Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Police



Dirgantara Susanto


Wakil Deputi II Bidang Pemberantasan di Badan Narkotika Nasional (BNN) berjalan dengan langkah lebar menuju Ruangan Kepala Pusat Laboratorium.


Di tangannya tergenggam laporan mengenai adanya indikasi penyebaran zat tidak dikenal yang disinyalir merupakan Narkotika jenis baru. Zat itu sedang dalam pengembangan Laboratorium dibawah prakarsa Garnet Medical.


Dirga, panggilan si detektif, saat ini baru saja menikmati posisi barunya di BNN setelah sebelumnya ia menjabat sebagai Komisaris Polisi (Kompol) di Polresta Surakarta. Harapannya, dengan dipindahkan ke direktorat yang sekarang sedang booming di Negara ini, pemberantasan narkotika, pangkatnya bisa dinaikan ke setingkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi).


Nyatanya, ia lebih menikmati pekerjaan di instansi ini dibanding di kepolisian.


(Sebagai informasi, secara umum di dalam instansi kepolisian, ada12 tingkat jabatan Bintara dan Tamtama, dan 10 tingkat jabatan Perwira. Dimulai dari pangkat Bhayangkara Dua, dan yang Paling tinggi adalah Jenderal Polisi. Sebelum dipindahkan ke BNN, pangkat terakhir Dirga adalah Perwira Komisaris Polisi, Prestasi yang lumayan besar di usia yang relatif muda.)


Dirga sadar posisinya saat ini memang sedang penuh kontroversi.


Beberapa fraksi mengkritik kinerja BNN dalam pemberantasan narkoba. Sejak BNN berdiri, angka penyalahgunaan narkoba kian meningkat. Kinerja BNN pun dinilai kurang terlihat, karena BNN seolah hanya menjadi "tempat penampungan" bagi anggota kepolisian yang ingin mendapat kenaikan jabatan.


Termasuk Dirga.


Tadinya... Ia termasuk ke golongan yang menginginkan jabatan melejit namun kerja santai.


Tapi sekarang...


Astaga... kenapa harus Garnet. Umpatnya dalam hati.


Kenapa harus Pak Yan, di saat Dirga yang harus memimpin penyelidikan...


Bukan, Dirga bukan kerabat Sebastian, bukan orang yang harus balas budi, dan juga bukan orang yang kenal langsung.


Oke, dia memang teman SMA Dimas.


Dan Dimas saat ini kabarnya sedang menjalin hubungan cinta dengan adik Pak Yan. Kalau tidak salah namanya Meilinda.


Tapi sebatas itu saja. Kalau Dimas main-main dengan api, Dirga sudah bilang dari awal kalau akan dijalankan sesuai prosedur hukum yang berlaku.


Teringat guyonan sahabatnya waktu di Solo, saat terjadi kasus fraud...


"Kalo lo mau jahat, jahat sekalian... Asal jangan bunuh orang, jangan nyiksa anak kecil. Habis itu lapor ke gue..." sahut Dirga.


"Ngapain gue harus lapor ke elo, tong!" Dimas melemparnya dengan kerupuk.


"Biar gue bisa nangkep elo... Gue naik jabatan, elo... Terkenal masuk koran, penjahat terganteng, di penjara lo bakal disayang sama sesama napi, begitu bebas jadi artis, dapet cuan."


"Luar biasa khayalan lo Kompol gendeng..." gerutu Dimas. "Iya kalo bebas, kalo hukuman mati?!"


"Hukuman mati cuma untuk pengedar narkotik..."


"Kalo pengedar kredit?" canda Dimas.


"Hukuman massa..." Dirga menyeringai


"Mau dicium ngga?"


"Mau..." Dirga menyodorkan bibirnya yang dimonyongkan.


"Makan tuh kerupuk..." sungut Dimas.


"Lo cuma pingin ngeliat gue nangis-nangis dibalik jeruji kan?!"


"Gue pengen banget ngasih lo cadongan... Biar lo menghiba-iba sekalian, dasar mulut toa!" Ujar Dirga waktu itu.


Namun kini...


AKBP Rama Bagaswirya menyeringai padanya saat menunggunya di depan ruangan Laboratorium.


Dirga tersenyum masam saat melihatnya.


"Mau ngapain sih Kolonel Hedon di sini?! Sana balik ke kastil!!" sungut Dirga. (dulu pada saat orde baru, jabatan setingkat Rama, AKBP setingkat dengan Letnan Kolonel. Dan Rama maniak film perang, Jadi Dirga sering menggoda Rama dengan sebutan Kolonel. Dan karena gaya Rama cukup stylish dan mahal, ia tambahkan dengan kata hedon.)


"Duuh duuuh jadi makin kangen gue ngeliat kelakuan ni bocah..." Rama merangkul Dirga dan mencium pelipisnya. Dirga menendang bokong Rama.


"Buset, lo dua bulan di BNN kenapa jadi sangar begini Say!" seru Rama.


"Say sey say sey! Sayur busuk!" umpat Dirga. Lalu ia menatap ke arah kaki Rama. "Anjr**it lo dapet Tony Burch dari mana itu?! Heh gratifikasi mulu kerjanya!"


"Kerjaan orang ngiri tuh suka fitnah! Enak aje..."


"Paling dibeliin Tuan Besar lo itu..." desis Dirga.


"Nah tuh tau... Kesempatan punya sepupu pengusaha. Pulang dari Jerman makin royal aja si Gerald. Ngga tau lah Eyang Gandhes udah apain aja... Yang jelas gue yang menuai manfaatnya." Rama menyeringai memperlihatkkan giginya yang berderet putih.


Makin membuat Dirga sebal.


"Jadi...gimana nih? Ini yang ngelaporin Hari Fadil, loh..." keluh Dirga sambil menyerahkan pelaporan ke Rama.


"Ah tu orang bikin sensasi mulu kerjanya... Biar dapet nama buat gedein partai kayaknya." dengus Rama sambil membolak-balik laporan.


"Pokoknya kita ketemu dulu sama Nyonya Dokter." Sahut Dirga. "Setahu gue, formula yang dilaporkan itu memang udah terdaftar sebagai obat antidepresan di WHO. Jadi sebenarnya Garnet Med ngga menyalahi aturan pengobatan kecuali, hasil lab menyimpulkan adanya campuran obat lain."


"Obat lain...seperti apa? Keringet Mbah Dukun?"


"Basi lo... Bikin eneg..." dengus Dirga sambil berjalan mendahului Rama.


Kepala Laboratorium BNN, Adeline, menatap Dirga dan Rama dari atas kacamatanya.


Terlihat matanya berkilat bersemangat, membuat Dirga semakin kesal.


"Iya. Ada kandungan lain selain bunga telang, saffron dan codein. Kami belum menemukan bahan yang cocok untuk itu." Kata Elin.


"Mungkin ngga sih obat begituan ada campuran hasil tambang?" tanya Rama.


"Maksudnya? Campuran batu alam begitu? Belum pernah ditemukan yang seperti itu sih, kecuali senyawanya bisa dipisah, seperti batubara..." desis Elin. "Yang jelas, ada kandungan tumbuhan asing yang belum bisa diidentifikasi. Setidaknya belum ada daftarnya di BNN." sahut Elin lagi.


Dirga menatap Rama.


"Kalo ketemu Bu Gandhes ngga perlu surat perintah kan?!" sahut Dirga menekan pria itu.


Rama langsung kehilangan senyumnya.


"Gue mendingan ke Pak Yan deh, daripada ke nenek gue..."


"Masa sama nenek lo sendiri takut sih? Jelas-jelas ini hasil kolaborasi Bataragunadi - Bagaswirya! Makanya lo ada di sini, bro! Sekali-kali berguna, kek!" Omel Dirga.


"Duuuuh lo belom pernah ketemu nenek gue sih... Udah lah kita ke Pak Yan dulu." Rajuk Rama. "Walopun gue juga males ke kantor Garnet karena di sana ada..."


*****


...Ada orang ini.


Gerutu Dirga lagi, sambil memicingkan mata menatap...


Arman.


Namanya cukup pendek saja.


Tanpa ada nama tengah dan akhir.


Wajahnya campuran peranakan Korea -Kroasia -Yunani sehingga menghasilkan perpaduan yang luar biasa.


Luar biasa menyebalkan, batin Dirga.


Wajah Arman biasa disetting kekanak-kanakan dan agak kikuk.


Tapi di balik itu, menyimpan kemampuan setingkat pembunuh berantai.


Dirga dan Rama tahu pasti... Karena dulu Arman satu angkatan dengan mereka, namun karena kemampuan akademisnya, Arman melejit dengan cepat dan mendahului semuanya. Saat semua masih berkutat untuk kenaikan pangkat, Arman sudah mengukir prestasi karena berhasil menangkap buronan, sehingga pangkatnya langsung melejit ke AKP.


Ditambah, ia mendapatkan backing kuat dari pemerintah rezim lama, percaya tak percaya, Di usia ke 40 tahun, ia diberi kepercayaan sebagai Brigadir Jenderal Polisi.


Namun, setelah itu ia dikabarkan keluar.


Tidak ada yang tahu pasti alasan Arman keluar dari kepolisian dan menjadi karyawan Garnet Grup.


Yang jelas... Menghadapi mantan atasannya sekaligus temannya, sudah cukup membuat Dirga dan Rama tidak percaya diri.


"Selamat Siang Bapak-bapak..." Sapa Arman ramah.


"Ehem.." Rama berdehem karena tenggorokannya langsung kering.


Wajah ramah Arman malah membuatnya ingin lari saja...


"Siang Pak Arman, kami ingin menemui Pak Sebastian... kalau boleh." Dirga masih mempertahankan wajah poker facenya


"Sudah ada janji?" tanya Arman.


Basa-basi busuk... Batin Dirga.


"Langsung saja Pak Brigjen... Kita sejujurnya ngga bawa surat perintah ke sini, tapi kalau berkenan kami butuh keterangan karena..."


"Pasti karena pelaporan dari Hari Fadil ya." tebak Arman sambil mengaduk kopinya.


"Iya, kan mau ngga mau kita kesini..." keluh Dirga.


"Tetap saja Bapak Polisi yang terhormat... Lebih baik buat janji dulu. Kami ini instansi swasta, bukan kantor pemerintah yang bebas orang keluar masuk. Kami memiliki aturan sendiri kalau sudah di dalam gedung." sahut Arman.


Lalu interkom Arman berbunyi.


Lumayan kencang sampai pria itu hampir saja menumpahkan isi gelasnya.


"Boss udah nyampe belum sih Man, lama bener nangkring di kantor Beaufort! Lama-lama dia mau merger kayaknya!!" seru James terdengar frustasi.


"Ya Ampun, Pak... Kayaknya percuma marah-marah ke saya, terserah dia juga mau kemana..." desis Arman sambil memencet tombol interkom.


"Bilangin gue kalo dia dah nyampe! Gimana caranya meeting kalo ngga ada shareholdernya!!" seru James lagi.


"Baik pak, sabar yak..." kekeh Arman.


Dirga dan Rama memandang Arman yang masih bertampang sumringah. "Ini yang bikin saya betah di sini. Orangnya aneh-aneh...hehe..." sahut Arman.


Dia malah lebih aneh lagi... Pikir Dirga dan Rama.