
"Mbak Milady kenal Pak Danu? CEO Garnet Bank..." tanya Arman.
Milady mengangguk.
"Kenal... Dia pernah bantu saya dengan tabungan saya yang tiba-tiba banyak. Setelah transaksi."
Arman terkekeh mendengarnya.
"Jadi yang tahu hal ini, selain saya adalah Pak Danu?"
"...dan Trevor. Semua dengan kepentingan sendiri-sendiri. Hanya orang yang saya percaya mulutnya ngga ember. Ngga mungkin kan Komandan Regu Garnet Security membeberkan aib atasannya?!" ada nada ancaman di kalimat Milady.
Arman berdecak.
"Kalau kamu bukan istri Boss... Sudah saya..."
"Apa?! Ngga usah berfantasi yang enggak-enggak yah! Sundut nih!" sahut Milady sambil mengacungkan sumpit.
"Sudah saya masukin peti, saya larung ke laut..." tambah Arman.
"Baguslah... Masih mending yang itu."
"Memang dipandangan Mbak Lady, saya tuh segitu mesumnya yah..."
"Saya tuh ngelihat rekaman cctv mengenai dirimu sampai merinding loh Mas... Ada yah laki-laki yang begitu... Apa yah..."
"Apa?" Arman menunggu Milady melanjutkan ceritanya.
"Sehari bisa dua-tiga kali dengan wanita berbeda... Di setiap sudut ruangan gedung."
"Saya memang kelewat Agresif, ngga seperti suami kamu, maju-mundur sampai yang diincar insecure sendiri, sudah gitu bikin repot anak buahnya... Lagipula kenapa juga Pak Sebastian mengkoleksi adegan mesum saya... Perhatiin tuh laki lo, jangan-jangan nanti praktekin gaya gue lagi khehehe..."
"Iya lama-lama ketularan lo! Gue pindahin juga lo ke cabang Rusia!"
"Mungkin lebih baik begitu... Daripada di sini..." dengus Arman.
"Eh, jangan dulu deh... Saya masih butuh Mas Arman. Buat nganterin Rahwana ke Paud, hahahaha!!"
Arman hanya diam sambil mendengus kesal.
"Lanjut ngga nih?!"
"Nyimak Gan..." Milady masih cekikikan.
"Sekitar... Mungkin sudah lebih dari 11 tahun lalu... Saya masih di kepolisian. Kami dapat tugas untuk menyelidiki orang hilang di kaki Gunung Sindoro. Di duga pembunuhan... Orang yang kami cari menghilang bersama kedua bodyguardnya, hampir 30 tahun lalu. Dalam waktu 25 tahun, kasus seperti itu akan dipetikemaskan. Jadi sebelum batas waktunya habis, kami dapat permohonan dari pihak keluarganya untuk melakukan peninjauan kembali. Orang yang kami cari bernama Rufus Lionel Khamandana. Ayah kandung Pak Danu." cerita Arman.
"Ah! Apakah mereka... Benar-benar..." Milady langsung merasa mual.
"Hm... Kami tidak tahu pasti." Arman mengambil daging dari panci. "Saya menemukan residu setengah hangus di sekitar situ. Itupun di tempat yang sangat tersembunyi... Waktu itu seperti ada orang atau hewan lari, saya kejar, saya terpeleset ke cekungan, dan residu itu ada di lumpur. Mencolok karena warnanya orange... Tapi setengah terbakar. Cocok dengan pakaian terakhir yang dikenakan korban. Saat penyelidikan dibuka kembali, kasus Orang Hilang berubah jadi Pembunuhan, disitulah saya bertemu Pak Sebastian. Beliau yang membantu pihak keluarga Pak Danu untuk investigasi ulang. Dan setelah saya dipecat dari kepolisian... Hanya wajah Pak Sebastian yang saya ingat..."
Arman mengakhiri ceritanya dengan getir.
Sejenak diantara mereka hanya ada keheningan. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Sampai potongan daging terakhir dipanci tersisa, dan mereka sama-sama menyumpitnya.
"Plis deh..." umpat Arman.
"Ngalah dong Mas!"
"Kan sebentar lagi daging yang baru, datang Mbak!"
"Kan harus ngerebus dulu Mas, kelamaan!"
"Ya makannya pelan-pelan dong Mbak!"
"Kamu bukannya ngga laper tadinya kan cuma nemenin saya, Mas!"
"Perasaan barusan nyuruh saya habisin deh! Gimana sih?!"
Mereka saling menarik daging menggunakan sumpit.
"Pak Arman?"
Suara yang tak asing.
Arman mengernyit mendengar namanya dipanggil.
Janet...
Dan Yani...
Dan... Reny.
Ada di sana, di depan mejanya, memandang Arman dan Milady dengan wajah kaget.
Mereka bertiga memandang Arman dan Milady bergantian.
"Eh... Pada di sini?" sapa Arman.
"Pak Arman ngapain sama Mbak Milady?" tanya Reny, wajahnya penuh rasa ingin tahu yang intens. Juga terlihat curiga.
"Lagi nemenin makan istri..."
Dukkk!!
Milady menendang kaki Arman.
Arman menghentikan kalimatnya.
"Istri? Mbak Milady istri Pak Arman?! Sejak kapan kalian menikah?!"
Arman menatap Milady. Milady juga menatap Arman.
Arman menatap Reny dan Janet dan Yani, lalu menatap Milady lagi.
Milady hanya menatap Arman, menunggu konfirmasi pria itu.
Arman tiba-tiba menyeringai licik.
Milady langsung melotot.
"Bukan urusan kalian." sahut Arman sambil tersenyum.
Semua wanita di situ langsung terpekik, namun dengan maksud yang berbeda-beda.
Milady kembali menendang kaki Arman.
Arman terkekeh padanya.
"Kalau urusan kalian sudah selesai, bisa tolong tinggalkan kami?" sahut Arman.
Janet menatap Milady dengan pandangan penuh kebencian, bibirnya menipis menahan geram, lalu pergi dengan menghentak-hentak sambil menarik Yani dan Reny
Arman terkekeh menatap para wanita itu berlalu dengan marah.
Sementara ini dia tidak akan diganggu dengan cinta-cintaan.
Lalu menoleh ke Milady.
Wanita itu masih melongo menatapnya.
"Kamu bisa-bisa digorok sama Sebastian." gumam Milady.
"Ck ah! Sekali-kali bikin saya senang dong... Bakalan seru ini sih..."
"Seru apanya! Bisa-bisa saya dibully orang segedung!" seru Milady sambil melempar bawang putih ke Arman.
Arman makin tergelak melihat tingkah Milady.
"Sebentar saja lah..."
"Lagian situ ngga takut pasaran turun?!"
"Ah biar saja, saya sudah bosan main-main." Arman menarik daging yang tersisa.
Milady mendengus.
"Umur Mas Arman berapa sih?" Milady menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Menginjak 41 tahun, nanti 4 bulan lagi."
Mata Milady membulat.
"Udah tua juga yah... Baby face. Saya pikir baru sekitar 20an..."
"Iya banyak yang ngomong begitu..."
"Eh tunggu... 4 bulan lagi? Sama seperti saya dong! September juga?!"
Arman menyeringai.
"Tanggal ulang tahun saya adalah tanggal yang tidak ingin saya ingat. Karena mengingatkan saya ke orang tua angkat saya yang meninggal dibunuh..."
"Partai ko*mu*nis... Mas Arman... Jangan-jangan kita sama-sama 30 September?! Cuma beda tahun saja?!"
"Yah... Begitulah..."
"Ya Ampun! Kok bisa sih sama'an?! Ah! Ngga rela saya!!"
"Dih..."
*****
Darmawangsa.
"Ngga perlu diantar ke dalam yah, Nyonya Besar..." sahut Arman.
"Situ nanya atau nyuruh?"
"Nyuruh, lah..."
Milady mencubit pipi Arman.
Arman menepis tangannya. "Ngga usah ikut-ikutan Ipang..." dengusnya.
"Lah saya kan kakaknya." gelak Milady.
"Ah iya, Nyah..." Arman mengulurkan kepalanya dari jendela mobil. Milady menoleh ke belakang.
"Dalam tokoh pewayangan, Rahwana memiliki banyak istri, namun ia hanya jatuh cinta kepada Wedawati, sampai Wedawati bunuh diri dan bereinkarnasi menjadi Sinta pun, Rahwana tetap mengejar dan mencintainya. Saya lebih terkesan dengan cinta seorang raksasa dibanding seorang raja seperti Rama, yang bilang cinta di mulut tapi tidak percaya kepada istrinya Sinta sampai-sampai Sinta harus rela membakar dirinya untuk membuktikan dirinya masih suci. Bukankah kalau sudah cinta, kita biasanya menerima apapun kondisi kekasih kita? Apalagi dengan kondisi Sinta dalam keadaan terancam... Walaupun seandainya tubuhnya sudah ternodai pun, bukankah yang lebih penting hatinya hanya untuk kekasihnya?"
Milady tertegun dengan cerita Arman. Ia tidak bisa menjawab.
Arman hanya tersenyum sambil menjalankan kembali mobilnya.
*****