
Sebastian menghela napas saat menutup pintu unit penthouse dan membuka jasnya.
Ia berjalan ke arah pantry dengan niat mengambil air kelapa yang disimpannya di kulkas karena merasa tekanan darahnya agak naik.
Ia marah? Kesal? Emosi?
Jelas...
Orang yang paling disayangi berada dalam bahaya,
keluarganya terancam,
adiknya direbut boyo,
Dan ajudannya sedang terluka...
Namun selain masalah bertubi-tubi, ada beberapa hal baik seperti... ayah dan ibunya akhirnya bisa bertemu setelah bercerai 40 tahun lalu. Sebastian sangat mengerti bahwa mereka masih saling mencintai.
Lalu...
Trevor dan Mitha.
Sebastian menyunggingkan senyum sambil menatap keluar jendela.
Astaga...
Trevor dan Mitha...
Sebastian melihat sendiri, pandangan dua anak manusia itu saat saling bertatapan, bukanlah binar biasa.
Setelah melalui berbagai macam hal, ternyata jodoh manusia memang tergantung Yang Kuasa... Dan bukan urusan manusia.
Sekeras apapun usaha Sebastian untuk membuat Trevor melupakan Si Asse, sampai harus mengorbankan Milady... Kalau Illahi tidak berkehendak, manusia bisa apa.
Sebastian menghela napas.
Kali ini bukan untuk kekecewaannya.
Ia bernapas dengan lega.
Yamaguci dan anteknya, Hari Fadil... Sedang dimusuhi satu negara. Sambil menerima tamu, Sebastian juga berkeliling untuk menyebar kebencian untuk Yamaguci dan Hari Fadil.
Rama dan Gerald Bagaswirya sudah mengurus para korban.
Juga... Sebastian sepertinya harus segera menaikan gaji Arman dan Susan mengingat dedikasi mereka pada pekerjaannya, sangat totalitas.
Tapi sepertinya sebentar lagi ia harus mencari agen baru, karena Susan sudah ketergantungan ke Ipang.
Lalu...
Sebuah tangan kurus dengan jemari lentik melingkar di pinggangnya dari arah belakang.
Sebastian tersenyum.
"Hei..." sapanya.
"Capek, sayang?" sahut Milady.
"Iya."
"Kamu tuh ngga kira-kira ya ngebully Dimas dengan juntrungin para tamu penting ke depan mukanya."
"Aku hanya membuka jalan buat dia untuk lebih siap membangun jaringan baru."
"Iya, tapi ngga usah sekaligus begitu, memang dia ingat?"
"Hm... Aku merasa dia akan ingat. Seperti kata kamu, ada kelebihan di dirinya."
"Tumben kamu mengakui kehebatan 'adik ipar'..."
"Sayangnya, sudah jadi keluarga, jadi harus aku dukung."
"Sayangnya..." Milady mendengus. "Berdalih saja terus. Kamu yang ingin dia masuk dengan segala pancingan-pancingan kamu... iming-iming dengan paksaan..."
"Mencari penerus bisnis dari kalangan luar itu, sulit sayang... Kalau ada yang menyamai kemampuannya, yah..." Sebastian mengangkat bahunya.
"Belum tentu juga kamu akan pilih orang lain walaupun ada yang setara kemampuannya dengan Dimas. Kamu itu sudah terjebak dengan... Karismanya. Tanpa kamu sadari."
Sebastian terkekeh. "Terserah kamu saja lah..."
Pria itu meletakkan gelas kaca yang isinya sudah ditenggaknya sampai habis di atas meja berlapis batu pualam. Lalu menangkup tangan Milady.
"Kamu cantik hari ini." desis Sebastian.
"Dan hari lain..." tambah Milady.
"...Dan aku yakin besok juga kamu akan semakin cantik..." sahut Sebastian lagi.
Milady terkikik senang.
"Gaun yang aku pilih, sesuai dengan image kamu?"
"Itu yang aku mau..."
"Kamu ingin rasa pengertian dari aku. Kamu ini ribet banget yah sebenarnya... Aku ngga akan kasih pengertian setiap hari loh, aku bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu yang njelimet itu." kata Milady.
"Nanti lama-lama juga kita akan saling mengerti isi hati tanpa harus bicara."
"Kita sudah pernah menghadapi moment itu." sahut Milady mengingatkan.
"...10 tahun lalu. Dan kita bisa melaluinya." sambung Sebastian.
"Ya... Betul."
Sebastian tertawa pelan. Terdengar lembut dan bahagia.
"Mas, ada tiga hal yang aku mau tanyakan..." kata Milady.
Sebastian membalik tubuhnya menghadap Milady dan duduk bertopang di konter dapur setengah berdiri, agar matanya bisa sejajar menatap mata Milady.
Ia juga masih menggenggam jemari istrinya.
"Pertama... Kamu ngga biasanya menggelar konferensi pers. Kamu anti kamera." tanya Milady.
Sebastian mengangguk.
"Untuk alasan keamanan." Sebastian mencoba berdalih.
"Phobia parah..." cecar Milady.
Sebastian terkikik. "Kali ini event special. Kupikir dunia harus tahu kalau kerajaan ini masih akan berdiri sepeninggalku nanti."
"Mas Yan, usia kamu memang sudah lanjut, tapi bukan berarti kamu akan 'pulang' duluan..." kata Milady.
Sebastian mengangguk sambil menunjukan seringai jahilnya.
"Itu hal penting untuk para investor kita. Nanti tim publikasi akan menyortir foto yang beredar ke media."
"Yang kedua?" tanya Sebastian.
Milady menyunggingkan senyum malu-malu.
Lalu mengangkat secarik kertas.
Senyum Sebastian menghilang.
Itu kertas puisinya.
"Duh..." begitu keluhnya.
Lalu dia menunduk dengan pipi kemerahan. "Itu belum jadi sempurna."
"Ini sangat romantis... Aku sangat... Tersanjung membacanya." Milady menggigit bibirnya karena menahan tawanya.
Sebastian yang sedang tersipu... Hanya ia yang bisa melihatnya.
"Ya ampun..." tundukan kepala Sebastian semakin jatuh.
"Aku belum rancang nadanya, Sayang... Itu belum jadi, belum ada chordnya..." gumam Sebastian.
"Chord? Semacam Not balok? Itu lirik lagu?!" tanya Milady, ia semakin merasa takjud.
"Iya. Buat gitar... Rencananya hari Selasa kertas itu mau kubawa karena gitarku ada di kantor."
"Aku tidak melihat ada gitar di dalam ruangan kamu."
"Ada di..." Sebastian memutar-mutar telunjuknya.
"Jangan bilang di mobil emas sialan itu lagi..."
"Ya memang ada di situ. Aku satukan dengan senjatanya anak-anak..."
"Kalau kamu kabur dengan mobil itu, sepertinya kamu sudah tidak perlu membawa apa pun..."
Sebastian menyeringai menanggapi istrinya.
"Iya, kalau merasa terancam tinggal ledakkan saja... Bisa luluh lantak satu kecamatan." kata pria itu.
Milady tersenyum, namun lebih ke raut wajah khawatir. Tersenyum masam.
Selama beberapa saat mereka hanya terdiam saling menatap.
Walaupun mulut mereka terkatup, namun mata mereka berbicara banyak.
Sebastian benar.
Bukan hal sulit bagi Milady untuk memahami Sebastian, perkara memilih pakaian seharusnya jadi hal mudah.
Mungkin saat itu memang hormon Milady mulai mengalami penyesuaian.
"Kata kamu ada tiga pertanyaan?" tanya Sebastian.
Milady menyeringai.
Lalu ia menyalakan komputer Sebastian.
Sejenak mengarahkan cursor mouse ke aplikasi pemutar lagu.
To The Bone dari Pamungkas (2020)
"Shall we dance?" Tanya Milady sambil mengulurkan tangannya.
"Ini tidak hanya akan jadi sekedar dansa, yah..." desis Sebastian memberi kode bermesraan.
"Asal kamu melakukannya dengan sangat lembut... Jangan ada gaya lipat-lipat ekstrim." sahut Milady sambil mengernyit.
Sebastian terkekeh, menggodanya.
Milady tersenyum tersipu.
Lalu menangkap pipi pria itu.
Menyentuhkan ujung hidung mereka dan menggesekkannya dengan gemas.
Pria dua kali umurnya...
Rambut dan janggutnya sudah sepenuhnya memutih.
Dengan mata setajam elang seringkali menatap Milady dengan lembut.
Tatapan Sebastian yang seperti itu hanya untuk Milady.
Senyumannya yang tipis juga hanya untuk Milady.
Terutama...
Kata-kata lirih yang diucapkannya...
"Aku sayang kamu..."
Juga hanya untuk Milady.
"Aku juga...sayang sekali sama kamu. Sebisa mungkin, semampu kamu, tetaplah di sisiku... sampai Tuhan bilang tidak." kata wanita itu.
Sebastian mengangguk.
Ia memeluk Milady dengan langkah perlahan, mengikuti alunan lagu cinta.
Malam ini, menjadi malam mereka...
Dua insan kekasih saling memandang
Binar mata masa depan terpampang
Gerakan perlahan iringi kidung cinta
Bertaut hati, jiwa dan raga
Semua gerak mengenai rasa
Sayangku dengan senyuman
Tadinya kupikir angan, ternyata bukan
Tuhan yang beri, tidak sembarangan
Apa pun itu, kamu masa depan
(*Septira W, 202*1)
*****