuk mengutarakan keinginannya menghilangkan ritual cium pipi kiri-kanan antara Milady dan Dimas.
Dimas menatap Sebastian dan Milady bergantian. Tampaknya pria itu mengingat kejadian waktu itu, saat Sebastian bagaikan terhipnotis oleh Milady di depan semua orang.
"Ini sih kayaknya udah resmi..." gumam Dimas.
"Kok kamu tahu kami sudah menikah?" tanya Milady ke Dimas.
Berikutnya hanya ada teriakan-teriakan kehebohan Dimas di dalam lift. Sebastian bahkan sudah malas mendengarkan.
Ini masih pagi, di dalam lift, ia dalam keadaan kesal. Ia tidak butuh suara-suara keras memekakkan telinga.
"Dengar, Boyo..." Sebastian mencengkeram leher Dimas dari belakang, saat mereka keluar dari lift. "Tidak usah bilang ke siapapun. Itu urusan saya." desis Sebastian.