Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Zeus dan Hello Kitty



Ya Ampun...


Dia ada dimana-mana...


Milady mengernyit saat ia sedang berada di Garnet Bank untuk mengambil rekening koran sekaligus mengantarkan hampers untuk Danu.


Sebastian...


Melenggang masuk ke gedung Garnet Bank diikuti belasan bodyguardnya.


Sebelah tangannya dimasukan ke dalam saku celana, dengan cerutu tersampir di pinggir bibirnya.


Beberapa petinggi Garnet Bank menyambut kedatangannya dengan penuh rasa hormat.


Milady bisa melihat Danu, yang menjabat sebagai Direktur Utama Garnet Bank, menyambut uluran tangan Sebastian dan berbincang-bincang sejenak di tengah lobi.


Sementara orang-orang yang akan melewati lobi harus melipir mepet ke samping, atau mereka lebih memilih berbalik arah untuk jalan memutar saat melihat Sebastian.


Danu mempersilahkan Sebastian untuk melanjutkan perjalanan ke arah lift, Sebastian melirik sebentar ke ponselnya.


Lalu ia menoleh ke arah Milady yang sedang menunggu di kursi tunggu Bank,


Dan mengerling padanya.


Milady mencelot saking kagetnya.


Ya Ampun...! Batin Milady.


Sempat-sempatnya dia main mata padaku!


Milady menoleh ke arah lain dan memutuskan bersikap tak peduli.


Hari ini mungkin hari sibuk di Garnet Bank, kelihatannya Rapat Kinerja sedang berlangsung.


Trevor mengabarinya kalau ia tidak akan ada di kantor seharian karena harus mewakili ayahnya menghadiri acara di Garnet Hotel, sedangkan Bram sedang diluar kota hari ini. Jadi Milady memutuskan untuk agak merenggangkan jadwalnya.


Namun saat berencana untuk brunch di mall terdekat, ayahnya minta diambilkan rekening koran. Jadilah Milady juga berada di Garnet Bank sekarang...


Namun sekarang sepertinya bukan saat yang tepat untuk bertemu Danu ataupun Dimas dan Selena. Mereka pasti sedang sangat sibuk...


"Kamu di sini juga, sayang?" Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Milady.


"Aku boleh ngga jawab?" Balas Milady.


Ia agak kesal karena Sebastian memonitor pergerakannya seperti ia tahanan kota.


"Nanti makan siang bareng aku yah." Balas Sebastian.


Milady mencibir sambil membaca layar ponselnya.


"Aku mau makan siang bareng Lena dan Dimas." Balas Milady, menolak ajakan Sebastian.


"Oke. Aku pastikan Dimas dan Lena sibuk." Balas Sebastian.


Milady terpekik kesal.


Ih! Benar-benar deh ini Jin Tomang! Tidak menerima penolakan apapun! Batin Milady sebal. Namun pekikan kesalnya terdengar jelas ke customer service di depannya.


"Eh.... Mbak Lady... Maaf..." Si Customer Service menyodorkan minuman teh di dalam kotak. "Minum dulu biar agak rileks..." Desisnya sambil menyeringai agak takut-takut.


Milady menghela napas.


Okeee... Tarik napas dalam-dalam... Hembuskan...


Lalu senyum.


"Makasih ya Rita... Iya, biasa kerjaan kantor numpuk... Hehe..."


Milady menerima minuman kotak dan menyeruputnya. Lalu mengetikkan beberapa kata balasan untuk pesan singkat Sebastian yang nyeleneh.


"Awas kamu macam-macam!" Ketik Milady mengancam.


Send


Milady lalu berpikiran untuk menitipkan hampers Danu ke resepsionis saja.


*****


"Mbak Lady...!"


Milady menoleh saat merasa namanya dipanggil.


Danu menghampirinya dengan hampers yang tadi Milady titipkan di resepsionis.


"Untung keburu terkejar... Kenapa ngga masuk?" Tanya Danu.


"Eh... Takutnya Mas Danu sibuk, kan lagi acara Rapat Kinerja?"


"Iya, sekarang lagi cofee break. Masuk aja yuk ke ruangan saya... Ngopi sebentar."


Milady bisa melihat setiap orang di Garnet Bank sibuk mondar-mandir, walaupun saat ini cofee break, seperti kata Danu tadi.


Yang tampak santai mungkin hanya pria berwajah bak vampir jaman pertengahan di depannya ini, yang berjalan sambil menenteng tas kertas hampers dari Milady dan... dijauhi semua orang. Semua orang berlalu lalang tapi mereka menjaga jarak ke Danu.


Para karyawan bahkan tidak berani berlama-lama menatap mata Danu.


Milady sampai terpana melihatnya.


Tapi saat mereka melihat Milady, orang-orang yang tadinya menyibukkan diri malah jadi terpaku pada wanita itu.


Sedetik-dua detik mereka menatap Milady lekat-lekat, sebagian besar membalas senyum Milady, dan sisanya tertegun karena senyum Milady.


"Karyawan di sini cakep-cakep yah Mas..." Puji Milady.


Danu menoleh sekilas ke belakang, ke arah Milady, sambil menyeringai.


Astaga...


Milady sampai merinding melihat seringainya. Seperti seringai Joker.


"Iya, itu pekerjaan Direktur Personalia kami. Saya bebaskan saja dia merekrut sesukanya, yang penting karyawan jujur dan amanah, bagi saya sudah cukup. Bekerja di sini tidak harus pintar dan berIQ tinggi, yang penting dia ada kemauan bekerja." Sahut Danu.


Milady mengangguk setuju.


"Bossbro, lo butuh laporan per kuartal ngga? Gue prepare pake triwulanan aja sih tapi banyak perubahan..."


Dimas datang menghampiri Danu sambil menenteng setumpuk bantex.


"Eh? Loh? Lady... Kamu kok disini?" Dimas tampak terkejut.


Milady menyeringai.


Entah kenapa saat melihat Dimas, hatinya jadi berbunga-bunga.


Lalu Milady menyodorkan pipinya ke Dimas.


"Ohiya." Desis pria itu sambil mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Milady.


Disertai sorakan orang-orang disana.


Dan ejekan :


"Yaelah Mas! Plis deh, semua dewi lo embat!!" Teriak seseorang dari sudut ruangan.


"Eh, ini mantan pacar, Mingkem lo semua!" Balas Dimas.


Mantan pacar...


Batin Milady tersipu.


Pipinya langsung memerah malu.


Terlihat Dimas sangat akrab terhadap semua individu di kantor ini, tidak memandang jabatan dan posisi.


Tapi dari dulu pembawaan pria itu memang supel. Itu yang membuat Milady sempat terpikat. Walaupun pada akhirnya hubungannya dan Dimas kandas karena Sebastian selalu ada di hatinya.


"Pak Dimas, tolong yah kondisikan pengunjung di ruangan meeting! Saya sampai ngga bisa lewat loh iniiiii..." Terdengar teriakan Selena dari kejauhan.


"Eh..." Wanita itu menghentikan langkahnya dan mundur kembali. Lalu wajahnya terkejut melihat Milady dan langsung menghampirinya setengah berlari.


"Laadddyyyyyyy!!!" Serunya sambil memeluk Milady dengan antusias, sambil sebelumnya sempat mendorong Dimas untuk menyingkir.


Milady sampai oleng ke belakang.


"Lady plis gantiin gue! Ngga tahan gue kerja di bawah pimpinan kadal busuk bau feromon!" Isak Selena.


"Itu maksudnya... gue...?" Dengus Dimas.


Milady terbahak geli melihat tingkah dua sahabatnya.


"Udah sono menyingkir! Berita acara udah selesai belom?!" Seru Dimas ke Selena.


Selena langsung melepaskan pelukannya ke Milady. "Astaga! Berita Acara! Saya lupaa!!" Lalu dia setengah berlari masuk ke ruangan.


"Daritadi lo ngapain aja, Blorong!!" seru Dimas kesal.


"Kamu bayangin kalo dia sampe iparan dan tinggal serumah sama aku? Bisa-bisa rambutku botak..." Dengus Dimas ke Milady.


"Loh , seru dong setiap hari dengan segala keributan kalian itu..." Kikik Milady.


"Jadi, kamu ngapain di sini, diundang Raker juga?" Dimas menyeringai padanya.


Ya Ampun senyumannya... Charming! Batin Milady.


"Dia tamu gue, Mas..." Sahut Danu.


Dimas terpaku sambil menatap Danu.


"Tamu lo Bossbro?" Tanya Dimas meminta pengulangan.


Danu mengangguk.


"Kok lo bisa kenal?" Dimas menunjuk bergantian antara Milady dan Danu.


"Gue kenal Mbak Lady sejak masih pegang jabatan lo. Kadiv SKAI." Sahut Danu.


"Wih... Temen lama dong lo berdua... Asli, gue kaget loh..." Desis Dimas. "Kamu makan siang dimana nanti?"


Milady terkekeh.


"Aku diajak makan siang sama Pak Sebastian." Sahut Milady.


Dimas kembali membeku.


"Kamu diajak makan siang sama Pak Sebastian." Itu bukan pertanyaan, itu pengulangan kalimat.


"Hm... Menarik..." Dimas mengelus dagunya sambil tampak berpikir.


"Orang yang diajak makan siang sama genderuwo gunung lawu biasanya bukan orang sembarangan. Kamu... Isu yang itu benar? Kamu dijodohin sama Trevor?"


Milady mengangguk.


"Trevor bukannya udah punya pacar?"


Milady mengangguk lagi.


Dimas memicingkan matanya menatap Milady. "Hm... Konspirasi apa lagi ini?" Gumamnya curiga.


Milady hanya menyeringai menanggapinya.


"Ya udah kali bro, Mbak Lady jangan lo monopoli sendiri dong... Yuk mbak..." Sahut Danu sambil menggiring Milady melanjutkan berjalan ke ruangannya.


"Lady hati-hati, dia ngisep darah!" Seru Dimas dari kejauhan.


"Gue bukan nyamuk!" Balas Danu menanggapi Dimas.


Milady terkikik.


"Seru ya kerja di sini..." kata Milady.


Danu mempersilahkan Milady duduk di sofa tamu di ruangannya sambil berjalan ke konter dengan mesin kopi.


"Iya Mbak, setiap hari ramai. Saya juga ngga kasih batasan untuk mengobrol... Buat saya semuanya sama saja, sama-sama kerja. Asal masih dalam porsi saling menghargai..." Sahut Danu.


"Apa kabar Mbak, saya kaget loh kamu datang kesini..." Tanya Danu setelah menyuguhkan kopi untuk Milady, dan duduk di depan Milady.


"Hehe... Saya baru pulang dari Jepang. Terus jalan-jalan di Shibuya, lihat itu, eh inget Mas Danu..." Sahut Milady.


"Hooo..." Danu meraih tas hampersnya. "Saya unboxing nih yaaa..." Izinnya.


"Mudah-mudahan suka..." Desis Milady.


Box besar persegi panjang berwarna hitam dengan ornamen era zaman pertengahan. Dengan isi sebilah tongkat berukuran 30 cm.


"Hm? Ini apa?"


"Itu tongkat. Kalau kaitnya ditekan dia bisa memanjang..."


Saat Danu menekan tombol kecil dan menariknya tongkat itu tersusun menjadi seukuran 100cm dengan ujung menipis.


"Waaah... Keren yaaa..."


"Diujungnya ada pisau..."


"Ohya?" Danu menarik ornamen kristal diujung tongkat. Terselip pisau baja seukuran 30 senti. Terlihat mata pria itu langsung berkilat kagum.


"Waduh... Saya suka sekali, Mbak...!" Desis Danu.


"Hehe... Syukurlah Mas..."


Milady menyesap kopinya sambil memperhatikan Danu mengagumi oleh-olehnya.


Sebenarnya Milady juga membelikan untuk Sebastian dengan model dan warna yang berbeda, tapi ia akan simpan untuk nanti kalau pria itu mulai ngambek.


Tongkat untuk kakek-kakek...


Cocok sekali, kan...?!


"Penampilan saya jadi lebih bersahaja... Apalagi ornamennya klasik. Cocok untuk saya..."


Danu mengagumi dirinya dengan tongkat gothicnya di kaca raksasa yang tersedia di ruangannya.


Lalu terdengar pintu ruangan kacanya diketuk perlahan.


Dimas muncul dari baliknya.


"Bossbro, meeting dimulai." Sahut pria itu.


Lalu dia memperhatikan Danu sambil memiringkan kepalanya.


"Gimana penampilan gue?" Tanya Danu antusias sambil bergaya ala bangsawan.


"Lo jadi lebih 'drakula' dibanding 10 menit yang lalu..."


"Ada pisonya nih..." Danu menarik ujungnya dan memamerkannya ke Dimas.


"Kenapa lo tiba-tiba punya barang keren estetik begitu? Dapet dari mana?"


"Oleh-oleh dari Mbak Lady..."


Dimas berdecak lalu dia menatap Milady.


"Kok aku ngga dikasih yang keren begituuu..." Dia merajuk.


"Yah... Aku ngga inget kamuuu hahaha soriii..." Sahut Milady.


"Kamu jahat. Kita putus!" Canda Dimas.


"Kita memang udah putus, kali!" Balas Milady.


"Mbak, maaf yah saya tinggal dulu. Mbak Lady mau tunggu di sini?" Tanya Danu.


"Saya cuma mau menyampaikan itu saja sih Mas... " Milady beranjak dari duduknya.


Dan saat itulah...


"Lionel."


Sebuah suara yang paling familiar dalam diri Milady sekarang, bernada tegas dan rendah, muncul dari belakang Dimas.


"Astaghfirullah...!" Desis Dimas sambil menyingkir. "Kenapa sudah ada di sini, perasaan tadi di ruang Komisaris, Pak." Sahut pria itu kaget. "Atau... Yang di ruang komisaris, jangan-jangan bukan bapak?"


"Becandaan kamu ngga lucu, Boyo..."


"Ini saya ngga becanda, Pak..."


"Lionel, eksekusi semua pembiayaan milik Stephen yah, itu cuma perpindahan akun soalnya, buat tambah-tambah aset Garnet Bank...Saya ngga ikut meeting sesi kedua. Ada urusan..." Sebastian melirik Milady sekilas.


"Tapi besok datang kan pak? Masalah pembiayaan soalnya." Kata Danu.


"Kamu berharap saya datang atau tidak?" Sebastian bertanya dengan senyum sinis terpatri di wajahnya. Karena biasanya mayoritas manusia tidak ingin satu ruangan dengannya.


"Enggak..." Gumam Dimas.


Danu memukul bokong Dimas.


"Kalau bisa datang Pak, atau si Boyo yang ini, main ambil keputusan sendiri aja..." Desis Danu sambil melirik tajam ke Dimas.


"Saya sih percaya keputusan dia. Tapi, oke... Saya usahakan datang." Desis Sebastian.


Dimas berdecak.


Danu terkekeh merasa menang.


Lalu Sebastian menatap Milady.


"Yuk?"


Milady menatapnya waspada.


Apa yang dimaksud dengan kata-kata 'Yuk' yang barusan itu?


Maksudnya...


Sebastian mengajaknya, begitu?


Di depan... Dimas dan Danu?


Serius?


Nekat...


Milady melirik Dimas dan Danu yang juga langsung memperhatikannya.


Duh...


Mana mungkin aku bilang 'enggak'?!


Benar-benar deh Sebastian... keluh Milady dalam hati.


"Ya Pak..." Akhirnya Milady menyahut Sebastian.


"Saya permisi dulu Mas Danu..." Pamit Milady sambil menunduk dan mengulurkan tangannya.


"Oh iya... Makasih ya oleh-olehnya." Sahut Danu sambil menyambut jabatan tangan Milady.


"Mas..." Milady menyodorkan pipinya.


"Hm..." Dimas mencium pipinya.


Sebastian...


Langsung melotot ke arah Dimas.


"Hati-hati yang ini nggigit. Tuh liat tampangnya kayak Leak taman lawang..." Gumam Dimas.


Milady hanya terkekeh dan mempersilahkkan Sebastian berjalan lebih dulu.


Sebastian berbalik, namun tatapannya memicing ke arah Dimas. Ada aura mengancam dari baliknya.


Setelah Sebastian dan Milady berlalu, Dimas dan Danu menghela napas.


"Lionel..." panggil Dimas sambil menggoda Danu.


"Gue benci nama itu." Desis Danu cepat.


"Lo liat tuh mereka... Calon mertua dan Calon menantu. Udah kayak Zeus sama Aphrodite..."


"Entahlah... Kok gue merasa seperti ada ikatan yang kuat diantara mereka."


"Hm..." Gumam Dimas bernada setuju.


"Kita nih lagi gibah yah?" Gumam Danu.


"Meeting sana meeting..."


"Harusnya gue yang ngomong ituuu..."