Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Worst Moment Ever



Ya Ampun...!


Milady berdiri sambil tertegun di jalanan Tokyo.


Lalu memijat keningnya.


Lalu berkacak pinggang.


Lalu mengingat kejadian beberapa detik yang lalu.


Lalu terpekik sambil memegangi kepalanya.


Apa yang kulakukan?!


Kenapa aku jadi marah-marah?!


Di jalanan teriak-teriak...


Ke Sebastian pula!


Ya Ampun...


Ini bukan diriku...


Bukan...


Ini jelas bukan diriku...!


Lebih tepatnya, ini diriku yang lain, yang selama ini coba kusembunyikan!


Tapi keluar begitu saja karena tergugah melihat Ayumi yang merasa tersakiti!


Aduh...


Sekali lagi aku malah ikut campur urusan orang lain! Batin Milady menyalahkan dirinya sendiri.


Milady, Milady...


Tidak bisakah kau diam saja agar hidupmu tenang?!


Malah cari masalah...


Coba ingat-ingat... Apa tujuan kamu. Pikir Milady.


Pertama,


Membuat Sebastian cemburu, sehingga ia akan membatalkan perjodohan Milady dengan Trevor dan si rambut putih bisa jatuh ke pelukan Milady.


Kedua,


Bisa pilih sesuai situasi dan kondisi :


Membantu Trevor bersatu dengan Ayumi


Atau,


Membantu Sebastian memisahkan Trevor dengan Ayumi.


Pilihan kedua, Milady tidak akan memilih salah satunya. Biarkan takdir saja yang mengatur.


Buktinya, sekarang? Sudah jelas tidak bisa ada campur tangan manusia!


Ayumi sangat mencintai Trevor, dilain pihak ia melakukan kesalahan dengan pergi ke club dan bercinta dengan salah satu host yang ia bahkan tidak ingat tampangnya, saking ia sangat membutuhkan kasih sayang, dan Trevor tidak selalu ada.


Trevor sangat mencintai Ayumi namun sangat kecewa karena Ayumi sudah bertindak terlalu jauh dan kenyataan kalau anak yang dikandung Ayumi bukan anaknya, membuatnya terpukul.


Siapa di sini yang paling kasihan?


Siapapun, Milady tidak harus ikut campur!


Sampai ia menghardik Sebastian...


Apa tadi yang ia tuduhkan?


Astaga...


Milady menyebut Sebastian pembunuh!


"Aarggghh!!" Geram Milady


Bagaimana cara memperbaikinya iniiii!!


*****


DUAGG!!


tendangan berputar mengenai samsak membuat karung kulit berisi pasir tebal itu goyah.


DUAGG!! DUAGG!!


Pukulan demi pukulan menghantam dengan menggunakan buku jari, siku tangan, sampai lutut.


Terlihat goresan robekan pada salah satu bagiannya.


"Anooo... Boss-Sama..." Yuzuki tergagap saat memanggil atasannya yang sedang meradang mengerjai samsak tinju.


DUAGG!!


Yuzuki begidik sambil mengelus tengkuknya. Pemandangan di depannya sudah cukup mencekam, ia tidak harus mengganggunya dengan kalimat-kalimat sepele.


CRASSHHHH....!! Pasir dalam samsak sudah tidak dapat bertahan di dalam, menyeruak tumpah keluar, mengotori setiap sudut lantai.


Sebastian terengah-engah, berdiri memandang pasir yang perlahan mulai menipis berjatuhan dari dalam kulit samsak.


Keringat membasahi seluruh tubuhnya yang hanya menggunakan celana training.


Matanya...


Berkilat menahan amarah.


Urat nadi bersembulan di pinggir dahi dan sepanjang kedua lengannya.


Milady...


Berani-beraninya dia membentakku...


Desis Sebastian dalam hati.


Wanita itu lancang... Kurang ajar dan sok tahu.


Ia sebut Sebastian apa?


Pembunuh?!


Tahu apa dia?!


"Take another stuff..." Desis Sebastian.


Yuzuki menarik napas karena gugup dan meminta bantuan dua rekannya untuk mengambil samsak baru.


Kali ini berwarna hitam, dan mereka bertiga mengangkat dengan susah payah benda itu ke gantungan bekas samsak merah yang buyar.


Sebastian melemaskan otot punggung dan lehernya.


Lalu memasang kuda-kuda.


Ia tidak tahu berapa lama ia bisa meredam emosinya.


Ia sudah dua jam mengerjai samsak.


Dan kini senja mulai menyerang...


*****


"Dari mana?" Trevor sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke onsen yang berada di dalam kamar mereka. Kamar Milady dan Trevor terpisah, tapi beranda mereka terhubung ke satu onsen dengan kapasitas 3 orang.


Milady menghela napas.


"Kamu ini... Main tinggal aja. Dia itu lagi hamil loh..." Keluh Milady.


"Udah ngga ada hubungannya sama aku."


"Jadi?"


"Jadi, apa?"


"Jadi kebersamaan kalian selama bertahun-tahun ini runtuh begitu saja?"


"Ooh... Jadi tetap saja aku yang salah, begitu?"


"Soal dia hamil bukan anak kamu, itu salah dia. Tapi meninggalkannya begitu saja padahal kamu yang mengundangnya ke sana, itu bukan sikap gentleman." sahut Milady.


"Aku ngga tampar dia saja udah suatu sikap gentleman." Sahut Trevor dengan wajah muram.


Pria itu berjalan dengan handuk kecil terlilit di pinggangnya. Tubuhnya tinggi besar dengan siluet otot yang terjaga.


Namun,


Milady lebih menyukai bentuk tubuh Sebastian. Lebih kering dan terlihat lebih proporsional.


Olahan otot hasil olahraga di gym milik Trevor memang keren, tapi olahan otot hasil berlatih bela diri bertahun-tahun seperti milik Sebastian lebih terlihat menawan.


Duh,


Sekali lagi Milady membandingkan Trevor dengan Sebastian...


Milady duduk di bench, menghadap Trevor. Ia menuangkan teh sakura dari poci tanah liat. Lalu menyesapnya perlahan.


Air hangat wangi denganrasa manis membasahi tenggorokannya. Memberinya semangat setelah beberapa saat berusaha menghibur orang depresi.


"Kamu mau membahas ini?" Tanya Milady.


Trevor mengangguk lemah.


"Tapi sepertinya saat ini aku butuh sendiri dulu..." Pria itu berendam sambil merentangkan tangannya, dan menengadahkan kepalanya.


"Oke... Aku ke spa dulu..." Desis Milady sambil beranjak.


Saat Milady akan membuka pintu, wanita itu teringat akan benda pemberian Ayumi untuk Trevor. Sebuah gelang kulit yang senada dengan milik Ayumi.


Lebih baik kuberikan saja padanya sekarang, daripada aku lupa... Pikir Milady sambil berbalik ke arah onsen.


Namun sebelum menggeser pintu kaca itu, Milady tertegun melihat pemandangan di depannya.


Trevor masih menengadahkan kepalanya menatap langit.


Namun ada yang berbeda...


Setetes air mata menuruni pipi pria itu.


Milady menghela napas.


Tentu saja...


Bagaimana mungkin Milady bisa menuduh Trevor tidak peduli dengan Ayumi?


Mereka berdua sama-sama terluka...


Walaupun sebenarnya sama-sama masih saling mencintai...


Milady menggenggam erat gelang pemberian Ayumi untuk Trevor.


sekarang bukan saat yang tepat untuk memberikannya ke Trevor.


Milady akan menunggu sampai keduanya, baik Ayumi maupun Trevor, bisa lebih menguasai dirinya dengan tenang.


Jadi ia meletakkan gelang itu di meja konter dan keluar dari kamar, berencana menuju spa.


eh, tunggu...


Sepertinya ada yang lebih penting dari spa. Ia kan sudah sering merawat dirinya. Lagipula relaksasi sendirian apa enaknya? Selena tidak di sini dan ia enggan masuk ke onsen, takut mengganggu Trevor.


Wah, padahal saat ini ia sedang pegal-pegal. Dan sekarang kesempatannya untuk bersantai sebelum besok menghadapi hari yang sibuk di lokasi cluster.


Hm...


Milady mengetuk-ketuk meja konter dengan kukunya yang dimanicure mengkilat dan diberi kuteks berwarna natural dengan sedikit aksen gliter.


Sebenarnya...


ia tahu tempat yang tepat untuk relaksasi. Malah ada teman mengobrol segala...


dan tempatnya sudah pasti mewah, bisa jadi sekalian disuguhi makan malam berkualitas tinggi, dan yang paling penting, Gratis...


Dan ia juga sekalian mau...


minta maaf karena mulutnya telah lancang tadi siang.


Lalu Milady merogoh ponselnya.


dering pertama,


dering kedua,


sampai dering kelima tidak ada jawaban.


Milady merengut.


Lalu tim kreatif kejahilannya mulai mengambil alih kendali otaknya.


Ia mengetik beberapa kata pesan singkat.


Sebastian,


Aku kangen...


Malam ini boleh tidur sambil peluk kamu?


Send.


Lalu Milady menunggu beberapa saat.


Tidak beberapa lama ponselnya berdenting.


Milady meraihnya sambil senyum-senyum, lalu membuka fitur pesan singkat.


Tapi senyumnya langsung hilang.


Karena balasan Sebastian :


Sana tidur peluk Trevor saja.


Aku sibuk.


Milady terpekik tak percaya.


Haduh...!


Sial sekali ia hari ini! Pikirnya menyesal.