Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
One Day With Arman (2 of 3)



Sekali lagi, ini adalah kejadian Flashback, SEBELUM Arman bertemu Ayumi


Kenapa diulas di sini?


Karena,


Hanya ingin pembaca tahu, bahwa Arman benar-benar seorang Casanova, perayu ulung dan cenderung breng sek SEBELUM TERIKAT DENGAN AYUMI.


Dan hebatnya Ayumi sudah membuat seorang 'pesakitan' seperti Arman menyatakan cinta padanya.


Bahkan sampai meminta Ayumi menjadi istrinya.


Tidak Disangka.


BAIKLAH, MARI KITA SIMAK KEHIDUPAN BUJANGAN ARMAN... sebelum bertobat.


(Hehe)


*****


Banyak yang bilang, pria dengan intelegensi setingkat Arman bisa menjadi CEO, kenapa ia tetap bertahan menjadi sekretaris Sebastian.


Jawabannya,


Arman terlanjur tahu terlalu banyak rahasia BigBossnya.


Ia harus selalu berada di sebelah Sebastian. Mendampingi Atasannya di sebagian besar kesempatan, walaupun itu harus dari jauh dan melihatnya harus melalui teleskop laras panjangnya alias kegiatan pengintaian.


Dan banyak kegiatan Sebastian lainnya, yang tidak boleh diketahui banyak orang.


Arman suka pekerjaan yang menantang, jadi ia lalui semua dengan sukacita.


Namun, yang paling ia tidak suka...


Administrasi.


Saat melangkah ke lobi gedung, otaknya sudah dipenuhi dengan kegiatan administratif, sortir email, membuat surat, mencocokkan jadwal, mencari keganjilan, membuat rekap ini-itu, mereview laporan dari berbagai divisi, mem...


Arrgh!


Arman mengerang dalam hati.


Ia butuh kopi lagi, ototnya terlalu tegang.


Ia lebih baik diterjunkan ke medan perang daripada menghadapi... Layar komputer.


Pukul 6.30.


Masih ada waktu untuk mengantri sebentar di star*bucks.


Jadi Arman berbelok ke arah cafe, dan berhenti di barisan antrian.


Beberapa wanita menoleh padanya, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan penuh hasrat.


Ini masih pagi...


Jadi Arman pura-pura tidak melihat dan berkutat dengan ponselnya.


Pagi hari, para wanita ini berada dalam titik kecantikan maksimal, dengan kesegaran dan wangi mereka.


Kalau Arman meladeni, sudah pasti akan berakhir dalam 'kegiatan' yang menguras tenaga.


Padahal jam 10 surat untuk Bank harus sudah dikirimkan.


Jadi...


Untuk mengalihkan perhatiannya dari perempuan, ia akan memilih-milih hampers.


Kenapa tidak ada yang cocok sama sosok Milady Adara?! Keluhnya.


Kalau wanita lain, ia bisa menentukan hampers dengan mudah.


Tapi sosok ini, sosok Milady ini, kepribadiannya lumayan unik dan sangat elegan.


Arman ragu hampers biasa akan memuaskan hatinya.


"Arman! Guten Morgen." (Selamat Pagi)


Suara wanita yang bernada serak seksi menghiasi pendengarannya.


Sapaan yang khas, membuat Arman bisa langsung menyeringai.


Arman mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping,


Wanita berambut pirang dengan gaya glamor yang mencolok.


Sandra Ellen Bagaswirya.


Masih dengan kacamata hitam brandednya, yang wanita itu pakai di dalam ruangan, untuk menutupi mata sayunya yang menawan.


"Sandra, Wie geht es Ihnen?" (Bagaimana kabar kamu?) tanya Arman sambil mencium pipi wanita itu.


Arman bisa melihat para wanita melirik judes ke arah Sandra.


"Nicht so gut. Ich brauche eine Ablenkung. (Tidak terlalu baik, aku butuh pengalih perhatian.) Kata Sandra, sambil merapikan dasi Arman.


"Was für eine ablenkung?" (pengalih perhatian seperti apa?) Tanya Arman sambil tersenyum simpatik.


Sandra sedikit menurunkan sunglassessnya, menatap Arman dengan pandangan penuh arti.


"Warum finde ich dein Lächeln immer gefährlich?" (Kenapa aku selalu merasa senyum kamu itu sangat berbahaya?) Desis Sandra.


Arman mengangguk berlagak serius.


"Mungkin karena kamu tahu, aku selalu menganggap kamu yang paling cantik di sini." Bisik Arman.


Sungguh, rasanya ingin dia makan saja wanita di sampingnya ini.


Sandra Ellen, keseksiannya tidak bisa diacuhkan.


Mungkin itu juga yang membuat wanita ini kerap ditimpa gosip miring.


Namun sampai sekarang, Sandra nyatanya memiliki kesolehan yang bertolak belakang dengan penampilannya.


Wanita ini tidak mengindahkan Arman.


Membuat Arman semakin penasaran.


"Wah, maaf. Kamu bukan tipeku." Bisik Sandra membalas Arman.


"Duh, rasanya sakit deh. Jadi pingin..." Arman mempererat cengkeraman jemarinya yang tersemat di pinggang Sandra.


Pria itu terang-terangan menginginkan Sandra.


"Cassanova, langkahi dulu mayat kakakku." Desah Sandra sambil menepis tangan Arman dari pinggangnya.


Penolakan Sandra malah semakin memperparah hasrat pria itu.


Dan tampaknya Sandra tahu, Arman seorang gentleman. Tidak akan maju kalau tidak mendapatkan izin.


Sialan!


Umpat Arman dalam hati.


Menghadapi Gerald Bagaswirya, kakak Sandra, sudah cukup membuatnya mundur selangkah.


Oke, hari ini sekian saja, besok maju lagi. Hehe.


Batin Arman.


"Jadi, " Arman memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Mereka berdua mengantri berdampingan. "Ada masalah apa?"


"Hm. Aku malas cerita. Yang jelas, aku butuh kesibukan."


Arman mengangguk mengerti.


"Oh. Aku sepertinya punya proyek yang tepat biar kamu sibuk." Arman baru teringat mengenai 'Proyek Milady' si Sebastian.


"Apa?" Sandra langsung menoleh dengan antusias.


"Jadi, Aku butuh hadiah untuk seorang wanita dengan sifat yang..."


"Arman, kamu baru saja merayuku! Beda beberapa detik langsung membicarakan wanita yang lain?! Astaga, kamu ini seperti kucing garong ya, kawin sana-sini." Sandra memotong ucapan Arman dengan kalimat penuh sindiran.


Arman mengernyit.


"Yang jenisnya anggora juga bisa kawin sana-sini, ngga harus garong." Sahut Arman.


Sandra berdecak.


"Aku kasihan sama istri kamu kelak. Walaupun aku ngga yakin kamu akan mau beristri. Usia kamu sudah seumuran kak..."


Arman langsung menutup mulut Sandra dengan ciuman.


Namun, penuh nafsu.


Membuat wanita itu terpaku.


Dan juga membuat semua orang memperhatikan mereka.


"Ngga usah bahas umur, Sayang... sensitif." Bisik Arman sambil menyeringai merasa menang.


Apalagi melihat tampang Sandra yang penuh kekesalan.


Pagi ini indah sekali, bisa mencuri ciuman dari wanita kutub.


Pikir Arman.


Moodnya langsung membaik


"Kamu barusan menciumku, breng sek." Geram Sandra.


"Itu ciuman persahabatan."


"Di indonesia, ciuman ya ciuman. Rasanya pingin banget nampar kamu."


"Rasanya, tamparan worth it sih sama manisnya. Kamu pakai lipgloss rasa peach. Lumayan juga."


Sandra mengeram.


"Jadi, seperti apa wanita yang mau kita bahas?" Tanya Sandra sambil bersungut-sungut.


"Jenis wanita kelas atas yang elegan, bijaksana, menyukai hal-hal sederhana, namun berkualitas tinggi."


"Hm. Kami memiliki produk spesial baru. Rangkaian bunga dari emas. Aku kirimkan fotonya setelah ini. Cukup digemari di kalangan sultan dan pangeran dari negara EUA. Putiknya dari zircon dan mutiara. Tapi bobotnya berat... Dan lumayan mahal."


"Pantas dicoba..." Arman menimbang sambil mengangguk.


Mereka sudah sampai di depan kasir.


"Ini kamu yang traktir yah, bayaran sosoran yang tadi. Juga sebagai mood booster karena aku akan semakin tenggelam dalam gosip murahan perkumpulan cewek-cewek julid segedung." Omel Sandra.


"Aku juga sayang kamu." Balas Arman, berniat becanda.


"Ngga lucu, Arman." tegur Sandra.


*****


Setelah itu, Arman dengan langkah ringan, segelas kopi di tangan, ponsel di tangan satunya, senyuman penuh karismanya, melangkah melewati operator.


Pos pertama yang harus ia review pagi ini sebagai Kadiv Corsec.


Operator dan Sekuriti.


"Pagi, Pak." Yani, salah satu operator. Memandangnya dengan berbinar.


"Pagi, Sayang." Sahut Arman.


Yani cekikikan.


Reny dan 3 orang lain menyusul beberapa menit kemudian.


Arman memeriksa kelengkapan, fungsi peralatan, seragam, shift dan kehadiran, lalu mencontreng list.


Dan memberitahu siapa-siapa saja tamu penting yang akan mendatangi gedung Garnet hari ini.


Lalu memberi kode ke Yani untuk mengikutinya ke Ruang meeting besar yang akan dipakai pagi ini.


AC dingin, Slide lancar, jumlah laptop lengkap dan berfungsi, lampu menyala seluruhnya, furniture bersih, sambungan wifi penuh.


"Telepon OB minta dipasang air purifier sebelum jam 9." Kata Arman sambil memeriksa sambungan kabel di bawah meja.


"Ya Pak." Jawab Yani sambil memeriksa checklist.


Wanita itu mencontreng satu persatu daftar kelengkapan.


"Konfirmasi ulang ya Pak Arman, jumlah peserta. Sekitar 25 orang, snack dilebihkan untuk 30 orang." Kata Yani.


"Iya." Jawab Arman sambil menuju ke sudut. "Dispenser oke. Jumlah gelas ada 50. Juga harus pengadaan teh, kopi, permen..." Gumam Arman sambil serius dengan daftar checklistnya.


Setelah ini harus ke kantor Agency di basement karena ada tamu yang harus mereka kawal, jadi Arman harus memastikan personel lengkap sebelum jam 9.


Ia begitu serius dengan daftar sampai sedikit tersentak saat merasa ada yang memeluk pinggangnya dari belakang.


"Nakal ya." Gumam Arman sambil menyeringai.


"Kangen." Desis Yani sambil merajuk. Jemarinya mengelus area sensitif Arman.


"Hari ini aku lumayan sibuk." sahut Arman.


"Nanti malam. Hotel biasa, jam 20." Bisik Yani sambil memasukan kartu akses ke kantong celana pria itu.


Dan mencium bibir Arman.


Sambil berciuman, Arman melirik cctv.


Lampu kemerahan di sana.


Cctv 1. Berfungsi.


Lalu melirik sudut satunya sementara Yani sudah mulai bergerak intens.


Cctv 2. Berfungsi.


Sip, Aman.


Batin Arman.


"Ngga sampai selesai ya, ruang meeting sudah bersih soalnya, aku juga banyak kerjaan." Desah Arman.


"Yaah..." keluh Yani.


Arman mendorong Yani perlahan, dan mengancingkan kemeja wanita itu sambil tersenyum lembut.


"Nanti malam aku ngga bisa janji." Bisik Arman.


Ia pun memperbaiki celananya, menata rambutnya kembali dan dasinya.


"Jangan lupa lap lagi mejanya" kata Arman.


Lalu mengerling ke Yani, dan keluar dari ruang meeting.


Meninggalkan Yani yang dandanannya sudah awut-awutan di atas meja meeting


*****


"Boss." Sapa Umar saat Arman memasuki ruang Garnet Agency.


"Sehat Mas Umar?" Arman membalas sapaan Umar.


"Alhamdulillah..." Sahut Umar. Ia menggeser layar yang menampakkan ruang meeting. Adegan bermesraan dengan yani terpampang di sana.


"Coba sudut satunya." Kata Arman.


Lalu kamera mengarah ke sudut yang lain.


Arman mengangguk puas.


"Oke, cctv berfungsi baik." Sahutnya.


"Saya petikemaskan seperti biasa ya Pak." Kata Umar.


"Iya." Arman menyalakan komputernya dan memeriksa email hasil laporan pengintaian di Jepang.


"Ada kabar dari Susan dan Eiichi, Pak?" Tanya Umar.


"Mereka sudah sampai Indonesia tadi malam." Sahut Arman.


Arman mengangkat kakinya ke atas meja sambil mengernyit.


Sosok wanita kurus, berwajah lembut. Berjalan keluar dari apartemen.


"Ini Ayumi Sakurazaka?" Tanya Arman.


"Iya Boss. Ini Ayumi, pacar Pak Trevor."


"Dia baru pulang dariiii..." Arman mengernyit sambil menggerakkan kursornya ke adegan satu jam lalu.


"...host club? Katanya lagi hamil kok malah ke host club?!"


Umar mendekati Arman sambil menajamkan penglihatannya.


"Hm?" Gumam Umar.


"Hm!" Gumam Arman. "Mencurigakan." Sambungnya.


*****