Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Another Couple Has Arrived



"Atama okashiin janai no?!" (kamu sudah gila?!) Seru Ayumi kaget.


"Ispol'zuyte yazyk, kotoryy ya ponimayu, kogda govoryu!" (Pakai bahasa yang aku ngerti kalau ngomong) Balas Arman.


"Ha?" dengus Ayumi bertanya.


"Ck..." decak Arman jengkel. "Kamu ngomong bahasa Jepang, aku bahasa Rusia. Terus saja sampai besok."


Ayumi menarik napas panjang.


"Aku capek, tidak bisa berpikir..."desisnya sambil berbaring memunggungi Arman.


Arman menghela napas.


"Asal kamu tahu saja, Alex Beaufort memintaku untuk mencari data itu, waktunya seminggu dari kemarin. Kalau dalam waktu seminggu aku tidak berhasil, mereka akan menggeledah kamu, tidak peduli kamu hidup atau mati. Saat mereka sudah mendapatkan data itu, kamu akan tidak berguna. Jadi sudah pasti dalam waktu seminggu, tidak akan ada lagi orang yang peduli sama kamu..."


Arman duduk di sebelahnya sambil menarik selimut.


"Menikah denganku bukan satu-satunya jalan... Tapi menurutku solusi yang efektif. Kamu bisa jadi WNI, dilindungi negara, Yakuza akan lebih hati-hati memperlakukan kamu, daripada nanti kamu dideportasi saat chip sudah mereka rebut. Karena kalau sampai kembali ke Jepang, kamu akan berjuang sendirian menghadapi gangster." Arman berbaring sambil mencoba memejamkan matanya.


Sepertinya besok pagi, ia akan ambil cuti beberapa hari untuk mengurusi kelincinya.


*****


"Sayang..." Sebastian mengecup bahu Milady dari arah belakang saat wanita itu sedang berdiri untuk membuatkan kopi suaminya.


"Hihi..." kikik Milady merasa senang. "Disini juga..." Milady menunjuk lehernya.


Sebastian mengecup lehernya. Hangat dan halus, dengan parfum wangi ringan khas wanita itu.


"Disini belum..." Milady menunjuk pipinya.


Sebastian terkekeh dan mengecup pipinya.


"Mau dimana lagi...?" desah pria itu. Suaranya terdengar dalam dan serak.


"Hm... Aku baru waxing." kode dari Milady.


"Nakal ya kamu..."


"Loooh... Nakal apanya Mas? Aku kan cuma bilang, aku baru waxing." Milady menatap jahil ke arah Sebastian.


"Lihat boleh?"


"Lihat aja nih?"


"Dan yang lain-lain..."


"Yang lain-lain itu apa?"


"Bawel deh..." seringai Sebastian sambil menarik sebelah tali panty Milady sampai terlepas.


"Hm...h..." Milady bergumam tak jelas saat jemari Sebastian memainkan kewanitaannya.


"Lembut..." desis Sebastian memberi penilaian.


"Aku cinta kamu." balas Milady ditengah desahannya. Wanita itu reflek mengangkat sebelah kakinya ke atas kursi saat Sebastian semakin intens membelainya.


"Oh, aku sangat cinta kamu..." desah Milady, mengangkat kedua tanganya ke belakang dan menarik leher Sebastian supaya semakin mendekat.


Ia juga memundurkan bokongnya untuk semakin erat menempel ke tubuh Sebastian.


Napas pria itu memburu.


"Sayang, apa tidak apa-apa? Kamu lagi hamil..." desah Sebastian


"Aku pingin kamu... Ngga tahu, aku rasanya pingin kamu di dalamku..." Milady semakin meracau sambil menciumi pipi Sebastian. "Mainkan disini lebih lama... Aku suka disitu." rajuk Milady.


Milady mengarahkan jemari Sebastian ke bagian tengah kewanitaannya.


"Sayang..." desis Milady.


"Sayang masuk ya...ya?"


"Sebentar aku googling dulu, takutnya ngga aman kalau keseringan melakukan saat trisemester pertama."


"Lama.... Aku mau sekarang..." Milady melepaskan tangan Sebastian dan memojokkan pria itu ke konter dapur, lalu berlutut di depan Sebastian.


"Sebentar, Sayang..." Sebastian sibuk dengan ponselnya mencari artikel.


Milady bergumam tak jelas, sambil membuka resleting celana suaminya.


Matanya berbinar saat melihat tubuh Sebastian yang sudah sepenuhnya siap.


"Sayang, nanti dulu..." Sebastian kewalahan.


Milady tidak ingin menunggu.


Rasanya seluruh tubuhnya panas, ingin selalu bersentuhan dengan Sebastian. Lebih erat dibanding kemarin-kemarin.


Wanita itu membelai tubuh Sebastian dengan lidahnya, dari pangkal sampai ke ujungnya.


"Astaga..." Sebastian menjatuhkan ponselnya.


Lalu Milady memasukkannya ke dalam Mulut.


******


"Mas Arman tadi telepon." gumam Milady saat mereka berbaring kelelahan sambil berpelukan.


Tubuh telanjang mereka hanya ditutupi selimut. Berbaring berpelukan sambil memandang gelapnya malam ditaburi bintang dari jendela besar di depan mereka.


"Hem..." Sebastian memeluk Milady sambil memejamkan matanya. Belakangan intensitas bercinta mereka semakin sering. Milady sering sekali merasa bernafsu, membuat Sebastian merasa khawatir sekaligus gembira.


"Kelihatannya masalah data. Sepertinya sih sudah ketemu, walaupun aku berani bertaruh mencarinya dengan cara yang ekstrim." sahut Milady.


"Biar saja... Percaya saja sama Arman." sahut Sebastian.


"Kamu capek ngga kalau kubahas mengenai nama bayi?" Milady meringkuk ke lengan Sebastian.


"Usianya baru berapa minggu? Sudah merancang nama bayi segala... Pamali, sayang."


"Mas Arman usul namanya Rahwana..."


"Ck... Aneh-aneh saja... Namain Soleh, atau Kasep, dong."


"Capek mikirin kaum milenial over power... Kayak Trevor, Dimas... Kamu..."


"Ih, Mas ih..." Milady mencubit pelan dada Sebastian lalu meringkuk sambil memeluk suaminya dan memejamkan mata.


*****


"Pangeran Lutung..." sapa Sebastian di pagi hari.


"Maksud eyang pasti Son Go Ku Kan?!" Balas Ipang dengan ceria.


"Siapa pula itu? Pengusaha mana..."


"Pengusaha Planet Namek, Eyang." Ipang mengerlingkan mata.


Sebastian memicing.


Berpikir.


Loading error...


"Tokoh komik, Eyang... Anime Jepang..." sambung Ipang.


"Astaga... Ngga jelas banget kamu..." dengus Sebastian. "Arman cuti 2 hari ya... Dia sedang dalam masa pemulihan. Komputernya hidupkan saja, nanti agak siang dia remote. Kardi datang nanti sore, pengajuan anggaran sedang dirancang Arman."


"Pak Arman tumben cuti." Ipang agak curiga.


"Hm... Dia harus mengurus hal lain juga."


"Ya Pak."


"Nanti siang Reny pindah kesini ya, dia dipromosikan jadi Sekretaris Direksi. Kamu ajarkan semua yang harus dia tahu."


"Reny? Reny operator lobi Pak? Pacar pak Arman?"


"Eh? Bukannya pacar Arman si Janet ya?"


"Yani, maksud Eyang?"


"Janet, Sekretaris Komisaris, maksud saya."


Lalu hening...


"Kayaknya tiga-tiganya pak... Dan beberapa lagi yang kita ngga tahu..."Ipang berdehem.


"...mungkin..." tambah cowok itu merasa jengah.


Sebastian mencibir.


"Apa sih yang dia khawatirkan? Cari pelampiasan kok ke sek*s..." gerutu Sebastian sambil memencet tombol ruangannya dan masuk ke dalam.


Ipang menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Lalu begidik merasa merinding.


Lalu melanjutkan pekerjaannya.


Agak siang, Reny datang membawa sekardus besar barang-barangnya.


Namun yang membuat Ipang tertegun... wajah wanita itu sembab.


Segitunya ngga mau dipindah ke sini? Batin Ipang dalam hati sambil menghampiri Reny dan membantunya mengangkat kardus.


"Ini komputer saya?" tanya Reny dengan suara serak. Entah berapa lama dia menangis.


"Hm... Iya Mbak. Perlu kopi? Saya bikinin sekalian Eya... Eh, Pak Sebastian minta kopi juga tadi."


Reny hanya mengangguk lemah sambil menatap Ipang dengan sayu.


Lalu wajahnya menuju ke arah komputer tapi pandangan matanya kosong.


Ipang, berpengalaman dalam dunia wanita, lebih lama dari masa kuliahnya. Jadi dia belajar bahwa saat wanita sedang sedih, yang perlu dilakukan hanya...


Diam dulu.


Sampai mereka tenang, biasanya mereka nanti cerita sendiri.


Atau lebih baik lagi, tidak ikut campur.


Yang terakhir agak susah karena Ipang tipe yang tidak bisa cuek kalau sama wanita, jadi dia pasti akan pasrah kalau dicurhatin.


Ipang tidak terlalu mengenal Reny, selama ini mereka hanya bertegur sapa saat di lobi saja. Yang ia tahu, Arman kerap menilai pekerjaan Reny cukup baik di KPInya. Nilainya lebih besar dari Yani atau Janet yang pas-pasan.


Ipang meletakkan secangkir kopi susu manis dengan bubuk kopi Gayo Aceh di depan Reny, kopi milik Arman sebenarnya.


Arman memiliki 7 jenis kopi terbaik Indonesia di lemarinya. Jenis yang Ipang berikan ke Reny adalah yang biasa diminum Arman kalau pria itu lagi pusing karena habis diomeli Sebastian.


Menyeduhnya juga tidak main-main. Kopi Gayo Aceh direbus dalam panci hingga mendidih, lalu disajikan ke dalam gelas yang telah diisi gula dan susu, tidak diseduh.


"Oh, wow..." sahut Reny sambil terbelalak saat seruputan pertama. "Enak banget..." desisnya. Lalu ia menyeruput kedua kalinya.


Dan menatap Ipang dengan berbinar.


"Boss didalam Pang?!" James Rutherfort berjalan ke arah Ipang dengan beberapa asistennya.


"Ya Pak, mau meeting ekuitas dan CoA ya pak? Nanti beliau menyusul sekitar 10 menit lagi." kata Ipang sambil memeriksa jadwal.


Hening...


Ipang mengernyit merasa aneh dengan keheningan yang tiba-tiba mendera ruangan. Lalu cowok itu pun menoleh.


James sedang menatap Reny dengan dingin.


Reny menunduk dengan canggung, pura-pura mengetik.


"Ehem!" Ipang berdehem berusaha mencairkan suasana.


"Ruang meeting besar kan pak?" Tanya Ipang.


"Iya..." desis James sambil menarik napas berat dan berlalu dari sana.


Reny bernapas lega saat James sudah menghilang dari balik lift. "Sial bakalan sering ketemu kalo begini..." gumam wanita itu.


Ipang mengangkat alisnya. Namun tidak bertanya lebih lanjut.