
Sebastian menyusuri jalan setapak di dalam mall sambil menghirup udara laut.
Malam ini angin bertiup sepoi.
Dari kejauhan dia melihat Arran sedang berdiskusi dengan beberapa orang yang Sebastian ketahui dari rekanan ME (Mechanical-Electrical).
Pria muda itu menoleh dan menunduk ke Sebastian dengan rasa hormat yang terpancar dari matanya.
"Malam Pak Sebastian." sapa Arran.
Orang ME yang tadinya tidak mengenal Sebastian, begitu mendengar namanya diucapkan Arran, langsung menunduk lebih dalam.
"Malam... Kerja kamu lumayan bagus yah. Investor terlihat puas." sahut Sebastian kepada Arran.
"Terimakasih Pak." Arran menyeringai. "Ini pihak-pihak yang bekerja sama dengan kami selama ini." Arran mengenalkan orang-orang di sekitar mereka.
Sebastian hanya mengangguk.
ia memang terkenal jarang menjabat tangan seseorang, namun itu bukan berarti ia tidak menghargai setiap individu.
"Terima kasih atas kerjasama yang baik. Saya berharap hubungan kita teap harmonis." sahut Sebastian ke para koleganya.
Setelah obrolan basa-basi beberapa saat...
"Kamu punya tempat privat di sini?" tanya Sebastian.
"Bapak butuh tempat istirahat? Ada ruangan saya kalau bapak mau pakai... Lalu di rooftop ada gazebo, rencananya mau dipakai untuk lounge eksklusif. Itu ide Milady, sih... Dia suka di sana sambil melihat laut kalau siang-siang ke sini." desis Arran.
"Hm... Mungkin saya ambil rooftop saja."
"Mari saya antar." desis Arran sambil menunjukan arah lift.
Arran berjalan berdampingan dengan Sebastian ke arah Rooftop.
"Kamu sudah menikah?" tanya Sebastian.
"Eh... belum pak."
"Berapa umur kamu?"
"Saya menginjak 33 tahun bulan depan."
"Orang tua kamu ngga ribut tuh kamu masih single."
"Ribut Pak." kekeh Arran
"Hehe..." desis Sebastian. "Dimana-mana sama saja yah."
"Termasuk Pak Sebastian?"
"Ya saya terhadap Trevor, ya bapak saya terhadap saya."
"Pak Hans juga ribut karena Pak Sebastian belum menikah lagi?!"
"Iya..."
"Haduh... Saya sih mengerti kekuatiran orang tua terhadap masa depan anaknya, tapi kan Bapak bukan berada dalam tahap harus dikuatirkan..."
"Dia beranggapan sifat saya yang temperamental ini karena saya tidak memiliki istri."
"Loh kok sama, Pak... Saya malah dianggap terlalu introvert makanya harus beristri biar supel sedikit. Padahal menurut saya tidak ada hubungannya..."
"Kamu harus berkencan sekali-kali. Yang penting orang tua tahu kalau kamu ngga segitu biksunya..."
"Saat ini saya sedang pendekatan dengan seseorang. Tapi... Sebenarnya saya sudah sangat lama menyukai orang lain. Padahal mereka kakak beradik..." Arran mengernyit.
"Jadi, kamu mengencani kakaknya padahal kamu sudah lama suka sama adiknya?"
"Iya lugasnya begitu."
Sebastian terkekeh. "Jangan mempermainkan wanita. Karmanya cepat..."
"Pengalaman pribadi pak?" pancing Arran.
"Huh." Sebastian mendengus.
Arran terkekeh.
Lift terbuka dan menunjukan sebuah rooftop dengan taman di atas gedung yang sangat indah.
"Wah... Bagus juga tempatnya... Dan pemandangannya..." sahut Sebastian.
"Iya pak. Setengah bisa lihat kota, setengahnya lagi lihat laut. Saya berpikir mau membangun sejenis restoran eksklusif di pojok sana dan beberapa meja kerja untuk co-working space." desis Arran.
Sebastian mengangguk.
Sesaat mereka terdiam menikmati pemandangan.
Sebastian mengambil cerutunya dan Arran langsung sigap dengan pemantiknya.
"Kamu tahu kenapa saya jarang berkunjung ke Garnet Property?"
"Hm.. Karena... Bapak mempercayakan sepenuhnya pekerjaan ke Pak Trevor?" tebak Arran.
"Selain itu... Karena orang-orang seperti kamu ada banyak di sana. Jadi, saya tidak harus merasa kuatir."
Arran tersenyum malu sambil menunduk.
"Kalau kamu masih ada pekerjaan lain, tidak perlu menemani saya."
Kode supaya Arran meninggalkan Sebastian sendirian.
"Baik pak, kalau perlu sesuatu langsung saja hubungi saya."
"Terimakasih."
"Ya Pak." Arran mengangguk sambil beranjak.
Lalu Sebastian merebahkan dirinya di sofa lounge sambil menghembuskan asap dari cerutunya.
Menyedihkan...
Pikir Sebastian.
Pemandangan seindah ini, aku nikmati sendirian.
*****
Susan mendengus saat selesai mencuci tangannya di toilet.
Astaga, dasar bocah-bocah! Omelnya.
Sepanjang pekerjaan sambilannya di dapur kedua pria itu terus-terusan mengajaknya mengobrol, akhirnya berisik karena saling tanding ini-itu.
Ipang dan Dennis.
Lagipula kenapa Ipang sampai begitu cemburu? Toh, dia baru saja kenal Dennis.
Susan mengenal tipe pria yang seperti Dennis. Dan ia tidak tertarik untuk kenal lebih dekat dengan pria itu.
Terus terang ia amat sangat merasa terganggu dengan suasana di dapur.
Jadi ia menyingkir dengan pura-pura ke toilet.
Sebenarnya ia ke Coastview karena bagian dari pekerjaannya.
Trevor dan Milady ada di sini.
Sebagai Agen, ia dan Eiichi harus siap.
Namun ia tidak bisa bekerja di depan karena Garnet juga mengundang wakil dari Beaufort.
Karena, dimanapun Alex Beaufort berada, pasti ada pria itu...
Dan...
Pria yang dimaksud sekarang berada di depannya.
Leonard Zhang.
Gawat...
Kacau...
Umpat Susan saat pandangannya bertemu dengan Leon.
Tampak pria itu juga tertegun menatap Susan.
"Kamu..." desis Leon.
Susan langsung lari.
Sekencang yang ia bisa.
Susan berlari ke bagian dalam gedung lain, karena ia menghindari keramaian di gedung utama. Ia tidak boleh terlihat dan menimbulkan kehebohan karena akan terlihat mencurigakan.
Dan instingnya mengatakan kalau Leon mengejarnya.
Baru saja ia melangkahi eskalator dan terjun bebas ke lantai di bawahnya, Leon sudah menjegalnya sampai ia kehilangan kesembangan dan jatuh membentur lantai granit.
Lalu ia tercekat karena merasa lengannya ditarik paksa dan dihantam dengan keras ke dinding.
Sebuah pistol menekan urat lehernya.
"Ngapain kamu di sini.." geram Leon.
Bunyi klik senjata terdengar di telinganya, membuat wanita itu putus asa.
Susan tidak menjawab Leon.
Tangan Leon memeriksa seluruh anggota tubuh Susan dengan kasar, dan menemukan pistol kecil di bagian dalam pahanya.
Pria itu membuang pistol Susan ke belakangnya.
"Jawab, atau mayat kamu mengapung di laut."
"Akan ada orang yang mencariku."
"Hooo..." desis Leon takjud. "Kamu sudah punya orang yang peduli toh sekarang? Bukannya mata-mata tidak boleh boleh menjalin hubungan dengan manusia lain?" sindir Leon.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku." Sahut Susan.
"Dan sekarang... Kamu di sini juga sedang bekerja? Untuk siapa?!" tekanan moncong senjata Leon semakin menekan lehernya, membuat Susan kesulitan bernapas.
"Aku bukan musuh kamu."
"Dari mana aku bisa percaya seorang agen seperti kamu? Hah?!"
"Lepaskan dia."
Terdengar bunyi klik dari belakang Leon. Sebuah pistol tertempel di belakang kepalanya.
Susan tersenyum lega melihat orang di belakang Leon.
"Tarik perlahan senjata Bapak, maka saya juga akan menarik senjata saya..." kata suara itu.
Terdengar dalam dan tegas...
Leon menjauhkan senjatanya dari leher Susan perlahan, dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Pria misterius di belakang Leon melempar senjata Susan ke pemiliknya kembali.
Susan menyelipkannya ke tempatnya semula.
"Sekarang... Letakkan senjata anda di lantai, dan berbalik perlahan." perintah suara itu.
Leon mengernyit, merasa mengenal suara itu.
"Kamu..." Leon mendengus saat melihat Pria yang menodongkan pistol ke kepalanya.
"Saya tahan senjata anda untuk sementara ya Pak Leonard. Nanti setelah acara selesai, saya akan kembalikan."
Kata Arman sambil tersenyum padanya dan menyelipkan pistol Leon di pinggangnya.
"Kalian..." Leon melirik Susan.
Wanita itu kini berdiri di belakang Arman.
"Susan bukan bekerja untuk Pak Baskara?" ujar Leon.
Arman menarik senjatanya dan menyelipkannya ke sabuk di balik jasnya.
"Sepeninggal beliau, Almarhum Baskara menitipkan Susan pada kami. Ia kini bekerja di bawah perintah langsung Pak Sebastian." Kata Arman.
"Urusan saya dengan Susan lebih ke pribadi, kamu ngga usah ikut campur." Leon urung menjelaskan lebih lanjut. Karena kesannya ia malah jadi curhat.
"Hubungan Anda dan Susan bukan hal pribadi..." desis Arman.
Leon menatapnya waspada .
"... Dan saya tidak dalam kapasitas berhak menjelaskannya kepada Anda." tambah Arman.
"Saya akan melanjutkan pekerjaan saya, Pak..." desis Susan ke Arman. Ia sudah terlalu lama izin keluar, ia tidak ingin ada yang mencarinya.
Arman mengangguk.
"Leon..." pamit Susan sambil berjalan berlalu dari sana.
Leon menghela napas dan menengadah ke atas.
"Terlalu banyak misteri di balik atasan kita..." keluhnya.
Arman mengangguk.
"Kita tidak harus memikirkan semuanya Pak. Karena itulah yang membuat mereka bisa berdiri kokoh... Sebuah Jaringan." desis Arman.
Leon mendengus dan melirik Arman dengan kesal, lalu berjalan melewati pria berparas Korea itu ke arah pintu keluar.