
Seperti biasa, saat Milady memasuki lobi kantornya, beberapa pasang mata menatapnya lekat-lekat dari kepala ke kaki. Yang laki-laki semata-mata untuk menghibur indra penglihatannya, yang wanita biasanya membicarakan mengenai penampilannya.
Melihat sikap orang-orang terhadap dirinya, pikirannya melayang ke masa lalu. Saat ia masih remaja dengan penampilan kinyis-kinyis, tetapi jumlah rekeningnya ala konglomerat.
Waktu itu...
(Flash back On)
Milady menatap buku tabungannya dengan mata berkaca-kaca dan tangan gemetar.
Ia masih di Garnet bank, tempatnya memprint buku tabungan.
Bank ini adalah bank swasta yang relatif baru, namun dengan cepat melejit ke Bank konvensional nomor 5 untuk kategori customer satisfaction.
Dan Milady tertarik membuka rekening di sini karena hampir semuanya dilakukan dengan sistem. Ia baru saja mendapatkan KTP, dan secara usia dia bisa dikategorikan dewasa dan bisa membuka rekening sendiri tanpa wali.
Saat ia masih gemetar, dua orang Sekuriti bank menghampirinya.
"Permisi Mbak..." Sapa pria berperawakan tinggi besar itu.
Milady menoleh dengan cepat ke arahnya sambil membelalakkan matanya.
"Bisa ikut kami sebentar?" Tanya pria itu. Nada bicaranya sopan namun penuh penekanan.
Milady mengernyit.
"Ada masalah apa pak? Anda punya surat perintah pengadilan untuk membawa saya ke tempat anda? Kalau tidak, saya bisa hubungi pengacara saya dulu..." Tembak Milady langsung.
Ia belajar kata-kata itu dari film Crime Scene Investigation.
Sekuriti menatap Milady dengan kaget. Mungkin ia tidak menyangka kalau Milady bisa berkata seperti itu.
Milady sebelumnya sudah berjaga-jaga.
Seorang anak remaja seperti dirinya, belum pernah bertransaksi di Bank, sekalinya bertransaksi dapat kiriman uang milyaran. Sudah pasti pegawai Bank curiga.
Namun dari segi hukum, mereka tidak bisa membawa Milady dengan tuduhan apa pun, karena dari mana pun transaksi itu berasal, hal itu dianggap legal.
Apakah mereka menganggap Milady terlibat pencucian uang? Tuduhan tersebut bisa saja terjadi padanya, seperti saat ini.
Dan untuk itulah Milady belajar kata-kata itu.
"Kalau begitu, tolong hubungi orang tua anda, agar kami bisa berbicara dengan mereka." Sahut Securiti.
"Saya ingin lihat aturan tertulis bank ini, mengenai hal itu. Karena secara usia, saya diperbolehkan bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Saya membuka rekening sendiri dan saya memiliki kartu identitas yang sah. Kalau peraturan tertulis sudah ada, baru saya bersedia memanggil orang tua saya. Saya tunggu setengah jam di sini yah pak." Sahut Milady sambil duduk di ruang tunggu.
Ia memiliki nomor telepon pria yang menyewanya itu, tapi tidak enak mengganggunya. Karena secara teknis, transaksi mereka sudah selesai.
7,5 miliar ada di rekeningnya.
Dikirimkan dari situs pelelangan.
Perbuatannya memang ilegal, tapi itu bukan urusan orang lain.
Dan di sini, ia tidak mengganggu siapa-siapa.
Sekuriti itu menghela napas dan dengan ia ragu menatap Milady. "Baik Mbak, mohon jangan meninggalkan area Bank sampai kami kembali."
"Saya akan meninggalkan area bank, setengah jam dari sekarang, kalau kalian tidak bisa memperlihatkan aturan tertulis. Saya juga punya kegiatan sendiri." Sahut Milady dengan senyum manisnya.
Kalau mereka punya peraturan tertulis, rencana B berjalan.
Ia memiliki banyak rencana.
Yang penting, jangan sampai orang tuanya tahu.
Tidak sampai 10 menit, seorang pria dengan pakaian rapi, secara keseluruhan bisa dibilang tampan, namun lebih ke mengerikan. Dingin dan tanpa ekspresi, menghampiri Milady.
"Selamat siang Mbak Milady. Kalau boleh saya ingin ngobrol sebentar? Kalau Mbaknya tidak nyaman, bisa mengobrol di area customer service di sana?" Pria itu mengarahkan Milady ke tempat terbuka.
Lebih baik daripada ruang interogasi. Pikir Milady.
"Oke." Jawab Milady.
Ia mengikuti pria itu berjalan ke meja CS.
Seorang gadis dengan seragam CS menatap pria itu bagai melihat setan, ia gemetaran dan otomatis menyingkir untuk mempersilahkan pria itu duduk di kursinya.
Padahal pria itu tersenyum padanya.
Siapa dia?
Dari setelan pakaiannya yang terlihat mahal, sepertinya dia pejabat eksekutif di sini.
"Mau minum apa Mbak? Teh? Kopi? Air putih?"
"Hm... Air putih dingin, ada?" Tawar Milady.
Pria itu tersenyum dan memberikan kode ke CS untuk memberikan keinginan Milady.
"Jadi, ada yang mau disampaikan ke saya?" Tanya Milady sambil tersenyum manis.
Pria itu kini tersenyum juga, tetap dingin.
"Perkenalkan sebelumnya, Nama saya Kamadhanu Rusli, saya Kepala Divisi Unit Kepatuhan disini."
"Jadi, apa yang saya langgar?" Tanya Milady.
Pria itu tampak mengutak-atik komputer, lalu mengarahkan layarnya supaya juga dilihat Milady. Tulisannya 'Pelaporan APU-PPT'.
"Sebelumnya terima kasih telah memilih Bank kami sebagai media bertransaksi." sahut pria itu. "Sebenarnya Mbak Milady tidak melanggar apa pun di sini, justru kami ingin melindungi hak-hak Mbak Milady sebagai warga negara yang taat membayar pajak dan sebagai nasabah bank ini. Kami harus yakin transaksi Mbak Milady aman untuk mbaknya dan sesuai ketentuan pemerintah."
"Hm... Jadi, ada masalah apa? Apa karena saya mendapat transfer 7,5miliar dari situs pelelangan saat transaksi pertama? Bukankah itu hak pribadi saya? Saya memilih untuk menggunakan Bank, itu berarti saya kan juga bayar pajak dan biaya administrasi di sini.."
"Benar Mbak, itu sebabnya saya berterima kasih. Dan perkiraan Mbak Milady juga benar. Kami melakukan wawancara ini karena hal itu. Kami perlu yakin kalau keselamatan Mbak Milady masih terjamin... Karena praktek ilegal pencucian uang jaman sekarang juga bisa menggunakan gadis-gadis muda sebagai kambing hitam."
Sahut pria itu.
Milady terdiam.
Ia menyimak.
"Mafia yang mencuci uang, menggunakan rekening orang lain. Pada saatnya, polisi akan menangkap pemilik rekening, mafianya malah kabur..." Tambahnya lagi.
"Maaf yah Mas..."
"Panggil saja Danu."
"Ehem... mas Danu." Milady tersenyum. "Sepertinya saya tidak terlibat dengan hal-hal seperti itu sih. Ini karena saya melelang emas warisan orang tua saya. Kebetulan pembelinya dari luar negeri. Orang tua saya sih masih hidup tapi mereka belum tahu kalau saya jual emas hadiah dari mereka. Saya butuh tunai untuk beli tas Hermes, tidak bisa dibarter dengan emas. Dan tadinya saya mau jual ke Antam, tapi ternyata pembeli dari luar negeri bisa lebih mahal... Sertifikat sudah saya serahkan ke mereka. setelah mereka transfer."
Danu hanya mengangguk sambil menyimak Milady.
"Yah, itu haknya Mbak Milady. Tapi demi keamanan Mbak sendiri, boleh ya mbaknya mengisi formulir anti pencucian uang? Jadi suatu saat kalau petugas OJK memeriksa rekening, mereka tidak bertanya-tanya lagi dan melakukan investigasi. Bisa ribet urusannya kalau sampai mereka melakukan dugaan--dugaan. Mbaknya bisa dituduh macam-macam nanti."
"Kalau saya mengisi formulir, urusannya selesai nih mas?"
"Tentu."
Milady mengangguk.
"Kalau begitu, sekalian saja saya buka deposito di sini. Bagaimana? Bunganya berapa disini Mas?"
Danu terkekeh puas karena kerja sama Milady.
Saat ini, Milady masih menjadi nasabah setia di Bank itu. Malah berkat rekomendasi Danu, Milady bisa bekerja di Garnet Property.
Jadi setahun setelah itu, Milady iseng datang ke bank lagi. kali ini untuk mengambil laporan rekening korannya. Saat itu ia baru saja membeli tanah petak, lalu ia bangun tiga unit rumah di atas petakannya, dan saat itu ketiganya sudah terjual. Otomatis pundi-pundi tabungannya bertambah.
"Saya bisa bertemu dengan Mas Danu?" Tanya Milady ke customer service Bank setelah ia melakukan transaksi.
"Oh, sudah ada janji Mbak?"
"Belum sih..." Desis Milady. Ia baru tahu kalau mau bertemu kepala divisi harus punya janji dulu.
"Sebentar yah... Saya konfirmasi dulu ke sekretarisnya." Sahut Customer Service.
"Oh... Kalau di sini, kepala divisi itu punya sekretaris sendiri yah mbak?"
Si CS menaikan alisnya. "Pak Danu menjabat sebagai Presdir di sini Mbak."
"Oh...." Milady terpana.
Padahal ia baru bertemu Danu tahun lalu.
Setelah menunggu beberapa saat sambil memeriksa rekening korannya, CS mengabarinya.
"Mbak Milady, Pak Danu bersedia menemui Mbaknya. Silakan tunggu di ruang nasabah prioritas." Si CS mmengarahkan Milady untuk masuk ke ruang tunggu.
"Mbak Milady... Sudah lama yah." Sapa Danu.
Milady berdiri dan menjabat tangannya.
"Iya Mas, tahu-tahu Mas Danu sudah jadi Presdir... Padahal baru setahun lalu saya diinterogasi APU-PPT..."
Danu tersenyum.
Milady jadi ingat film interview with a vampire.
Senyuman Danu dingin. Dan menyiratkan kalau Milady adalah mangsa yang lezat untuk dihisap darahnya.
Walaupun ia tahu kalau pada dasarnya Danu manusia normal, tapi tetap saja bulu kuduk Milady meremang.
"Ah iya... Ini untuk Mbak Milady." Danu menyerahkan tas kertas padanya. "Selamat ulang tahun. Maaf terlambat satu hari." Desisnya.
Milady terpekik senang.
Bahkan ibunya saja tidak ingat hari ulang tahunnya.
Isinya souvenir bank dan sekotak coklat.
Ya ampun, pelayanan dari bank ini benar-benar memuaskan.
"Saya lihat transaksi Mbak Milady ada pergerakan cukup signifikan tahun ini."
"Hehe..." Milady terkekeh. "Saya beli tanah petak di Depok. Letaknya strategis jadi cukup mahal. Lalu saya bangun tiga unit rumah di atasnya. Dan sudah laku terjual seluruhnya."
"Beli lima milyar, terjual 9 milyar... Lumayan otak bisnis yah Mbaknya ini. Saya salut sih, Mbak Milady masih cukup muda untuk memiliki kemauan berdagang..." terlihat kalau Danu mengamati mutasi rekening Milady.
"Iyaaa siih, saya akui saya cukup beruntung. Banyak juga pihak yang membantu saya sebenarnya. Tapi ternyata saya tidak nyaman berdagang sendirian. Saya butuh pekerjaan tetap sepertinya."
"Anda sudah kaya, tetap mau bekerja jadi karyawan? Kenapa tidak investasi saham saja?" Tanya Danu.
Milady mengangkat bahunya.
"Bukan dunia saya sepertinya. Saya kurang nyaman dengan perasaan was-warnya, untuk berdagang kita harus berani mengambil resiko, saya bukan tipe seperti itu... Dan lagi orang tua saya mulai curiga kenapa saya banyak uang. Saya butuh pekerjaan tetap..." Dan Milady terdiam. Sadar kalau ia sudah terlalu banyak bicara.
Terlihat senyuman sinis di sudut bibir Danu.
"Oh... Bisa gawat kalau mereka tahu Mbak Milady menjual emasnya lewat pelelangan di... Ehem... Situs jodoh." Ia menatap Milady dengan raut wajah prihatin.
Milady menghela napas.
"Apa saya akan ditangkap?"
"Hm... tidak ada dasar hukumnya sih mbak... Karena situs itu terdaftar dari negara yang melegalkan pelelangan semacam itu asalkan si objek tidak dipaksa atau diancam. Tidak bisa di tuntut di negara ini..."
Mereka terdiam.
Milady ketahuan, tapi kenapa ia malah lega. Karena tidak harus lebih banyak berbohong? Atau karena akhirnya ada yang bisa memahaminya?
Terlihat kalau Danu sudah lama tahu hal itu.
"Sepertinya... Pemenang atas Mbak Milady merasa menjadi pria yang paling beruntung..." Sahut Danu lagi. Ia duduk di sofa dengan santai. Kakinya tersilang dengan elegan. Terdengar kalau ucapannya tulus dan terlihat tidak bermaksud melecehkan.
"Begini..." Milady mencondongkan tubuhnya sambil berbisik. "Bisnis ayah saya bangkrut, dan rumah kami sudah proses penyitaan..."
Danu mengangguk.
"Saya tahu, Mbak. Malik Adara mengajukan permohonan kepailitan ke pengadilan."
"Kok Mas Danu bisa tahu?"
"Nama Adara bukan nama yang umum di negara ini..."
Milady mengangguk.
"Jadi... Mas Danu mengerti kan paniknya saya? Hanya itu yang bisa mendatangkan banyak uang dalam sekejab."
"Tapi potensi keselamatan dan penipuan jauh lebih besar, mbak."
"Saya ambil risiko itu...Untunglah Tuhan masih sayang sama saya."
Gantian Danu yang menghela napas.
Lalu keadaan hening sesaat.
"Kalau boleh memberi rekomendasi, dan karena Mbak Milady sudah memiliki pengalaman menjual property, Garnet Grup baru membuka unit bisnis baru, Garnet Property. Mereka juga melempar IPO ke pasar... Kalau mau saya bisa..."
"Saya mau!" Potong Milady antusias. "Sebenarnya saya sudah mengajukan CV ke sana, tapi belum ada panggilan!" Sahutnya.
Danu kembali terkekeh.
"Oke... Saya akan sounding ke HRDnya. Semoga Mbak Milady bisa segera menjadi bagian dari keluarga besar kami..." Sahut Danu.
Itu kejadian...9 tahun yang lalu. Sampai saat ini Pak Danu masih menjabat sebagai Presiden Direktur di sana.
Dan rahasia Milady masih tertutup Rapat.
Milady tidak bertemu lagi dengan Danu sejak saat itu.
Dan karena kini ia teringat, Milady mungkin akan mengirimkan Hampers untuknya.
Ia berada di sini sekarang juga adalah karena kebaikan Danu yang rela membantunya, padahal Milady sudah membohonginya selama setahun lamanya. Mudah-mudahan Danu tidak salah paham terhadapnya. Paling tidak, Milady bertekad bekerja sebaik-baiknya untuk menjaga nama baik Danu. Itu yang bisa ia lakukan saat ini.
"Arran kirim email mengenai laporan over standard." Trevor langsung menembaknya saat Milady baru meletakkan tote bagnya di meja. Pria itu tiba-tiba sudah berada di kursi kubikel Milady, duduk di sana sambil menyesap kopi. Terlihat ia juga sedang menunggu seseorang untuk menemaninya makan siang, karena ia sudah melepas dasinya.
"Baru mau makan siang? ini sudah jam...2 kurang 15." tanya Milady.
"Kamu ditungguin ngga datang-datang ya akhirnya aku janjian sama Bram. Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Sama Arran?"
Milady melirik Trevor.
"Tadi ada Yori..." sahut Milady.
"Oh, kamu ke cafe bunga? Tahu begitu aku nyusul..."
"Aku ditraktir soalnya menghibahkan lot di coastview untuk Yori."
"Awalnya memang kamu sengaja beli untuk dia, kan..."
"Iya, tapi ini saat yang tepat untuk memberikannya, karena mereka sedang merencanakan buka cabang baru namun belum ada dana untuk sewa bangunan." Kata Milady.
Trevor menyeringai.
"Seandainya punya adik sebaik kamu..." desis Trevor sambil menyesap kopinya.
"Daripada punya adik di usia setua ini, bukankah lebih baik sekalian saja punya anak? "
Trevor terkekeh... "Kamu benar. As soon as posible."
Milady menghela napas.
"Kita kayaknya perlu mendiskusikan sesuatu mengenai Ayumi dan perjalanan ke Jepang."
"Ya udah ayuk, sekalian sama Bram."
Milady menipiskan bibirnya mendengar perkataan Trevor. ia merasa ragu untuk melibatkan Bram terhadap masalah mereka berdua.
"Hm... kamu yakin Bram bisa mendengar? Dia ngga sibuk?" tanya Milady.
"Sejak kapan kita menyembunyikan segala sesuatunya dari Bram?"
Milady mencoba mengingat.
"Tidak pernah. Urusan kita berdua ya urusan Bram..."
"Dan akan begitu sampai selamanya, sepanjang pertemanan kita."
"Tapi dia ngga bakalan ada di malam pertama kita kan?"
Trevor terbahak. "Memangnya kita mau ngapain di malam pertama?"
"Ngopi."
"Oh." trevor menyeringai. "Ya kalo begitu dia bakalan ada juga di malam pertama kita."
"Karena terus terang, kalau Bram malam pertama dengan Selena, aku ngga bakalan mau hadir di kamar mereka."
"Aku juga enggak. sudahlah... lapar nih."