
Milady terisak di ruang tunggu.
Sakit rasanya.
Dadanya...
Terasa sesak!
Pertengkaran yang membuang-buang waktu. Pikirnya.
Ia sadar ia telah menjadi 'istri durhaka', namun ia benar-benar tidak tahan akan tingkah Sebastian yang selalu menyulut keributan di mana-mana.
Semakin lanjut usianya, tingkahnya malah semakin labil...
Milady tidak suka membentak-bentak... apalagi sampai mengancam kekasih hatinya seperti itu...
Dan soal dia akan meninggalkan Sebastian... Itu hanya gertakan.
Namun, kasus kali ini berkaitan dengan nyawa manusia.
Hal seperti itu bukan remeh-temeh...
"Ya Tuhanku..." Milady menelungkupkan kepalanya ke meja marmer... Dahinya butuh didinginkan di permukaan meja.
"Mbak Lady..."
Suara Arman membuatnya menegakkan kepala.
Lalu ia menoleh.
Arman dengan seragam lengkap Tim Elitnya...
"Kamu ngga papa?" tanya pria itu.
"Kenapa masih di sini? Sana pergi... Sudah malam. Kasihan Ayumi..." Usir Milady
Namun Arman tetap menghampiri Milady.
Pria itu menarik kursi di sebelahnya dan menghela napas.
"Baru saja... Saya dapat kabar." kata Arman dengan suara rendah. "Pak Latief... Meninggal."
"Ah..." desis Milady.
Tidak... Ia tidak menyangka.
Sampai akhir, Milady tetap berharap mantan suaminya itu tetap tersenyum padanya setelah sadar dari pingsannya.
Mereka selama ini tidak pernah tidak rukun, mereka teman baik.
Dan mungkin...
Mungkin ini lah jalan terbaik untuk Latief...
"Dia sadar beberapa saat, namun karena penyakit komplikasinya... Kondisinya semakin parah."
Milady mengucapkan kalimat doa, sekilas.
"Mas Arman..." desis Milady. Ia menggenggam tangan Arman. Terasa hangat dan kokoh, berbeda sekali dengan miliknya yang dingin dan kurus.
"Tolong... Usahakan korban sesedikit mungkin. Ubah rencana... Tidak usah memburu Hari Fadil. Mereka tidak akan mendekat... Fokus pada pencarian saja. Untuk Hari Fadil... Serahkan pada Rama saja. Itu sudah tugas kepolisian. Kita tidak usah ikut campur..." sahut Milady.
Arman menghapus air mata Milady.
"Iya, saya mengerti. Saya juga berpikir begitu. Untuk meminimalisir kerugian dan keselamatan anggota kita. Bapak masih emosi, jadi saya pikir iya-in saja di depan. Pada prakteknya kita hanya fokus ke Trevor dan Ayumi." kata Arman mendukung ucapan Milady.
"Lalu... Saya minta nomor telepon keluarga Latief." kata Milady.
"Bukankah Mbak Lady sudah punya?"
"Bukan yang di Indonesia... Yang... Di Amerika... Pasangan dan anaknya..."
"Oh." desis Arman. Khas Milady, memikirkan semuanya. "Oke... kita akan lacak. Tapi tenangkan dulu emosi kamu..."
"Terserah kalau Mas Yan mau tahu, tapi keluarganya butuh dikabari... keselamatan mereka tadinya juga terancam. Latief melakukan penculikan atas diri saya karena itu. Bahkan sampai akhir, dia melindungi saya..." Milady mulai terisak lagi.
Arman mengernyit.
Kalau saja...
Kalau saja waktu itu Arman tidak mengulur waktu, saat perkelahian Jeko dan Latief terjadi... apakah Latief tidak akan meninggal?
Saat itu, mereka tidak tahu dimana Latief berpihak. Bagi mereka semua sama jahatnya. Jadi mereka menunggu sampai salah satunya tumbang, sehingga akan mempermudah pergerakan mereka. Karena akibat perkelahian, pasti stamina musuh tidak optimal lagi, saat itu timnya akan lebih mudah membekuk.
Sudahlah...
Tidak ada gunanya menyesali semuanya.
Arman mengangkat tangan Milady dan mengecupnya.
"Saya pamit. Doakan keberhasilan kami." pria itu tersenyum lembut padanya.
Dan berlalu dari ruangan.
Sungguh, senyuman Arman yang karismatik, tidak mampu menghapus segala kesedihan Milady dari tragedi berkelanjutan ini...
Selamanya... Ia bertekad akan menyembunyikan kenyataan mengenai Latief. Demi nama baik keluarga mantan suaminya.
"Milady..."
Terdengar suara suaminya dari arah pintu.
Milady hanya meliriknya sekilas, lalu membuang muka.
Ia sebal, bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja membuat perasaannya langsung campur aduk.
Sebastian meletakkan kotak pastry di depan Milady.
Milady mendengus.
Merasa kalau Sebastian berusaha mengambil hatinya.
Lalu ia merasa pria itu duduk di sebelahnya.
Tidak ada yang berbicara...
Hanya ada kesunyian selama beberapa saat.
Mereka berdua terlalu lelah untuk berdebat dan mengobrol.
Sampai akhirnya Milady akhinya menghela napas, lalu beranjak.
Lagipula, Ia seorang istri...
Milady duduk di pangkuan suaminya sembari memeluk tubuh kokoh itu dengan segenap hatinya.
Ia bisa merasakan Sebastian meraih pinggangnya dengan kedua tangan pria itu, meraihnya lebih erat dan menyembunyikan wajah dengan janggut putihnya di dada Milady.
Pria itu... Sedang menangis dalam hening...
*****
"Heisshhh!! Ba... Bapak...!!" Pak Kardi hampir menjatuhkan microphonenya saat Sebastian dan Milady kembali memasuki ruang Garnet Security Agency.
Arman sudah setengah perjalanan dengan heli bersama beberapa tim, di ruangan itu hanya ada Pak Kardi, Umar dan Tresna yang bertugas melacak pergerakan Hari Fadil.
"Saya ambil alih pimpinan di markas." Sebastian mengambil salah satu microphone di meja dan duduk di meja Arman.
Lalu mengutak-atik tuts keyboardnya dan sejenak ia mengernyitkan dahi.
Sambungan dinyalakan.
"Baper 4, kamu yakin pergerakan mobilnya stabil saat terkena longsor?" terdengar suara Arman.
"Ya Boss-Kun." terdengar suara Eiichi Yazaki.
Sebastian menyerahkan salah satu earphone ke Milady.
"Tampaknya Boss Mika berhasil mengendalikan mobilnya hampir menjauhi longsor, jadi sepertinya mereka tidak tertimbun, namun terbawa arus lumpur."
"Ada tanda-tanda kerusakan?"
"Hanya ada sisa pecahan kaca, namun belum ditemukan onderdil. Kemungkinan mobilnya masih utuh..."
"Ya iya lah, kan gue agen penjual mobilnya. kualitas tinggi punya, ngga kaleng-kaleng!" terdengar suara Moses.
"Dilarang promosi. Baper 2 dan 3... Laporkan keadaan." desis Arman.
"Pak... bener kata Pak Arman." kata Heksa.
"Apa?"
"Iya... bener... Ini sih anj*rit..." desis Heksa lagi.
"Kalo ngomong jangan sambil nelen lumpur, Heksa..." sahut Sebastian.
"Bukan gitu pak, soalnya saya spechless... Eh? loh?"
Semua diam.
"Coba sebutkan password, kalau anda bukan Pak Kardi yang menirukan suara..." terdengar suara Heksa.
"Ck..." decak Sebastian.
"Tolongg!!!!" seru Moses.
"Aaaannuuu Paaak... Yang tadi jangan dianggap serius!!"
"Iya kita lagi kerja fokus kooookkk!!"
"Mam pus lo... Dipotong jatah kopi..."
Semua heboh.
"Selamat datang Pak. Welcome to the club." sahut Arman santai. "Kami sudah mendarat, sedang menyisiri tepian sungai. Kondisinya berbahaya untuk dilewati, drone sedang dilayangkan."
"Baper itu apa sih?" Tanya Sebastian.
"Bap..." Moses tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ragu.
"Bagian Penyergapan." desis Arman.
"Oh."
Dari kata 'Oh' nya Sebastian, semua tahu si BigBoss tidak mudah percaya.
"Bukan Bocah-Bocah Petrus Jakendor..." dengus Sebastian.
"Hm..." semua hanya bergumam. Di mata Sebastian jelas mereka semua masih 'bocah', lagi main tembak-tembakan...
"Petrus Jakendor tuh apa..." Bisik Moses, niatnya sih nanya ke Arman.
"Pepet Terus Jangan Kasih Kendor..." Sahut Sebastian.
"Masya Allah..." Dengus Umar langsung pingin ngakak tapi terpaksa harus 'burung unta mode on', sembunyikan kepala di bawah meja.
"HuaAHAHAHAHAAHAH!! Makan Tuh Petrus!! Puas Saya!!" Seru Pak Kardi sampai ubi bakarnya muncrat ke keyboard.
"Joke bapak-bapak makjleb banget ya..." desis Heksa.
"Tadi Heksa mau ngomong apa?" tanya Sebastian.
"Di atas bukit... kami mengidentifikasinya sebagai awal lokasi longsor, ada materi C4. Kemungkinan diaktifkan dengan remote control karena di radius 5 meter dari penemuan, kami menemukan materi lain, sejenis tombol..."
(Bom C4 adalah bom plastik, berkekuatan dahsyat (high explosive), sangat sensitif, digunakan hanya untuk kepentingan militer (misalnya untuk kepentingan meledakkan jembatan). Bentuknya padat, bisa seperti tongkat kecil atau persegi dan bisa diledakkan dengan menggunakan timer, remote control, kontak kunci, dan sebagainya, diproduksi di Amerika dan Eropa.)
"Jadi... mereka menggunakan faktor alam untuk meledakkan bukit. Bisa jadi kalau tidak hujan deras mereka akan meledakkan jembatannya... kami menemukan dinamit ditempel di pilarnya. Mereka jelas-jelas menantang kita..." Kata Arman
"Umar kamu sudah berhasil menghubungi perusahaan mobilnya?" tanya Sebastian.
"Mereka sedang melakukan pelacakan, Pak."
"Oke..." Sebastian mengambil ubi bakar dari piring Pak Kardi. "Lanjutkan pencarian, Saya yakin tidak jauh-jauh dari situ..."
"Tetap semangat ya semuanya..." sahut Milady.
"Wuih...bening banget suaranya..." desis Heksa sambil memejamkan mata.
"Menyejukkan hati euy!" tambah Moses.
"Bagaikan Yin dan Yang disatukan di mangkok...' Sindir Arman.
"Jadinya apa Pak?"
"Dadar Gulung kayaknya..."
Semua terkekeh.
Tapi langsung terdiam saat Sebastian pura-pura berdehem