
"Kamu ngapain ke kantor?" tanya Arman saat Susan mensejajari langkahnya memasuki gedung Garnet Grup.
Beberapa wanita, termasuk operator dan tenant yang mengenal Arman secara intens, menatap Susan lekat-lekat.
Penampilan Susan memang bisa dikatakan seksi dan memikat.
Dengan rambut panjang kecoklatan, mata hijau tajamnya, bibir sensual khas latinnya, ia berjalan mendampingi Arman.
"Saya janjian pulang bareng."
"Pulang bareng... Kemana? Ke apartemen kamu? Dia boleh pulang malam?! atau ke rumah dia...? Memang dia boleh bawa cewek ke rumah Orangtuanya?!" ada nada mengejek dalam suara Arman.
"Astaga Pak Arman, urusi percintaan bapak saja sendiri, dong... Masa iri sama saya." Sungut Susan. "Tuh, fansnya pada nyinyir tuh ke saya..."
"Fans..." Arman mendengus sebal.
*****
"Sayang..." sapa Susan dengan antusias saat melihat Ipang sedang berkutat dengan dokumen di balik konter sekretaris.
Ipang langsung berdiri, tampaknya dia tidak menyangka akan kedatangan Susan. Tadinya ia pikir ia akan menjemput Susan di Bandara sepulang kerja, lalu pulang bareng. Susan tidak bilang jadwal kedatangannya. Jadi ia menunggu sambil menyibukkan diri menyortir email.
"Jarum jam terus berdetik, Banyak waktu telah terbuang, Hari ini kamu cantik, Aku jadi makin sayang...." desis Ipang.
Arman langsung terbatuk karena menahan tawa.
Susan?
Yah, dia sudah terbiasa.
Jadi dia hanya tertawa dan memeluk cowok itu dengan erat.
"Kenapa datang berdua sama Pak Arman?"
"Dia jemput aku di bandara?"
"Kenapa dia jemput kamu di bandara?"
"Tadi ada urusan kerjaan sebentar"
"Ngga ada sesuatu yang terjadi kan?"
"Sesuatu yang terjadi?"
"Iya, seperti kerjaan yang hampir aja gagal karena kamu mikirin aku terus atau tiba-tiba bapak yang disana menebar aura surgawi..." Ipang melirik Arman.
Arman sedang melepaskan jaket bombernya, dasinya ia lemparkan begitu saja ke dalam laci mejanya, menyambar tas mesenggernya dan mengalungkannya melingkar di tubuhnya.
Kelihatannya ia bersiap-siap pulang.
"Aura surgawi..." Desis Arman. Entah apa maksudnya menggumamkan kata itu.
Dari kejauhan, Janet melambaikan tangan ke arahnya.
"Hari ini lipstiknya Susan rasa coklat." sahut Arman ke Ipang.
Susan memekik tak percaya kalau Arman sepicik itu.
Arman menyeringai sinis sambil menghampiri Janet dan berlalu dari situ.
Susan menatap Ipang takut-takut.
Cowok itu sedang menatapnya dengan pandangan dingin.
"Benar?" tanya Ipang.
"Itu hanya urusan pekerjaan."
"Pekerjaan macam apa sampai dia tahu rasa lipstik kamu?"
Sial... Batin Susan.
Kenapa hari ini seakan semua memusuhinya?!
*****
Gunawan di Setiabudi cafe S dengan petinggi Johan's Company.
Hanya kata-kata itu, disertai beberapa foto. Pesan singkat lewat aplikasi telegram dari Arman.
Sebastian tersenyum sinis sambil mendengus.
Masih terlalu cepat 10 tahun kalau Gunawan mau melangkahinya.
Anak itu...
Sebastian mengenalnya dari ipar ayahnya. Sejak saat itu Gunawan selalu hadir di setiap pertemuan keluarga. Sebastian menghormati Gunawan dan keluarga Ambrose hanya karena mereka saudara jauh. Karena itu ia mengangkat Gunawan sebagai orang kepercayaannya.
Namun...
Adiknya terlalu sembrono.
Meilinda memang jarang hadir di acara keluarga sampai-sampai tidak tahu kalau Gunawan sudah beristri. Bahkan mereka berpacaran di belakang Sebastian.
Sekarang, setelah ini semua usai, yang mana Sebastian yakin kalau sebentar lagi karier Gunawan akan tamat, Apa yang akan dia lakukan dengan Gunawan...
Mungkin bisnis baru...
memanfaatkan 'dosa' Gunawan...
Sebastian tersenyum licik.
"Hei..." sapa Milady sambil masuk ke mobil.
"Hm..." balas Sebastian sambil mencium ringan bibir wanita itu.
"Kemana mobilku? Ngga kamu gadai kan?" tanya Milady.
"Kamu lebih kuatir terhadap masa depan mobil itu dibanding aku, kayaknya."
"Iya, Jazzy aku dapatkan dengan cara menabung sedikit-sedikit, menggunakan gajiku yang halal. Kamu aku dapatkan melalui transaksi haram. Jelas aku lebih kuatir sama Jazzy..." Sindir Milady.
Sebastian berdecak.
"Kamu sampai kasih nama mobil kamu... Luar biasa halu yah. Jazzy kamu lagi diservis sama Sapto, jadi aku ganti mobil setelah selesai urusan di Garnet Bank." desis Sebastian sambil menyalakan mesin mobil dengan sidik jarinya.
"Aku baru lihat yang ini. Mobil listrik yah..." Milady melayangkan pandangannya ke sekitarnya, mengamati interior Tesla Model X Long Range.
"Aku jarang pakai ini, kalau jalanan lagi macet aja aku pakai."
"Kamu jarang pakai karena ini paling murah di garasi kamu..." tuduh Milady.
Sebastian diam saja sambil menyeringai.
Sepertinya tebakan Milady benar.
"Dasar hedonis..." sindir Milady sambil mencium pipi Sebastian. "Biar aku tandai di sini supaya kamu sering pakai."
"Tandai...?" Sebastian mengernyit tidak mengerti.
Ia baru menyadari arti kata Milady saat wanita itu tersenyum nakal padanya, membuka resleting celana Sebastian dengan jemari lentiknya, lalu menunduk.
Sebastian terkekeh sambil menyibakkan rambut Milady agar bisa melihat wajah wanita itu lebih jelas.
*****
"Tidak Goal?! Maksud kamu apa?!!" Gunawan berteriak marah lewat telepon.
Sarah sedang mengabari kalau pengajuan pinjamannya di Garnet Bank tidak lolos.
"Kamu menjanjikan saya kalau keputusannya akan keluar hari ini!!"
"Pak, dari manajemen..."
"Kamu dan Stephen sebagai pemutusnya!! Sesuai otorisasi Bank, begitu kan kata kamu?!" seru Gunawan.
"Iya, benar. Tapi tiba-tiba owner ikut campur tadi..." sahut Sarah.
Gunawan tertegun.
Owner?
Owner yang mana?!
Ada 4 owner di Garnet Bank. Sebastian melalui Garnet Grup 30%, Meilinda 5%, Khamandanu Rusli 10%, Gerald Melalui Jarvas Grup 15%, sisanya dimiliki oleh masyarakat.
Seharusnya dengan adanya Danu dan Stephen, dana kredit sampai 100miliar bisa cair tanpa persetujuan orang lain lagi.
Kecuali ada yang memata-matainya.
Wanita di bandara tadi... Dan pria Korea itu.
Gunawan sangat curiga pada mereka. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres.
Oke...
Jadi tinggal rencana terakhir...
Gunawan menyambung koneksi laptopnya dengan hardisk eksternal.
Foto Meilinda.
Ia rekam dari video call saat phone se**x.
Posisinya sangat vulgar.
Semua ahli telematika pasti akan berpendapat kalau foto itu valid, dan bukan editan.
Gunawan menyeringai licik.
Ia mengirimkan salah satu foto ke Sebastian.
Disertai pesan :
Saya mau kepemilikan saham 50% Garnet Mining dialihkan kepada saya dan otorisasi penuh atas semua tindakan tambang Yakutia.
Send.
*****
Sebastian menarik napas panjang saat ia mendapatkan pesan singkat dari nomor tak dikenal.
Dari kata-kata dan maksudnya, sudah pasti ini dari Gunawan.
Tapi yang membuat Sebastian langsung merasa lidahnya kelu, adalah...
Foto Meilinda.
Dengan posisi sangat vulgar.
Dengan tanda tubuh yang ia sangat kenal, dan sudah pasti foto itu bukan rekayasa.
Sebastian merasa tubuhnya langsung limbung.
"Sayang?" Milady langsung menghampirinya saat Sebastian berdiri setengah menunduk bertumpu pada meja.
Dan melihat layar ponsel suaminya.
Wanita itu terpekik tertahan.
"Astaga!" pekiknya. "Se...Sebastian...?"
"Aku sudah tahu akan melakukan apa... Aku cuma... butuh waktu... Sebentar...." seakan napasnya tersengal dan kepalanya berputar.
Ia akhirnya duduk di sofa dengan menengadahkan kepalanya.
Melihat adiknya dalam posisi seperti itu, bagaikan melihat pela**cur namun dengan wajah Meilinda.
Pukulan telak baginya...
Milady terisak sambil duduk di sebelah Sebastian dan memeluk pria itu.
Membagikan kekuatan.
Mengambil sedikit kesedihannya...
*****
Beberapa tegukan air mineral membasahi tenggorokannya yang kering... Terasa perih saat cairan bening itu mengalir di dalam.
Lalu Sebastian menarik napas panjang dan berusaha duduk santai di sofa.
Milady mengulurkan ponsel Sebastian.
Wanita itu sudah tahu setelah ini pasti suaminya akan menghubungi beberapa orang.
Sebastian mengangguk perlahan dan memencet beberapa tombol.
Lalu meloud speakernya agar Milady bisa mendengar.
"Assalamu'alaikum." terdengar sapaan seorang wanita dari seberang sana. Suaranya lembut dan bening.
"Wa'alaikum Salam. Suami kamu di sini." desis Sebastian langsung.
"Baik Pak."
"Kamu tahu?"
"Saya tidak tahu. Sebelum ke Rusia dia pulang ke sini... Lalu ke Garnet Bank. Saya sempat ikut dengannya ke bank, tapi setelah itu dia kembali ke bandara."
"Waktu itu... Kenapa dia ke bank?"
"Mau melobi petinggi di sana untuk mendapatkan dana talangan. Kelihatannya untuk digunakan menggaji pekerja di Rusia."
"Apa yang setelah itu akan ia lakukan."
Terdengar suara dari seberang menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Mitha..." desis Sebastian. "Kamu paling kenal suami kamu dibanding orang lain, walaupun kamu terlalu bodoh untuk membiarkan dia berbuat sesukanya termasuk membuat diri kamu dimadu. Apa rencana kamu sebenarnya?"
Tidak terdengar apapun dari seberang sana selama beberapa saat.
"Membunuhnya..."
Terdengar gumaman itu.
Lalu isakan.
Dan tarikan napas lagi.
"Saya ingin membunuhnya..." ulang wanita itu. "Tapi saya tidak bisa."
"Saya akan kasih kamu kesempatan untuk membunuhnya." desis Sebastian. "Tapi bukan raganya..."
"Saya ingin dia tersiksa."
"Ya. Perlahan-lahan... Kamu tahu imbalan yang saya harapkan."
"Ya pak... Sekali lagi, saya akan mengabdi pada bapak."
"Oke. Pensiun kamu ditangguhkan. Welcome Back."
*****
Arman setengah mengeluh saat ia mendengar ponselnya berdering.
Dering dari ponsel yang lain, milik Agency.
"Sebentar..." desisnya menguasai diri.
Lawannya mengatur napas dengan tersengal-sengal dan sedikit banyak wanita dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya itu bersyukur ia memiliki jeda waktu untuk bernapas. Arman tidak kenal ampun saat belum mencapai puncak.
"Arman." desisnya menyapa seseorang dari seberang.
"Boss-Kun." suara Eiichi.
"Apa?"
"Ayumi di sini."
Arman langsung membeku.
"Siapa...?" ia meminta konfirmasi ulang.
"Ayumi... di sini. Di depan saya. Dia... datang ke kantor property mencari Rady-Chan dan saya."
"Mau apa dia?!" Arman langsung beranjak dan mencari pakaiannya. Bagaimana bisa perempuan itu ada di sini dan ia tidak tahu sama sekali?! Penjagaan di sekitar wanita itu memang agak diperlemah karena Trevor sudah bisa diajak bekerjasama. Tapi seharusnya agennya di Jepang memberi laporan kalau Ayumi melakukan pergerakan mencurigakan.
"Dia mau meminta perlindungan." Kata Eiichi.
"Apa?" Arman mengernyit.