Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Menunggu Kepastian



"Yan... Kasih waktu gue untuk berpikir..." Kata Malik.


Ia duduk dengan kaku di kursinya, bahkan tidak menatap mata Sebastian.


Sangat terlihat kalau Malik sedang memendam kekesalannya.


Hanya bisa terpendam...


Siapa yang bisa melawan Sebastian?


"Iya." sahut Sebastian sambil menghela napas. "Gue kesini cuma mau sampaikan hal itu." Sebastian beranjak berdiri.


Hubungan mereka saat ini kembali bersitegang.


Sebastian bisa saja mendapatkan restu dengan jentikan jari, namun bagaimanapun Malik adalah temannya.


Dan untuk hubungan jangka panjang, ia harus menjalin secara kekeluargaan.


Di depan gerbang, Arman dengan Pagani Huayra Imola, mobil eksotis kalangan eksekutif, sudah siap menunggu Sebastian.


"Bapak mau diantar kemana?"


"Pulang. Setelah itu kamu bisa mengunjungi 'teman-teman' kamu lagi." kata Sebastian.


Arman menyeringai.


"Wah, saya bahkan tidak bisa mengucapkan terima kasih untuk itu..." kata Arman sambil menginjak pedal gas.


"Kamu ngga senang?" gumam Sebastian.


"Terlalu banyak kenangan menyakitkan." kata Arman.


Namun ia haarus melakukannya. Bertemu dengan orang-orang yang menyakiti perasaannya.


Cara menyetir Arman bagaikan berada di arena F1, tidak terganggu kendaraan lain dengan kecepatan yang sama, tanpa rem. Sebastian merasa sedang dibawa dengan pesawat jet, tapi berada di atas aspal.


Mereka hanya saling diam sepanjang perjalanan, Sebastian dengan kegaluannya. Dan Arman dengan rencana-rencana liciknya.


"Sudah sampai pak..." sahut Arman setengah jam kemudian, perjalanan Cibubur-Jakarta Selatan.


"Ada kesulitan hubungi saya." kata Sebastian sambil keluar dari mobil.


"Baik pak." sahut Arman.


Tapi dari senyum Arman yang selembut malaikat, tampaknya sekretarisnya itu tidak membutuhkan bantuan Sebastian.


*****


Dirga berdiri sambil bersandar ke konter operator di depan lobi gedung BNN, menyambut Arman yang datang dengan mobil sport eksotisnya.


Wajah Dirga suram dan agak malas, ia menatap Arman dengan sinis.


Di belakang Dirga, ada beberapa anak buahnya sekaligus anak buah Rama dari kepolisian yang menemaninya.


Mereka khusus hadir menyambut...


Para malaikat maut.


Arman tidak sendirian, ia ditemani wanita cantik berparas latin. Susan.


Dirga mengenali wajah Susan dari daftar buronan inteligen. Dia pernah dipenjara karena tuduhan kepemilikan senjata tajam, namun dibebaskan dengan jaminan... oleh Baskara Beaufort. Pria mana yang tidak mengenal buronan paling cantik seperti Susan...


Rupanya sekarang ia menjadi antek Bataragunadi... Maki Dirga dalam hati.


Detik berikutnya, mobil eksotis lain masuk ke pelataran parkir kantor pusat BNN.


Leonard Zhang dan Baratadhika .


Mereka juga dipanggil terkait game dari Beaufort tech yang mereka luncurkan, seakan memberi pesan ke masyarakat mengenai sindikat yang ada di sekitar lingkungan, yang kini berkeliaran dengan bebas.


Dirga makin tidak percaya diri.


Keempat legenda terkenal di dunia gembong narkotika dan pembunuh bayaran ada di sini...


Rasanya tangan ini gatal ingin menangkap semuanya. Pikir Dirga.


Kalau saja ada bukti kuat...


Namun bukti tidak pernah ada...


Leon terlihat tampak emosi saat melihat Susan.


Wajar, karena wanita itu seakan menantangnya dengan menaikan dagunya.


Leon maju dan mencekik leher wanita itu dengan geram.


Dan mereka terlihat adu mulut di depan gedung.


Dirga dan timnya hanya memperhatikan.


Arman mencengkeran lengan Leon, dan tanpa berbicara ia menepiskannya dengan mudah, lalu mengambil posisi di tengah menghalangi keduanya baku hantam.


Susan tersenyum mengejek Leon.


Baratadhika berjalan masuk ke lobi paling pertama. Tubuh tingginya yang berukuran 210cm, 110kg, seakan memenuhi seluruh ruangan.


Dirga menatap adegan itu dengan helaan napas. Menyesal karena memutuskan untuk pindah ke Jakarta.


Tahu begitu ia tenang-tenang saja di Solo... sambil Makan Bakso Mblenger...


"Pak Kompol ada di sini rupanya..." sapa Bara sambil menyeringai.


"Pak Dhika... Hm... Pak Bara saja deh saya panggilnya ya. Soalnya sudah dikabulkan pengadilan mengenai perubahan namanya kan?" Sindir Leon.


Bara mengangguk puas.


Susan membalas geraman Leon dengan umpatan spanyolnya, dan Leon kali ini berhasil mencengkeram lengan wanita itu dan menariknya.


"Jadi, kamu beneran hamil ato enggak? Aku pingin lihat anakku nih..." sindir Leon.


"Kalau mau marah, sana ke kuburan Pak Baskara! Kami cuma terima order..." seru Susan.


Arman menghela napas mengeluh karena merasa Leon dan Susan sudah berbuat keributan pribadi, tidak seharusnya diumbar di tempat umum.


"Susan ngga pernah hamil, Pak Leon. Semuanya settingan. Sekelas bapak kok bisa-bisanya kejebak sih... Memang sudah takdirnya kali yah..." dengus Arman.


Ia menyerahkan map coklat ke Dirga sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Nih barbuknya. Jadi, siapa yang duluan masuk kandang interogasi?" seringai Arman membuat semuanya merinding.


*****


Sebastian mendapati Trevor duduk di ruang tamu. Sepertinya dia menanti Sebastian.


"Ayah..." sapanya.


Sebastian hanya berdiri diam memperhatikan anak satu-satunya itu.


Trevor menghampirinya dan mengangkat botol obatnya.


"Sepertinya, gara-gara aku, banyak yang sudah kesusahan... terutama ayah." kata Trevor.


Sebastian menatap botol obat yang diangkat Trevor. Obat versi lama...


"Semua hanya mengenai bisnis..." Ujar Sebastian.


"Ayah kalau bohong ngga kentara yah." Trevor menyeringai. "Tapi aku selalu tahu kalau ayah mengalihkan pembicaraan."


"Kamu... Ngapain aja di tempat Milady? Kayak ngga punya rumah, nomaden kesana-kemari... Berikutnya rumah siapa lagi yang mau kamu inapi? Bram? Alex?" Omel Sebastian sambil berjalan ke arah ruang kerjanya.


Trevor mengikutinya sambil melempar-lempar botol obatnya.


"Paling tidak lebih baik di tempat Milady daripada..." Trevor tidak melanjutkan ucapannya.


Sebastian menoleh sambil tetap berjalan. Ia menatap Trevor dengan kesinisan di matanya.


Cemburu... Pikir Trevor.


Ayahnya sedang cemburu padanya.


Atau hal lain,


Yang lebih besar dari kecemburuan...


"Apa? Daripada di tempat Ayumi? Sana pergi... Kamu sudah besar, sudah tahu akibatnya. Kalau bersikeras, ayah hanya bisa sampai sini..." sambung ayahnya.


Trevor menyeringai.


Ayahnya sedang kesal akan sesuatu yang penting.


Bisa jadi, lebih penting dari bisnisnya.


Trevor menahan lengan ayahnya.


"Apa?" tanya ayahnya.


Wah... Pikir Trevor terkesima.


Kalau Ayahnya mutant, pasti ia sudah mengeluarkan lahar.


Dia manusia saja, matanya sudah berkilat begini.


Belum dahinya yang dibayangi semburat nadi di pelipisnya.


Apakah sekarang waktu yang tepat?


Iya, mungkin ini waktu yang tepat, untuk mengutarakan keinginan Trevor.


"Aku ingin ayah menyimpan ini." desis Trevor. "Aku akan berusaha sembuh sendiri. Ibu sudah tiada, jadi kurasa aku akan mencoba..."


"Darimana kamu tahu ibu kamu sudah ngga ada?" sembur Sebastian.


Trevor memutar bola matanya.


"Aku anaknya, aku pasti tahu..." desis Trevor.


"Seharusnya kamu tidak tahu. Sudah berapa lama kamu tahu?" Sebastian mencecarnya.


"Memangnya penting? Itu sudah lama terjadi... Yang penting sekarang, adalah Ayah."


Sebastian berkacak pinggang menatap Trevor.


"Yang penting bagi ayah, adalah kamu hidup dengan aman."


"Semua ayah bukannya menginginkan itu yah?"


"Iya. Semua ayah di dunia ini. Simple kan? Yang begitu saja kamu ngga nurut padahal kamu tahu sendiri."


Trevor terkekeh.


Omelan seorang Sebastian... Sedikit banyak membuat Trevor merasa sangat disayang.


"Ayah, aku tidak akan menghubungi Ayumi lagi. Bukannya aku nurut sama Ayah, tapi karena untuk diriku sendiri. Lalu... Aku ingin ayah menutup proyek obat itu. Karena yang penting bukan obat, tapi mentalku."


"Bagaimana kalau kamu mulai kumat? Dari yang ayah lihat, efeknya belum berkurang."


"Yah... Aku punya ayah dan Milady. Juga teman-teman yang selalu mendukungku. Kurasa itu cukup..."


Mereka saling memperhatikan selama beberapa saat.


Lalu Sebastian menghela napas dan mengangguk.


Dan mengambil obat itu dari tangan trevor.


"Oke, ayah hentikan proyeknya. Sebagai gantinya, kamu harus berusaha sehat sendiri..."


Lalu Trevor memeluknya.


Setelah sekian lama...


Hubungan mereka bukan seperti ayah-anak, lebih kepada relasi bisnis.


Namun sebenarnya, selama ini ikatan mereka lebih kuat dibanding apapun.


Terdengar bunyi dentuman sepatu hak tinggi membentur lantai granit.


Meilinda, memasuki pintu dengan langkah sempoyongan.


Mukanya pucat...


"Loh, kakak dan Trevor sudah pulang?" tanya Meilinda.


"Mel... kamu sendiri kok sudah pulang? Muka kamu pucat." tanya Sebastian.


"Pucat banget loh tante..." Trevor menghampiri Meilinda.


Belum sampai ia meraih wanita itu, Meilinda sudah jatuh tak sadarkan diri.