
Milady menghela napas.
Kisah cintanya...
Tragis.
Sampai kapan ia begini...
Kalau dipikir-pikir, selama masih ada Sebastian di hatinya, dengan siapapun ia dijodohkan, dengan siapapun ia menikah, akan tetap tragis. Selama itu bukan dengan pria ini.
"Aku benci kamu..." gumam Milady.
Ia mengalungkan tangannya ke sekeliling leher Sebastian.
"Aku benci kamu... yang sudah memutarbalikkan duniaku, seenaknya memiliki hatiku...aku jadi tidak bisa kemana-mana lagi..."
Sejauh apapun ia berlari untuk menghindar, ia selalu ditemukan.
Tertawan oleh Silver Fox...
Sebastian tersenyum.
Kerutan kini semakin terlihat di sekitar matanya saat ia mengembangkan bibirnya. Namun tidak sanggup menyembunyikan rahang tegas dan mata tajamnya.
"Aku cinta kamu..." bisik Sebastian. "Yang sudah menganiaya hatiku, memikatku dengan pesonamu, membuatku berbuat gila..."
Milady terkikik.
"Iya... kamu memang sudah gila..." desis wanita itu.
Jemari Sebastian membelai bibir Milady dengan lembut.
Merasakan teksturnya.
Milady menggigit jemari pria itu sedikit, tidak bertujuan menyakiti, tapi dimaksudkan untuk menggoda.
Lidahnya merayu Sebastian untuk berbuat lebih jauh.
Terlihat pria itu mengernyit.
Ia tidak bisa menahan hasratnya.
Milady menyesap pelan jemari Sebastian.
Lalu ia merasa pinggangnya ditarik mendekat.
Dan bibirnya dipanggut dengan obsesif.
Astaga...
Rasa ini...
Sudah lama sekali rasanya...
Candu ini...
Ia masih ingat dengan jelas bagaimana cara Sebastian menciumnya dulu.
Cara pria itu menguasai dengan lidahnya.
Dan refleksifitas anggota tubuh yang lain saat bergerak seirama dengan ciumannya.
Milady selalu membayangkannya hampir setiap malam.
Ia rasanya tidak percaya kalau moment itu terjadi lagi kali ini...
Dan saat Sebastian melepasnya sesaat, untuk mereka mengambil napas sejenak...
Milady mendesah kecewa.
"Sayang..." keluah Milady.
Sebastian kembali menyatukan bibir mereka.
Dan kali ini, ia menggunakan sofa untuk menahan tubuh mereka.
"Ayah? Ayah di dalam?!"
Terdengar suara Trevor memanggil dari luar.
Hm...
*****
Trevor melempar dartnya dari jarak 5 meter.
Dart menancap di tengah papan bidik.
Ia melempar satu lagi.
Berikutnya menancap kembali di area tengah papan.
Lalu memutar-mutar kursi kerjanya.
Bosan...
Galau...
Lalu ia memejamkan matanya.
Terlihat wajah kekasihnya.
Lalu ia membuka mata kembali.
Dan menghela napas...
Kenapa ia masih disini? Pikirnya berbicara ke dirinya sendiri.
Kenapa ia menghindari Ayahnya?
Kenapa ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk menghubungi Ayumi...?
Mungkin...
Ia ingin melihat sedikit lagi.
Ia ingin memberi kekasihnya waktu.
Bukankah ini juga salahnya yang terlalu santai.
Seperti kata Milady, dunia di sekitar Trevor berjalan lambat.
Apakah seharusnya...
Ah, tidak! Jangan merasa menyesal.
Nanti semua menjadi sia-sia.
Jangan ada kata 'seharusnya'...
Ia akan ke Jepang, hari rabu ini bersama Milady.
Menemui Ayumi sekaligus memberitahukan rencananya kepada wanita itu.
Ia juga akan meminta konfirmasi mengenai foto yang kemarin ditunjukan Milady.
Semua akan baik-baik saja...
Dan...
Ia akan menemui ayahnya.
Ia tidak bisa terus menerus menghindar.
Ia akan menemui ayahnya untuk menolak perjodohan dengan Selena.
Terus terang, bulu kuduknya langsung merinding saat mengingat sosok Selena.
Ia tidak nyaman berdekatan dengan wanita lain, selain Milady dan Ayumi.
Ia langsung merasa risih dan jantungnya berdetak cepat.
Ia ketakutan...
Lalu seluruh tubuhnya mulai terasa nyeri, bagaikan dipukuli dengan sebilah bambu.
Trevor meraih tasnya, lalu mengaduk isinya, mencari obat antidepresannya.
Lalu selesai menegaknya dengan air, dengan langkah tegas, ia keluar dari ruangan kantornya.
*****
Milady menahan napasnya.
Lalu ia saling berpandangan dengan Sebastian.
Kenapa Trevor di sini? Bukankah ia sedang di kantor?
Entah kenapa ia malah tersenyum licik.
"Mau apa...?" sahutnya ke Trevor yang sedang menunggu di balik pintu baja ruang kerjanya. Ia tidak beranjak dari atas tubuh Milady.
"Mau ngomong..." desis Trevor.
Dari analisa Sebastian, sepertinya Trevor belum tahu kalau Milady ada di rumah. Mungkin Sapto, drivernya, memarkirkan mobil Milady di basement, jadi Trevor yang baru datang tidak melihatnya.
"Tentang apa... Ayah sibuk." desis Sebastian sambil melanjutkan mencium leher Milady dan meraba dada wanita itu.
Milady menghentikan tangan pria itu dan memukul punggung tangannya.
Sebastian terkekeh dan menahan kedua tangan Mialdy diatas kepala wanita itu dan lanjut menciumi leher Milady.
"Tentang... Selena." terdengar Trevor bergumam.
"Ck..." terdengar decakan Sebastian. "Kalau ngga suka, sana hubungi Farid, tolak sendiri." desis Sebastian.
"Sepenting apa sih urusan ayah sampai ngga mau ketemu aku?" keluh Trevor.
"Sepenting apa urusan kamu sampai ngga mau angkat telepon dari ayah seminggu ini?" balas Sebastian.
Tangan Pria itu meremas bokong Milady. Membuat wanita itu terpekik pelan, lalu melotot ke Sebastian.
Sebastian terkekeh melihat reaksi Milady.
"Itu kan gara-gara ayah..." Lalu Trevor menghentikan kalimatnya. Bisa gawat kalau ayahnya ngambek lagi, pikirnya. Sudahlah dia saja yang mengalah... "Iya... aku minta maaf..." desis Trevor.
"Ya udah sana... Ayah sibuk."
"Nanti makan malam sama aku yah. Aku traktir."
Sebastian mengernyit mendengar penuturan Trevor.
Lalu menghentikan kegiatan bermesraannya.
Menoleh ke arah pintu baja.
Dan beranjak dari Milady.
Milady menghela napas lega, ia langsung berusaha duduk dan menyeimbangkan tubuhnya.
Astaga... Sebastian benar-benar bernafsu... pikir Milady.
Pria itu menghapus lipstik Milady dari bibirnya, memeriksa penampilannya di kaca samping pintu tempatnya meletakkan kunci dan dasi, lalu membuka pintu baja itu.
"Kamu bikin salah apa lagi sampai mau traktir ayah?" desis Sebastian.
Trevor agak kaget saat akhirnya ia menyerah mau pergi tapi ayahnya akhirnya membuka pintu ruang 'semedi' nya. Begitu nama yang ia pilih untuk menyebut ruang kerja Sebastian.
"Hm...." Trevor hanya bergumam.
Sebastian mencibir.
Ia langsung tahu keinginan Trevor.
"Ngga bakalan ayah kasih, itu dokumentasi pribadi..." sahut Sebastian sambil kembali menutup pintu.
Trevor menahan pintu.
"Ayaaah..." rajuknya.
"Kalau mau kamu bayar PI sendiri sana!" sahut Sebastian.
"Ayah tahu sendiri PI yang bagus kalau ngga dari Garnet ya dari Beaufort, dua-duanya kan sudah ayah hire..."
( PI yang dimaksud di sini adalah Private Investigations. Semacam detektif sewaan).
"Ya kalau kamu ragu sama kesetiaan pacar kamu, putusin aja! Toh belum tentu dia hamil anak kamu..."
Trevor membelalakkan matanya "Ayah dari mana tahu...."
"Ayah selalu tahu. Udah insting! Sana tidur... Bisa-bisanya mau bohongin ayah..." dengus Sebastian sambil menutup pintu baja.
Lalu berkacak pinggang di depan pintu sambil menatap lantai.
Seakan ia sedang berpikir suatu rencana baru.
"Ngga usah mikir hal licik lain lagi... Kerjanya membuat konspirasi..." gerutu Milady.
"Kalau begini bisa jadi senjata makan tuan..." gumam Sebastian.
"Maksudnya?"
"Bisa jadi pernikahan kalian akan dipercepat setelah Ayumi mengkonfirmasi kalau bayi yang dikandungnya bukan anaknya..." sambung Sebastian.
Ia menatap Milady dengan sedih.
Milady tersenyum.
"Sayang... Trevor masih muda. Masih ada kesempatan dia untuk mencari wanita lain. Sudah bukan waktunya lagi untuk kamu selalu kuatirkan."
"Jangan mulai." desis Sebastian cepat.
Milady menghela napas.
"Ya sudah..." wanita itu beranjak dari duduknya. "Trevor whatsap aku, ngajak makan nih... Aku harus menyelinap diam-diaam dari rumah kamu. Dia udah mau berdamai, jangan mengacaukan perasaannya..."
"Sebentar..." Sebastian menahan lengan Milady.
"Apa?"
"Aku belum selesai."
"Tapi..."
"Ssh..." Sebastian kembali mendekap tubuh Milady ke pelukanya.
"Nanti aku ikut makan. Kamu dandan yang cantik..." bisiknya sambil menggigit lembut leher Milady.
Milady mendesah.
Lalu mencium bibir pria itu.
"Aku dandan biasa aja... Nanti soalnya kamu kumat jahilnya kalau aku dandan."
"Yang ini tinggal aja..." ia membuka kait bra Milady di belakang.
Milady terpekik kaget.
"Sebastian!" serunya.
"Katanya mau kasih pasangannya..."
"Ya tapi jangan langsung dari..." Milady meronta. "Terus aku pakai apa pulangnya!"
"Tutupi pakai jaketku... Aku mau yang ini..." ia menaikkan kaos putih Milady.
"Astaga!" keluh Milady sambil mencoba kabur.
"Oke oke oke!! Hadap belakang!" seru Milady panik.
"Ngga mau."
"Cakar lagi nih!"
"Ck...aku kan udah pernah lihat."
"Itu sepuluh tahun yang lalu, bentuknya sudah banyak berubah. Dan aku belum siap memperlihatkan terang-terangan. Hadap belakang, atau kamu ngga dapat!"
Sahut Milady sambil menjauh.
Sebastian terkekeh sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan perlahan hadap belakang.
"Jangan ngintip!" ancam Milady.
"Hm..." desis pria itu.
Tapi dia bisa melihat Milady lewat pantulan guci platina di disebelahnya.
Terlihat sangat jelas, malah.
Bagaimana lekukan tubuh Milady...
Dan anggota tubuhnya yang paling menonjol.
Milady benar... Bentuknya sudah banyak berubah.
Yang ini lebih...
"Nih! Mana jaket kamu?" Milady menyampirkan branya di pundak Sebastian. Langsung tercium wangi dari kain tipis dengan kawat itu.
Parfum Milady... Yang ia berikan dari jerman waktu itu.
Sebastian tersenyum puas.