
Pusing...
Keluh Ayumi sambil meminum pil pain killernya.
Sekujur tubuhnya sakit.
Pahanya nyeri.
Dengan malas ia mengenakan sepatu boot gunungnya, lalu pakaiannya. Sedikit mengeluh karena pantynya sudah tidak bisa dipakai, namun kamarnya sudah dibereskan Arman, jadi sisa-sisa semalam sudah rapi.
Jam berapa pria itu bangun?
Sudahlah... Pikir Ayumi tidak mau tahu.
Sekarang tingggal memikirkan bagaimana caranya ia pulang.
Menumpang siapa...
Atau ia mungkin akan menunggu Arman pulang kerja dan minta dijemput saja dengan heli.
"Ayumi..."
Deg!!
Ayumi menghentikan langkahnya.
Suara yang sangat ia kenal dari arah belakang.
Kenapa...
Kenapa Trevor masih di sini?!
Oh tidak, kabur sudah tidak mungkin!
Mereka berada di satu koridor.
Ayumi tidak menemukan solusi lain, selain menghadapi... Mantan pacarnya.
"Kamu..." Trevor melirik kamar tempat Ayumi keluar barusan.
Kamar Arman.
Lalu ia menatap tajam.
"Aku sudah berjanji ke Sebastian tidak akan menemui kamu." desis Ayumi lirih sambil mundur selangkah.
"Tidak ada ayahku di sini." kata Trevor. "Sejak kapan kamu di sini."
"Dari awal."
"Kamu terlibat dengan semua ini?"
"Iya."
"Bisa tolong jelaskan selengkapnya?"
"Tidak."
"Ayumi..."
"Tolong jangan mendekat. Sebagai ganti jaminan keselamatanku, aku sudah berjanji tidak akan menemui kamu. Jadi tolong mengerti keadaanku. Aku hampir mati dianiaya Yamaguci."
"Kenapa kamu keluar dari kamar Arman?"
"Dia calon suamiku."
Trevor membeku.
"Dia... Apa?" Suara Trevor terdengar menggeram.
"Kami akan menikah agar aku bisa lebih mudah menetap di..."
Brakk!!
Trevor memukul dinding di sampingnya.
Kesalnya sudah memuncak.
"Yang benar saja Ayumi..." geramnya sambil menghampiri Ayumi.
Sial...
Batin Ayumi.
*****
"Cieee gaya banget Pak, pagi-pagi kerja pake heli..." Ipang menyambut Arman dengan seringai bersemangat di wajahnya.
Arman mendengus sambil menyerahkan tas senjatanya ke Ipang. Cowok itu langsung tersungkur ke lantai karena ternyata tasnya sangat berat. Arman menentengnya seakan bukan apa-apa.
"Pinjam dasi kamu, dasi saya entah kemana." desis Arman.
"Iya..." Ipang membawa tas senjata dengan susah payah. Lebih tepatnya menggeret dan menariknya.
"Saya sudah baca notulen kamu untuk konferensi pers kemarin. Lumayan bagus. Kamu yang bikin?" tanya Arman.
"Bukan. Mas Dirga yang bikin..."
"Ha?" Arman menghentikan langkahnya.
Ipang mengangguk.
"Mas Dirga seharian nemenin saya kerja. Ini dia pagi-pagi udah nangkring di meja dirimu... Sampe Mbak Reny kagok sendiri dan akhirnya menyingkir ke operator."
Ngapain Dirga di sini...?
Gerutu Arman dalam hati.
"Hoi!" sapa Dirga, sambil mengangkat tangannya dan tetap duduk santai di kursi kerja Arman.
Arman berusaha cuek, sambil menyalakan ķomputernya duduk di...
pangkuan Dirga.
"Apa sih ini di kursi gue kok ngeganjel..." gerutu Arman.
"Bro jangan gerak-gerak ntar gue bangun..." kata Dirga sambil cengengesan.
"Kamu ngapain sih di sini sayang?" tanya Arman.
"Aku cari kamu, kangen banget nih..." Dirga memeluk Arman.
"Ya Ampun, baru juga ditinggal sehari..." balas Arman.
"Ngga ada slot buat berondong..." sahut Arman.
"Lo masih mentah, pahit..." Dirga mengibaskan tangan ke Ipang.
"Dia tapi udah dipaksa mateng sama Susan." Bisik Arman.
"Kalo buah suntikan cepet busuknya, Yang..." sahut Dirga.
Lalu mereka berdua memandang Ipang sinis.
"Halo 110, saya mau lapor Pak Komandan berbuat asusila, bikin BAP aja gimana?!" sahut Ipang berlagak menelpon.
"Hush, minggir! Kita mau dilaporin!" desis Arman berlagak takut.
"Ngga jadi naek pangkat dong gue kalo ketahuan magang jadi sekretaris Garnet?!" Dirga berlagak takut.
"Pak Armaaaaannn..." suara Yani yang mendayu dari interkom.
"Ya Sayang?"
"Iiih situ geniiit kan udah punya calon istriiii..."
Arman berdecak.
Dia benar-benar lupa.
"Kebiasaan. Kenapa Yan?"
"Dibiasain aja ngga papa sih, kan kita ngga terpengaruh janur kuning kaaan?!"
"Bukan itu. Masalahnya calon Istri saya mantan anggota Yakuza. Kalo kamu di apa-apain gimana..."
Yani terdiam.
"A...anu... Cuma mau mengabarkan kalau Pak Sebastian sudah datang dan beliau minta ditemui di ruang meeting besar. P... Paak..." Yani jadi tergagap.
Sekantor sudah tahu perihal yakuza-yakuza'an ini dan penculikan Milady. Namun pihak personalia sudah mewanti-wanti supaya semua karyawan tutup mulut atau langsung dipecat tanpa pesangon.
Arman menghela napas.
"Oke, Yan. Sekalian nanti siang, kumpulkan semua sekretaris dan operator. Saya mau briefing sebentar."
"Baik Pak."
Arman mengusap tengkuknya.
"Dari tadi pagi feeling gue beneran ngga enak soal dipanggil... Kayak mau diomelin." Arman curhat ke Dirga.
"Ya emang salah lu sih..." kata Dirga.
"Ck! Lo bikin gue makin galau, dasar rese." Arman menendang betis Dirga sekilas.
"Lah gue apa adanya... lo hadepin aja. Mau gimana?!"
"Gue titip nih Pange satu." kata Arman ke Dirga.
"Jangan panggil Pange." sahut Ipang
"Ya udah sa n ge..." sahut Arman sambil berlalu.
"Mulutnya perlu dikasih sunlight nih Pak Arman..." gerutu Ipang.
*****
Ayumi melahap hidangan di depannya dengan lahap. Croisant, sup jagung, beberapa gorengan pasar... Ia makan bagaikan ini hari terakhirnya di bumi.
Ini karena Ares Manfred sudah menguras tenaganya seharian!
Trevor tadi menariknya untuk makan karena perut Ayumi tiba-tiba berbunyi kencang. Jadilah mereka sekarang berada di ruang makan villa.
Namun pria di depannya ini hanya menunggunya makan, tidak mengajaknya mengobrol ataupun bertanya macam-macam.
Syukurlah... Pikir Ayumi.
Trevor tertegun menatapnya.
Siapa wanita ini?
Secara fisik sangat mirip dengan Ayumi. Tapi secara sifat berbeda 180 derajat!
Lagipula... Pakaiannya...
Jaket kulit? Dress one piece di baliknya dan... Sepatu boot?! Walaupun semua buatan desainer Paris namun jelas-jelas bukan style Ayumi yang lebih ke feminin.
Wanita ini bahkan sama sekali tidak ingin menatap mata Trevor.
Hanya berkutat dengan makanan yang terhidang di depannya.
Tubuhnya penuh lebam dan luka. Beberapa perban di sana-sini.
Juga... Tanda apa itu di lehernya?
Trevor mengernyit tidak senang.
Ini bukan Ayumi yang dikenalnya selama lebih dari 10 tahun...
Ayumi melirik Trevor sekilas.
Lalu kembali menyeruput sup langsung dari mangkuknya.
Mata Trevor terlihat sedang menjelajahi tubuh Ayumi, menganalisa sekaligus membuat asumsi.
Ponsel Ayumi berdering. Ponsel khusus dari Agency. Tertera di layarnya nama 'Ares Bakayarou'.
"Moshi-moshi..." sahut Ayumi dengan mulut penuh roti.
"Aku dalam perjalanan mau ketemu Pak Sebastian. Baguslah kalau kamu lagi makan..."
"Laki-laki seperti kamu benar-benar harus diajari cara memperlakukan wanita! paling tidak harusnya ada roti di sebelah tempat tidur! Aku masa harus jalan 2 lantai ke ruang makan?! Kamu pikir aku robot? Lukaku makin nyeri, pain killer ngga efek!"
"Kamu jangan bawel, aku lagi pusing! Nanti sampe rumah aku beliin martabak, oke?! Kamu bisa makan tuh sepuasnya... hati-hati di jalan yaaa!" Arman menutup teleponnya.
"Eh tunggu... Aisshh! Baka!! Dia benar-benar menyuruhku pulang sendirian!! Cowok Breng sek!!" seru Ayumi kesal.
"Sial!" gerutunya.
Lalu Ayumi tersadar...
Kalau di depannya masih ada Trevor.
Menatapnya dengan mata terbelalak.