Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Another Gentleman Story, Begin...



Warning!


Mengandung Keseksian Seorang Arman.


Halusinasi berlebih, tanggung sendiri.


*****


Arman terbangun dengan kondisi kepalanya pusing pagi itu.


Hangover... Ia padahal jarang mabuk.


Entah kenapa ia hanya ingin melupakan sejenak aktivitas menyebalkan seharian yang ia lalui, jadilah sepeninggal yang lain, Dia dan Leon nongkrong di Bar, mengenang masa-masa saat menjadi anak asuh Pak Baskara, dan berakhir di...


Arman bahkan lupa cara ia pulang.


Dan apa saja yang ia lakukan setelah menegak beberapa sloki cairan yang menghangatkan tubuhnya... ia juga lupa cairan alkohol yang mana. Mungkin sejenis Liquor... Ingatannya hanya mencatat efek melayang di tubuhnya.


Dan saat ini, ia terbangun karena...


Aroma sedap.


Mengetuk lambungnya.


Dalam keadaan mengeluh karena matanya silau terkena cahaya mentari, ia bisa melihat sesosok wanita dengan celemek di dapur, membelakanginya.


Ibu?


Atau Mama?


Kalau itu Ibu, sosoknya terlalu tinggi dan ramping. Ibunya hanya berukuran 148cm, dengan perawakan agak gemuk.


Kalau itu Mama, rambutnya terlalu hitam dan kulitnya terlalu putih. Mama tinggi dan rambutnya pirang. Kulit Mama tidak terlalu mulus, ada beberapa bercak khas kaukasian.


Dan... Seperti ia sudah lama mengenal wanita ini.


Rasanya sangat familiar...


"Sudah bangun? Mau obat Maag?" suara bening dengan aksen aneh.


Segelas air putih disodorkan ke dekat kepalanya yang masih lengket dengan bantal.


Arman menegakkan tubuhnya yang terasa sangat berat dengan susah payah. Kepalanya sangat sakit.


Lalu duduk di pinggir ranjang, menerima segelas air dan sebutir obat maag beraroma mint.


Ini hari apa yah?


Pikirnya.


Arman memicingkan mata mencari ponselnya.


Tidak ia temukan dalam jangkauan pandangannya.


"Handphone dan dompet kamu di depan tv. Ada beberapa Missed Call dari Janet, Yani, Gloria, Rosa, dan Clara." Kata suara bening itu.


"Dan satu dari Sebastian Bataragunadi."


Pandangan Arman tiba-tiba langsung jernih.


Dan pikirannya mulai berfungsi normal.


Ia berdiri, melewati Ayumi dan berjalan menuju ponselnya.


Benar...


Sebastian menelpon, pukul... 3 dini hari.


Astaga Pak... Dipikirnya aku bisa standby 24 jam mengurusi kebutuhannya?!


Arman mengeluh dalam hati.


Lalu menelpon balik.


"Pagi Pak..." sapa Arman saat dering ketiga diangkat.


"Kalau kepala kamu masih sakit, nanti saja telepon lagi." sahut Sebastian dari seberang telepon.


"Maaf Pak, saya sudah standby." desis Arman.


"Pengamanan untuk besok sudah 100% kan?" tanya Sebastian.


Arman agak berpikir.


Pengamanan untuk acara yang mana yah?!


"Nikahan Dimas." sahut Sebastian mengingatkan.


Oh... Acara itu... Gumam Arman malas.


"Baru..." Kepalanya sakit lagi. Ia butuh makan. "...sekitar 85% karena tiba-tiba ada 10 tamu undangan tambahan, satu orang tamu butuh pengaman extra sekitar selusin personel."


Dia pikir cari personel untuk pengamanan semudah itu. 10 tamu tambahan semuanya adalah perdana menteri dan pejabat negara tetangga.


Semua adalah tamu Sebastian... Padahal itu pernikahan Dimas.


Arman mengeluh dalam hati.


"Besok harus 100%. Kamu bisa minta bantuan Irwan." terdengar suara Sebastian yang sewot.


Ya Ampun... Dipikirnya polisi ngga ada kerjaan lain apa?!


"Ya Pak... Nanti saya cari ke pelosok, kalau perlu preman Hari Fadil saya bayar lebih biar berbalik ke kita." Arman menyindir.


"Itu kan tugas kamu, begitu saja kesal..."


Dengus Sebastian.


"Makanya jangan mabok terus, maen cewek terus... Pusing kan jadinya..." tambah pria berambut putih itu.


Arman mulai sebal. Kenapa Sebastian jadi mengatur-atur hidupnya. Orang tuanya juga bukan, ngasih bonus saja cuma 2x gaji sementara kerja Arman seperti pembantu+ bodyguard+ sekretaris+ supir. Seharusnya 4x lipat kan...?!


"Besok 100% pak, saya usahakan cari orang. Ngga usah libatkan polisi, nanti orang kita malah ketangkep semua..." sahut Arman.


Sebuah gerakan di sudut matanya.


Ia melirik Ayumi yang berdiri memperhatikan dirinya di sebelah kompor.


Oh iya, ada kelinci putih yang tinggal di rumahnya mulai sekarang.


Dengan 'bercak hitam'...


Bercak hitam yang harus ia hapus perlahan-lahan...


"Bisa tolong ambilkan minum lagi?" bisik Arman ke Ayumi.


Ayumi membuka kulkas dan mengulurkan air mineral dingin dengan segel masih tertutup.


Tepat seperti yang Arman butuhkan.


Dan...


Wanita itu juga mengulurkan celana training.


Arman mengernyit.


Buat apa celana training?


Lalu wanita itu menunjuk tubuh Arman dengan dagunya tanpa bersuara.


Arman menatap ke bawah...


Ia dalam keadaan tanpa busana.


Kemana pakaiannya?


"Sebenarnya saya menelpon kamu karena ada satu lagi yang saya tanyakan." sahut Sebastian


Arman menatap jam digital di dinding.


Hari Sabtu... Jam 8 pagi.


"Ya Pak." Arman berusaha sabar. Perutnya keroncongan.


"Bagaimana cara meredakan amarah wanita yang bertingkah kekanak-kanakan?"


Arman berdecak.


Itu lagi...


Berapa puluh hadiah yang Arman pilih untuk Milady.


Semuanya belum tentu berhasil karena Milady wanita yang unik, berbeda dengan wanita normal yang Arman ketahui.


Dan Sebastian tidak pernah tahu bagaimana cara memperlakukan wanita pujaannya, walaupun saat ini sudah jadi istri.


"Beliin crayon aja pak..." Goda Arman.


"Jangan bercanda. Dia ngga lepas dari game. Mau saya matikan listriknya, nanti malah ngamuk..."


"Oh, pastikan dia sudah potong kuku yah pak..." Arman jadi lebih bersemangat menggoda Sebastian.


"Tadinya saya mau tambah gaji kamu karena kamu harus mengurus Asse, sepertinya harus saya bata..."


"Turuti saja maunya Mbak Milady Pak." Sahut Arman cepat. "Bapak ngga usah egois ingin macam-macam. Dia minta A kasih A... Ngga usah dilebihin ngga usah dikurangin. Lagi tantrum itu... Bapak bikin salah lagi kali..." sahut Arman cepat. "Yang gaji saya beneran yah Paaak." Dia mencoba merayu Sebastian.


"Ya biarkan saja sampai dia bosan. Itu cara dia meredakan emosinya. Atau... Bapak sekalian saja belajar main game. Biar lebih romantis..." Arman terkekeh.


"Saya ikuti usul kamu, kalau Milady mereda, gaji kamu naik. Kalau dia malah makin aneh, kamu saya..."


"Ngomong-ngomong kapan terakhir kali Mbak Milady datang bulan?" tanya Arman cepat. Niatnya ingin mengalihkan perhatian.


"Maksud kamu..."


"Iya siapa tahu dia lagi PMS... Atau... Sebaliknya. Ditanya saja pak. Menurut saya type wanita seperti Mbak Milady lebih menyukai keterbukaan, jadi lebih suka ditanya langsung."


"...tadi... 'Sebaliknya' itu maksud kamu apa?" tanya Sebastian.


"Menurut bapak apa?"


"Ngga usah balik nanya Arman... Saya bukan cenayang."


"Ngga usah nanya kalau sudah tahu pak, saya ini single loh, malas kalau ditanya mengenai permasalahaan istri... Buat saya nikah itu merepotkan."


"Saya doakan kamu jadi bucin sekalian."


Dan Sebastian menutup teleponnya.


Arman mendengus.


Bodo amat sama istri orang lain...


Sekarang... Dimana dia harus cari personel tambahan...


Arman menghela napas sambil mengenakan celana trainingnya lalu duduk di meja makan.


Sudah tersedia roti bakar dan telur ceplok, dengan sedikit sayuran warna warni.


Ia memang butuh sesuatu yang mudah dicerna untuk meredakan hangovernya.


"Kamu butuh kopi atau semacamnya?" tanya wanita itu.


"Hm..." serasa punya ART... Asik juga. Pikir Arman "Boleh." desis Pria itu.


Tapi kalau hanya dengan begini Ayumi berharap Arman akan memperlakukannya dengan lebih lembut... Eit, nanti dulu!


Arman memperhatikan kehidupan wanita ini hampir sepanjang kariernya di Garnet Security, karena ketergantungan Trevor ke Ayumi dan karena kecurigaan Sebastian. Itupun dia masih bisa kecolongan! Arman mengerti benar kalau Ayumi adalah wanita yang licik dan penuh dendam. Juga, sangat licin. Dengan wajah innocentnya dia menipu semuanya.


Tapi...


Bukan Arman namanya, kalau ia tidak bisa mengatasi semua akal bulus medusa...


Sekali melihat mata wanita itu, maka jadilah batu. Membatu, lebih tepatnya. Terpaku terhipnotis dan mengikuti bagai kerbau dicucuk hidungnya oleh gembala. Seperti Trevor...


Namun, hal itu tidak berlaku bagi Arman.


Karena...


Dia sendiri sudah jadi 'batu'... Hatinya membatu sejak kedua orang tuanya meninggal.


Berapa banyaknya prestasi, berapa banyaknya kesibukan dan berapa banyaknya wanita dalam kehidupannya, belum ada yang bisa menghidupkan lagi hatinya.


Kembali lagi ke kehidupan nyata.


Ia menghubungi Dimas.


Dering pertama.


Arman berpikir.


Kenapa yah ia menghubungi orang ini?


Dering kedua.


Arman kembali berpikir.


Entahlah, hanya merasa kalau Dimas memiliki solusi atas segalanya.


Dering ketiga.


"Dimas ganteng di sini. Sapa yak?" terdengar sapaan dari seberang.


Arman mencibir.


"Pak Dimas, ini Arman."


"Pak Arman! Tau ngga sih semalem lo dan Leon ketiduran bareng di bar?! Udah kayak Kakak Beradek Mafia. Bentar lagi nopelnya terbit... Motor bapak masih di club yak, gue udah bayarin parkirnya buat semalem." langsung saja mulut Dimas menyerocos dengan heboh.


Oh, jadi Arman bisa pulang dengan selamat sampai sini karena diantar Dimas...


"Oh, Ya Pak Dimas. Makasih ya. Saya suka lupa diri kalau bertemu rekan seperjuangan soalnya. Walaupun saya dan Pak Leon beda background, saya polisi dia gangster, tapi tetap saja sama-sama anak asuh Pak Baskara."


"Ini nomor lo, gue save ya..." sahut Dimas.


"Pak, saya menelpon karena ingin minta bantuan." sahut Arman sambil memasukan sepotong wortel yang dipanggang dengan butter ke mulutnya. Lumayan bisa masak juga si medusa...


"Ya Pak?"


"Saya kekurangan orang untuk pengamanan di pernikahan Pak Dimas besok, ada referensi?"


"Hah... Bukannya besok udah 200 personel yah yang diturunkan?!" desis Dimas.


"Iya..."


"Masih kurang?! Tamunya darimana aja sih si Pak Sebastian nih suka bikin rusuh!"


Lah, dia pikir kurang rusuh apa dirinya?! Batin Arman.


"Saya email daftarnya saja yah, tapi janji sama saya, sebelum membuka email dari saya... Tenangkan hati dulu."


"Lo jangan nakut-nakutin gue dong..." suara Dimas terdengar kurang percaya diri.


"Yang saya bisa katakan, ada 2500 undangan dan semuanya adalah pejabat penting di perusahaan besar dan pemerintahan banyak negara..."


Terdengar suara orang memukul bantal dari seberang.


"Sebenarnya masing-masing dari mereka juga memiliki ajudan dan bodyguard sendiri, namun dari Garnet Grup juga menyediakan jasa pengamanan. Masalahnya saya kekurangan sekitar 50 orang lagi karena ada 10 tamu yang dijadwalkan datang di saat terakhir..."


Terdengar suara orang memukul kasur.


Arman terkekeh.


Ia sebenarnya kasihan dengan Pak Dimas.


Orang biasa yang diangkat untuk dijadikan... Budak.


Kalau bisa memilih, Arman akan jadi dirinya sendiri saja dibanding harus jadi Dimas.


Hanya karena jatuh cinta pada Ratu Bataragunadi...


"Gue ada kenalan... Preman pasar. Namanya Bang Sa'ad. Tadinya mau gue undang jadi tamu... Tapi biarlah nanti gue traktir mereka di hari lain aja. Mereka juga sering di hire Trevor dan MasBram buat pembebasan lahan..."


"Siapa namanya? Bang**sat?!" Arman mengernyit


"Nyebutnya jangan di satuin. Bang Sa'ad..." suara Dimas terdengar pelan. Mungkin dia sedang memendam kepalanya di tumpukan bantal karena depresi.


"Oh... Boleh saya minta kontaknya Pak?"


Ayumi terlihat bersandar ke kursinya dengan hati-hati, dan memakan makanannya sambil menonton televisi. Terlihat kernyitan di alisnya, mungkin menahan sakit pada punggungnya yang masih terluka.


Wanita itu tidak berbicara apapun, namun masih memakai kimono hotel yang waktu itu.


Arman menghabiskan makanannya, dan masuk ke kamar mandi.


*****


"Mau pergi?" tanya Ayumi.


Ia bertanya karena Arman sudah mengenakan pakaian casual rapi.


"Iya... saya pulang agak malam." lalu memperlihatkan kartu berwarna hitam ke Ayumi. "Isinya 10 juta, biaya hidup kamu sebulan. Beli pakaian atau make up yang kamu suka, secara online. Kalau butuh tunai, di laci ada sejuta." Ia memasukan kartu itu ke laci


Ayumi menatap Arman tanpa ekspresi.


"Kamu tidak diijinkan mengambil paket ke lobi sendirian, nanti kalau ada paket, teman-teman sekuriti saya di bawah akan meletakkannya di depan pintu." sambung Arman.


"Saya pulang agak malam. Kamu bisa..." Arman menatap Ayumi dari atas ke bawah. "Persiapkan diri kamu. Mungkin saya butuh kamu nanti malam."


"Butuh saya? Untuk apa...?"


"Semua ini ngga gratis, dan kamu hanya punya tubuh kamu untuk membayarnya."


Ayumi terpekik tertahan mendengarnya.


Maksudnya...


Untuk tempat tinggal dan kebutuhannya harus dibayar Ayumi dengan menyerahkan tubuhnya untuk dikerjai Arman? Begitu?!


Ayumi melotot ke arah Arman menahan amarah.


"Saya cukup lembut kok kalau kamu ngga mencoba kabur..." Arman terkekeh licik.


"Semoga kamu ngga selamat dan pekerjaan kamu tidak lancar..." sahut Ayumi sambil memalingkan mukanya dan kembali menonton tv.


Arman mendengus meremehkan lalu membuka pintu dan keluar.


*****