Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Loved One (3)



Seribu wanita


Yang pernah singgah


Hanya datang dan pergi


Dan tak ada hati


Kaupun datang


Ada yang berbeda


Mengapa begini?


Apa yang terjadi?


Tak pernah sebelumnya


Tak pernah kuduga...


(Main Hati. Oleh : Andra And The Backbone. 2008)


Ayumi Sakurazaka...


Matanya hitam dan besar... Hidungnya mancung mencuat keatas, dengan bibir sensual dan gigi taring kiri gingsul. Kulitnya seputih susu... Rambutnya sebahu dan dicat coklat, lembut dan halus. Terkadang sengaja ditata sedikit berantakan agar tampak lebih lebat.


Dia tidak terlalu tinggi, tidak terlalu seksi, posturnya biasa saja dan cenderung kurus.


Di usianya yang sudah 33 tahun, ia tampak seperti anak sekolah. Terkesan polos dan lembut...


Dan kini, menatap Arman dengan berharap.


Berharap mereka tidak terpisah.


Berharap Arman mau meninggalkan mimpinya demi dia.


Berharap Arman mau bilang "aku menyerah"...


Namun... Ayumi sangat tahu.


Walaupun Arman akan menyebutkan hal-hal sesuai harapannya, mereka akan tetap berpisah. Ia harus menjalani hari-harinya sendirian.


Intel dari kedutaan sudah menjelaskan kalau tidak boleh ada siapa pun yang tahu, apalagi orang yang berada di luar kerabat.


Dan Arman termasuk ke dalamnya.


Apalagi... Ayumi sudah membuat keributan di dalam tubuh organisasi salah satu klan Yakuza. Sudah pasti klan yang lainnya akan mewaspadainya.


Kemungkinan untuk operasi plastik juga tidak akan terelakkan. Karena banyak yang ingin balas dendam padanya.


Juga pergantian identitas... dimungkinkan akan terjadi.


Jadi...


Arman berusaha mengingat wajah wanita ini untuk yang terakhir kalinya.


Wajah yang selalu muncul di mimpinya. Namun akhir-akhir ini ia tidur nyenyak tanpa mimpi.


"Ares..." Desis Ayumi.


Ia ketakutan sebenarnya...


Seperti akan menghadapi kematian.


Sendiri...


Di belakang Arman ada Sebastian, Trevor, juga Mitha dan Geng Baper yang sekaligus berjaga-jaga terhadap serangan mendadak.


Semua mengantarkan kepergiannya...


Arman mengelus pipi Ayumi. Betapa ia akan merindukan wanita ini.


"Walaupun kita belum sempat menikah... Kamu akan tetap jadi istriku." Kata Arman.


Membuat air mata Ayumi semakin deras turun.


"Bakayarou..." Gumam wanita itu.


Arman hanya menanggapinya dengan senyum samar.


Lalu memeluk wanita itu.


"Saat nanti kita bertemu kembali... Aku akan menikahi kamu secara resmi. Kalau maut tidak memisahkan..." Kata Arman.


"Jangan terlalu banyak minum alkohol..." Isak Ayumi. "Jangan menghamili wanita lain, jangan berbuat keributan yang tidak perlu, makan teratur..."


Arman terkekeh mendengarnya.


"Jangan terlalu banyak ke club, ngga usah nangis-nangis kalo nonton drakor, pakai topeng sopan mode on, yang tahu kamu bin al harus hanya aku seorang..." Sahut Arman


"Sialan kamu!" Ayumi memukul dada Arman, pukulannya lembut.


Arman terkekeh.


Lalu mereka bertatapan lagi.


"Kamu akan menemukan aku kan?" Tanya Ayumi.


"Aku akan mencari kamu..."


"Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, loh..."


"Iya, aku juga..."


"Mulut kamu manis sekali ya..."


"Yang ini beneran. Ngga ada untungnya mencoba merayu kamu. Yang ada aku di-dor orang-orang di belakang kamu..." Arman melirik jajaran Intel yang akan mengantar Ayumi kembali ke Jepang.


Ayumi tersenyum menatap Arman.


"Cium aku?" Tanya Arman.


Ayumi mengangguk.


Ia mencium Arman, di depan semuanya.


Sampai semua yang menyaksikan berpaling karena malu.


Kecuali Trevor yang berpaling karena kesal, dan Sebastian yang memperhatikan mereka terang-terangan.


Arman berusaha merekam rasa ini.


Rasa manis kelinci putihnya, yang kini bukan hanya nodanya telah hilang, namun warna putihnya terasa semakin bersinar.


Saat mereka melepaskan tautannya dengan sama-sama tidak rela... Ayumi memberikan senyuman terbaiknya untuk Arman.


"Bye-bye Bakayarou..." Desis wanita itu.


"Hm... Da-dah Medusa..." Balas Arman.


Dan wanita itu perlahan menjauh... Menoleh ke belakang sekali...


Dan menghilang di tikungan.


Arman tetap terpaku di tempatnya berpisah. Rasanya sangat enggan untuk pergi.


Ia menarik napas panjang.


"Udah jangan nangis, be go..." Desis Sebastian sambil menepuk bahunya.


Arman mengernyit.


Ah...


Air mata.


Arman tersenyum masam sambil menghapusnya.


Namun ternyata tidak hilang juga.


"Astaga... Memang dasar be go... aku ini..." Umpat Arman ke dirinya sendiri.


"Bulan depan kalo perpisahan sama saya, awas kamu nangis-nangis kayak gini."


"Saya sih kayaknya malah merasa bersyukur ya pisah dari Bapak..." Sahut Arman sambil mengusap mukanya. Lalu ia memejamkan mata berusaha menguasai dirinya.


Bila memang harus berpisah


Aku akan tetap setia


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


(Tetap Dalam Jiwa. Oleh : Isyana Saravati. 2015)


*****


3 Bulan kemudian.


Jarvas Media.


"Kekayaan tersangka gembong narkoba Hari Fadil yang mencapai Rp 20,8 triliun membuat masyarakat tercengang. Menurut pengakuan Hari, kekayaan tersebut didapat dari bisnis haram narkoba yang dilakukannya sejak tahun 2000. Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Ares Manfred menjelaskan, aset kekayaan Hari tersebut terdiri dari mobil mewah, kapal, rumah mewah, tanah hingga emas.."


"Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan sedikitnya 72 jaringan mafia narkoba berada di Indonesia. "Kalau nama Gunawan Ambrose dibandingkan dengan mafia lain, itu belum apa-apa," kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Ares Manfred.


"Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menangkap 13 pengedar narkotika jenis sabu dan ekstasi dari berbagai jaringan di lima lokasi yang tersebar di Indonesia sejak Juni hingga Agustus 20xx. Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Ares Manfred mengatakan, BNN menyita barang bukti sebanyak 212,39 kilogram dan 19,700 butir ekstasi dalam kurun waktu dua bulan."


Arman melangkah dengan langkah ringan sambil membawa tumbler berisi kopinya di sepanjang koridor lobi gedung BNN. Beberapa karyawan memberi hormat padanya sambil tersenyum ramah.


Beberapa wanita berseragam bukan hanya memberi hormat tetapi juga melayangkan pandangan menggoda.


Dulu mungkin Arman akan meladeninya.


Sekarang ia hanya membalas dengan ucapan "Selamat Pagi." Sambil meneruskan perjalanannya menuju ruangan kantornya.


Di ruang tunggu di depan ruangannya sudah ada Dirga menunggu sambil bersungut-sungut.


"Masih pagi tampang lu udah kusut..." Sahut Arman.


Dirga hanya menghela napas menghadapinya.


"Selamat pagi Jenderaaaallll..." Gumam Dirga malas.


Arman terkekeh.


"Pagi, Sayang... Kamu kangen banget sama aku sampe pagi-pagi udah di sini..." Goda Arman sambil meletakkan tumbler kopinya dan membuka dokumen di depannya.


Berita acara kasus kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarin-kemarinnya lagi.


Arman membaca lembar perlembar mengenai identitas dan data diri para tersangka yang mereka proses.


Dirga menghampirinya dan menghadangnya di depan mejanya.


"Apa, Pak Kompol?" Tanya Arman.


"Jabatan yang lu sandang sekarang bukan main-main. Pak Atmana sampai nyembah-nyembah minta lo diangkat... Sekarang lo mau resign?!"


"Pensiun dini, Sayangku..." Ralat Arman.


"Ya bagi gue apa bedanya?!"


"Pensiun dini... Dibayar."


"WOI!! Gue seriuus!" Bentak Dirga.


Arman hanya meliriknya ke atas sekilas, lalu tersenyum.


Dirgantara Susanto.


Wakil Deputi II Bagian Pemberantasan BNN


Arman mengenalnya sejak lama. Saat mereka masih menjadi prajurit.


Jadi ia tidak kaget akan reaksinya. Bahkan sudah memprediksi kalau pria itu akan mengomelinya panjang lebar kali ini.


"Ga... Duduk dulu." Desis Arman.


Dirga menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat.


Ia pun menurut dengan duduk di depan Arman.


Mereka saling bertatapan beberapa saat.


"Lu mau balik ke Garnet?" Tanya Dirga.


Arman mengangguk.


"Tapi... Ini kan mimpi lo, Man... Juga lo pernah bilang ke gue kalo ini adalah tujuan hidup lo! Dan sekarang lo mau ke Garnet buat apa? Buat jadi kacungnya Bataragunadi lagi? Dan yang paling parah, Pak Sebastian 6 bulan lagi pensiun dan lo bakalan disuruh-suruh Dimas!" Kata Dirga.


Arman mengangguk.


Ia menyeringai.


"Apa bedanya dengan sekarang?" Tanya Arman.


Dirga hanya menanggapinya dengan erangan malas.


"Ga... Gue udah mencapai impian gue. Sekarang gue udah di puncak."


"Ya lo harusnya pertahankan!"


"Untuk apa? Untuk jatuh?"


"Hah?" Dengus Dirga. "Maksud lo apa sih?!"


Arman menghela napas.


"Pernah dengar ungkapan... Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan?" Tanya Arman.


Dirga menggelengkan kepala. Bukan karena ia belum pernah mendengar ungkapan itu. Tapi ia menggelengkan kepalanya karena ia tidak ingin mendengar kalimat selanjutnya.


"Ga... Gue udah mencapai mimpi gue. Jadi sekarang saatnya bangun." Sahut Arman.


"Coba cerita biar gue bisa maklumin." Desis Dirga.


"Lo pasti udah denger rumor di luar sana. Gue keturunan kom unis, dan ada hubungannya sama partai paling dibenci di negara ini. Lo tahu gue ini apa? Duri... Gue akan menghambat Atmana buat mencalonkan diri menjadi pemimpin selanjutnya. Ini akan merambat kemana-mana. Orang ngga bakalan peduli prestasi apa aja yang udah gue lakuin buat negara. Cap di jidat gue adalah kom unis. Kalau gue ngga turun sendiri sekarang, gue bakalan dijorokin... Gue cukup tau diri buat yang gitu-gituan." Kata Arman.


"Lo terlalu perasa kali Man..." Desis Dirga.


"Jangan pura-pura ngga tau, deh."


"Yaaaa..." Dirga menipiskan bibirnya. "Gue pikir lo ngga bakalan terpengaruh sama rumor."


"Gue cukup ngerti sama politik, sejak gue jadi bawahan Pak Sebastian."


"Jadi ini maksudnya, lo pingin keluar dengan kesan baik... Sebelum jatoh dengan kencang, gitu?"


"Kita harus tahu kapan kita berhenti dan kapan kita melangkah... Lagi pula... Ada yang harus gue cari."


"Apa lagi?"


Arman menyatukan kedua tangannya di atas meja sambil mencondongkan tubuh ke arah Dirga.


"Lo... Pernah jatuh cinta?" Tanya Arman.


*****