
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Trevor sambil menyulut rokoknya. Dia berusaha santai.
Lagipula apalagi yang harus diperdebatkan?
Bisa jadi selama dia berhubungan dengan Ayumi, inilah saat-saat penuh kebenaran.
"Aku tidak bisa bilang karena Hari Fadil masih berkeliaran. Takutnya dia balas dendam padaku." gumam Ayumi sambil menyesap tehnya.
Namun Trevor memiliki feeling tersendiri bahwa tempat tinggal Ayumi bisa saja berkaitan dengan Arman. Karena dari perbincangan di telepon tadi tampaknya Ayumi berharap Arman menjemputnya.
"Walaupun kamu bilang kalau semua sudah terlambat... Aku tetap ingin minta maaf sama kamu." sahut Trevor.
Ayumi hanya diam.
Jemarinya mengetuk perlahan pinggiran cangkir tehnya.
Walaupun memang kata 'maaf' sudah tidak berguna, namun sebenarnya Ayumi memang berharap kata itu meluncur dari mulut Trevor.
"Aku minta maaf, karena tidak memahami kamu. Juga minta maaf karena ketidaktahuanku. Dan karena tampaknya semua masalah yang kalian hadapi bersumber padaku, aku juga minta maaf atas hal itu. Kalau ada yang bisa kubantu... Untuk meredakan rasa sakit kamu... Selama aku sanggup, tolong bilang saja." Kata Trevor dengan suara lembut khas dirinya.
Trevor yang kalem...
Dan baik hati...
Pria ini dari dulu seperti itu.
Ayumi hanya tertegun.
Air mata kembali menetes dari kelopak matanya.
"Aku ingin bahagia." Gumam Ayumi.
"Aku juga ingin hidup tenang... Jadi... Kamu, Mika... Tolong hidup bahagia, demi kebahagiaanku juga." Isak Ayumi.
Tampak sekali kalau sebenarnya wanita ini sudah tidak sanggup menghadapi hidupnya yang hancur baur.
Trevor masih mencintai Ayumi sebenarnya. Selama ini hanya Ayumi kekasih hatinya. Pada satu titik ia dipaksa harus berbalik... Apakah mungkin bisa? Perasaannya selama ini tidak main-main... Tidak seperti Ayumi yang melakukan semua dengan tujuan tertentu.
"Aku masih mencintai kamu." Trevor mengakui. "Karena itu... Aku akan mencoba untuk menghindari kamu. Kalau kamu bisa meraih bahagia kamu dengan kepergianku... Aku akan coba lakukan."
Saat ini, keduanya saling berpandangan. Namun tidak seperti dulu.
Bukan saling berpandangan karena mereka pasangan kekasih...
Mereka kini dua manusia yang berbeda.
"Aku juga akan minta maaf..."sambung Ayumi. "Karena memanfaatkan kamu sekian lama untuk tujuan balas dendam. Jujur, aku tidak mencintai kamu lagi. Semua yang aku lakukan hanya upaya untuk lebih mendekatkanku pada Sebastian. Untuk membunuhnya..." kata Ayumi.
"Orang tuaku tidak kembali, tidak bisa hidup lagi. Kamu tahu sendiri betapa sayangnya aku pada mereka, seburuk-buruknya mereka. Melihat mereka mati menderita, bagaikan palu dihantam ke kepalaku sendiri. Semua orang bilang kalau kematian mereka adalah salah mereka sendiri. Namun bagiku... tidak. Orang tuaku terjebak. Dari semua hal buruk yang mereka lakukan, nyatanya mereka sangat menyayangiku. Sama seperti Sebastian sangat menyayangi kamu. Jadi... Kuharap... Tolong mulai sekarang, kita lalui jalan yang berbeda..."
Trevor menyesap dalam-dalam setiap perkataan Ayumi.
Sakit rasanya...
Namun, lebih sakit lagi matanya... Saat melihat orang yang dia cintai terluka. Baik hati maupun fisik.
Terlihat kalau Ayumi menahan rasa perih, mungkin dari luka-luka di tubuhnya.
Jemari wanita itu bergetar saat mengelus ujung cangkir tehnya.
Jadi, Trevor tidak akan buang-buang waktu lagi.
"Baiklah... Ayumi." Trevor mematikan rokoknya. "Mari kuantar pulang. Daripada kamu menunggu Arman sampai sore..."
*****
Sekali lagi, ruangan meeting besar yang seharusnya lega dan cozy, kini terasa sumpek.
Arman sampai harus melonggarkan dasinya.
Sebastian menemuinya dengan cara duduk tegak dan resmi, yang mana hal itu adalah pertanda buruk.
Karena biasanya, saat Sebastian memanggil Arman untuk hal remeh, Pria berambut putih itu akan mengangkat kaki ke meja sambil menghisap cerutunya.
"Arman... Sudah berapa lama kamu bekerja dengan saya?" tanya Sebastian.
Sumpah serapah langsung menghiasi benak Arman.
"Hampir 9 tahun Pak." jawab Arman.
Sebastian menghela napas.
"Karena keteledoran kamu... Berapa banyak kerugian saya? Coba sebutkan..."
"Hem..." Arman berusaha mengingat laporan tadi pagi. "60miliar yen dan sekitar 50 nyawa manusia..."
Sebastian mengangguk.
"Berapa lama kamu bisa menggantinya?" gumam Sebastian.
Arman diam.
"Walaupun daftar nama yang dikasih kelinci kamu, sebenarnya sepadan dengan nilainya... Saya bisa gunakan untuk memperluas bisnis walaupun caranya tidak terlalu lurus..." kata Sebastian lagi. "Namun... saya benar-benar kecewa dengan kinerja kamu."
"Maaf Pak." desis Arman.
Walaupun ia tahu kata 'maaf' tidak ada gunanya.
"Sekali lagi ada kejadian, saya tidak bisa lagi menerima kamu. Saya anggap kamu tidak sanggup..."
Sungguh...
Kata-kata yang sangat menyakitkan.
Apakah selama 9 tahun ini, Arman bekerja untuk Sebastian, tidak ada hal baik yang bisa dijadikan pertimbangan?!
"Bukan masalah uangnya... Dalam waktu 6 bulan, dengan daftar itu, saya bisa mendapatkan jumlah 2x lipat dari yang saya keluarkan untuk membayar Yamaguchi-Gumi. Namun... Sampai kapan kamu mau bertingkah? Kamu kali ini beruntung Milady selamat. Berikutnya siapa lagi?"
Sebastian mengulurkan secarik kertas bermaterai ke depan Arman.
Perjanjian Kerja.
"Kamu tulis sendiri di situ, berapa jumlah uang pesangon pensiun dini kamu. Saya lakukan karena selama ini kamu cukup berjasa untuk saya dan bisnis. Perjanjian ini akan berlaku kalau kamu berbuat kesalahan yang sama sekali lagi..."
Walaupun secara materi sebenarnya Arman cukup diuntungkan, Namun Sebastian sudah menyerang harga dirinya.
Hal yang paling menyakitkan dalam diri Arman.
Mentalnya langsung didorong serendah mungkin oleh Sebastian.
Namun ia tidak ada pilihan lain selain menandatangani perjanjian itu.
*****
"Pinjam uang cash..." sahut Ayumi saat mereka berhenti sejenak di sebuah supermarket kecil. "Nanti biar gaji si Bakayarou dipotong untuk ganti uang kamu."
Trevor mengernyit.
Sejak kapan...?!
Sekitar setengah jam Ayumi kembali dengan tentengan dua kantong plastik berlogo supermarket.
"Aku beli camilan. Kamu kan suka ngemil. Ada kopi kotak dan donat juga..." kata Ayumi saat masuk ke dalam mobil. Wanita itu membuka panty sekali pakai dari kotaknya dan mengenakannya di depan Trevor.
Lalu menghela napas lega.
"Kemana cel..." Namun Trevor urung melanjutkan kalimatnya. Karena instingnya mengatakan, jawabannya hanya akan membuatnya sakit hati.
Untung saja Ayumi hanya meliriknya sinis sebagai jawaban.
"Boleh minta tolong?" tanyanya sambil membuka jaketnya dan mengulurkan antiseptik yang masih bersegel ke Trevor.
Trevor menahan emosinya saat melihat punggung Ayumi.
Penuh luka gores panjang.
Beberapa bahkan masih merah dan belum kering benar.
"Ini..." Trevor tidak sanggup berkata-kata. Pemandangan di depannya sangat miris.
Ayumi menggulung bagian lengan jaketnya.
"Pelan-pelan ya... Pain killernya tinggal satu butir, mau kusimpan buat malam." sahut Ayumi.
Lalu wanita itu menggigit lengan jaketnya dan memunggungi Trevor.
Terdengar pekikan kesakitan tertahan wanita itu saat Trevor menorehkan antiseptik pada lukanya.
Sungguh...
Penderitaan Ayumi tidak sebanding dengannya...
"Kamu kemarin ke vila juga pakai mobil?" tanya Ayumi sambil perlahan mengenakan kembali jaketnya, lalu memeriksa luka bekas operasi di pahanya.
Trevor memperhatikannya sambil mengernyit.
Apa lagi yang ini...? Perbannya sangat ia kenal, khas Dokter Arjuna.
"Iya." jawab Trevor.
"Memang terbiasa kesana kemari sendirian?" tanya Ayumi.
"Begitulah..."
"Walaupun ayah kamu punya agency sendiri?"
"Jujur saja, sampai bulan lalu aku pikir Garnet Security Agency hanya mengurusi mengenai pasokan security, bodyguard dan detektif swasta... Aku baru ngeh waktu Softopening Coast View saat Eiichi Yazaki melakukan pengamanan."
"Apa itu Coast View?"
"Mall baru milik Garnet."
"Goruneto milik Sebastian dimana-mana di seluruh dunia." desis Ayumi sambil mengernyit saat merawat lukanya.
"Itu... Bekas operasi." Akhirnya Trevor tidak tahan untuk bertanya.
"Iya. Aku menyembunyikan sejenis disk... Semacam chip yang berisi daftar pengedar yang bekerja sama dengan Yamaguci Ito di jajaran pemerintahan. Sudah diambil Sebastian..."
"Kamu menyembunyikan? Maksudnya... disembunyikan di dalam..." Trevor menunjuk paha Ayumi
Ayumi mengangguk. "Iya. Disknya di dalam sini, lalu aku jahit..."
"Astaga..." Trevor memalingkan muka.
Ia mengatur napasnya.
"Ini sakit sekali rasanya. Untung saja Sebastian punya dokter yang hebat..." kernyit Ayumi sambil membebat lukanya kembali dengan kasa yang barusan ia beli di supermarket.
"Aku harap kamu mengantarku pulang cepat-cepat... Aku harus kontrol ke Dokter Arujuno karena pain killerku hampir habis. Bisa-bisa aku demam karena tidak tahan sakit." kata Ayumi.
"Iya..." Trevor menstarter mobilnya.
Duuarrr!!!
Petir menyambar di langit.
"Perasaan tadi masih cerah..." gerutu Ayumi.
"Kalau di gunung memang begini, Cuaca tidak bisa ditebak..." sahut Trevor sambil menjalankan mobilnya.
*****
Pukul 18.00
"Mereka belum kembali?!" Arman masuk ke ruangan Garnet Agency dengan langkah menghentak-hentak.
Sinyal di ponsel Ayumi tidak terdeteksi, begitupun ponsel Trevor.
"Belum Pak, kami sudah coba menyisir lokasi terakhir mereka terlihat. Supermarket kecil di area Wonosobo tadi pagi. Namun saat hampir melewati Banjarnegara mereka menghilang."
"Cuaca bagaimana?"
"Hujan cukup deras. Sungai Sigaluh banjir bandang."
"Berapa jurang yang ada disitu?"
"Sebentar Pak..."
"Pak Arman..." Eiichi menghampiri dengan tergesa-gesa. Mukanya pucat.
"Bapak harus lihat ini..." ia menggeser slide tabletnya ke layar raksasa.
Tampilan cctv.
"Hari Fadil?" Arman membelalakkan matanya. "Di Indonesia?!"
"Tepatnya di kawasan Dieng. Mungkin mereka bermaksud menyusul Jeko dan anggotanya namun kita keburu menghabisi semuanya. CCTV ATM mendeteksinya kemarin malam bersama beberapa preman bayaran."
"Dia... Di lokasi yang sama dengan..."
Semua diam.
Bisa jadi 'lost signal' yang melanda Ayumi dan Trevor bukan berasal dari cuaca, namun 'buatan' Hari Fadil.
"Mereka terlacak melakukan pengintaian ke area vila, namun tidak berani mendekat karena polisi dimana-mana." Eiichi menampilkan beberapa cctv yang ia retas dari supermarket, atm, dan media lain sekitar.
"Bagaimana laporan penjaga vila?" tanya Arman sambil memijat dahinya.
"Penjaga villa bilang, Pak Trevor dan Ayumi kembali ke Jakarta dalam satu mobil. Trevor yang menyetir..."
"Kenapa sih keluarga konglomerat sialan ini ngga pernah pakai pengawal kalau kemana-mana hah?! Luar biasa menyusahkan!" Jerit Arman frustasi.
Sekali lagi, kariernya di ujung tanduk...