Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Man to Man



Arman masuk ke lift dengan Trevor berdiri di sebelahnya.


Ia menekan tombol 50.


Saat ini pukul 22.00, kebanyakan tenant di kantor sudah tutup.


Lift berhenti di lantai 25.


Sena, Security gedung yang belakangan booming karena ketampanannya masuk ke dalam lift sambil tersenyum ke Arman.


Sena menggunakan pakaian casual, Trevor mengernyit melihat tato naga di lengan pria itu.


"Hei Bro..." Desis Arman sambil berjabat tangan ala lelaki ke Sena. "Gimana tawaran Saya buat masuk Agency?"


"Kayaknya harus Saya skip, Pak Arman. Saya dapet tawaran juga di Garnet Bank jadi sekretaris direksi. Tresna katanya mau fokus ke Garnet Agency saja. Dan lagi..." Ia menunjuk wajah Arman.


"Saya punya tiga tanggungan, masih pada bayi... Jadi sebisa mungkin pekerjaan yang biasa aja. Ngga tega saya, kalo luka-luka kayak bapak begitu."


Arman mendengus. "Kamu kerja di bank harus punya title loh..."


"Iya, kemarin orang dari Jarvas datang dan menawarkan beasiswa."


"Jarvas?" Arman mencebik. "Dibantu kakak ipar rupanya ya, hehe,"


"Rezeki bisa dari mana saja, Pak Arman. Termasuk jodoh juga," Sena menyeringai penuh arti, membuat Arman langsung kehilangan senyumnya.


"Hm... Selamat ya bro." Kata Arman.


Sena menaikkan sebelah alisnya. Lalu memiringkan kepalanya ke arah Trevor.


"Bisa juga Pak Trevor luka-luka..."


Entah itu pertanyaan atau sindiran.


"Bisa. Saya manusia, bukan dewa." Dengus Trevor.


"Hm... Pengalaman saya saat di penjara, terkadang untuk bertahan hidup tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Beraliansi lebih baik..." Sahut Sena.


Trevor menatap sekuriti itu dengan terperajat.


"Kamu ... Pernah di penjara?! Kok bisa kerja di sini?!" Sahut Trevor.


"Pembunuh aja bisa kerja di sini kok." Balas Arman, maksudnya adalah dirinya.


"Iya, saya kenal Pak Arman dan Pak Dirga saat di penjara," sahut Sena.


"Kenal Arman? Jadi kasus kamu narkotika." kata Trevor.


"Betul," sahut Sena. Lift berhenti di lantai 25. "Mari Pak," Dan Sena keluar dari lift.


"Dia suami Sandra Ellen." sahut Arman.


Trevor menatap Arman.


"Sandra Ellen Bagaswirya? Pemilik toko perhiasan? Adik Gerald?!"


"Iya. Makanya dia bisa kerja di sini. Setelah kami tes, Pak Sebastian terkesan. Juga selama ini Belum ada yang bisa menantang Gerald kecuali Sena."


Lift berhenti di lantai 40.


"Sudah cukup cameo-nya." Gumam Arman ke Trevor.


Janet dan Yani, dengan pakaian seksi mereka, masuk dan terpana melihat Arman.


"Paak Armaaaannn astaga dirimu luka-luka!" Janet langsung mengecup bibir Arman.


"Eh, si pec*n sabar dong! Dia bukan cuma punya lo!!" Seru Yani sambil mendorong Janet dan ikut melu mat bibir Arman.


"Ikut ke club yuk sayang? Besok weekend loh..." Rayu Yani.


"Sekalian briefing kita. Kan tadi siang briefingnya kepotong..." Janet menciumi leher Arman. Tangan wanita itu sudah merambat kemana-mana.


"Kalian ini kan sudah saya bilang kalau..."


"Kayaknya kita ngga takut sama Yakuza-yakuza'an sih... Dan lagi kita baru tahu, calon istri kamu kayaknya ringkih banget. Sekali kita dorong juga jatoh..." Sahut Janet.


Arman mencengkeram leher Janet dan menekannya ke dinding lift.


"Ekh...Ar...man?..." Janet tergagap karena napasnya langsung sesak.


"Sekali lagi kamu bicara begitu... Kamu habis. Ngerti?" Desis Arman dingin.


Yani langsung terperangah dan mundur mepet ke dinding lift saat melihat temannya terdesak.


"Lep...as..." Janet meronta kehabisan napas.


Pintu lift lantai 50 terbuka.


Arman menepis tubuh Janet keluar lift dengan kasar.


Wanita itu tersungkur ke lantai, lalu ia terbatuk-batuk.


"Dan jangan sentuh saya lagi. Sekalian resign kalau perlu..." Sahut Arman dingin sambil melewati Janet dan Yani.


*****


"Kamu labil juga ya." Sahut Trevor.


"Mereka hanya pengalih perhatian dikala senggang." Kata Arman sambil memencet sandi pintu.


"Dalam sehari kamu senggang berapa kali?" Sindir Trevor.


Arman menyeringai.


Tapi tidak menjawab.


Arman memeriksa kualitas senjatanya sebelum memasukkannya ke bagasi mobil emas Sebastian.


"Bagaimana perasaan kamu terhadapnya?" Tanya Trevor.


"Apa yang terjadi saat banjir? Kalian bercinta? Bercinta sebelum berpisah? Atau sebagai penyembuh dari hipotermia?!" Balas Arman. Nadanya sinis.


"Dari pertanyaan saya, seharusnya saya tidak perlu menjawab pertanyaan Pak Trevor."


"Lagipula Pak Trevor sudah tahu sendiri... Dia sudah tidak mencintai anda." Arman menutup bagasi mobil dan menguncinya.


"Dia... Memalsukan kehamilannya. Sampai begitu? Benarkah palsu atau dia keguguran atau..." Trevor tampak ragu.


"Dia memalsukan seluruhnya, sampai laporan hasil USG. Kami pernah melakukan hal sama saat salah satu anggota saya, Susan, menyamar untuk mengancam seseorang. Mereka memasang alat pencegah kehamilan di rahim mereka agar sel telur tidak terbuahi."


"Maksudnya KB? Kontrasepsi?"


"Begitulah."


"Ayumi juga...?"


"Sampai sekarang masih terpasang. Kalau di rontgent juga terlihat..."


Trevor terdiam sambil bersandar di meja kerja ayahnya.


Ia termenung.


Arman menyadari satu hal.


Trevor sangat mencintai Ayumi.


Berbeda dengan Arman yang hanya menganggap Ayumi hanya sebagai 'wanita paling menarik', Trevor menganggap Ayumi adalah dunianya.


Akan butuh waktu lama sampai rasa cintanya menghilang.


"Dia memilih bersama kamu." Desis Trevor.


Arman mengangguk.


"Iya. Entah kenapa... Saya rasa bukan hanya karena saling menguntungkan. Tapi lebih ke... Latar belakang. Sisi psikologis. Saya dan Ayumi memiliki latar belakang keluarga yang sama... Bahkan... Berkaitan."


"Saya sudah mendengar hal itu, saya dengar rekamannya..." Kata Trevor. "Saya turut berduka."


Kali ini Trevor sungguh-sungguh tulus mengucapkannya.


Arman mengangguk.


"Saya sudah mati rasa. Lama sekali saya berduka. Kini seperti... Apa ya... Lega dan lepas..." Desis Arman sambil duduk di sebelah Trevor.


Sejenak mereka berdua terdiam, dengan pikiran masing-masing, mengurutkan semua kejadian.


*****


Susan menatap Ipang yang sedang membuat nasi goreng sambil joged tik tok.


"What you know about rollin' down in the deep?.... When your brain goes numb, you can call that mental freeze... Yeah... bla.. bla.. bla... Astronout in the ocean... ngga hapal lagi... Nasi goreng ajib..."


Extra goyang pan tat.


"Ibu kamu ngga suka sama aku." Kata Susan sambil bersungut


"Ibu aku ngga suka manusia." Kata Ipang.


"Dia jelas-jelas mengusirku."


"Dia juga mengusir anaknya sendiri."


"Kita ngga bisa menikah tanpa restu ibu kamu."


"Kita bisa nikah pakai restu bapakku.


"Kamu ngejawab terus deh."


"Kalo diem tambah salah..."


Lalu keduanya diam, hanya ada Ipang dengan bunyi 'sreng-sreng' penggorengan.


"Bapak kamu menatapku dengan pandangan aneh."


Ipang mencibir sambil menatap Susan.


"Iyaaa... Makanya langsung kupotong, ngasih tau dia, kalo kamu karyawan Pak Sebastian dari agency."


"Memang bapak kamu begitu biasanya?"


"Biasanya enggak. Kan kamu memang cantik... Coba tanya readers-nya Angspoer..."


"Aku risih."


"Apalagi aku..."


"Terus gimana?"


"Ya tunggu aja lamaran bapakku."


"Kalo aku dilamar jadi istri kedua-nya gimana?"


"Njir..." Ipang mematikan kompornya. "Kamu mau jadi istri kedua bapakku?!"


"Dia lebih ganteng dari kamu."


"Kamu serius bebep!?!?!??"


"Aku bercanda sayang... Kamu sih cuek sama aku. Daritadi diajakin ngomong malah sibuk joged ga jelas."


"Itu buat menghibur hatiku yang lagi galau, cantik..." Ipang meraih piring di rak. "Tapi kamu serius itu?"


"Serius apa?"


"Gantengan bapakku daripada aku?!"


"Makanya... Kamu jaga baik-baik diriku ini..."


"Itu belahan dada kamu jangan rendah begitu. Besok pake mukena aja kalo ke rumah..."sahut Ipang.


*****