Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Where Is It



Sering kita, manusia, bertanya...


Kenapa selalu saja ada masalah?


Di lagi hidup kita sudah nyaman, uang sudah cukup, keluarga semua sehat...


Ada saja tambahan ujian dariNya.


Seperti pagi ini...


Milady menghela napas saat menerima pesan singkat di ponselnya.


Dirinya langsung merasa galau.


Di saat seperti itu, ia melayangkan pandangan ke segala ruangan.


Sebastian sedang di lantai bawah untuk memeriksa keadaan Dimas yang semalaman menerima tamu sampai pagi ini belum berhenti berdatangan.


Walaupun Milady sudah bilang kalau adik iparnya itu baik-baik saja karena hobinya memang bersosialisasi.


Tapi sepertinya Sebastian cenderung untuk menaruh perhatian terhadap setiap anggota keluarga.


Adik ipar...


Bahkan usia Milady 3 tahun lebih muda dari Dimas.


Kenapa rasanya aneh menyebutnya 'adik ipar' ya...


Yang lebih aneh lagi status anaknya dan anak-anak mbak Mitha kelak.


Lebih baik tidak mengkotak-kotakan mereka ke julukan keluarga seperti Om, atau Tante... Pasti akan ada banyak pertanyaan nanti.


Kembali lagi ke ponsel Milady.


Latief Ali.


Itu yang tercantum di bagian atas pengirim pesan singkat.


Mantan Suaminya...


Nama itu pernah menemani hari-harinya yang berjalan lambat. Pernikahan mereka tidak didasari cinta.


Hampir seperti perjodohannya dengan Trevor, sepakat menikah dengan tujuan tertentu.


Milady yang ingin menghindari ibunya, terkesan tidak bertanggung jawab rasanya, menghindari ibunya yang sedang 'sakit' dengan menikah agar tidak tinggal di rumah itu.


Dan Latief yang belakangan Milady baru tahu, untuk menutupi orientasi seksualnya yang berbeda.


Dan isi pesan dari pria itu...


Aku baru mendengar berita kamu baru saja menikah lagi.


Selamat ya... Dan maafkan perilakuku dahulu yang terkesan membohongi kamu.


Mungkin terasa tidak pantas, tapi aku dalam kondisi sangat terpaksa...


Aku butuh bantuan, boleh bertemu?


Kalau bisa... Tanpa diketahui suami kamu.


Kalimat terakhir membuat Milady mengernyit.


Bijakkah ia menemui Latief tanpa sepengetahuan Sebastian?


Sementara saat ini status Milady adalah istri Sebastian...


Milady merasa ragu.


Apa yang Latief mau...? Bukankah semua urusan mereka sudah selesai?!


*****


Brakk!!


Pintu unit dibuka dengan kasar.


Ayumi menoleh dengan malas. Ia sudah tahu siapa yang datang.


Baru datang sudah bikin keributan, dengusnya dalam hati.


Arman menatapnya dengan tajam. Ia juga tampak marah.


Sambil menjatuhkan tas jinjing besar berisi senjatanya ke lantai dan ransel yang kelihatannya sangat berat, ia membanting pintu unit sampai tertutup kembali.


Pria itu berjalan dengan langkah tegas langsung ke arah Ayumi.


Membuat Ayumi dilanda perasaan was-was dan langsung berdiri dari sofa. Mundur beberapa langkah.


Ayumi mengenakan kemeja putih Arman yang ia fungsikan sebagai cardigan dan one piece piyama dari Milady yang bahannya menerawang.


Walaupun terlihat sangat manis, Arman tampaknya tidak terpengaruh.


"Dimana itu?" geram Arman.


Itu?!


Maksudnya apa? pikir Ayumi.


"A... Apa maksud kamu?" Ayumi terbata.


"Yang kamu curi dari Yamaguci."


Ayumi menipiskan bibirnya dan menelan ludah.


"Kata kamu tidak tertarik?!" Ayumi menantangnya. Ia teringat ucapan Arman saat pertama.


Tanpa diduga Arman kerah kemeja Ayumi dan menariknya kasar supaya mendekat.


"Kamu sudah tahu isinya." kata Arman memberi argumen. "Makanya kamu ingin Pak Sebastian memberikan kamu perlindungan..." suara pria itu menekannya.


"Tidak ada nama Sebastian disana." sahut Ayumi.


Tanpa diduga, Ayumi menyeringai.


"Rahasia." desisnya licik.


Arman langsung dilanda emosi saat melihat raut wajah Ayumi yang seakan menantangnya.


Tangannya meraih tengkuk Ayumi dan meremas rambut wanita itu.


"Ah!!" jerit Ayumi kaget dan kesakitan. Kedua tangan wanita itu terangkat berusaha melonggarkan cengkeraman Arman.


"Dimana?" Geram Arman.


"Pertemukan aku dengan Sebastian."


"Dia tidak ingin bertemu dengan lintah semacam kamu."


"Ya sudah, geledah saja sebisa kamu."


"Kamu tidak mungkin meninggalkan benda sepenting itu di tempat lain. Kamu pasti membawanya kemana-mana."


"Lepaskan..." Ayumi merintih kesakitan.


"Sebelum aku buat kamu pingsan biar bisa menggeledah dengan lebih leluasa, sebaiknya kamu bicara."


"Silahkan buat aku pingsan. Aku sudah siap dipukuli dari kemarin."


"Dipukuli?" Arman mendengus sambil tersenyum sinis. "Aku tidak memukul perempuan. Ada cara lain biar kamu pingsan."


"Apa yang..."


Arman menggeret lengan Ayumi dan melempar tubuh wanita itu ke atas ranjangnya.


Ranjang 'mereka' lebih tepatnya.


Ayumi langsung terpekik. Ia tahu adegan selanjutnya.


Jadi ia langsung reflek berusaha melindungi tubuhnya dengan berusaha melarikan diri.


Ia nekat lari ke negara ini untuk menghindari pemerkosaan yang akan dilakukan para anak buah Yamaguci.


Masa dia harus mengalami hal itu juga di sini.


"Tidak!" Ayumi meronta saat Arman dengan cepat menangkap pinggangnya dan mengembalikannya ke atas ranjang.


Berat tubuhnya bagaikan sehelai rumput bagi Arman yang sangat sering menenteng beban berat seperti sekoper senjata dan barang-barang Sebastian lainnya.


"Kamu sendiri bilang kalau tidak akan bernafsu padaku!" Ayumi meronta.


Arman menjatuhkan Ayumi di ranjang dan menahan kedua tangan wanita itu ke atas kepala Ayumi dengan hanya sebelah tangannya.


Ayumi terperangah mendapatkan perlakuan sekasar itu.


"Lepaskan! Baka Bodigado!!" (Bodyguard Bodoh) teriaknya.


"Memang aku ngga nafsu, tapi kalau terpaksa apa boleh buat, kan?!" Arman melepas kaitan ikat pinggangnya dengan satu tangan.


"Bilang dimana, atau kamu habis!" seru Arman.


"Mana Sebastian?!"


"Ngga ada..."


Dengan sekali tarik Arman meloloskan panty Ayumi kebawah. Sebelah tali tipisnya robek akibat tarikan.


Ayumi terpekik dan semakin memberontak.


Lututnya mengenai pinggang Arman yang baru saja dijahit.


"Aargh!!" teriak pria itu.


Pegangannya mengendur dan Ayumi langsung melarikan diri ke arah dapur.


Mengambil pisau terbesar yang bisa ia temukan.


Lalu mengacungkannya ke Arman sambil terengah-engah.


Ia tidak mengambil senjata walaupun ada banyak di lantai. Ia trauma dengan senjata laras panjang... ia pernah tertembak saat belajar mengoperasikannya, jadi ia lebih memilih pisau dapur.


Arman terkekeh melihat tingkah Ayumi sambil menahan sakit di bagian pinggangnya. Perban yang tadinya putih bersih, mulai digenangi noda kemerahan.


Jahitannya terbuka lagi...


Lalu ia menegakkan tubuhnya.


Dalam kondisi normal, luka seberat itu sudah pasti tidak akan ada manusia yang bertahan berdiri tegak.


Namun saat Arman mulai marah, emosinya tertahan ingin menghambur keluar dan meledak, adrenalinnya terpacu dan ia seakan tidak merasakan sakit. Kebal terhadap rasa takut.


"Psycho..." gumam Ayumi ketakutan saat Arman menghampirinya dengan berjalan lambat.


"Aku tidak peduli kamu siapa. Tapi kalau kamu mengancam kesejahteraan atasanku... Kamu mati. Jadi... Kesempatan terakhir, tolong.. Bekerjasamalah..." kata Arman, lebih seperti geraman dibanding kata-kata biasa.


"Aku akan bekerjasama dengan Sebastian. Tidak yang lain."


"Saat kamu bertemu beliau, kamu adalah ancaman terbesar kami. Kalau bukan aku, pasti ada yang langsung menembak kamu dari jauh sebelum kamu mendekati Pak Sebastian. Instruksinya sudah sangat jelas."


"Walaupun aku membawa informasi yang sangat berharga?"


"Informasi itu bentuknya flashdisk... atau chip, atau semacam itu. Kami tinggal menggeledah... Mayat kamu. Karena kamu kesini tanpa membawa apapun, sudah pasti kamu bawa benda itu kemana-mana...ya kan?!"


Ayumi menelan ludah.


"Aku tidak percaya. Silahkan geledah mayatku kalau begitu." ancam wanita itu.


Sebuah senyuman di sudut bibir Arman.Orang dengan profesi seperti dirinya sudah terbiasa dengan gertakan.


"Oke. Kamu yang mau sendiri. Jangan protes." sahutnya sambil menghampiri Ayumi.