
"Lalu... Pameran kalian, harus di Jepang? Ngga ada negara lain?" tanya Sebastian.
Trevor dan Milady saling bertatapan.
Pertanyaan yang sudah dinanti-nanti.
"Akan ada negara lain setelah itu. Jepang menjadi ekspansi pertama karena harga tanah disana mahal, dan kita punya aset yang sudah berizin disana." sahut Milady.
"Iya, tadinya tanah itu mau saya bangun mansion untuk masa depan Trevor dan...Ayumi. Sebelum Tadashi berkhianat dan bunuh diri di penjara."
Hm...
Sudah mulai perang-perangannya. Pikir Milady.
"Dan karena rencana bapak kacau, daripada mubazir bukankah lebih baik dimanfaatkan jadi cuan? Toh kalau proyeknya tidak berhasil, bapak tidak akan kehilangan apapun, tanah masih milik bapak, biaya operasional hanya recehan..." desis Milady, kali ini ia memasang senyum ke arah Sebastian.
Senyum yang...
Sangat memikat.
Merayu...
Bukan palsu seperti biasanya.
Sebastian tertegun sesaat menatap Milady dan senyumnya.
Lalu ia menggeleng.
"Kamu itu pintar sekali yah mengambil hati saya..." desis pria itu.
Trevor mencibir.
Memang hati ayah sudah terambil... Decak Trevor dalam hati.
Dan lagi...
Apa ini...?
Ia berada di tengah-tengah kedua insan yang sedang kasmaran!
Tatapan keduanya menyiratkan kalau Trevor tidak perlu ada di sini.
Pria itu menggaruk tengkuknya yang merinding.
Seumur hidupnya...
Ini pertama kalinya ia melihat ayahnya menatap seseorang selembut ini, selain kepada tantenya, Meilinda.
Tidak...
Yang ini berbeda dari tante, pikir Trevor.
Mereka sedang berada di dunianya sendiri.
Dunia cinta.
Oh, tidak...!!
Trevor menunduk karena tidak kuat melihat ayahnya menatap Milady dengan penuh cinta sementara Milady menatap ayahnya dengan penuh damba.
Bukannya ia tidak suka.
Trevor hanya kaget.
Dan sekarang dadanya sesak.
"Hem... Ayah?" panggil Trevor.
Sebastian dan Milady menoleh berbarengan seakan terganggu dengan panggilan Trevor.
"Aku mungkin akan bertemu Ayumi untuk meminta konfirmasi."
"Hem..." Sebastian menaikkan alisnya.
"Dan... Kalau itu benar bukan anakku dan ia berselingkuh dariku, setidaknya, aku ingin hubungan yang dimulai dengan baik-baik, berakhir dengan baik juga." Kata Trevor.
"Pastikan hubungan kalian berakhir. Sebentar lagi kamu akan menikah. Kalau kamu masih keras kepala, ayah pastikan kamu tidak akan menyandang nama Bataragunadi lagi. Apapun yang terjadi, kamu akan sendirian." Gertak Sebastian.
Trevor menghela napas menghitung stok kesabarannya.
"Kita lihat saja nanti..." desis Trevor. Ia mengirim pesan singkat ke Milady.
Tulisannya :
Aku hampir meledak. Butuh sendirian sebentar. Sana mesra-mesraan di luar. 5 menit akan sangat berarti bagiku...
Milady melirik ponselnya sembunyi-sembunyi saat Sebastian menyesap kopinya, lalu membalasnya.
"Kamu itu sebenarnya mau putus atau tidak sih dengan Ayumi?" tanya Milady.
"Jelas TIDAK lah... kecuali Ayumi yang mau mengakhiri, aku ngga akan akhiri duluan. Pasti ada kesalahpahaman di balik semua ini. Tapi sekarang, plis menyingkir dulu..." Balas Trevor.
"Saya mau ke toilet, sebentar..." desis Milady sambil beranjak.
*****
Milady keluar dari restoran, menuju ke area hotel yang menyatu dengan Mall. Naik lift ke lobi hotel di lantai atas Mall, Lalu ke arah resepsionis.
"Hei Mbak Lady!" sapa salah seorang concierge.
"Hey Lita! Aku pinjam kamar mandi, boleh?"
"Pakai aja yang di kamar atas mbak..." Lita menyerahkan kunci salah satu kamar yang biasa dikosongkan untuk istirahat manajer hotel.
"Thank's..."
Lalu mengirim pesan ke Sebastian.
202.
Sebastian datang tak lama kemudian.
Ia langsung mencium Milady saat wanita itu membuka pintu untuknya.
"Aku cuma punya waktu lima menit..." desis Milady sambil terengah.
"Lima menit cukup..." Sebastian mendorong Milady ke dalam kamar mandi dan mendudukan wanita itu di konter wastafel.
"Kamu cantik..."
"Kamu yang suruh aku dandan."
"Jadi ini buat aku...?"
"Buat siapa lagi?"
"Buka, sayang... Buka semuanya..." geram Sebastian.
"Jangan semuanya, nanti kamu lupa diri!"
"Kamu tuh sukanya membantah aku yah..." Sebastian meloloskan blus Milady ke atas.
Lalu terkekeh melihat leher Milady. "Makanya kamu pakai yang berleher tinggi..."
"Salah siapa?" sahut Milady sambil mencubit pipi pria itu.
"Salah kamu... Terlalu cantik..." Sebastian mengarahkan jemari Milady ke arah kejantanannya.
Terasa keras dan panas.
Milady terkesiap saat merasakannya.
Lalu pria itu menarik bra Milady dan membuangnya dengan serampangan ke belakang.
"Ngga usah bikin tanda lagi!" omel Milady.
Namun terlambat, Sebastian sudah membuatnya ditengah-tengah dadanya.
"Astagaaa..." keluh Milady.
Sebastian menatap tanda yang dibuatnya sambil menyeringai puas.
"Sip..." desisnya. "Dan...aku suka bentuknya..." ia membelai dada Milady.
Milady mengeluh.
Sebastian menarik tengkuknya dan menciumnya lagi.
*****
"Kamu terlalu keras sama Trevor..." sahut Milady saat mereka di lift. Ia sedang menata rambutnya di cermin di dalam lift.
"Aku sudah cukup bersabar tiga tahun ini..." sahut Sebastian.
"Kata-kata kamu menyiratkan kalau kamu selama ini hanya peduli pada harta kamu, bukan kebahagiaan Trevor semata."
"Memangnya dia percaya kalau semua ini kulakukan demi kebahagiannya?"
"Jangan menyamakan Trevor dengan kamu dong..."
"Ya kan dia calon suamiku... Walaupun aku cintanya sama kamu..." balas Milady.
Sebastian menatapnya nanar.
Milady meliriknya dari kaca.
Lalu tersenyum getir.
"Belum berubah pikiran?" tanya Milady.
"Aku selalu konsisten."
Milady menghela napas.
"Oke... Kalau begitu, aku juga akan serius menjalani peranku."
"Hm..." gumam Sebastian.
Lihat saja nanti, Sayang...
Kamu akan cemburu buta...
Geram Milady dalam hati.
*****
Selena Al Farouq.
Cantik, seksi, glamor, dan angkuh.
Wajahnya menyiratkan harga diri tinggi dengan mata bersemangat. Kalau di sinetron, sosok sepertinya sudah pasti akan menjadi tokoh antagonis.
Namun sebenarnya Selena memiliki rasa setiakawan yang tinggi dan care dengan teman-temannya.
Ia yang sosoknya disebut-sebut diawal cerita namun baru saat ini diulas.
Siapa dia?
Selena adalah wanita kesayangan Bram.
Dan saat ini statusnya adalah kekasih Bram.
Sekaligus sahabat Milady,
Dan Teman satu geng Trevor,
Dan anak buah Dimas,
Dan Ayahnya adalah sahabat Pak Sebastian masa SMA.
Keterkaitannya dengan semua individu di cerita ini sangat erat.
Dari sejak berantem dengan ayahnya karena ia akan dijodohkan dengan Trevor, Selena mendekam di apartemennya, menangis dan mengutuk siapapun yang bisa ia kutuk, terutama Dimas.
Ia teringat saat di kantor dan Dimas meminta maaf padanya :
"Len... Sori." desis Dimas.
"Saya tidak akan memaafkan Pak Dimas, Sampai saya tidak jadi menikah sama Bram, Pak Dimas kabur ke ujung dunia pun akan saya kejar, saya minta pertanggungjawaban!"
"Ngapain juga gue kabur ke ujung dunia..." gumam Dimas.
"Ngga usah ngomong sendiri! Ini semua gara-gara Pak Dimas dan pacar sosialita sombong kamu itu! Dikira kalian bisa membolak-balikkaan isi dunia, hah?!" ujarnya penuh kemarahan.
Yah, oke, dia berlebihan.
Tapi Selena sangat marah saat itu.
Lalu hari ini, karena ia galau terus-terusan, ia mengajak Milady keluar untuk hang out.
Kebetulan Milady katanya sedang di Mall dengan Trevor dan sebentar lagi akan selesai.
Ia belum bisa menghubungi Bram. Katanya pria itu butuh ketenangan untuk menyusun strategi.
"Gue menuju restoran, lo kapan selesai." sambil berjalan, Selena mengetikkan pesan singkat ke Milady.
"Ini gue hampir selesai." balas Milady.
Okelah, Selena memutuskan untuk menunggu sambil window shoping.
Saat sampai di belokan, ia bertabrakan dengan seseorang.
"Aow!!" seru Selena sambil menyeimbangkan posisi. Orang yang menabraknya menahan lengan Selena agar tidak jatuh.
"Len?"
Selena terpaku.
Astaga....suara itu...
Lalu ia menghela napas dan menepis tangannya.
"Ngapain sih di sini? Ngikutin saya?!" seru Selena marah.
"Duile... Ini tempat umum kali, suka-suka gue dong mau nangkring dimana..." Dimas ngga mau kalah.
"Saya mau ke restoran yang itu, awas ikut-ikutan!" desis Selena.
Dimas menoleh ke belakang ke arah restoran yang ditunjuk Selena.
Lalu menyeringai.
"Gue juga mau ke sana, tapi ke toilet dulu."
"Ngga bisa! Ngga boleh! Saya mau ketemu Milady!"
"Gue mau ketemu Trevor. Terus apa hak lo ngelarang-larang gue..."
"Ya udah, saya sama Milady, Pak Dimas sama Pak Trevor ngga usah deket-deket!"
"Ck..."
"Apa cak cek cak cek?!"
"Gue kan usah minta maaf Len... Itu semua diluar kendali."
"Saya belum maafin, mau apa?!"
"Len, kalo bentar lagi ada gempa dan kita berdua mati, ngga baik loh bawa-bawa rasa permusuhan."
"Biar situ jadi hantu penasaran karena belum saya maafin... Makanya ngga usah ikut campur urusan orang, bilang tuh sama pacar bapak!"
"Pacar gue tuh Boss elu juga kali..." gumam Dimas.
"Ngga usah ngomong sendiri saya bilang!"
"Buset galak banget... Dah ah, gue kebelet. Pak Sebastian masih ada di sana, mending lo tungguin."
"Ada Pak Sebastian? Bagus...biar saya minta dia batalin perjodohan...."
"Eh..." Dimas mencegah Selena dengan menarik tangan wanita itu. "Ngga usah nekat! Bisa habis tujuh turunan keluarga bokap lo, kalo Bigboss sampe tersinggung!"
"Saya ngga bisa diam saja begini!"
"Pasti Mas Bram punya rencana, lo percaya dia aja, Len... jangan sampai semua tambah runyam!" desis Dimas.
Selena menatapnya dengan kesal.
Napas wanita itu memburu.
"Aargh! " serunya kemudian. Ia menyerah sekaligus frustasi. "Ya udah saya tunggu Bram. Tapi sekarang, jangan sampai saya ketemu lagi sama Pak Dimas. saya enegggggg!!"
"Idih..." decak Dimas. Pria itu memutuskan untuk mengalah. "Okeee... Gue kesana, lo kesitu... Habis itu gue, Trevor dan Pak Sebastian mau biliar di lantai atas. Lo dan Milady cari tempat lain, okee?"
"Fine! Go away shuh shuh!!" desis Selena sambil melambaikan tangannya.
"Luar biasa kesombonganmu Nak..." umpat Dimas sambil berjalan berlalu.
Selena mengipasi dirinya dengan tangannya. Mimpi apa dia lagi-lagi ketemu Dimas.
"Ngga dikantor, ngga di real life..." umpatnya.
"Len?" seseorang menepuk bahunya.
Selena menoleh dengan amarah masih tertinggal di hatinya.
Milady tersenyum padanya.
"Laaaddddyyyyy!!!!" seru Selena sambil memeluk Milady erat. "Gue kangen sama lo, dan gue lagi sedddiiihhhh!!!" serunya.
"Hehehehe..." kekeh Milady sambil membalas pelukan Selena dan menepuk-nepuk punggung wanita itu. "Udaaahhh yuk kita ke salon, lo cerita sepuas lo, lo mau maki-maki sepuas hati juga gapapa..."
"Iyaaaaaaa...."
*****