Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Calon Mertua



"Perasaan minggu lalu lo sehat-sehat aja bro waktu menghadapi penyidik. Kenapa sekarang jadi frustasi begini? udah nyerah?" Goda Komisaris Jenderal Polisi Irwan Hartawi, Kepala Badan Narkotika Nasional, sambil menepuk bahu Sebastian.


Anak buahnya melaporkan kalau Sebastian tidak ingin menjawab pertanyaan apapun saat di ruang interogasi.


Bungkam dan hanya diam seharian.


Sebenarnya Irwan sebagai seorang atasan tidak boleh ikut campur, turun tangan menghadapi pesakitan ataupun berstatus saksi. Apalagi kalau saksi dari kalangan pejabat seperti Sebastian yang jelas-jelas memiliki hubungan masa lalu dengannya.


Bukan, mereka bukan teman.


Bahkan jauh dari itu...


Hubungan mereka bahkan pernah tidak harmonis.


Namun semakin menua usia mereka, terlalu banyak permusuhan dan persaingan yang seakan malah tidak ada artinya.


Jadi daripada capek sendiri akan perang yang tidak ada habis-habisnya lebih baik mereka gencatan senjata.


Saat Sebastian mendirikan Garnet Medical untuk tujuan ganda, selain membangun rumah sakit, ia juga bertujuan menciptakan obat untuk anaknya. Sebastian meminta secara langsung kerjasama dari berbagai macam pihak dan mereka sudah langsung mengadakan meeting di Anantaraja, mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.


Beberapa pebisnis dan tokoh politik dilibatkan. Mereka membahas mengenai penyakit anak Sebastian dan keterlibatan politik mafia di dalamnya.


Maka untuk menjaga kemungkinan terburuk yang terjadi, posisi Irwan Hartawi dan Atmana Hadiprayitno diperkuat.


Dan sampailah ia dan Atmana, ke posisi ini...


Sepeninggal Baskara Beaufort, banyak sekali yang terjadi... Keluh Irwan.


Ah iya, mereka juga harus menunjuk penerus...


Harus yang dari kalangan seperti mereka, yang diajarkan sejak dini untuk menjadi penguasa...


Ares Manfred...


Kemana dia? Pikir Irwan.


Irwan salah satu orang yang mengangkat karier Arman di kepolisian. Namun sejak kasus itu, kasus penembakan itu... Arman menghilang. Tadinya Arman ditunjuk sebagai kandidat kuat untuk menjadi 'orang besar'...


Sebastian hanya menanggapi Irwan dengan lirikan sinis, lalu kembali memijat dahinya.


Tiga orang yang berjaga di ruangan, Dirga dan dua anak buahnya, memberi pose hormat pada Irwan, lalu kembali berdiri di sudut ruangan, memberi jalan bagi atasan mereka.


Irwan duduk di depan Sebastian dan memperhatikan pria itu.


Usia Irwan, sang Komjen Pol, tahun ini 57 tahun, memiliki 4 anak yang semuanya sudah berkeluarga, memiliki 9 cucu, dan dua istri... Maksudnya 1 mantan istri dan satu lagi istri muda yang sekarang juga sedang hamil.


Jadi, karena pengalaman hidupnya, Irwan langsung menyeletuk :


"Pasti soal perempuan yaaa..." ledeknya.


Sebastian langsung meliriknya.


Lalu menghela napas.


"Wan..." sahut Sebastian. "Tuntasin aja semuanya. Gue capek... Nanti ada orang gue yang kesini buat beberin semua bukti."


"Udah selesai nih maen-maennya? Gue konferensi pers nih? Kalo tuntutan pencemaran nama baik ya urusan AKBP Bagaswirya lah bukan kita... Yang di Jepang juga bukan urusan gue ya..."


"Yang di Jepang biarin aja dulu. Gue punya rencana lain... Yang disini aja, gue masukin got sekalian..." sahut Sebastian sambil beranjak.


"Bentar, bro..." Irwan mencegah Sebastian keluar ruangan.


Si Rubah menatap Irwan dengan waspada.


"Siapa calon nyonya? Yang bikin orang kayak elo bisa jadi begini?!" Irwan terkekeh geli.


"Ck... Sampein salam gue ke bini lo... Gue mau cari cincin." dengus Sebastian.


"Wahh..." seru Irwan. Dia langsung menyambar ponselnya dan menghubungi Atmana.


"Anuuu... Pak? Saksi dilepas begitu saja?" tanya Dirga kebingungan.


"Iya, lepasin aja. Memangnya kamu ngga stres pas dia di sini seharian? Saya aja yang beda ruangan stress..." sahut Irwan.


"Ya tapi kan..."


"Ssh... Panggil Hari Fadil ke sini..." desis Irwan sambil keluar ruangan dan mengetik pesan singkat ke Atmana :


"Siap-siap ke kondangannya Sebastian.


Btw, gue pinjem wakil lo sebentar. Hubungi perdana menteri buat bekukan greencardnya."


"Kondangan apa? Sebastian memang mau nikahin anaknya kan?" balas Atmana.


"Bukan anaknya."


"Maksud lo?"


Irwan terkekeh dan menyimpan ponsel di kantong celananya. Dering telepon dari Atmana yang meminta konfirmasi ia acuhkan.


Dirga hanya menghela napas dan saling bertatapan dengan kedua anak buahnya. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana ini Pak?" tanya salah satu penyidik.


"Ya ikutin aja walaupun ngga suka... saya juga keki, dari kemarin capek mondar-mandir, akhirannya cuma begini doang..." Omel Dirga.


Karena...


Ia juga harus mempersiapkan diri dengan kedatangan Arman sebentar lagi.


*****


"Yan?"


Malik Adara menghampiri Sebastian dengan kaget. Lalu membukakan gerbangnya.


Dan mengernyit.


Mobil polisi.


Di belakang Sebastian.


"Pak Sebastian, saya kembali bertugas yah. Nanti pulangnya gimana?" tanya Rama dari balik kemudi.


"Nanti Arman jemput saya." Sebastian melambaikan tangan.


"Baik pak..." Sahut Rama sambil begidik mendengar nama itu.


Sebastian menghampiri Malik dan menyeringai.


"Hei, Pak Malik... Apa kabar bisnis?" sapa Sebastian.


"Ya begini-begini saja, yang penting anak-anak bisa makan, hehe..." sahut Malik. "Masuk Yan, kok tiba-tiba bisa di sini?! Itu beritanya heboh banget loh elo dibilang pengedar berkedok pebisnis segala..."


"Istri lo dimana?" tanya Sebastian.


"Ada di dalam, lagi bikin kue kayaknya... Sebentar..."


Sebastian mencegah Malik yang berniat memanggil istrinya.


"Ngga usah Lik, nanti saja. Gue mau ngomong sama lo dulu." kata Sebastian.


Malik memandang Sebastian dengan pandangan bertanya, lalu mempersilahkan Sebastian duduk di teras rumahnya.


"Kenapa Yan? Pernikahan anak-anak kita tinggal menghitung hari, tapi mereka masih saja sibuk kerja ya..." kata Malik.


"Iya..." Sebastian memandang ke depan, ke arah halaman rumah. "Itu yang mau gue omongin"


"Kita sudah lama berteman, langsung aja Yan... mau bicara apa?" Malik mencondongkan tubuhnya ke arah Sebastian.


"Gue mau... membatalkan pernikahan Trevor dan Milady."


Angin sepoi menerpa pepohonan di depan mereka...


Sejuk dan dingin.


Mengingat mereka ada di pinggiran kota, namun polusi masih banyak di sekeliling perumahan.


Tapi di rumah ini, kesejukan masih terasa nyata.


Milady pernah bilang kalau ia menghabiskan setengah uang hasil transaksi escort untuk membangun rumah bagi bapak ibunya. Lalu uang hasil transaksi kedua, untuk biaya pendidikan kakak dan adiknya.


Sebastian berpikir, tampaknya Milady tidak sia-sia menghabiskan uangnya. Rumah ini berlantai satu dan terasa cukup nyaman ditinggali, dengan halaman luas penuh tanaman yang membuatnya terasa sejuk.


"Kok... tiba-tiba saja Yan? Tinggal satu minggu lagi loh Yan. Undangan juga sudah disebar. Ada apa?" Malik Adara tampak sedikit panik menghadapinya.


Sebastian sedang menyusun kata-kata. Ternyata menghadapi persoalan pribadi tidak semudah bernegosiasi dalam bisnis.


"Elo... temenan sama gue sudah cukup lama. Walaupun kita sempat bersitegang masalah Ratna." kata Sebastian.


"Ah... Iya... Masalah Ratna gue sudah tidak..."


"Iya, tak apa, gue ngerti yang itu." potong Sebastian.


Malik menghela napas. "Maaf Yan, gue enggak mengira kalau perbuatan gue malah membuat Trevor jadi..."


Mereka sama-sama mengingat masa lalu, saat pernikahan Malik Adara terjadi, dan usia Trevor masih bisa dikatakan bayi.


Sebastian pikir Ratna sudah merelakan Malik untuk menikah.


Namun ternyata, tidak.


Wanita itu tampak baik-baik saja di depan, namun di belakang menyimpan dendam besar. Dan ia lampiaskan ke Trevor bertahun-tahun di masa golden age anak itu.


"Karena itu kita merancang perjodohan ini kan? Karena rasa bersalah kita..." kata Sebastian.


"Iya." Malik mengakui.


"Lo tahu Lik... Karena Ratna depresi setelah lo tinggalin, rasa trauma Trevor belum sembuh sampai sekarang. Phobianya terhadap perempuan semakin parah. Gue awalnya memang terkejut karena Milady bisa meredakan traumatis Trevor. Karena itu gue pikir kalau perjodohan mereka sebenarnya hal yang sangat tepat. Tapi sekarang..." Sebastian menghela napas.


"... Sekarang gue merasa semua berjalan tidak semestinya."


"Maksud lo, Yan? Karena perbuatan gue ke Ratna? Dia bahkan sudah tidak ada di dunia ini. Trevor tahu kalau ibunya sudah meninggal?"


"Belum."


"Seharusnya dia dan Milady memang menikah, gue lihat mereka saling cocok..."


"Hm." gumam Sebastian. "Gue mau minta Milady, buat gue."


"Hah?" Malik terperajat.


"Boleh?" tanya Sebastian.


"Lo kecapekan ya kayaknya. Dari kemarin mengurusi kasus obat itu kan? Mau pinjam kamar tamu untuk tidur sebentar?" Sahut Malik.


Sebastian tersenyum tipis.


"Lo tahu gue selalu serius." kata Sebastian.


"Yan..." Malik Adara memandangnya dengan waspada.


"Sudah banyak kejadian yang gue dan Milady alami selama ini... Gue ngga ingin pernikahan mereka menjadi seperti pernikahan gue dengan Ratna. Yang ada hanya mimpi buruk."


"Kejadian? Kejadian apa, tepatnya? Lo sadar kan, kalau usia kalian sangat..."


"Lo sadar kan, kalau biang masalah Di keluarga gue adalah Elo?" timpal Sebastian memotong sindiran Malik.


"Iya gue tahu itu, dan gue kan udah minta maaf."


"Memangnya maaf saja cukup?" sahut Sebastian.


"Terus gue harus menjual anak gue ke elo, begitu?" Malik merasa sedikit emosi, sedikit banyak perangai sebenarnya dari Malik Adara keluar. Dari dulu, ia dan Sebastian memang tidak pernah akrab. Mereka satu geng hanya karena saling membutuhkan.


Dan Malik pun tidak menghubungi Sebastian saat ia bangkrut karena tidak enak perihal Ratna.


Tanpa ia tahu yang menyebabkan kebangkrutannya adalah...


"Milady minta gue nikahin. Dan gue... Minta restu lo untuk itu."


"Dia? Minta lo nikahin? Lo mimpi? Milady masih muda apa mau dia dengan... Walaupun begini, gue kenal dengan anak-anak gue sendiri Yan, tipe seperti Milady yang kalem... Lo jangan fitnah, ya!" Ujar Malik.


Sebastian menyerahkan ponselnya ke Malik.


Sebastian, aku sudah memutuskan, akan tetap mencintai kamu.


Yang sudah terjadi adalah takdir. Aku tidak akan ungkit lagi.


Waktu kita berdua, tinggal seminggu lagi.


Kini semua keputusan ada di tangan kamu.


Aku hanya tidak ingin menyesal.


Milady.


Isi pesan singkat dari Milady tadi pagi, sebelum Sebastian memenuhi panggilan BNN.


Yang membuat kepala Sebastian pusing setengah mati.


Dan kini pusingnya menular ke kepala Malik Adara.


Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak ingin berdebat, berbicara, bahkan tidak ingin bergerak.